Di awali dengan sebuah perjodohan seorang sahabat yang tidak lain adalah adik dari orang yang ku cintai, aku di pertemukan dengan Andra yang ternyata saudara kembar Andre, kakak Anita.
Akhirnya kami berdua menikah. Namun perasaanku masih memilih Andre. Tanpa sengaja aku terus membuat Andra yang mencintaiku sakit hati.Sedangkan Andre sebenarnya memiliki perasaan yang sama terhadapku, tapi ia mempunyai sebuah alasan yang menyebabkannya menyerahkanku pada saudara kembarnya.
Ketulusan Andra akhirnya mampu meluluhkan Aku, dan kami benar-benar hidup sebagai pasangan suami istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Sebuah permintaan
Aku dan Andra telah sampai di penginapan. Baju kami basah kuyup. Hujan malam ini cukup deras. Kami terpaksa menerobos hujan yang baru sedikit reda karena tidak tahan lagi merasakan hawa dingin di luar sana.
"Cepat mandi air hangat, sayang.Mas takut adek nanti masuk angin," Aku menuruti saran Andra dan segera mandi. Rasanya tubuhku kembali hangat setelah terasa membeku beberapa saat tadi.
Setelah aku selesai giliran Andra yang membersihkan diri. Aku dengan cepat mencari dan memakai piyama lalu masuk ke dalam selimut. Rasa dingin kembali terasa, bahkan selimut yang tebal pun rasanya tidak membantu. Sebenarnya aku memang punya riwayat alergi dingin yang lumayan parah.
Andra panik saat melihat tubuhku menggigil. Ia segera berpakaian dan naik ke atas ranjabg, memelukku erat dengan posisi aku di dalam selimut seperti kepompong.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya panik.
"Sebentar lagi juga baikan, mas. Aku punya alergi dingin..." Aku coba memberikan penjelasan. Andra semakin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan, mas ya, dek. Kalau saja mas nggak ngajak kamu ke pinggir pantai, kita nggak akan kehujanan," Andra mengecup keningku.
"Mas, kamu tau nggak sih, momen tadi itu manis banget, mas. Makasih ya kalungnya, aku suka banget." Aku berusaha menghibur Andra dan menyembunyikan rasa dinginku. Meskipun kakiku sudah terasa sangat dingin.
"Mas, Aku punya permintaan sebelum kamu pergi ke Amerika. Apa mas mau mengabulkan permintaanku?"
Aku menatap dalam mata lelakiku itu. Berharap ia baik hati dan menerima keinginanku.
"Adek mau apa? selama mas mampu, pasti akan mas kabulkan." Katanya memberikanku rasa percaya diri untuk mengutarakan permintaanku.
"Mas, satu minggu ini aku mau ngintilin mas. Kemanapun, termasuk ke kantor. Apa mas keberatan?" Aku menggerakkan jariku memutar di bagian dada Andra. Cemas dan menunggu jawaban apa yang akan dia berikan.
"Sayang, permintaan kamu itu sangat mudah untuk mas kabulkan. Apa ada yang lain?" Jawabannya membuat senyumku mengembang. Entah kenapa aku ingin menghabiskan hariku bersamanya sebelum dia pergi ke Amerika. Sesungguhnya di hatiku hanya ada rasa takut kehilangan dan takut Andra tidak akan kembali lagi.
"Hanya itu, mas. Aku cuma ingin memanfaatkan saar aku bisa menunjukkan sedalam apa perasaanku padamu. Aku ingin mas merasakan cinta yang ada di dalam hatiku." Airmataku menggenang di sudut mataku, dengan sigap Andra menghapusnya.
"Mas akan selalu berusaha membahagiakan Adek. Mas udah merasakan cinta dan kasih sayang adek yang sangat besar. Terimakasih, sayang. Maafkan mas kalau belum bisa menjadi suami terbaik buat adek. Mas juga sangat mencintai adek..." Aku terharu, memiliki suami sebaik Andra. Mungkin karena itu aku berat untuk berpisah dengannya.
"Mas, nanti selama mas pergi, siapa yang peluk aku kalau aku kedinginan? Siapa yang menemani aku ke dokter kandungan? Siapa yang menemaniku saat aku kesepian?" Aku seperti mengeluh. Andra mengelus rambutku. Menempelkan dagunya di atas kepalaku.
"Manja banget sih istriku... Mas nggak akan pergi lama kok sayang, mas pasti kembali untuk adek,"
Andra mencoba meyakinkanku. Ya Allah, entah mengapa aku masih ragu. Semoga saja hanya perasaanku yang terlalu khawatir.
"Mas, janji?" Aku menatapnya setengah percaya.
"Insyaallah, dek..."
"Tok..tok.." Pintu kamar kami di ketuk seseorang, Andra bangkit dan membukakan pintu untuk seseorang di luar sana.
"Andre dek, Mas keluar dulu ya, ada yang harus kami bicarakan," Katanya lalu keluar dan meninggalkanku seorang diri. Untung saja rasa dinginku sudah mulai berkurang.
Apa yang akan mereka bicarakan? Urusan bisnis? Atau tentang kepergian Andra ke Amerika? Kenapa aku ingin tahu semuanya? Padahal biasanya aku cuek, apalagi tentang pekerjaan mereka.
Diam-diam aku mengikuti langkah mereka. akhirnya mereka duduk di lobi penginapan. Aku duduk tidak jauh dari mereka yang membelakangiku.
Wajah keduanya tampak serius. Apalagi Andre, sangat dingin. Seperti bukan dia yang humoris. Bahkan sifat humorisnya itu sekarang jarang tampak. Mungkin karena Aku.
"Jadi, apa yang akan kita bahas?" Aku mendengar Andra membuka percakapan.
"Soal kepergianmu ke Amerika. Bisakah kalau di batalkan atau di gantikan olehku?" Andre buka suara. Dia juga keberatan Andra pergi.
"Kamu tau kan, Ndre. Perusahaan kakek saat ini sedang kritis. Kecurangan yang di buat divisi keuangan kita, pak Gatot menimbulkan kerugian yang sangat besar. Aku mengenal baik beberapa investor besar di sana. Aku ingin meminta bantuan kepada mereka untuk membangkitkan perusahaan kakek lagi," Ternyata itu alasan kepergian Andra. Aku terus menguping.
"Lalu, bagaimana Sila, dia sedang hamil dan membutuhkan banyak perhatian dari kamu, Ndra. Kamu pergi pasti akan lama. Nggak hanya satu atau dua bulan," Andre mengkhawatirkan aku.
"Aku akan secepatnya kembali. Jika dalam enam bulan aku tidak kembali, kamu boleh menggantikanku menjadi suami Sila." Aku kaget. Perkataan macam apa ini?
"Kamu sudah gila, Ndra! Ini yang dinamakan mencintainya?!" Andre menarik baju bagian leher Andra. Dia tampak tenang.
"Aku tidak punya pilihan, Ndre. Ini kesempatanku untuk membalas kebaikan kakek. Orang yang telah membesarkanku dari bayi. Jika kamu ada di posisiku, pasti akan paham." Andra melepaskan tangannya. kembali duduk dengan wajar.
"Apa kamu sudah berdiskusi dengan Sila?" Tanya Andre lagi.
"Sudah,"Jawabnya singkat.
"Lalu apa respon dia?" Andre lagi-lagi menghujani pertanyaan.
"Sila tidak rela melepasku, Tapi aku akan terus berusaha meyakinkan dia." Jawab Andra pelan. Aku bisa membaca bahwa sebenarnya dia juga berat untuk berpisah dariku.
"Tentu saja ini tidak adil bagi Sila. Setelah berhasil mencintaimu, kamu pergi meninggalkan dia,"
"Aku terpaksa melakukannya. Sejujurnya aku juga takut kehilangan dia." Andra terdengar sedikit ragu mengucapkannya.
"Kamu memang keras kepala. Tapi berjanjilah untuk segera pulang menemuinya. Atau aku akan mengambilnya kembali." Andre beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan Andra yang masih termangu. Aku segera meninggalkan tempat itu sebelum Andra menyadarinya. Aku mengambil keputusan, di detik-detik keberangkatannya aku akan mencurahkan seluruh perasaanku padanya.
Beberapa menit kemudian Andra kembali ke kamar. Aku pura-pura tidur. Dia naik ke atas ranjang, membelai rambutku dan mengecup dahiku berkali-kali. Aku merasakan ada sesuatu yang menetes. Andra menangis.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus meninggalkanmu dan bayi kita. Semoga aku dan kamu akan di pertemukan lagi. Aku sangat mencintaimu, sangat..." Bisiknya. Lalu dia merebahkan tubuhnya di sampingku, memelukku dan terlelap.
Aku memandangi wajah suamiku yang tengah pulas. Rasanya mataku enggan terpejam. mungkin ini adalah ujian untuk ikatan cinta kami. semoga sekali lagi kami bisa melaluinya.
"Andra, aku juga mencintaimu... sangat mencintaimu..." aku mengecup pipi dan bibir suamiku itu bergantian. Dia tidak bergeming, mungkin terlalu lelah. Akhirnya aku pun terlelap.
Kenapa ngurusin Andre.
Rasain dilecehkan Andre.
Salahmu sendiri Sila.