Joya harus menghadapi kenyataan saat ia jatuh cinta pada Boy, anak majikannya. Perbedaan status sosial yang tinggi diantara keduanya, membuat Joya bertekad lulus kuliah dan bekerja sebelum siap menerima Boy. Tapi Boy tidak bisa menunggu Joya dan bersiap untuk sebuah pernikahan.
Akankan Joya berhasil mewujudkan impian majikannya?
Sesion kedua tentang anak-anak Joya dan Boy yang mulai tumbuh dewasa dan mengenal cinta mereka masing-masing.
Disisipi juga dengan episode-episode spesial yang tidak kalah serunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanny Rama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rio
Joya menatap Rio yang sedang berlutut di lobby kantor tempatnya bekerja sambil membawa bunga dan sebuah cincin.
Setelah penentuan tanggal pernikahan Joya dan Boy (baca : Episode 16 – Calon suami Joya), Joya masuk bekerja seperti biasa. Ia baru sampai di kantornya ketika suara ribut-ribut di lobby menarik perhatiannya dan
disinilah Rio, berlutut ketika melihat Joya datang.
Rio : “Joya, menikahlah denganku.”
Joya : “Aku tidak bisa.”
Joya berjalan melewat Rio, tidak peduli lagi dengan pandangan teman-teman sekantor mereka. Menurutnya, Rio sudah sangat kelewatan. Sudah jelas-jelas tahu kalau Joya akan menikah, tapi masih melakukan hal-hal yang menggelikan.
Akibat perbuatan Rio, Joya dan Rio sampai dipanggil ke HRD dimintai penjelasan. Beberapa teman mereka juga dipanggil untuk dimintai penjelasan juga. Rio mendapat peringatan lisan karena dianggap mengganggu ketenangan kantor. Rio mengejar Joya yang keluar lebih dulu dari ruang HRD.
Rio : “Joya, aku melakukan ini semua untuk kamu. Kenapa sikapmu seperti ini sama aku?”
Joya : “Rio, aku tidak akan bicara lagi padamu kecuali untuk urusan pekerjaan. Aku sudah jelaskan dengan sangat jelas, aku sudah akan menikah. Kau akan terima undangannya sebentar lagi.”
Ketika Joya ingin kembali ke ruangannya, Rio menghalangi jalannya. Joya mencoba mendorong Rio, tenaganya masih kalah karena tubuh Rio yang lebih besar darinya. Rio sudah nekat ingin mencium Joya. Ia bertahan tetap menjauhkan wajahnya dari wajah Rio yang terus mendekat.
Joya : “Kamu mau apa lagi! Pergi!”
Rio : “Kau akan jadi millikku setelah ini. Ayolah, Joya.”
Joya : “Kamu sudah gila. Lepaskan!”
Rio : “Tidak sampai aku bisa menciummu.”
Joya : “Rio! Sinting! Lepaskan aku!”
Rio : “Jadilah millikku, Joya.”
Joya : “Aku gak mau! Jangan dekat...!”
Boy : “Lepaskan dia.”
Joya melihat celah saat Rio menoleh menatap Boy, ditendangnya tulang kering di kaki Rio dan mendorongnya sekuat tenaga. Joya berlari ke pelukan Boy yang langsung memeluknya, tubuh Joya gemetaran merasakan ketakutan karena perbuatan Rio. Boy menatap tajam pada Rio.
Seseorang berjalan melewati Boy dan Joya, mendekati Rio dan mencengkeram kerah bajunya. Itu manager keuangan,
Manager keuangan : “Rio, saya rasa peringatan lisan tadi masih kurang ya. Kamu mau saya minta HRD mengeluarkan SP3? Tindakanmu sudah keterlaluan.
Rio : “Maafkan saya, pak. Saya sangat mencintai Joya. Saya frustasi ketika tahu Joya mau menikah.”
Manager keuangan : “Kamu tidak bisa memaksakan perasaan seperti itu. Kamu tahu siapa calon suami Joya?”
Rio menoleh menatap Boy yang masih menatap tajam padanya. Hatinya bergetar melihat Joya memeluk erat Boy tanpa mau melihat padanya.
Manager keuangan : “Pak Boy salah satu client terbesar kita, dan sekarang Pak Boy sudah jadi salah satu pemegang saham di perusahaan ini. Dia bos kita, Rio.”
Rio : “Ti... tidak mungkin...”
Boy : “Saya harap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik dan tidak perlu ada pemecatan. Kedepannya saya akan tahu kalau ada yang mengganggu Joya lagi, dan saat itu kesempatan kedua tidak akan ada lagi.”
Manager keuangan : “Baik Pak Boy.”
Boy berbalik membawa Joya keluar dari kantornya, sementara Rio jatuh terduduk karena syok. Bagaimana dia bisa bertindak senekat itu? Menyakiti wanita yang dikejarnya selama ini. Bahkan calon suaminya lebih hebat dari dirinya. Rio benar-benar menyerah terhadap Joya sekarang.
-------
Boy membawa Joya ke apartmentnya, Joya belum berhenti gemetaran. Selama ini dia hidup dengan sangat tenang karena tidak pernah ada yang mengganggunya seperti itu. Untung saja Boy cepat datang, ia tidak bisa membayangkan hal mengerikan apa yang akan menimpanya tadi.
Boy : “Sayang... kau masih takut?”
Joya : “Saya baik-baik saja, tapi...”
Boy : “Tanganmu tidak bisa berhenti gemetar. Kau butuh sesuatu?”
Joya menggeleng, ia merasa nyaman dalam pelukan Boy, tapi ia selalu ingat perbuatan Rio padanya bahkan bau parfum Rio menempel di bajunya.
Joya : “Saya mau mandi saja. Baju ini mau saya buang saja.”
Boy : “Pintunya jangan dikunci ya.”
Joya menoleh pada Boy yang menatapnya lembut,
Boy : “Aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku cuma takut kamu merasa tidak nyaman di dalam sana.”
Joya mengangguk, ia masuk ke kamar mandi, membiarkan pintunya sedikit terbuka. Setelah dia mengisi bathup dengan air hangat, Joya mulai membuka pakaiannya satu persatu.
Ketika ia melangkah memasuki bathup, Boy ikut masuk ke kamar mandi sudah memakai handuk mandi. Joya cepat-cepat masuk ke dalam bathup yang sudah penuh dengan busa sabun.
Boy : “Aku juga mau mandi, kamu mau makan apa nanti?”
Joya : “Sa... saya... makan apa ya?”
Joya mengalihkan pandangannya dari Boy yang sudah masuk ke dalam box shower. Ia merasa malu karena tubuhnya sempat terlihat Boy tadi. Tapi Boy memang benar-benar hanya mandi tanpa menggodanya lagi.
Boy keluar dari box shower kembali memakai handuk menutupi tubuh bagian bawahnya, menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia duduk di sisi bathup, menyentuh pundak Joya yang kembali merinding.
Boy : “Kau masih takut?”
Joya : “Sekarang saya merinding karena Tuan ada disini...”
Boy menarik dagu Joya menghadap kepadanya, Boy menunduk mencium bibir Joya yang berwarna pink alami.
Sentuhan Boy membuat Joya merasa sangat tenang, Joya mulai melupakan trauma yang dialaminya tadi. Boy tersenyum melihat Joya yang terbuai ciumannya, ia melepas ciumannya dan keluar dari kamar mandi.
Wajah Joya bersemu merah, ia membilas tubuhnya dan keluar hanya memakai handuk mandi.
Joya : “Tuan...”
Boy menatap Joya yang berdiri di depan kamar mandi, malu-malu karena pakaiannya tidak lengkap. Boy melangkah ke lemari pakaiannya, membuka pintu lemari, dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Joya memegang rapat handuknya saat Boy berjalan mendekat.
Boy : “Pakai ini dulu ya. Bajumu akan diantar nanti.”
Joya mengangguk, masuk lagi ke kamar mandi. Mata Joya terbelalak, Boy memberikan lingeri berwarna hitam padanya.
Mau tidak mau Joya memakai lingeri itu, setelah menarik nafas panjang, Joya keluar dari kamar mandi. Mata Boy tidak berhenti menatap tubuh Joya yang sangat sexy.
Hasratnya semakin membara melihat Joya merapikan rambutnya kesamping memperlihatkan sebagian lehernya yang putih.
Boy : “Joya, sini. Kita makan dulu ya.”
Joya duduk di samping Boy dan mulai makan. Boy berusaha mengobrol dengan Joya, sambil berusaha meredam hasratnya dengan mengalihkan perhatian dari tubuh Joya.
Mereka menghabiskan siang itu dengan menonton film yang memang ada dalam koleksi Boy, dengan duduk di sofa sambil berpelukan.
-------
Setelah kejadian memalukan dengan Joya, Rio kembali bekerja seperti biasa. Sesekali dia masih melamun, tapi manager keuangan tidak memberinya kesempatan untuk melamun.
Pekerjaannya menjadi dua kali lipat dari biasanya. Joya juga masih bekerja seperti biasa, ia sudah merasa lebih baik karena Rio tidak lagi mengganggunya.
Setiap kali mereka berpapasan, Rio selalu menunduk dan segera pergi menghindar. Kalaupun harus ada interaksi masalah pekerjaan, Rio akan melakukannya dengan profesional dan cepat.
Suatu hari, Rio lembur lagi untuk kesekian kalinya, ia tidak ingin pulang lebih awal karena membuatnya selalu ingat pada Joya. Apalagi Boy selalu menjemput Joya, menunjukkan kemesraan mereka.
Seseorang mendekati Rio yang baru saja merenggangkan tubuhnya, matanya sudah lelah karena terlalu lama memandangi laptop.
Tuk! Rio menoleh melihat Meta tersenyum padanya, setelah meletakkan kotak makan malam diatas mejanya.
Meta : “Rio, makan dulu. Kamu masih lama?”
Rio : “Kenapa kamu masih disini? Ini sudah jam... 9 malam.”
Rio menatap Meta yang masih tersenyum tulus padanya, ia ikut tersenyum juga akhirnya. Rio meraih kotak makan malam diatas meja. Ia mulai memakannya,
Rio : “Kamu gak makan?”
Meta menggeleng,
Meta : “Aku mau pulang, nanti makan di rumah saja.”
Rio : “Kamu beli ini cuma buat aku?”
Meta : “Iya, makanlah. Aku pulang dulu ya.”
Rio menarik tangan Meta yang sudah berbalik,
Rio : “Tunggu, temani aku makan, nanti aku antar pulang ya.”
Meta mengangguk, Rio menyodorkan potongan daging pada Meta yang memakannya malu-malu.
Rio menatap Meta yang sudah duduk di sampingnya sambil tetap menyuapi Rio makan. Hatinya mulai belajar melepas Joya dan menerima Meta.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, kritik dan saran sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, "Duren Manis", dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
Jangan lupa vote ya...
-------
mohon ijin promot karya novel aku ya kak..
silahkan mampir ya kakak kakak semua di karya aku
"I Love You Nurse" &
"Aku Bukan Bidadari Surgamu"
Bantu like, komen dan vote nya ya kak
Trimaksh kak🙏🏻
ketua mafia qo ya lugu bangeeettt....
wong MP qo cuma lari muter muter....kejar kejaran.....po dolanan tho yoooo.....????
othor yaa gitu......bikin cerita qo menurunkan harkat martabak para MAfia ato gangster ywng sangar n cerdik.....🙈🙈🙊
lhaaa.....neng cerito iki.....ketua mafia qo OON bin BLOON.....malam pertama qo ngejar ngejaran .....harus e kan jaran jaranan......
wkwkwkwk ngakaaaakkk......😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jempol se kecamatan dah buat othor..... timpuk an sd RT buat Nanda.....kejaaaaarrr teruusss....bu Ana.....sampe gemppoooorrrr....
😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀
j
reques menantu yang miskin dan si cewe dari keluarga kaya tapi ternyata si mennatu itu kaya cuma pura2 miskin/terkena penyakit lalu sembuh and diam2 bantu si istri kaya crita si denny wang dan friska ye (menantu hebat) atau si alex(menantu hebat seperti dewa) atau si dennis wu dan angel xia(menantu bodoh)