21+
Untuk mencintaimu adalah HAL YANG MUDAH tetapi untuk mendapatkan cintamu adalah HAL YANG PALING SULIT untuk aku lakukan"
-Kanaya Almira
"Aku tidak akan pernah memperlakukanmu sebaik itu, bahkan untuk menyakiti atau menyiksamu saja aku sanggup"
-Rendy Saputra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Venita Ven-Ven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
FLASHBACK
Hari ini adalah hari dimana kedua orang tua Kanaya akan pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnis keluarga mereka. Mereka sengaja membawa Kanaya pergi karena ibunya tidak ingin meninggalkan anak semata wayangnya sendirian bersama pengasuhnya.
Keluarga Saputra adalah partner kerja sekaligus sahabat keluarga Kanaya, mereka menjalin hubungan sudah berpuluh-puluh tahun.
“Mama!” ucap Kanaya pada Lia yang tak lain orang yang menjadi Bundanya sekarang.
“Iya, Sayang, mama tapi Bunda!” tutur Lia sambil menggendong Kanaya dipangkuan nya.
“Yaya mau naik pesawat.” celoteh Kanaya sambil memainkan tangannya seperti pesawat terbang.
“Kami pergi dulu, Lia.” pamit ibu Kanaya sambil membawa Kanaya dari pangkuan Lia.
“Semoga semua lancar dan cepat kembali, aku akan kangen sama putriku.” ucap Lia mencium pipi chubby Kanaya.
Hari itu keluarga Saputra berniat mengantarkan Kanaya dan kedua orang tuanya ke Bandara, tapi mereka menolak karena takut menggangu pekerjaan kedua sahabatnya. Mereka pun naik kedalam mobil dan mulai pergi meninggalkan rumah besar miliknya. Ditengah perjalan mobil yabg ditumpangi Kanaya dan kedua orang tuanya tiba-tiba oleng dan menabrak mobil didepannya sampai akhirnya mobil itu jatuh kedalam jurang.
Kondisi mobil mereka hancur lebur, mereka bertiga tak sadarkan diri. Semua orang yang melihat kejadian itu langsung menjerit ketakutan dan menghubungi polisi. Sekitar dua jam mobil pun berhasil dievakuasi, Kanaya dan kedua orang tuanya langsung dibawa ke Rumah sakit terdekat untuk segera mendapat pertolongan.
Polisi mengambil ponsel ibu Kanaya dan menghubungi Lia, karena itu adalah nomor yang terkahir dihubungi oleh ibunya Kanaya.
“Halo selamat siang, benar ini dengan ibu Lia?” tanya Polisi.
“Iya betul saya sendiri, ini siapa ya?” tanya Lia penasaran.
“Saya dari kepolisian, apakah ibu kerabat dari ibu Ratna?” tanya polisi untuk meyakinkan kalau Lia adalah kerabat korban.
“Iya, kenapa memangnya pak?” suara Lia yang mulai panik diujung telepon.
“Ibu Ratna beserta suami dan anaknya mengalami kecelakaan lalu lintas, sekarang mereka berada di Rumah sakit Medika.” ucap Polisi.
“APA! Baik saya akan segera kesana.” Lia langsung mematikan sambungan telepon, mengirimi pesan kepada suaminya tentang keadaan Ratna dan suaminya.
Lia langsung naik kedalam mobil dengan tergesa-gesa sampai-sampai dia lupa masih memakai baju daster dan sendal rumah. Sepanjang jalan Lia menangis dan terus berdoa semoga tidak ada yang terjadi pada keluarga sahabatnya itu.
“Pak, lebih cepat!” perintah Lia pada supirnya.
“Baik, Bu!” jawab supir dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
Sekitar 30 menit Lia sampai ke Rumah sakit yang diberitahu oleh Polisi tadi, dia langsung berlari menuju meja pendaftaran dan menanyakan korban kecelakaan yang dibawa oleh Polisi.
“Dimana korban kecelakaan yang dibawa Polisi tadi?” tanya Lia panik.
“Masih di ICU, Bu.” jawab suster yang berjaga di depan.
Lia pun berlari menuju ruang ICU, tubuhnya lemas, kepalannya pusing dan dia pun ambruk didepan ruangan ICU. Lia dibawa ke ruangan dan segera mendapatkan pertolongan dari Dokter.
Sedangkan suami Lia masih terjebak macet dijalan, dia langsung pergi ketika diberitahu istrinya tentang kecelakaan kedua sahabatnya. Sekitar 1 jam dia sampai di Rumah sakit dan langsung menghampiri Polisi yang baru saja keluar dari dalam Rumah sakit itu.
“Pak, korban kecelakaan itu dimana?” tanya Hardi Saputra yang tak lain Ayah Kanaya.
“Korban masih di ICU.” jawab Polisi. Hardi langsung berjalan dengan cepat menuju ruang ICU.
Dia melihat di ruangan sebelah sesosok wanita sedang tertidur yang tak lain adalah istrinya Lia. Dia pun menghampiri Lia dan menanyakan apa yang terjadi pada istrinya.
“Istri saya kenapa, Sus?” tanya Hardi menyelidik.
“Istri bapak hanya syok.” ucap suster yang sedang berada di ruangan itu.
Sementara di ruangan ICU Dokter dan suster sedang memeriksa keadaan ketiga pasiennya yang masih kritis. Setelah 2 jam Dokter keluar dari ruangan itu, dan Hardi pun menghampiri Dokter.
“Bagaimana keadaan saudara saya, Dok?” tanya Hardi panik.
“Pasien kritis, Pak. Putrinya juga kritis tapi, kami akan melakukan yang terbaik semampu kami untuk pasien.” tutur Dokter yang menangani sahabatnya itu.
Sekitar pukul 03.00 pagi, Ratna siuman dan perawat segera memanggil Dokter. Dokter dan beberapa perawat pun masuk untuk memeriksa keadaan Ratna sekarang, sekitar 10 menit Dokter memanggil Lia dan suaminya untuk masuk kedalam.
“Bapak, ibu, silahkan masuk kedalam pasien ingin menemui kalian.” ucap Dokter.
Mereka masuk kedalam ruangan yang steril itu, sebelum bertemu pasien mereka diwajibkan menggunakan pakaian steril.
Lia berjalan menghampiri Ratna dan memegang tangannya sambil menangis, kondisi Ratna saat itu sangat lemah bahkan untuk bicara pun dia kesulitan.
“To... tolong, ja... jaga a... anakku. Ra... rawat dia seperti a... anakmu!” pinta Ratna dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Iya, aku akan merawat Kanaya seperti anakku sendiri. Kamu harus sembuh, harus kuat demi Kanaya.” ucap Lia dengan suara yang lirih, hatinya sakit melihat sahabatnya sedang bertaruh nyawa.
“Te... terima ka... kasih, Lia.” itu adalah ucapan terakhir yang keluar dari mulut Ratna.
*Tiiiiiiiiiiit*
Dokter langsung menyuruh Lia dan Hardi untuk keluar. Lia yang masih memegang tangannya seakan tidak ingin keluar, dia ingin tetap menemani sahabatnya itu. Hardi menarik tubuh Lia dan menguatkannya, menerima apapun yang akan terjadi kepada sahabat-sahabatnya.
Tak lama ayah Kanaya drop dan akhirnya mereka berdua meninggal diwaktu yang bersamaan.
Dokter keluar dari ruangan dan memberi tahu bahwa pasangan suami istri itu sudah meninggal dunia. Lia yang tak bisa menahan air matanya langsung menangis histeris, dia merasa terpukul atas kepergian sahabatnya itu. Sedangkan keadaan Kanaya perlahan membaik dan bisa dipindahkan keruangan VIP, Lia sudah memesan kamar khusus untuk Kanaya.
Dia menyayangi Kanaya sama seperti menyayangi Randy, putranya sendiri. Selama seminggu Kanaya tak sadarkan diri sampai akhirnya Rendy, Lia, Saputra berkumpul di ruangan Kanaya. Lia yang sedang mengupas apel tiba-tiba berhenti mendengar suara lemah Kanaya.
“Ibu!” teriak Kanaya dengan suara yang lemah dan hampir menangis.
Lia pun menghampiri Kanaya dan mengelus rambutnya, tak lupa dia mencium kening Kanaya. Sedangkan Rendy langsung berlari mencari Dokter untuk memeriksa keadaan Kanaya. Tak lama Dokter masuk diikuti Rendy dibelakangnya.
“Dokter periksa dulu ya?” ucap Dokter sambil mengeluarkan stetoskop dan menempelkannya di dada Kanaya.
“Pasien sudah stabil, tapi jangan buat dia teringat apa yang sudah terjadi. Pasien mengalami shock jika teringat masa kelam itu takutnya akan mengganggu psikologinya.” tutur Dokter dan diikuti anggukan Lia.
masih bingung dengan kata² 'Kanaya langsung naik ke kamarku dan membersihkan tubuh ku' ? "ku" nya itu siapa?
ini cuman saran & kritik aja ya, bukan menjatuhkan..
sukses trs kak.
Fyi? aku bisa nemu tulisan kamu karena masuk Beranda di rekomendasi pilihan Editor. Itu udan clue banget artinya wajib di lanjut, kan?!
Ayo semangat Kakak Author🥰