Menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Tentu bukanlah hal yang di inginkan oleh wanita baik-baik, bukan?
Tapi bagaimana? Jika semua itu sudah bagian dari takdir seseorang? Seperti takdir dari gadis cantik yang bernama Farida Pasha (23 tahun) pelayan di salah satu hotel bintang lima di kota besar itu.
Karena tragedi satu malam yang merenggut kehormatan nya, membuat ia terpaksa menikah dengan Aditia Putra Aditama (32 tahun) pria yang sudah memiliki istri.
Akankah Farida bahagia menjadi istri simpanan? Atau ia akan berakhir menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAPA YAN
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aditia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Sedangkan Farida, wanita hamil itu masih bergelung dengan selimut tebalnya.
"Sayang, ayo bangun," kata Aditia pada istrinya. "Mas sama Adam mau berangkat kerja, kamu mau tinggal sendiri di rumah atau mau ikut mas ke kantor?" tawar Aditia pada istrinya itu.
"Mata Ida susah banget melek nya loh, mas," guman Farida dengan suara lembutnya.
"Nanti waktu mas udah berangkat, kamu malah nyariin," kata Aditia.
Di saat Aditia terus membujuk istrinya untuk bangun, tiba-tiba saja ponsel yang ada disaku celananya berdering.
"Adam," guman Aditia saat melihat nama penelpon yang tertera di layar ponselnya. "Cih! Apa salahnya dari bawah sana naik ke atas sini sebentar." Aditia menggeser layar ponselnya dan mengakat panggilan itu.
"Hallo, Dam. Ada apa?" tanya Aditia To The Point.
"Ini Tuan, Nona Karina dan Tuan Yan datang dan menunggu Tuan di sini," kata Adam. Maksud di sini kata Adam adalah ruang tamu rumah itu.
"Oh, aku turun sekarang!" Aditia pun mematikan sambungan telpon itu.
"Ada apa, mas?" tanya Farida pada suaminya.
"Ada papa dan Karina di bawah, pastilah wanita liar itu sudah mengadu yang tidak-tidak," kata Aditia dengan kesal. "Mas turun ke bawah dulu ya. Kamu tunggu di sini."
"Ida ikut," ucap Farida dengan wajah cemas nya. Padahal, memang seperti itu wajahnya hanya saja Aditia tidak pernah paham dan mengerti dengan semua expresi dan raut wajah Farida yang cepat sekali berubah.
"Sini aja, mas gak lama. Lagi pula, mas takut Karina akan menganggu kamu," kata Aditia. pria itu takut sekali terjadi sesuatu pada istrinya.
"Pokoknya Ida mau ikut, Ida gak mau mas di salahin sendirian," ucap Farida.
Melihat istrinya yang hampir menangis, Aditia pun berjalan ke arah lemari dan mengambilkan pakaian untuk istrinya itu.
Farida tersenyum samar saat melihat suaminya itu tidak menolak keinginannya untuk ikut menemui papa dari Karina.
Setelah selesai memakaikan pakaian Farida, Aditia pun mengajak istrinya itu untuk turun. "Jangan buru-buru, pelan-pelan aja," kata Aditia pada istrinya yang berjalan terburu-buru.
"Gak enak kalau sampai papa nya Mbak Karina nunggu lama, mas. Kesannya kita makin jelek dimata nya," jelas Farida.
Kini, Farida dan Aditia sudah sampai di lantai bawah. Adam yang melihat Farida begitu berani pun hanya bisa tersenyum samar.
"Apa lagi yang akan di lalukan Nona Farida?" guman Adam. "Sepertinya dia percaya diri sekali."
"Selamat pagi, pa," ucap Aditia. "Tumben pagi-pagi banget papa udah sampai disini?" tanya Aditia basa-basi dan pura-pura tidak tahu dengan maksud dan tujuan papa mertuanya.
"Selamat pagi, pa," Farida yang berada di belakang Aditia mendekat dan menyalami serta mencium tangan Papa Yan, Papa dari Karina.
"Inikah istri muda Aditia? Cantik, lembut dan juga sopan sekali," batin Papa Yan. Sebagai pria terhormat dan juga baik-baik, tentu akan tersanjung akan perlakuan Farida.
"Papa kesini ada perlu sama kamu, karena papa mendapat aduan dari Karina kalau kalian sudah bercerai," kata Papa Yan. "Apa itu benar, Aditia?" tanya Papa Yan dengan tegas.
"Benar, pa," jawab Aditia tak kalah tegas. "Aditia terpaksa menceraikan Karina."
"Terpaksa karena istri muda mu?" tanya Papa Yan sembari menatap wajah sendu Farida.
"Maaf, pa. Ida disini ingin melakukan pembelaan, Ida tidak ingin di jadikan alasan terjadinya perceraian Mas Adi dan Mbak Karina," kata Farida.
"Yank, biar mas yang menjelaskan," ucap Aditia. Mendengar perkataan suaminya, Farida pun kembali menundukkan kepalanya.
Adam yang berada di belakang Farida dan Aditia hanya diam saja, akan tetapi ia sudah siap dengan segala tugasnya.
"Selama ini Aditia tidak pernah berselingkuh ataupun menyakiti Karina, pa," kata Aditia. "Papa bisa tanyakan pada Karina, karena Karina sendirilah yang sangat tahu dengan apa yang terjadi diantara kami!" tegas Aditia.
"Apa maksud kamu Aditia?" tanya Papa Yan dengan heran. "Karina?" Papa Yan melirik putrinya yang sedari tadi hanya diam.