"Aku pernah membaca sebuah deretan kata yang mengatakan bahwa Menikahi laki-laki cuek adalah setengah dari penderitaan hidup.
Aku sepenuhnya setuju pada pernyataan itu" - Adhara Cellia.
Kehadiran cinta masa SMA nya semakin memperkeruh hidup Dara. Ia ragu mampu menahan diri dari godaan pria di masa lalunya dan mempertahankan pernikahannya yang memang telah rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
"Aku ngerasa akhir-akhir ini kamu dekat banget sama Dara" Alexa membuka obrolan dengan Reynand saat keduanya tengah duduk di pantai menyaksikan deburan ombak.
"Kamu kenapa bisa ngomong gitu?" Tanya Reynand heran.
"Setiap aku ke kelas kamu, kalian pasti lagi duduk berdua ngobrol nya akrab banget. Sering ketemu juga kan di luar sekolah?" Reynand menyadari sepertinya Alexa mulai cemburu pada sosok Dara. Namun ucapan kekasihnya tersebut menyadarkan dirinya bahwa akhir-akhir ini dia memang lebih sering menghabiskan waktu bersama Dara dan tanpa ia sadari ia merasa nyaman bersama gadis itu.
"Kebetulan aku tu banyak banget tugas yang satu kelompok sama Cellia Al. Wajar kan kalo aku sering diskusi sama dia di kelas, kalaupun ketemu di luar juga buat ngerjain tugas nggak ada aneh-aneh kok" terang Reynand.
"Tapi aku takut kamu lama-lama suka sama dia Rey" Benar dugaan pria itu, Alexa tengah merasa cemburu.
"Kamu tu ada-ada aja Al" Reynand tertawa sambil mengusap rambut Dara. Namun apa yang Reynand tampakkan tak sepenuhnya sesuai dengan isi hatinya. Diam-diam ia mulai bertanya pada dirinya sendiri mengenai kebenaran ucapan Alexa. Benarkah sebenarnya ia mulai menyukai Dara?
Sementara Alexa tersenyum getir, ia mulai merasa resah. Rey sama sekali tak menyangkal ucapannya, tak juga meyakinkan Alexa bahwa cintanya hanya untuk gadis itu dan tak akan pernah berpaling pada Dara atau gadis lainnya.
Obrolan mereka kembali mengalir namun tak lagi membahas tentang Dara. Alexa sengaja mengalihkan pembicaraan karena ia merasa tak nyaman atas respon Reynand sebelumnya.
"Al uda sore, pulang ya?" ajak Reynand saat senja mulai beranjak. Jarum jam sudah menunjuk angka 5 lewat 45 menit.
"Iya Rey" Alexa mengangguk meski terlihat keengganan pada wajah gadis itu.
"Kapan-kapan kita bisa ke sini lagi Al" Ucap Reynand yang menyadari bahwa Alexa belum ingin pulang dari sana. Inilah yang sangat Alexa sukai dan membuatnya bertekuk lutut pada Reynand, pria itu selalu peka dan penuh perhatian padanya. Ia tak tau apakah di luar sana ada pria yang memiliki sifat seperti kekasihnya tersebut. Karena itu Alexa tak ingin melepaskan Reynand sampai kapanpun. Ia takut tak akan pernah bertemu pria sebaik Reynand lagi.
"Beneran kita ke sini lagi? janji ya Rey?" Alexa tersenyum dengan mata berbinar.
"Iya janji nanti kita cari waktu buat datang ke sini lagi" Balas Reynand, pria itu beranjak dari duduk nya. Ia mengulurkan tangan pada Alexa membantu gadis itu untuk bangun. Keduanya lalu berjalan menuju parkiran motor sambil berpegangan tangan.
"Pegangan ya Al"
Reynand menghidupkan motornya saat Alexa sudah duduk di jok belakang dengan nyaman dan melingkarkan tangan memeluk pinggang nya. Pria itu bisa merasakan Alexa menempelkan kepala di punggung nya.
Reynand memacu motornya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai ke rumah, ia tak ingin kemalaman di jalan. Akan sangat berbahaya bagi mereka.
Setelah menempuh perjalanan beberapa kilo meter Reynand merasa resah saat di kejauhan tampak sebuah pohon tumbang yang menghalangi jalan. Saat semakin dekat tampak 3 pria bertampang preman berdiri dan menghentikan motor mereka. Sialnya suasana begitu sepi, tak ada tanda-tanda akan ada orang yang lewat.
Dari gelagat ketiga pria di depannya Reynand tau mereka bukan orang baik-baik dan pasti bermaksud buruk padanya dan juga Alexa.
"Ada apa bang?" Reynand berusaha tenang.
Pria itu merasakan Alexa mengeratkan pelukannya. Ia tahu Alexa sedang merasa ketakutan.
Reynand semakin tercekat saat salah satu dari 3 pria itu mengeluarkan pistol dan menodongkan ke arah mereka. Sementara 2 pria lainnya mengeluarkan pisau yang tampak begitu tajam.
"Turun!" ucap pria tersebut sambil menodongkan pisau ke arah Reynand. Dalam kondisi seperti ini ia menyesal tak menuruti mama nya yang sempat meminta Rey untuk belajar bela diri.
"Bang kalau mau ambil motor ambil aja, tapi jangan sakiti kita. Biarin kita pergi" ucap Reynand dengan suara bergetar, ia merasa begitu ketakutan. Tak apa kehilangan motor, yang penting nyawa mereka terselamatkan.
"Serahkan semua barang berharga kalian" Timpal yang lainnya. Reynand pasrah saat dua orang lainnya menggeledah dirinya dan Alexa.
Salah satu pria yang memeriksa Alexa menatap penuh arti pada gadis itu, pria itu kemudian memberi kode pada teman-temannya yang lain.
Alexa begitu ketakutan begitu pun dengan Reynand. Ia terus berdoa di dalam hati semoga akan ada pengendara yang lewat dan menolong mereka. Namun sepertinya di jam-jam seperti ini jarang sekali ada yang lewat.
"Bang tolong lepasin kita, ambil apapun yang kalian butuhkan" Reynand berusaha tenang dan tak terlalu menampakkan ketakutan nya.
"Kami juga butuh dia" Ucap pria yang memegang pistol sembari tertawa.
"Jangan bang" Reynand berusaha melawan. Ia tau apa yang pria itu maksud, sementara wajah Alexa terlihat begitu pucat.
Karena Reynand yang terus memberontak akhirnya pria tersebut memukul tengkuk Reynand hingga Rey tak sadarkan diri.
🍁🍁🍁🍁
"Al kita di mana?" Tanya Rey dengan bingung saat membuka matanya. Ia merasa asing dengan tempatnya saat ini.
"Akhirnya kamu sadar juga Rey, kita di rumah warga" Ucap Alexa dengan suara lirih. Reynand menatap ke arah Alexa yang tampak begitu berantakan. Reynand melihat robekan di beberapa bagian baju Alexa.
Reynand membulatkan matanya saat mengingat apa yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri.
"Al, kamu baik-baik aja kan? mereka?" Reynand tercekat, air mata Alexa yang berhamburan seolah jawaban bahwa apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.
"Alexa mereka nggak sempat ngapa-ngapain kamu kan?" Tanya Reynand panik. Namun Alexa malah semakin terisak dan tak menjawab ucapan pria itu.
Alexa yang begitu rapuh menuntun Reynand untuk menarik tubuh gadis itu dan mendekapnya erat.
"Syukurlah kamu sudah sadar, apa ada keluarga yang bisa kami hubungi?" Tanya pria paruh baya yang masuk ke kamar bersama istrinya yang membawakan teh dan makanan untuk Alexa dan Reynand.
"Tadi saat lewat kami melihat nona ini meminta tolong katanya kalian baru saja dirampok" Lanjut bapak tersebut saat melihat Reynand yang tampak bingung.
"I-iya Rey, motor, ponsel dan dompet aku dan kamu dirampas semua sama mereka. Untung saja bapak ini lewat dan mau membantu kita" ucap Alexa dengan terbata. Reynand menatap iba pada gadis itu, Alexa pasti sangat hancur saat ini.
"Terima kasih sudah membantu pak. Izinkan saya beristirahat sebentar di sini, setelah cukup tenang saya akan menghubungi orang tua saya" ucap Reynand, ia merasa begitu kalut saat ini membayangkan apa yang menimpa Alexa.
🍁🍁🍁
ahhh mumet