Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0024. Perubahan Mita
🍄🍄🍄
-
-
-
Pagi hari ini tak seperti biasanya, entah mengapa Mita sangat malas sekali bangun dari tidurnya. Padahal kurang beberapa menit lagi ia akan berangkat ke rumah sakit, tepatnya di jam 8 pagi.
Dan biasanya Mita akan bersiap-siap ketika jam 7, beda dengan sekarang yang malah asyik tidur dan bergelung dalam selimut tebalnya.
Disatu sisi, Miko yang kala itu sudah bersiap dengan seragam sekolahnya dan sudah didepan meja makan. Dibuat mengerut kebinggunggan. Pasalnya kakaknya itu biasanya lebih dulu datang dimeja makan, dan kali ini ia yang menunggu kedatangan kakaknya itu.
“Bi! Kok kak Mita gak datang-datang ya? Apa sudah berangkat?” tanya Miko.
“Belum kok den, mungkin non Mita sedang bersiap-siap. Apa bibi panggil non Mita nya aja ya den?”
“Ngak usah bi, biar aku aja yang panggil.”
“Oke den.”
Miko pun mulai mengarahkan kursi rodanya menuju kamar kakaknya berada. Kemudian ia diam sejenak saat sampai didepan pintu itu.
“Kak Mita?”
Miko mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali, lalu ketukan kelima masih belum ada jawaban juga dari dalam kamar itu. Miko pun dibuat binggung. Lantas tak mau pusing lagi, pria remaja itu membuka pintunya yang kala itu tak dikunci.
“Helooo~ adikmu yang tampan ini datang~” ucap Miko dengan suara yang agak dikeraskan. Sengaja agar kakaknya itu datang didepannya. Namun bukannya sesuai harapan, ia malah melihat kakaknya yang saat itu dengan sangat nyamannya tidur dikasur seperti tak ada gangguan sama sekali.
Padahal suaranya tadi terbilang sangat keras.
“Udah jam segini masih tidur aja? Nggak biasanya kak Mita kayak gini, tumben-tumbennya....” gumam Miko, yang kemudian mendekati kakaknya berada.
“Kak Mita...” Miko memencet pipi wanita itu berniat untuk membangunkannya, namun usahanya itu tak berhasil. Miko yang kala itu tak memiliki kesabaran yang luas, memilih mengalihkan tangannya pada hidung wanita itu. Dan kemudian memencetnya agak kencang.
Alhasil perbuatannya itu langsung membangunkan wanita itu dari tidur nyenyaknya.
“Akhirnya kebangun juga...” ucap Miko sambil tersenyum miring.
“Huuuuuuffff... yaampun sesek banget! Padahal tadi lagi mimpi indah! Kurang ajar banget...” Mita mengerutu, lalu mengalihkan pandangannya kearah Miko yang saat itu tersenyum tanpa dosa melihatnya.
“Sudah ku duga kalau ini perbuatanmu Minoooo! Dasar kau ini ya?!” teriak Mita yang langsung mengacak-acak rambut Miko sampai berantakan.
Miko tertawa sangat keras. “Ya abisnya kak Mita gak bangun-bangun. Kayak kebo banget jam segini baru bangun. Pamali loh... anak perempuan bangunnya telat-telat. Nanti jadi kebiasaan.” Ucap Miko yang sengaja menasehati kakaknya dengan wajah yang terlihat menyebalkan.
“Halah kau ini!” Mita langsung meraup wajah adiknya dengan gerakan cepat, alhasil membuat Miko mendengus mendapati itu.
“Emang jam berapa sih?” Mita yang kala itu masih bersikap santai, tiba-tiba langsung dibuat melotot bukan main. Saat melihat jam sudah menunjuk angka 8 pagi.
“Astaga! Astaga! Astaga! Astagaaaaaaaaaaa! Udah telat ini kakak! Kenapa gak bangunin kakak dari tadi sihhhh!” dengan gemas Mita mencubit kedua pipi adiknya untuk melampiaskan rasa kesalnya itu.
Miko pun langsung menampik kedua tangan kakaknya. “Sakit tau kak! Kakak jangan nyalahin aku. Udah dibangun dari tadi, kakaknya aja yang memang jelmaan keboo!” jelas Miko dengan nada ketus.
“Ish! Kau ini... udah ah, kakak mau mandi. Gara-gara kamu kakak jadi makin telat.” Mita mulai berdiri dan berjalan kearah kamar mandi.
“Loh? Kok nyalahin aku lagi sih?” gerutu Miko kesal.
“Abisnya cuman ada kamu aja disini, jadi gak papa kan? Buat pelampiasan sedikit?” ujar Mita yang kala itu sudah masuk kedalam kamar mandi.
“Dih! Aneh banget. Kakaknya siapa sih itu?” gerutunya, sambil melipat kedua tangannya didada.
Baru beberapa menit Mita masuk kedalam kamar mandi, tiba-tiba sebuah suara langsung membuat Miko terkejut.
Suara itu terdengar seperti suara orang yang sedang muntah. Dan itu berasal dari kakaknya.
“Kakk! Kakak! Kenapa muntah-muntah? Kakak oke kan? Jangan pingsan didalam, aku gak bisa gendong!” teriak Miko yang terus mengedor pintu kamar mandi itu.
Sedangkan Mita yang berada didalam kamar mandi, merasa mual bukan main saat itu. Tapi saat ia ingin memuntahkannya tak ada yang keluar dari mulutnya. Membuat perutnya terasa diaduk-aduk.
“Hahh... gak enak banget. Apa masuk angin ya?” gumamnya. Lalu sekian detik kembali terdengar suara gedoran dan teriakan Miko.
“KAK MITA! KAK! JANGAN PINGSAN...”
“Hais itu anak, pagi-pagi udah bikin heboh...” Mita mengeleng tak habis pikir.
“KAKAK GAK APA-APA MINO! KAKAK CUMAN MASUK ANGIN...!” balasnya ikut berteriak.
“OHHH GITU? KALO BENERAN PINGSAN MAH, NANTI AKU TINGGAL SERET KAKAK AJA DAH!”
“Gak bener nih anak!” gumam Mita kembali menggeleng.
°
°
°
°
Sesampainya dirumah sakit, Mita tak langsung masuk kedalam ruangannya. Wanita itu berniat untuk menuju ruang rawat, tepatnya dimana pasien yang ia tangani berada.
Namun entah mengapa saat berjalan, kepalanya terasa pusing. Hal itu membuat cara berjalannya sedikit sempoyongan.
“Loh? Dokter Mita, baru datang?”
Sebuah sapaan membuat Mita mengalihkan pandangannya pada orang itu, namun akibat rasa pusing yang melanda. Membuat ia sulit melihat orang itu, pandangannya sedikit buram.
“Dokter Mita? Kenapa dokter? Anda sakit?”
“Oh tidak, saya tidak apa-apa.”
“Tapi dok, wajah anda terlihat pucat? Anda benar baik-baik saja?” tanyanya lagi.
“Benar saya tidak apa-apa. Mungkin karena saya memakai riasan tipis membuat wajah saya terlihat pucat? Jadi anda tak perlu khawatir.” Jelas Mita.
“Oh begitu ya... yasudah kalau begitu dokter. Saya Permisi dulu, soalnya masih ada yang perlu dikerjakan.”
“Iya silahkan.” Jawab Mita yang kala itu berpura-pura mengenali orang itu. Sebab pandangannya benar-benar buram sekarang.
“Siapa ya itu tadi? Kenapa mataku tiba-tiba gak bisa lihat? Apa karena kecapean?” gumamnya bertanya-tanya. “Coba nanti aku periksa mataku deh, setelah menyelesaikan pekerjaan.” Ucapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
°°°°
Sudah dua jam yang Mita habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Mita sekarang benar-benar mengabaikan rasa sakit di kepalanya dan juga rasa tak enak pada bagian perutnya.
Wanita itu benar-benar mengutamakan pekerjaannya. Sampai-sampai lupa untuk mengisi perutnya sendiri.
Kini ia sekarang sedang berjalan untuk menuju ruangannya. Wanita itu berniat untuk istirahat sejenak, untuk mengurangi rasa sakit yang melanda. Ia beranggapan jika rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya jika ia mengistirahatkan tubuhnya.
Karena menurut baginya, gejala-gejala itu disebabkan oleh masuk angin.
Hingga pada saat ia melihat sosok Fadli yang ada didepannya. Entah mengapa matanya langsung mengelap dan tubuhnya ambruk. Setelah itu ia tak tahu lagi dengan keadaannya, yang ia rasakan tubuhnya saat itu digendong oleh seseorang.
“Dokter Mita! Dokter Mita! Mengapa anda seperti ini? Anda benar-benar membuat saya terkejut!” teriak Fadli saat Mita berada digendongannya. Kemudian pria itu membawanya kesebuah ruangan.
-
-
-
🍄🍄🍄
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪