"selamat pagi, yah, Bun." sapa Naya.
"pagi, sayang," balas lina Bunda naya.
" pagi,princess,"faizal ayah Naya, tersenyum ke arah putrinya.
"mau sarapan apa sayang."
"roti kacang, Bunda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 24
Naya keluar dari kamarnya dengan wajah yang terlihat lesu dan tidak bersemangat. Entah kenapa tiba-tiba dia merindukan suaminya.
Wanita dengan baju gamisnya itu berjala kearah Ibu mertuanya yang sedang duduk di depan televisi.
Naya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16:30
"Umi?" panggil Naya.
"Iya, Nak, ada apa?" tanya Hafizah saat melihat menantunya tidak bersemangat berjalan kearahnya.
"Pinjam ponsel Umi, Naya mau nelpon Mas Keenan."
"Tunggu sini, Umi ambilkan dulu."
Naya mengangguk ....
Setelah beberapa menit kemudian Umi Hafizah kembali membawa ponselnya. "Ini, Nak."
"Makasih, Umi."
"Sama-sama, Sayang." Hafizah tersenyum kearah menantunya.
"Naya ke kamar dulu, Umi," pamit Naya.
"Iya, Nak."
Naya mencari nama Keenan dikontak Umi Hafizah. "Aku akan hubungi Mas Keenan dan memintanya datang."
Naya menatap ponsel yang ada ditangannya dengan tatapan kesal, Dia sudah menghubungi Keenan sudah beberapa kali, tapi tidak aktif.
"Mas Keenan mana sih?"
🍃🍃🍃
"Sayang, mas keluar bentar iya." Arkan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya setelah menerima pesan dari Keenan.
"Mau kemana, Mas?" tanya Aisyah—istri Arkan—
"Ada urusan bentar." Keenan mengecvp kening istrinya. "Mas janji akan pulang cepat.'
"Janji." Aisyah mengajukan jari kelingkingnya.
"Janji." Arkan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari istrinya. "Ya udah, Mas pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh."
Setelah beberapa menit kemudian Arkan sudah sampai ke lokasi yang sudah di kirim Keenan padanya. "Inikan lokasi yang sama."
Arkan tau benar ini adalah lokasi yang sama dengan lokasi yang dia lacak melalui no telpon yang meneror Naya.
"Ngapain Keenan ada disini?" tanya Arkan entah pada siapa.
Keenan memegang kepalanya yang sedikit pusing, tapi dia masih sadar.
"Mas Keenan kenapa?" tanya Rifa dengan wajah khawatirnya yang dibuat-buat.
"Rif, kepala aku kok tiba-tiba pusing?" tanya Keenan sambil menyentuh kepalanya.
"Sebaiknya mas Keenan istirahat aja du—" belum Rifa menyelesaikan ucapnya, Keenan sudah menutup matanya.
"Si*l ...." Rifa menatap Keenan dengan marah. "Seharusnya dia masuk ke kamar dulu, jadi repot kan."
Rifa menjatuhkan dirinya kesamping Keenan yang matanya sudah tertutup. "Rencana-ku berhasil."
Rifa menatap wajah Keenan dengan tatap memuja. " Seharusnya aku yang kamu nikahi, Mas, tapi kenapa harus wanita itu?"
Tangan Rifa terangkat untuk menyentuh wajah Keenan. "Tapi tidak masalah, karena sekarang kamu akan jadi milikku."
"Mas tau? Aku yang sudah mengirim foto-foto itu pada istri tercintamu." Rifa mengelus pipi Keenan. "Istrimu itu sangat bodoh, karena percaya begitu saja."
Rifa sangat mengangumi Keenan semenjak dia menjadi santri di pesantren kiyai Ibrahim sampai dia mendapatkan gelar ustazah. Sebelum cintanya dibalas oleh Keena, Rifa dijodohkan dengan pria yang berprofesi sebagai tentara pilihan Ayahnya, lalu menikah tanpa Keenan ketahui. Setelah Rifa mengetahui kalau Keenan sudah memiliki istri, saat itu lah Rifa semakin kehilangan akal, Dia menghalalkan secara cara untuk mendapatkan Keenan, meskipun Arkan selalu menghalanginya.
Rifa tersenyum licik. "Aku juga yang sudah meneror istrimu di kampus, tapi itu semua bukan salah aku."
Rifa memasang wajah sok sedihnya. "Aku lakuin ini semua karena kamu Mas. Kamu jangan mara—"
BRUK ....
Perkataan Rifa terhenti saat mendengar suara pintu terbuka secara paksa.
"Akhirnya kita ketemu lagi, Rifa." Arkan tersenyum lebar arah Rifa yang sudah berdiri dari duduknya.
"Kenapa kamu selalu menggagalkan rencana-ku Arkan?" tanya Rifa dengan mata menyala karena marah. "Seharusnya kamu urus aja istri manj—"
"Akhrr ...! kenapa kamu lama sekali?" tanya Keenan dengan kesal pada Arkan, meskipun kepalanya masih terasa sedikit pusing, tapi dia masih bisa menahannya.
"Sorry keen, kamu tau kan istriku kaya gimana." Arkan terkekeh. "Ah ..., Aku jadi merindukannya."
Rifa terkejut karena Keenan membuka matanya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Terkejut?" tanya Keenan dengan senyuman liciknya. "Kamu pikir saya sebodoh itu? Hahaha, untung kau seorang perempuan, kalau bukan."
"Apa perlu kita bahwa ke polisi?" tanya Arkan.
Rifa yang tadinya terkejut dan merasa khawatir tiba-tiba tertawa begitu keras.
"Polisi, Kalian punya bukti apa, memangnya? hmmm."
Keenan merai ponsel yang sudah dia setel alat perekam yang merekam semua perkataan Rifa. "Kamu sudah mengakui semua kejatahan mu, Rifa."
Rifa berjalan mundur kebelakang dengan kaki yang sedikit gemetar. "J–jangan, jangan laporin saya ke polisi."
"Kenapa jangan, kamu takut?" tanya Arkan dengan sinis.
Keenan menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 18:00 waktu solat magrib sudah tiba.
"Kita solat dulu, Ar." Keenan menunjuk jam tangannya kearah Arkan.
"Ini bagaimana?" tanya Arkan.
"Yang penting kita punya bukti, itu sudah cukup."
Arkan menatap Rifa dengan tatapan tajamnya. Sebenarnya dia sudah bosan melihat tingkah Rifa. "Tunggu panggilan polisi."
Arkan tersenyum mengejek kearah Rifa yang sudah keliatan pucat sebelum pergi dari ruangan itu.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Arkan saat melihat Keenan masih dalam pengaruh obat.
"Masih sedikit pusing."
"Untung aja, Kamu gak minum terlalu banyak.".
"Itu sebabnya menyuruhmu datang, takut obat itu dosisnya tinggi."
Arkan hanya terkekeh.
Setelah beberapa menit kemudian dua saudara itu sudah selesai menunaikan solat magribnya di mesjid.
"Bagaimana kamu bisa ada di rumah itu?" tanya Arkan.
"Aku melihat sedang berdiri dipinggir jalan, jadi aku niat untuk membantunya."
"Ck ..., Kamu ini bodoh atau gimana sih? Kamu kan udah tau, Rifa itu kaya gimana."
"Aku tau, tap—"
"Udahlah, Aku mau pulang, takutnya Aisyah nyariin." Arkan masuk kedalam mobilnya. "Sampaikan salam ku untuk Umi dan Abi."
Keenan hanya mengangguk. "Masalah Rifa, biar aku yang urus."
"Biar aku aja, kamu 'kan bodoh."
Keenan menatap tajam kearah Arkan yang sudah tertawa kecil.
"Makanya, jangan terlalu baik," ejek Arkan. "Baik boleh, tapi liat juga kali siapa yang pantas dibaiki," ucap Arkan. "Ia udah, Aku balik duluan, ingat pulang dengan cepat, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh."
Keenan terdiam sejenak. Pria itu baru menyadari kebodohannya, seharusnya dia tidak menolong Rifa, tapi dia tetap masih menolongnya.
Untungnya dia sempat melihat Rifa sedang mencampur sesuatu kedalam minumnya pada saat dia ingin pamit pulang, kalo tidak entah apa yang terjadi.
TBC ....
masih bnyk teka teki ...🤔🤔🤔🤔