Kinara gadis 23 tahun yang bekerja di perusahaan Geraldio company, yang hampir satu tahun namun sekalipun belum pernah melihat seperti apa wajah bosnya.
Rasa penasaran yang tinggi membuat Kinara nekat naik ke lantai 17 ruangan pimpinan perusahaan bernama Radhika. B Geraldio. Pria kaku irit bicara sulit senyum, sosok pria aneh yang membuat Kinara jatuh cinta.
Ketika hati mulai terbuka Radhika justru bertemu wanita yang mirip almarhum calon istrinya Mukta Arandyah.
Kinara terpaksa pergi membawa luka hatinya yang baginya sulit untuk melupakan pria pertama yang mampu membuatnya jatuh cinta.
Sosok Bara yang hadir sebagai pengganti Radhika adalah dua nama dengan satu karakter yang sama.
Ikuti terus ceria Asmara dan Luka Kinara dana Bara hanya disini👇👇
Sorry I Love You Boss!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ninaammar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memungkiri Perasaan Masing-Masing
“Kinara, sore nanti aku akan mengantarkan mu pulang,“ ucap Dion pada Kinara.
Kinara membalikkan tubuhnya. “Tidak perlu Dion. Sore nanti aku masih ada pekerjaan, Maaf.“ angguk Dion tersenyum tipis. Mereka pun berpisah di depan pintu lift setelah Dion mengantar Kinara, sementara Dion kembali menuju pintu utama gudang.
Kinara membuka note book jadwal tugas berikutnya, membersihkan ruangan lantai 13 sampai 16. Mengumpulkan alat apa saja yang gadis itu perlukan untuk ia bawa sampai bawa ke lantai 13.
Didalam lift bunyi notifikasi pesan whatsapp dari ponselnya. Dua karyawan wanita dari divisi utama memandang Kinara dengan tatapan sinis dan tidak suka.
“Pekerjaan mu cuma cleaning servis. Tapi cara mu bekerja disini seolah kau itu adalah istri dari pemilik perusahaan ini.“ sinisnya mengatakan pada Kinara.
“Atau jangan-jangan dia kerja double. Disini jadi cleaning servis tapi di luar sana menservice pria pengusaha.“ cibir karyawan satunya dengan hujatan merendahkannya.
“Apa maksud ucapan kalian? Aku merasa tidak punya masalah dengan kalian. Jadi tidak usah menuduh Ku dengan ucapan keji kalian,“ Kinara keluar saat pintu lift terbuka tepat dilantai 13. Dengan sengaja gadis itu menyemprotkan cairan pembersih lantai ke arah mereka, membasahi baju serta rok di atas lututnya.
“Aaa... Dasar kurangajar! Cleaning servis sialan!“ Kinara tersenyum puas merusak penampilan dua wanita karyawan di staff penting itu.
“Makan tu super pell, biar tahu rasa!“ umpatnya merogoh ponsel dari saku seragamnya.
Kinara membuka pesan yang hampir terlupa, entah siapa yang mengirim pesan padanya disaat masih jam kerja.
Kinara menonjolkan kedua matanya sempurna setelah membuka pesan video dari nomor yang tidak dia kenal.
“Sangat memalukan. Bagaimana bisa ada vidio disaat aku makan di hotel dengan cara seperti ini.“ Sesaat Kinara ingat sesuatu yang lebih memalukan dari itu, serta ucapan bossnya saat bertemu di lantai 20.
Pukul 4 sore Giovano akan mengantar mu ke hotel. Pakailah dress mu seperti yang ku suruh atau__
^^^[Send~Kinara]^^^
Aku tidak mau 😡😡
^^^[Send ~ Boss Mesum]^^^
Kinara membalas singkat lengkap dengan emoji marah.
Cukup membuat Randhika tersenyum tipis hanya dengan membuka balasan pesan Kinara.
Tapi tanpa sengaja Radhika mengirim pesan stiker love karena tersentuh jarinya. Sialnya Kinara lebih dulu membuka pesan bentuk hati tersebut sebelum Radhika mendelete pesannya.
^^^[pesan telah di hapus]^^^
Ada guratan kekecewaan di wajah Kinara setelah tahu pria itu menghapus pesan terakhirnya. Dia kembali meletakkan ponselnya kedalam saku, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya sampai tuntas.
****
Di kantor Baswara Corp, Samudra benar-benar dibuat tidak fokus pada pekerjaan. Hati dan pikirannya melalang buana memikirkan rusa cantik, yang kabur setiap kali ia dekati.
“Jadi gadis itu bernama Kinara dia tinggal di hotel dan bekerja di perusahaan yang sama milik Geraldio. Hebat sekali perusahaan Radhika memberikan fasilitas kantor pada karyawan outsourcing pada cleaning servis. Bagaimana dengan pegawai penting yang berada di divisi tertentu pasti fasilitas mereka jauh lebih mewah.“ gumam Samudera pada dirinya seolah ia sedang berbicara dengan lawan bicaranya.
Pria itu pun berpikir akan kembali ke hotel itu lagi setelah memeriksa beberapa laporan untuk menemui Kinara, sekedar ingin tahu sebenarnya di ada lantai berapa.
Semua berkas telah Sam kerjakan, serta menorehkan parafnya. Sebagai bukti jika laporan itu telah di periksa oleh sang direktur utama perusahaan.
Kinara berjalan ke arah parkir. Giovano turun dari mobil membukakan pintu, untuk karyawan istimewa tuannya.
“Masuklah!“ perintahnya. Kinara duduk menutup pintu depan menarik sitbel ke tubuhnya.
Diam-diam Dion mengikuti mobil yang Kinara tumpangi, yang di kemudikan oleh asisten pribadi pimpinan perusahaan.
“Aku jadi penasaran. Pekerjaan apa yang Kau maksud, Kinara? Sampai-sampai kau tidak ada waktu pulang.“ lirihnya sambil mengenakan helm.
“Dion, tunggu!“ Dion berdecak kesal, menoleh Marisa yang datang dari arah belakang.
“Sorry, Sa. Aku sibuk!“ ujarnya memantik gas mengikuti mobil pajero hitam yang keluar.
“Dioonn!“ panggil Marisa lebih keras.
“Nggak usah teriak! Ganggu kenyaman orang aja!“ omel salah satu karyawan yang keluar dari parkiran khusus roda dua.
“Apaan,si loe sirik aja!“ balas Marisa sewot.
“Dasar nggak tau malu! Udah tahu Dion nggak suka, masih aja ngejar. Dion itu sukanya sama Kinara!“ ejeknya membuat Marisa makin marah dan ingin menampar mulutnya. Karena are parkir masih ramai orang Marisa menahan marah sebisa mungkin.
Hanya mengepalkan kedua tangannya, dengan rahangnya yang keras hingga giginya gemelutuk.
“Sialan!“ umpat Marisa tidak terima.
Dion mengikuti mobil yang Giovano operasikan, dan berhenti sekitar dua meter dimana Giovano memarkirkan mobilnya menunggu Kinara di lobi.
Kinara turun di lobi hotel masuk kedalam menuju pintu lift, sedangkan Giovano menunggu di mobil sambil mendengarkan musik player nya.
Setibanya di kamar hotel Kinara melihat Mainan sudah berada di dalam menunggunya.
“Hai, Non Kinara!“ sapa Naina melambaikan tangan.
“Naina! Kau sudah kembali. Bagaimana kabar ibu di rumah sakit?“
“Ibu Ku sudah jauh lebih baik. Tuan memintaku datang untuk merias Non Kinara. Sekarang mandilah! Aku akan menyiapkan semuanya.“ perintah Naina
“Naina, panggil namaku saja! Aku dan kamu sama. Kita sama-sama bekerja untuk tuan yang sama.“ tutur Kinara merendah. Naina tersenyum mengangguk.
Kinara meraih handuk kimono yang di gantung di pintu lemari, melesat masuk kedalam menutup pintu kamar mandi.
Aroma sabun dan sejuknya air membuat tubuh gadis 23 tahun itu kembali segar dan rileks. Meski letih dan pegal mendera tubuhnya, naik turun tangga membersihkan kantor dan toilet sangat melelahkan.
Naina membantu Kinara memakai dress yang sebelumnya sudah di siapkan oleh atasannya, Radhika.
Serta merias wajah Kinara yang sebenarnya tidak perlu dipoles, karena Kinara sudah cantik meski tanpa mike up. Ditambah kulitnya yang putih bersih hanya saja tertutup oleh pakaian rumahan biasa.
“Naina, Apa di kamar ini ada cctv?“ tanya kinara penasaran.
“Tentu saja ada, disana!“ tunjuk Naina. “Kamera itu sengaja dipasang agar tuan tahu siapa saja yang keluar masuk kemar ini. Sepertinya tuan sangat khawatir dengan mu Kinara, saat tuan membawa mu dalam keadaan pingsan.“ ucap Naina member tahu sambil menyisir rambut panjang Kinara.
“Benarkah?“ Seperti ada bunga yang bermekaran di hati Kinara. Saat mendengar ucapan Naina. Kinara melihat letak cctv itu berada dengan senyum mengembang dibibirnya.
Jadi dia memasang kamera itu hanya sampai di sofa itu saja. Pantas saja dia tahu caraku makan saat duduk disana.
Ucapnya dalam hati diiringi senyum lebar, membayangkan wajah tampan bossnya yang mirip pangeran yang ada dalam mimpinya.
Naina melihat ada senyum yang masih mengukir di bibir mungil Kinara.
“Apa kau menyukai tuan Radhika, Kinara?“ tanya Naina tiba-tiba, membuat senyum gadis itu memudar perlahan.
“Aku? Suka padanya?“ ulangnya.
“Humm!“
“Mungkin, Tuhan akan meruntuhkan langitnya. Jika itu benar terjadi, Naina. Orang seperti kita tidak akan berati apa-apa bagi mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Aku dan kau hanyalah robot mereka, Naina.“ papar Kinara mengatakan apa yang sedang dia rasakan.