Beberapa orang mendadak merasakan keanehan dengan dirinya. Semacam memiliki kekuatan sihir yang entah dari mana. Itu karena kekuatan para penyihir yang tersegel ribuan tahun terlepas. Membuat mereka yang dipercaya sebagai darah keturunan para penyihir dari masa lampau kini menjadi memilikinya.
Gadis cantik berusia 17 tahun bernama "Barbara Hailey" adalah salah satunya.
Diyakini memiliki darah keturunan penyihir legendaris yang hebat bernama "Anastasha Edith" oleh keluarganya, dia yang dipanggil Hailey akhirnya diundang ke suatu tempat di dunia penuh dengan sihir.
Mereka menyebutnya, Akademi Para Penyihir. "The Sorcerers Academy!"
Tempat berkumpulnya remaja-remaja yang ternyata mewarisi kekuatan para penyihir dari masa lampau.
Akan tetapi karena Hailey kesulitan dalam mengendalikan sihir, dirinyapun menjadi diremehkan oleh sebagian yang lain.
Jadi bagaimanakah cara Hailey agar dapat memenuhi takdirnya sebagai salah satu darah keturunan dari para penyihir terhebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fredyanto Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23: Jump Into The Beehive(Part 2),The Sisters Throne.
Melangkah paling belakang dari yang lain, "Uh.. Teman-teman!" Kyle merasa semakin tidak nyaman dengan suasana hutan di sana. Menggosok lehernya gelisah.
Dan ia kemudian menghentikan langkahnya.
"Ada apa Kyle?!" Tanya Paul memastikannya. Yang lainnya juga menghentikan langkahnya_ menoleh kepada Kyle yang jaraknya tidak merapat dengan mereka.
"Aku merasa tidak nyaman dengan suasana ini!" Mungkin... Aku lebih baik berjaga saja di Maquech," Ucap Kyle, suaranya terdengar gelisah.
"Apa?! Ayolah bung! Kamu hanya membuat malu dirimu sendiri di depannya!" David kesal. Tanganya menunjuk ke arah Little Marry.
"Kyle, kita sebaiknya tetap bersama... (Kyle: Aku tahu tapi... .)"
"Tidak apa. Tidak perlu berdebat. Tetap di sana saja sampai kami kembali bersama Thalia, oke?!" Ucap Hailey langsung, menghentikan perdebatan terakhir Paul dan Kyle yang hanya akan membuang setiap detik sampai menit waktu mereka.
Tidak mengatakan apapun lagi si Kyle berbalik arah dan berjalan kembali ke Maquech yang jaraknya belum terlalu jauh di luar hutan sana.
"Dia ketakutan. Aku tahu itu," Gumam David melanjutkan langkahnya bersama yang lain. Hailey, Paul, Daniel, Aubrey, dan juga Little Marry.
Dan mereka yang sekarang itu hanya tinggal ber enam melangkah semakin jauh ke dalam hutan.
Semakin dalam mereka masuk... Semakin banyak ranting-ranting berbentuk jari jemari atau tangan monster bercabang itu yang seakan berusaha meraih mereka yang sedang terus berjalan berlalu.
Dua dari mereka_ Hailey dan Daniel yang membawa senter penerangan dari sebelum keberangkatan ke hutan itu terus menyorot-menyorot sekitar.
Memperhatikan ke sekeliling mereka. Mengawasi keadaan dan mencari keberadaan Thalia yang entah memang berada di sekitar sana atau tidak.
Little Marry yang mengajak mereka ke sana juga tidak terlalu yakin. Sepertinya. Karena seperti yang sudah diucapkannya sebelumnya, kalau itu hanya dugaannya saja. Kalau The Sisters atau Para Saudari menahan Thalia di tempat yang sedang mereka pijak saat itu juga.
Hutan tangisan. Weeping Forest, atau juga Siren Forest.
Masih ditengah pencaharian... Mereka semua samar-samar mendengar nyanyian bercampur tangisan.
"Apa itu?!" Paul waspada ketika mendengar itu.
"Para pria! Tutup telinga kalian rapat-rapat!" Titah Little Marry langsung ketika mendengar suara itu juga.
Bukan hanya terdengar suara nyanyian samar yang mengganggu mereka, tapi juga terlihat sekilas ada beberapa kali bayang-bayang seperti asap putih terbang melintas di antara pepohonan sekitar mereka.
Yang terbang melintas itu tidak lain lagi adalah para siren. Roh dari para gadis yang tidak tenang, dan menjadi sosok makhluk yang berbahaya.
Mereka terlihat terbang melintas di antara pohon ke pohon dengan begitu anggunnya. Dengan wajah yang samar-samar sekilas terbentuk dari wujud mereka yang berupa seperti asap itu.
Tapi bukan wujud seperti itu yang perlu dikhawatirkan.
Wujud ketika mereka menggoda para pria itulah yang harus diwaspadai. Karena itulah yang terjadi dan sedang dilihat Paul kemudian.
"Paul!... Paul!" Samar-samar terdengar ada yang memanggilnya dari balik tangan yang menutup kedua telinganya. Akan tetapi yang lainnya tidak mendengar seperti apa yang sedang di dengarnya.
"Paul!..., " Suara begitu lembut memanggilnya lagi dan lagi. Paul melonggarkan tutupan tangan di daun telinganya.
Menghentikan langkahnya... Paul menoleh-noleh sekitarnya.
"Paul!... Tolong aku!" Suara tanpa wujud itu memohon. Nada suaranya juga terdengar sedih.
"Ini terasa sakit! Tolong aku!"
Sepenuhnya melepas tutupan tangan-tangan di kedua daun telinganya, Paul, mencari asal suara yang terus memohon kepadanya. Meninggalkan Hailey dan yang lainnya.
Hailey, Daniel, David, Aubrey, dan Little Marry terus melangkah dengan tidak memperhatikan belakangnya. Jadi mereka tidak sadar, kalau Paul sedang terhanyut dengan suara wanita yang seakan sedang memohon pertolongannya.
"Sebelah sini!" Panggil suara itu. Terus menuntun dan memisahkan Paul jauh dari yang lain. Semakin jauh terpisah dari yang lain, dirinya memasuki daerah hutan yang berkabut. Itu agak mengganggu pandangannya. Tapi Paul tetap mencari asal suara.
"Sebelah sini! Tolong!" Lagi. Dan Paul mulai melihat seseorang. Semakin jelas di balik kabut-kabut sana ada seorang wanita atau gadis yang sedang dalam masalah.
Kaki dari gadis itu tertindih puing-puing kayu yang sepertinya bekas reruntuhan rumah.
Paul tiba di sana menghampirinya.
Sudah saling bertemu, gadis begitu cantik dengan rambut putih lurus panjang yang terus bergerak lembut berombak seakan sedang di dalam air, dan bergaun putih itu terus merintih kepadanya. Benar-benar meminta bantuannya agar dirinya dapat bebas dari tindihan puing-puing kayu di sana.
Ingin membantu... tapi Paul kembali teringat dengan peringatan dari Little Marry. Berusaha kembali menyadarkan dirinya yang terasa hampir sepenuhnya terpengaruh belas kasih atau rayuan sosok gadis yang sepertinya adalah siren itu.
"Tidak! Kamu tidak akan bisa merayuku, Siren!" Ucap Paul menekankan kalimatnya, sambil memandang tajam gadis yang memang benar adalah salah satu dari siren yang berpura-pura tersungkur dengan satu kaki tertindih tepat di hadapannya sana.
Paul pun langsung bergeas cepat meninggalkanya. Berpaling menjauh.
Akan tetapi belum dirinya jauh dari sana... Siren itu mulai bernyanyi dari arah belakang Paul yang melangkah bergegas.
Nyanyian yang begitu merasuk pikiran dan merebut hati. Yang membuat pria manapun pasti akan luluh kepadanya.
Mendengar nyanyian itu dengan jelas... Paul langsung menghentikan langkahnya. Sepasang bola matanya pun seluruhnya terselimuti sihir hitam. Setelah untuk sesaat hanya terus berdiri tergantung di sana, Paul kemudian berpaling dan melangkah kembali mendekati gadis siren cantik nan anggun itu.
Terus menarik kembali Paul kepadanya_ sepasang mata siren itu berubah kosong.
"Mendekatlah kemari!" Ucapnya yang tercampur dalam nyanyian siren yang sedang terus dinyanyikannya.
Di lain tempat...
"Di mana Paul??" Hailey mengecek belakang, menyorot-nyorot senternya. Seharusnya Paul berada tepat di belakangnya. Yang lainnya pun juga langsung menoleh-noleh mencari keberadaan Paul.
"David apa kamu me...," Hailey tidak melanjutkan ucapannya. Ingin menanyakan keberadaan Paul kepada David tapi si David juga lenyap entah di mana keberadaannya.
"David!... David!!" Hailey menoleh-noleh mencari.
"Paul!!" Daniel juga mencari.
***
"Di mana aku?!"
"Halo?! teman-teman?! Di mana kalian?!" David bingung menoleh-noleh ke sekelilingnya. Dirinya tiba-tiba sudah berada di tempat berkabut dengan hanya dirinya seorang di sana tanpa keberadaan yang lainnya.
Sampai..., "Hai tampan!" Terdengar suara tak jauh. Itu tepat dari arah punggungnya.
Berbalik menoleh arah punggungnya, David mendapati sosok gadis cantik dengan tampilan yang sungguh menggodanya.
Itu langsung menarik perhatiannya.
Sosok gadis yang tidak jauh berbeda seperti yang di jumpai Paul di tempat lain. Hanya saja rambutnya sedikit pirang dengan bunga-bunga berbagai warna menghiasi hampir sepanjang rambutnya yang menjuntai sampai pinggang. Gaun panjang yang dipakainya juga bergerak seperti terhempas dengan begitu lembutnya oleh angin. Walaupun padahal hampir tidak ada angin berhembus dari awal tiba di sana sampai saat itu.
"Aku mencintaimu! David!"
"Kemarilah!" Lagi, rayuan dari sosok yang tidak sadari oleh si David kalau dia adalah siren. Sambil jari telunjuknya bergerak lembut memberi kode kepada David untuk mendekatinya.
Siren yang satu itu juga kemudian mulai menyanyikan lagu siren dengan indahnya.
Terpengaruh dengan rayuan dan juga nyanyiannya... David perlahan melangkah medekati sosok gadis siren yang berdiri tegak tak jauh di hadapannya. Dengan sepasang matanya yang kemudian terselimuti sihir hitam.
***
Mengetahui kedua rekannya itu tiba-tiba menghilang entah ke mana, si Aubrey juga menoleh-noleh mencari ke arah sekelilingnya. Tentu saja dirinya tidak perlu penerangan.
Dua dari mereka yang pria menghilang. Tapi tidak dengan Daniel. Kata si Daniel, dirinya tidak mendengar apapun lagi selain suara nyanyian itu. Dan suara nyanyian itu juga sama sekali tidak membuat dirinya terpancing.
Dipikir-pikir oleh Little Marry, itu mungkin saja karena Daniel terlalu muda untuk para siren pengaruhi. Jadi sihir mereka tidak bisa merasuki diri Daniel.
"Kita harus mencari mereka!" Desak Hailey, menatap kepada Little Marry benar-benar fokus.
"Kita tidak bisa mencari mereka. Itu akan memakan waktu lama," balas Little Marry. "Kita harus tetap fokus mencari keberasaan satu teman kalian itu."
"Tapi... bagaimana dengan Paul dan David?! Apa yang akan terjadi dengan mereka?!"
"Aku tidak tahu. Tapi aku berharap mereka dapat menangani para siren jika mereka cukup kuat untuk menepis setiap godaan mereka," jawab kembali si Little Marry kepada Hailey.
Tanpa menunggu respon apapun lagi dari si Hailey, "Ayo!" Little Marry kemudian berpaling dan kembali melanjutkan langkahnya. Little Marry juga bilang kalau dirinya baru saja merasakan ada energi sihir besar tepat arah depan yang sedang di ambil mereka.
Sejenak masih menoleh-menoleh mencari keberadaan Paul dan David, Hailey, kemudian menyusul langkah Little Marry bersama Daniel juga si Aubrey.
Hailey berharap mereka berdua baik-baik saja.
...----------------...
Semakin dalam... bahkan sudah tidak tahu lagi arah untuk kembali, Little Marry, menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Hailey melihatnya berhenti.
"Tepat di depan kita," Ucapnya. Lalu Little Marry perlahan menjulurkan tangannya ke depan. Dan ujung jari-jemarinya itu seperti menyentuh sesuatu yang tidak terlihat. Dinding tidak terlihat.
Samar-samar... Saat Little Marry menggunakan tangannya membuat gerakan seperti sedang mengombak-ombakan air dengan begitu lembutnya, terlihat efek sentuhannya yang seperti air ketika sedang disentuh pula.
Masih dengan ujung jari-jemarinya yang menembus entah ke mana, "Ayo kita selamatkan Thalia," Lirih Little Marry, menarik bibir tersenyum sambil menoleh kanan kirinya. Mengajak mereka bertiga untuk pergi melalui dinding, pintu, atau jalan menuju ke suatu tempat yang seharusnya itu adalah tempat persembunyian The Sisters.
Little Marry yang lebih dulu mengambil langkah pertama melalui dinding tidak terlihat tepat di hadapan mereka itu.
Perlahan, Little Marry masuk melaluinya dan kemudian berpindah ke suatu tempat. Di susul Hailey, Daniel, dan Aubrey.
Sudah berada di suatu tempat yang bukan lagi daerah hutan, Little Marry lalu kembali menurunkan tangannya. Tidak lama setelah itu Hailey, Daniel, dan Aubrey juga kemudian berpindah ke tempat sama yang sedang dipijak Little Marry. Sebuah lorong panjang.
"Apa semua ini?!" Daniel tidak paham dengan suasana di sana. Melihat apa yang di kanan dan kirinya. Hailey dan yang lainnya pun melihatnya.
Itu tempat yang sama seperti saat ketika burung gagak buruk rupa milik para saudari menembus dan berpindah ke sana. Itu berarti tempat dengan keberadaan tabung berjejer di kanan dan kiri sepanjang lorong dengan ada satu orang sedang dalam keadaan tidak hidup di setiap tabungnya.
"Siapa mereka semua?!" lagi ucap Daniel ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Aubrey menyentuh satu tabung yang berada tidak jauh darinya, sambil memandang wajah satu orang dengan mata memejam yang ada di dalam tabung nya.
"Para Saudari!" jawab Hailey. "Jadi seperti ini cara mereka hidup."
Melihat itu semua, wajah Little Marry seakan menunjukan ekspresi seperti tidak menyangka dengan semua itu. Dan semua itu menjelaskan sebagian awal mula dari mereka Para Saudari atau dijuluki The Sisters itu. Kenapa mereka semua berpenampilan serupa.
Begitu pula dengan diri Hailey.
Hailey juga kemudian paham dan mengerti kalau ternyata mereka sebenarnya hanya satu gadis yang sama tapi di kloning. Di kloning dengan menggunakan jantung.
Ya! Jantung!
Itu terlihat menggantung tepat di atas kepala mereka. Itu satu jantung besar yang berdetak begitu kuat.
"Tempat ini menjijikan," gumam Daniel mendongak ke atas. Memandang jantung besar berlendir itu.
Dan bukan hanya terlihat jantung besar itu saja yang dilihat mereka di atas sana. Tapi juga yang ada di dalamnya. Ada seseorang yang meringkuk seperti bayi di dalam sana. Seakan terbungkus dengan kepompong besar. Tapi itu jantung.
Tapi walaupun sudah tahu kalau mereka adalah kloning... Asal usul adanya keberadaan The Sisters masih belum sepenuhnya terungkap. Itu masih menjadi pertanyaan bagi Hailey dan juga tentunya Little Marry yang sudah berada di Mystical Ordon jauh lebih lama.
Yang pasti, mereka Para Saudari selama ini bersembunyi di sana dan seakan terus abadi dengan tubuh mereka yang tidak menua sedikitpun. Dan sepertinya, jumlah mereka juga akan terus bertambah setiap tahunya.
"Ayo!" Gegas Little Marry lagi. Sejenak mengecek tik tok waktu di lengan tangan kanan cyborg nya. Seakan ada terdapat fasilitas jam canggih yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya.
Menelusuri lorong lurus itu, Little Marry dan diikuti yang lainnya melangkah dengan berusaha tidak membuat suara. Berusaha agar keberadaan mereka tidak ketahuan siapapun yang menempati tempat mengerikan itu. Maksudnya The Sisters.
Melangkah di belakang Little Marry, "Terimakasih, Marry," Selip Hailey berterimakasih kepadanya. Mengucapkannya dengan begitu pelan.
Hanya setengah menoleh ke belakang, "Jangan berterimakasih dulu," balas Little Marry kepadanya dengan nada suara yang datar. Lalu kembali meluruskan pandangannya ke depan.
...----------------...
Ada terdapat tempat lain selain lorong dengan keberadaan tabung kloning dan satu otak besar menjijikan di atasnya barusan. Beberapa tempat yang entah apa. Berantakan sekali. Karena tidak ada apa-apa dan yang seharusnya mereka sedang cari yaitu keberadaan Thalia di sana, jadi mereka terus berpindah dari satu tempat atau ruangan ke ruangan-ruangan lainnya.
Dari setiap ruangan yang di periksa Hailey dan teman-temannya, hampir semuanya terlihat lebih mirip seperti ruang penjara bawah tanah dengan beberapa gentong kayu dibandingkan markas atau tempat yang digunakan untuk sebagai persembunyian juga tempat bertahan hidup.
Jelas sekali!
The Sisters itu bukanlah manusia atau juga penyihir biasa. Mereka sama sekali bukan terlahir. Melainkan dibuat dengan dna dari seorang yang terbungkus jantung besar itu barusan. Yang kemungkinan dia sudah tidak bernyawa.
Jadi mereka memiliki fisik yang berbeda dengan fisik orang-orang pada umumnya. Tidak normal dan itu karena bercampur dengan sihir gelap yang membuat mereka memiliki perbedaan di bandingkan dengan seorang yang meringkuk seperti bayi dan terbungkus otak itu.
"Apa Paul dan David akan baik-baik saja di luar sana?!" Ucap Daniel kepada Aubrey yang melangkah di sampingnya. Dan Aubrey menoleh kepadanya sambil mengedikan kedua bahunya.
Hailey dan Daniel terus menyorot sekitar dengan senter yang masing-masing dipegangnya.
"Sekarang tempat apa lagi ini?!" Ucap Daniel, ketika mereka sampai di suatu tempat yang berbeda dari beberapa tempat sebelumnya.
"Tahta para saudari!" Ucap Little Marry.
..."The Sisters Throne !"...
Melihat meja besar melingkar yang jika dihitung dalam sekilas pandang kurang lebih mungkin ada terdapat lebih dari lima belas kursi di sekeliling mejanya. Dan kursi-kursi itu memiliki seperti tombak yang bercahaya pada kanan kiri senderannya.
"Dari mana kamu tahu?!" Tanya Hailey karena ucapan Little Marry baru saja.
"Hanya firasat," jawabnya. Melangkah perlahan mengitari meja besar dan kursi-kursi yang dikatakan oleh Little Marry itu sendiri kalau itu semua adalah kursi singgasana atau disebut dengan tahta milik Para Saudari.
Akan tetapi, jika memang benar kalau itu semua singgasana milik Para Saudari, diri Hailey, Daniel, dan Aubrey tidak mendapati satupun mereka di sana.
Hanya tempat atau ruangan luas yang tidak terlihat banyak benda lain, selain keberadaan meja besar dan kursi-kursi itu.
Dan juga apa yang berada di atas meja. Tapi itu hanya beberapa lilin antik yang biasa ada di dalam istana.
"Tolong...!!!"
Kemudian samar-samar terdengar teriakan meminta tolong. Mereka langsung terpancing.
"Tolong...!!! Seseorang... Tolong aku!!!" Lagi, suara itu meminta pertolongan. Suara yang tidak asing bagi Hailey, Daniel, dan juga si Aubrey.
"Apa itu...," Daniel menatap Hailey lurus-lurus.
"Thalia!" Tebak Hailey, juga menatap kepada Daniel lurus-lurus. Cukup yakin sebenarnya, kalau itu memanglah suara Thalia.
Hailey dan yang lainnya pun kemudian bergegas mengikuti asal suaranya. Suara Thalia yang cukup bergema di mana-mana. Jadi mereka agak kesulitan menemukan keberadaannya.
Sampai mereka melihat sebuah pintu begitu tebal tertutup dengan pola mantra tergambar pada daun pintunya.
Itu tersegel dengan sihir.
"Apa yang kita harus lakukan sekarang?!" Hailey kebingungan.
Di tengah kebingungannya... terdengar suara lagi. Tapi itu bukan suara Thalia yang kembali berteriak meminta pertolongan.
Itu terdengar dari kejauhan di suatu tempat. Dan itu adalah suara teriakan yang mengerikan.
Seakan ada entitas jahat yang meneriaki mereka dari suatu tempat, dan sedang mencoba memburu mereka.
"Cepat!!" Gegas Hailey kepada yang lain.
Melangkah maju mendekati depan pintu itu, "Biar aku!" Ucap Little Marry, ingin melakukan sesuatu dengan pintu itu. Lebih tepatnya segel sihir yang tergambar pada daun pintunya.
Menelapakkan kedua tangannya pada daun pintu itu, "Hnaska Yashi Voi Rahaka Des Kaska !" Bibir Little Marry bergerak, menggumam merapalkan mantra.
"Ruuuuufh!" Pola segel yang tergambar pada daun pintu itu kemudian terbakar habis oleh api merah muda.
Mendengar mantra sihir yang dirapalkan Little Marry barusan, membuat Daniel mengerutkan dahinya.
Ada yang aneh. Tapi Daniel tidak terlalu yakin.
Setelah segel sihir terbuka, Hailey kemudian membuka pintunya dan mendapati tangga menuju ke bawah. Tangga menuju bawah tanah yang gelap, walaupun disorot dengan dua senter yang dipegang Daniel, dan Hailey.
"Tolong...!!!" Terdengar Thalia meminta pertolongan untuk yang kesekian kalinya. Suaranya terdengar semakin jelas.
Karena suara semakin jelas, sudah pasti itu semakin dekat pula dan berarti mereka mengarah ke arah yang benar.
Dan mereka bertiga bersama dengan Little Marry_ yang kini melangkah di belakang mereka_ menuruni anak-anak tangga. Tangga yang bukan terbuat dari kayu yang mudah berderit. Tapi itu pondasi batu.
Sampai memijak di bawah sana... "Thalia!" Seru Hailey pelan, langsung berlari menghampirinya. Menghampiri Thalia yang dalam keadaan kedua tangannya diikat dengan rantai-rantai sihir.
"Haaaash!!" Thalia mendesis. Awalnya tak tahu yang datang dan menyentuh bahunya itu siapa.
"Hey hey! Tenanglah ini kami!" Hailey berusaha menenangkan Thalia yang terlihat lemas.
"Hailey?! Kamu datang!" Sahut Thalia mendongak dari rundukan kepalanya yang menggantung lemas.
"Mana Paul dan yang lainnya?!" Tanya Thalia karena tidak melihat mereka bersama Hailey.
"Mereka datang. Tapi mereka sepertinya sedang dalam masalah di luar sana. Tapi tenang saja. Kita akan cari mereka setelah kita dapat membebaskan kamu dari sini," Jelas Hailey cepat. Menarik-narik rantai yang membelenggu kedua tangan Thalia yang tubuhnya sampai hampir menggantung.
"Marry! Bisa kamu bantu dengan yang ini?!" Hailey menoleh kepada Little Marry di belakang sana. Dan Litte Marry melangkah mendekati Thalia yang tidak bisa ke mana-mana karena rantai-rantai itu.
Lirikan mata Daniel bergerak mengikuti Little Marry berjalan melewatinya. Matanya menyipit.
"Ada apa? Kenapa kamu menatapnya seperti itu?!" Tanya Aubrey sambil memegang tangan Daniel. Melihat cara pandangannya seperti itu.
"Entahlah. Aku sendiri tidak yakin. Tapi sepertinya ada yang aneh dengannya!" jelas Daniel. Mereka berdua berbicara dari pikiran ke pikiran.
"Kengga Ma !" Gumam Little Marry lagi. Mengucapkan mantra singkat. Itu membakar habis rantai-rantai yang membelenggu Thalia di tempat itu.
Thalia pun dapat terbebas dan bergerak leluasa.
"Hailey! Mana Pegasus?!" Tanyanya langsung setelah terbebas dan berusaha menegakan tubuhnya berdiri di hadapan Hailey. Memegang bahunya.
Hanya terdiam sambil berpikir sejenak, "Aku tidak tahu. Aku kira mereka membawanya juga," jawabnya.
"Atau jangan-jangan...," Hailey teringat sesuatu tapi tidak terlalu yakin.
"Apa?" Thalia menatap Hailey dengan tatapan mata khawatir.
"Sudahlah Ayo!" Gegas Little Marry. Menyuruh mereka semua segara pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke Maquech. Karena Thalia sudah berhasil mereka temukan.
Dan Hailey membantu Thalia berjalan.
Tapi baru mereka mengambil langkah-langkah pertama untuk keluar dari sana...
"Tunggu!!" Ada suara yang menginterupsi langkah mereka. Mencegat Hailey dan yang lainnya pergi. Mereka semua sontak mengerem langkahnya dan menoleh ke arah suara di ruangan bawah tanah yang baru saja akan mereka tinggali.
Dan ketika disorot oleh Hailey dan Daniel di sudut ruangan yang sebelumnya tidak dilihatnya tidak ada siapa lagi karena di sana cukup gelap... di dapati mereka ada seorang lagi. Seorang pria remaja seumuran mereka.
Aubrey bahkan tidak menyadari ada seorang yang lain disana.
"Tunggu! Apa kalian dari akademi?!" Tanyanya dalam kondisi yang sama seperti Thalia barusan. Kedua tangannya dibelenggu rantai-rantai.
Mendekatinya, "Ya! Dan siapa kamu?!" tanya Hailey balik bersama Thalia, ingin tahu siapa dia. Yang lainnya memperhatikan orang itu tetap dari jarak mereka ketika mengerem langkahnya.
"Aku juga peserta akademi," jawabnya dengan nafas agak termengap-mengap.
"Akademi mana?!" Tanya Hailey lagi.
"Taurus."
Ketika mendengar pengakuan darinya, Hailey, menjadi teringat sesuatu. Pandangannya menjadi terpaku. "Kamu si peserta akademi yang hilang itu!"
"Kumohon bawa aku juga!" Dia kemudian memohon.
Dan Hailey mau membantunya. Meminta bantuan Little Marry lagi untuk membebaskan satu orang itu_ yang sebelumnya sempat di kabarkan oleh Kepala Sekolah Horus kalau ada satu peserta dari akademi lainnya menghilang entah kemana.
"Siapa namamu?" Tanya Hailey setelah Little Marry merapalkan mantra dan berhasil membebaskan satu orang itu.
"Lorance!" Jawabnya.
"Baiklah, Lorance! Ayo ikut kami!" Gegas langsung si Hailey.
Mereka semua bersama satu orang dari akademi Taurus itu berlari dan berusaha cepat keluar dari tempat yang adalah tempat persembunyian The Sisters itu.
Berlari dari tempat atau ruangan satu ke ruangan yang lainnya. Tempat-tempat yang sebelumnya mereka lalui ketika mencari keberadaan Thalia.
Hailey kini yang memimpin langkah. Sedangkan Little Marry berlari tepat di belakang mereka. Menjaga belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
-one Step Closer-
yang Expert the Net Blue