Pria itu benar-benar tidak menyangka jika satu malam itu berhasil membuat Vior mengandung anaknya.
Pernikahan yang didasari atas kesalahan apakah akan bertahan lama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ding-dong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik!
Selesai makan Rara membuatkan susu ibu hamil seperti sebelumnya, lantas kembali mengantar Vior naik ke kamarnya.
"Prince sudah nyuruh orang buat perbaiki lift, kalau lift nya udah diperbaiki nanti, kamu nggak perlu naik turun tangga lagi sekarang kamu istirahat aja kalau butuh sesuatu bilang sama penghuni rumah yang lain, jangan menunda-nunda oke?" ucap Rara.
Vior mengangguk, Rara mencium kening Vior sambil tersenyum mengusap pipi chubby Vior yang semakin menggemaskan.
"Mama senang banget kamu yang jadi istrinya Prince, Mama harap kamu bisa bahagia sama Prince," Rara berucap lirih, Vior belum sempat mengatakan apapun dan Rara sudah keluar dari kamar.
Tidak terasa kini sudah pukul sembilan malam, Vior baru saja akan memejamkan mata tapi dia dibuat terpaksa bangun dari tempat tidur untuk menerima panggilan dari ponsel yang tergeletak di meja.
Tertulis nama pak suami di layar utama, Vior segera menerima panggilan video berasal dari Prince, wajah Prince seketika terlihat di layar ponsel, Vior merasa sangat lega dan rasanya sangat tenang karena bisa menatap wajah Prince lagi, padahal tadi pagi Prince juga menghubunginya lewat video call.
"Apa aku ganggu kamu tidur?" tanya Prince.
Sebenarnya memang mengganggu tapi Vior tidak mau mengakuinya, Vior jauh lebih merasa senang menatap Prince daripada harus tidur terlelap p
menahan rindu dengan lelaki yang kini sedang dia tetap di layar ponselnya.
"Kamu baru pulang kerja?" Vior balik bertanya dan Prince mengangguk lemah, Prince terlihat baru selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah dan Prince berbaring di tempat tidur memamerkan wajahnya.
"Aku malu mengakui tapi aku kangen banget sama kamu, pengen elus baby dan peluk kamu pas tidur, ah... padahal aku baru di Jakarta selama tiga hari tapi udah sekangen ini sama kamu," Prince memalingkan wajah menjauh dari layar ponsel.
Vior terkikik geli, pengen bilang kalau dia juga kangen banget sama Prince, tapi Vior jauh lebih malu untuk mengatakan hal itu, wajah Prince balik ke layar ponsel.
"Baby-nya nggak minta yang aneh-aneh kan pas aku nggak ada?" tanya Prince.
"Bibi sama Mbak di rumah kamu sigap nyariin apa yang aku mau, lagian aku juga nggak minta yang aneh-aneh kok, cuma wajar aja kan ibu hamil minta rujak," ucap Vior.
Prince tersenyum. Oh Tuhan suamiku ganteng banget, teriak batin Vior, Prince bergerak duduk, mengacak-acak rambutnya sendiri sambil berjalan ke arah jendela besar yang ada di apartemen Prince.
"Lihat deh pemandangan dari apartemenku bagus banget, kamu sih nggak mau diajak ke sini," Prince memamerkan pemandangan dari apartemennya, pemandangan yang sangat bagus tapi itu tidak berarti buat Vior yang takut ketinggian.
"Kamu nggak kangen sama aku?" kembali Prince menampakkan wajah di layar ponsel.
Vior mengangguk samar nyaris tidak kentara mengakui pertanyaan barusan, ingin sekali Vior memeluk Prince sekarang, sangat ingin sampai rasanya tidak bisa ditahan dan malah air mata yang menetes.
Prince mendelik.
"Vior, kamu kenapa? kamu sakit?" Prince jadi panik, jelas dia tidak akan membiarkan Vior kenapa-kenapa, tapi sekarang Prince sedang berada jauh dari Vior.
"Nggak kok baik-baik aja, tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba malah nangis begini, padahal aku lagi nggak pengen nangis," Vior justru tertawa akibat kekonyolannya sendiri, tapi air matanya tak bisa ditahan, Vior juga heran kenapa dia malah menangis padahal sedang tidak ingin menangis.
"Kami yakin nggak apa-apa? aku panggilin Dokter buat datang periksain kamu yah? ya ampun Vior aku beneran panik loh ini, kamu bilang nggak apa-apa tapi kenapa nangis?" tanya Prince.
Vior semakin tertawa sambil terus mengusap air mata dengan punggung tangan.
"Air matanya tidak mau berhenti ini, gimana dong? kayaknya baby mau Papanya cepat pulang dia kangen sama Papanya," ucap Vior.
"Aku bakalan cepat pulang, kerjaan aku secepatnya bakalan aku beresin dan kalau belum beres juga aku jemput kamu di Bandung buat ke Jakarta," Prince benar-benar frustasi sekarang, rasanya ingin segera pergi menemui Vior saat ini juga, tapi besok pagi ada rapat penting yang harus Prince datangi.
Belum pernah Prince sefrustasi ini karena tidak bertemu Vior selama tiga hari, ya hanya tiga hari tapi Prince sudah dibuat mabuk kepayang oleh rasa rindunya, ini menggelikan, Prince tidak mau mengakui hal itu, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan kenyataan apa yang sedang dia rasakan.
"Akhhh" pekik Vior tiba-tiba sembari menunduk, Prince semakin panik dari tempatnya.
"Vior, aku panggilin Dokter sekarang yah? kamu pasti lagi sakit jadi jangan pura-pura kuat pokoknya aku panggilin Dokter sekarang," ucap Prince.
"Pak Prince baby-nya gerak, barusan aku ngerasain kayak tendangan kecil di dalam perut aku," ucap Vior.
Prince mendelik.
"Beneran? Astaga aku pengen disana buat ngerasain pergerakan baby nya, Vior ini gimana dong? aku pengen ketemu sama kamu sekarang tapi besok ada rapat," Prince semakin frustasi mengacak rambutnya sendiri sampai terlihat seperti sarang burung.
Melihat Prince yang saat ini terlihat berantakan justru membuat Vior tertawa.
"Aku panik begini kok kamu malah tertawa sih?" ujar Prince.
"Udah malam, Pak Prince pasti capek, selamat istirahat yah calon Papa," kemudian Vior sengaja mematikan panggilan secara sepihak, puas rasanya melihat wajah Prince seperti tadi, rasa rindunya terpuaskan begitu saja setelah menatap Prince di layar ponsel dan berbicara dengan lelaki itu.
"Pak Prince ternyata orangnya gemesin kalau lagi bingung," Vior terkikik geli, membaringkan tubuhnya dengan hati-hati sebelum tertidur pulas.
makan tuu cinta, mamposss sekalian sorry thor aq kesel sama si prince
next Thor,,,