Pegang aku erat-erat, peluk aku dan percaya padaku.
***
Story by MTMH18
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Papa Aellys menatap kedua lelaki di depannya dengan serigai kecil menghiasi wajahnya, dia merasa puas dengan menu yang akan di masak mereka. Lele? Tidak masalha bukan? Tapi, mereka harus menangkapnya dulu di kolam lele kecil di samping rumahnya. Lelenya masih hidup dan ukurannya besar, mereka harus bisa menangkap masing-masing satu lele dan akan memassak lele tersebut.
“Silahkan kalian menangkap lele untuk di masak!” seru papa Aellys memberikan keranjang besar untuk mereka menangkap lele.
“Saya ada operasi lima belas menit lagi, sepertinya saya tidak bisa menyelasaikan tantangan ini. Bukannya saya tidak bisa atau apa, tapi opersai ini sangat penting, karena menyangkut nyawa seseorang,” ujar Calvin tiba-tiba.
“Ada operasi? Iya, itu sangat penting dan harus di dahulukan! Kamu boleh pergi!” seru papa Aellys.
“Baik, saya pergi dulu. Saya titip salam untuk Aellys, soalnya saya tidak bisa berpamitan, permisi,” Calvin meninggalkan kolam lele dan Saga menatap papa Aellys dengan mengernyitkan dahinya.
“Apakah itu tidak adil?” tanya Saga membuat papa Aellys menatap ke arahnya.
“Kamu merasa ini tidak adil?” tanya balik papa Aellys.
“Tentu,” jawab Saga.
“Tapi, dia sedang menjalankan amanah sebagai dokter! Dia sedang menjalankan tugasnya,” balas papa Aellys membuat Saga tertawa kecil.
“Bisa saja dia berbohong dan lagi pula dari awal dia tidak mengatakan kalau sedang sibuk dengan jadwalnya, seharusnya dia paham situasi dan bisa meminta dokter lain untuk menggantikannya. Di rumah sakit bukan satu dokter yang profesinya seperti dia bukan? Tapi, kenapa dia malah menyanggupi tantangan ini, kalau pada
akhirnya dia tidak bisa menyelsaikannya atau dia tidak bisa menyelasaikannya?” tanya Saga yang mengeluarkan semua yang ada di benakknya.
“Kalau dia tidak bisa menyelesaikannya, kamu bisa kan? dan itu artinya kamu pemenang di tantangan ini!” papa Aellys menatap Saga dengan senyuman miring.
“Ah—saya sudah menyelesaikannya!” Saga mengangkat kerangjang yang di berikan papa Aellys, keranjang yang tadinya kosong kini telah terisi satu ekor lele besar.
“Iya, kamu pemenangnya lagi! Sekarang kamu harus mengolah lele itu untuk menjadi menu makan siang hari ini,” ujar papa Aellys.
“Baik.”
***
Saga menyajikan masakannya di meja makan, tercium bau harum dari masakan Saga. Aellys menatap Saga dengan tatapan kagum, sudah lama dia tidak merasakan masakan Saga, bukan sih watu itu dia juga merasakan masakan Saga. Makanan yang ada di lemari es dulu itu ternyata memang dari Saga. Entah bagaimana cara lelaki itu menaruh makanan itu di dalam rumahnya.
“Menu makan siang hari ini khusus di masak oleh koki Saga!” seru Saga sambil membungkukkan badannya. Aellys dan mamanya tertawa kecil dengan kelakuan Saga, begitu pun dengan Leo yang berada di gendongan Aellys. Hanya papa Aellys saja yang menatap Saga dengan alis yang terangkat sebelah dan mulutnya mencibir Saga.
“Apakah ini bisa di makan?” tanya papa Aellys.
“Tentunya, silahkan anda yang pertama mencobanya,” Saga menaruh piring yang sudah terisi dengan nasi dan lauk di depan papa Aellys.
“Kenapa harus saya yang pertama? Kalau masakan ini ada sianidanya bagaimana? Saya akan mati lebih
dulu dong,” ujar papa Aellys membuat istrinya memutar bola mata jengah melihat kelakuan suaminya itu.
“Papa jangan mengada-ngada, kalau tidak mau biar Mama saja yang memakannya!” mama Aellys hendak mengambil piring yang berada di depan suaminya. Namun, piring tersebut di jauhkan oleh suaminya.
“Jangan, Papa tidak mau Mama kenapa-napa! Biar Papa dulu yang merasakannya,” papa Aellys melahap makan siangnya, sedangkan mama Aellys hanya mencibir suaminya itu.
“Lumayan,” gumam papa Aellys membuat Saga tersenyum bangga.
“Lumayan tapi nambah lagi,” cibir mama Aellys membuat suaminya terbatuk saat minum.
“Itu karena Papa kelaparan dari tadi,” ucap papa Aellys sebelum beranjak meninggalkan meja makan. Sedangkan yang lainnya hanya tertawa kecil.
“Kamu jangan terlalu ambil hati cibiran dari Papa Aellys! Semua yang dia katakan belum tentu benar, dia sekarang sering berbohong dengan apa yang ada di hatinya. Mama akan dukung kamu,” ujar mama Aellys kepada Saga.
“Terimakasih, Ma,” ucap Saga tulus menatap mama Aellys dengan binary bahagia.
“Kamu bisa keluar sama Aellys, biar Leo sama Mama. Papa sudah mengijini kalian,” ucap mama Aellys dan mengambil alih Leo dari Saga.
“Leo sama Oma dulu ya, kita ke rumah Uti,” ucap mama Aellys kepada cucunya.
“Leo jangan nakal-nakal! Jangan bikin Oma marah!” Aellys mengingatkan putranya.
“Iya, Bunda,” Leo mengecup pipi Aellys.
“Ayah gak di cium?” rajuk Saga manatap Leo dengan tatapan sedih.
“Sini!” seru Leo menyuruh Saga untuk mendekatkan wajahnya, setelah Saga mendekatkan wajahnya Leo memberi Saga kecupan di kedua pipinya.
“Kalian hati-hati ya!” ingat mama Aellys saat putrinya sudah memasuki mobil Saga.
“Jaga putri saya! Luka sedikit saja, nyawa kamu jaminannya!” ancam papa Aellys kepada Saga.
“Saya akan menjaga putri anda, saya jamin dia tidak akan terluka sedikit pun,” balas Saga tegas. Setelah
itu, mereka mulai meninggalkan rumah Aellys.
“Sepertinya Papa mulai menerimamu,” ucap Aellys sambil menatap Saga yang sednag fokus menyetir, Saga menoleh sekilas kepada Aellys dan tersenyum lebar.
“Semoga saja,” titah Saga dengan satu tangan melepas stir dan menarik tangan Aellys untuk di genggam.
“Kita mau kemana?” tanya Saga yang tidak punya rencana untuk menghabiskan waktu berdua dengan Aellys.
“Sekarang kan siang, gak mungkin pergi ke pantai atau gunung. Kemana ya?” Aellys juga bingung mereka akan pergi kemana, karena memang tidak mungkin pergi ke tempat itu, karena sekarang sudah siang hari dan sangat panas.
“Gimana kalau kita ke kedai es krim, lumayan bisa hilangin haus dengan yang dingin-dingin. Sudah lama juga aku tidak ke kedai es krim untuk makan es krim,” lanjut Aellys sambil menatap Saga dengan berbinar.
“Oke, aku tahu tempat es krim yang enak. Kita ke sana saja!” usul Saga yang langsung di setujui Aellys.
Segera Saga memutar kemudi dan menuju ke tempat yang dia bilang tadi. Perjalan cukup lama, karena macet yang terjadi di saat jam-jam makan siang seperti ini. Begitu juga dengan kedai es krim yang juga ramai dan Saga mengantri di kasir, Aellys mencari tempat duduk untuk mereka, beruntung masih ada tempat kosong yang bisa mereka tempati.
“Pesona Saga memang tidak bisa di ragukan,” Aellys menggelengkan kepalanya saat netranya tidak sengaja melihat banyaknya orang, bukan melainkan kaum hawa yang menatap Saga tidak biasa membuat Aellys sedikit cemburu.
“Huh—sangat lama,” Saga menghela nafass setelah meletakkan dua cangkir besar yang berisi es krim yang dia pesan tadi. Saga mengambil tempat di samping Aellys dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Aellys. Membuat orang-orang tadi yang mengagumi Saga berdecak kesal dan Aellys menyembunyikan tawanya yang hampir pecah membuat tubuhnya bergetar.
“Kalau mau ketawa, ketawa aja!” seru Saga.
“Aku tahu kamu menertawakan mereka,” lanjut Saga membuat Aellys yang ingn tertawa seketika hilang tawanya dan menatap Saga.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Aellys membuat Saga terkekeh kecil dan mencuri kecupan di leher Aellys membuat Aellys mencubit perutnya. Mereka sedang berada di tempat umum.
“Aku tahu dari tatapanmu kepada mereka semua, sayang,” jawab Saga yang merubah posisinya dengan menatap Aellys dengan satu tangan menopang kepalanya yang di miringkan agar bisa melihat wajah Aellys dengan jelas.
“Sok tahu,” Aellys memalingkan wajahnya yang mulai memerah, bahkan telinganya sudah sangat merah. Dia malu, Saga mengetahui apa yang dia pikirkan.
“Haha, kamu lucu sekali sampai aku ingin menciummu. Coba saja ini bukan di luar, aku jamin kamu sampai kehabisan nafas,” ujar Saga dengan tertawa kencang sampai membuat mereka menjadi pusat perhatian.
“Suara mu kurang keras!” Aellys membekap mulut Saga dengan kedua tangannya.
“Cepat habiskan es krim mu sebelum meleleh!” seru Aellys saat Saga ingin kembali berucap, setelah Aellys melepaskan tangaannya dari mulut Saga.
“Kamu mau kemana lagi?” tanya Saga setelah mereka menghabiskan es krim mereka.
“Aku juga bingung, kalau siang begini aku malas untuk ke luar. Aku lebih suka tempat yang sejuk dan banyak bunga-bunga yang indah,” ujar Aellys membuat Saga berpikir dan mengeluarkan ponselnya, dia melihat sesuatu di layar itu kemudian kembali menutupnya.
“Kita ke rumah Mamih!” seru Saga membuat Aellys mengernyit bingung dan menatap Saga yang sudah berdiri sambil mengulurkan tangannya.
“Kenapa ke rumah Mamih?” tanya Aellys sambil menyambut uluran tangan Saga. Mereka ke luar dari kedai dengan tangan yang saling bergandengan.
“Kita lihat saja nanti,” ucap Saga dengan senyumannya.
“Sok misterius,” gumam Aellys yang membuat Saga tertawa kecil.
“Kamu pasti akan menyukainya,” ujar Saga sambil merangkul bahu Aellys menuju ke mobilnya.
“Sungguh?” Aellys menaikkan sebelah alisnya menatap Saga yang begitu tinggi di sebelahnya.
“Iya, nanti kalau kamu suka. Kamu harus kasih aku hadiah,” ucap Saga membuat Aellys mendengus.
“Gak gratis?” tanya Aellys yang di balas gelengan oleh Saga.
“Tidak ada, sayang. Aku juga meminta hadiah dari bokong ku yang sakit karenamu!” seru Saga yang masih mengingat kejadian waktu itu, Aellys menelan ludah ternyata Saga masih mengigat kejadian itu. Padahal Aellys sudah senang Saga tidak memintanya waktu itu, tapi sekarang dia masih mengingatnya dan memintanya.
“Kamu kenapa?” Saga menatap Aellys yang wajahnya sudah memerah.
“Kamu berpikiran aneh-aneh ya?” curiga Saga membuat Aellys menggelengkan kepala dengan cepat.
“Tidak ada,” jawab Aellys dengan tegas.
“Oke,” kekeh Saga menatap geli Aellys.
Mereka berdua sudah di dalam mobil dan menuju ke rumah mamih Saga. Aellys memainkan ponsel Saga, dia menggunakan ponsel Saga untuk berfoto dan membuka aplikas-aplikasi yang ada di dalam ponsel Saga.
“Setelah Papa mu memaafkanku dan merestuiku, saat itu juga aku akan melamarmu,” ujar Saga membuat tangan Aellys terhenti dan menatap ke arahnya.
“Memangnya kamu sudah menyiapkan semuanya?” tanya Aellys yang kembali berkutit dengan ponsel Saga.
“Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya,” jawab Saga dengan nada serius.
“Aku tunggu itu,” ucap Aellys dan mengecup pipi Saga tiba-tiba, membuat Saga mengerem mobilnya tiba-tiba.
“Kamu kenapa tiba-tiba berhenti? Untung saja tidak ramai,” Aellys menatap sekitar yang memang tidak ada kendaraan yang berlalu lalang.
“Ini semua gara-gara kamu!” seru Saga membuat Aellys bingung, kenapa ini semua karenanya? Padahal dia tidak berbuat sesuatu, kecuali.
“Astaga, aku hanya mencium pipimu. Apa itu salah?” tanya Aellys dengan mendengus.
“Aku senang kamu menciumku, tapi aku terkejut!” seru Saga dan membuka seatbelt nya.
“Ka—kamu ngapain?” panik Aellys saat Saga mendekatkan wajahnya.
“Kalau kamu menciumku satu kali, aku akan menciummu sampai kamu kehabisan nafas,” seringai Saga membuat Aellys membekap mulut Saga yang hendak menciumnya.
“Ka—.” Ucapan Aellys terpotong saat ada orang yang mengetuk kaca mobil Saga.
Kalau aq sih nggak masalah tak dibls koment aq.. yg penting aq senang baca, ksh like, ksh hadiah.. kadang gak komentar... saking asiknya baca.. 😂😂😂
Semangat terus ajah Thorr.. bikin novel lagi yg lbh seru.. Aktor pake nm yg blm dipakai di novel" sini.. kek Antonio Candra, Bonifatius, Cherryl, Gladhis, Joel, atw Sukiran, Paijo, Parno... wkwkkk.. 😂😂😂😂🙈🙏
Tetap lanjut ahhh.. penasaran cerita halunya.. 😄😄😄🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀