Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33# Terbongkar
Malam harinya ...
"Ada apa dengan mu Adnan?" tanya sang mama yang saat itu melihat lengan Adnan di balut perban.
"Kak Adnan, bukan nya kau bilang kau pergi jalan-jalan ke mall? Kenapa kau pulang dalam kondisi terluka seperti ini?" ucap Alena menghampiri sang kakak.
Mereka semua kini berkumpul di ruang tengah, di sana juga ada Bastian yang beberapa hari sudah tidak bertegur sapa dengan Adnan, dia fokus dengan ponselnya dan tidak mempedulikan Adnan sama sekali, sedangkan sang papa terlihat sangat lelah sepulang dari kantor. Hanya mama Tina dan juga Alena yang memperhatikan Adnan.
Adnan tidak menjawab, dia hanya menatap Bastian dengan tatapan tajam, terlihat jelas dari tatapan matanya kalau dia punya banyak rasa kesal terhadap sang kakak tertua.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" ucap Bastian yang akhirnya menyadari itu.
"Kak, jelaskan padaku tentang pemutusan hubungan antara keluarga Gunawan dan juga Ayla," ucap Adnan secara langsung tak lagi menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hatinya.
Bastian terdiam, kini semua mata menatap ke arah nya termasuk mama dan sang papa serta Alena.
"Pemutusan hubungan?" ucap papa dan mama mereka secara bersamaan.
Sementara itu Alena tampak menyimpan harapan besar dari pembahasan mereka barusan.
"Apakah Ayla benar-benar memutuskan hubungan dengan keluarga ini? Itu hal baik," ucap nya dalam hati.
"Kenapa begitu cepat terbongkar nya kenyataan ini," batin Bastian.
"Jawab! Kenapa kau diam saja? Aku bertemu Ayla di mall dan dia mengatakan nya," ucap Adnan lagi, ia tak sabar dan menginginkan nada suaranya.
"Iya! Keluarga ini memang sudah tidak ada hubungan dengan Ayla lagi dan aku sendiri lah yang sudah menandatangani perjanjian pemutusan hubungan antara Ayla dan keluarga Gunawan," jawab Bastian sambil berdiri dari duduknya.
Seketika semua orang terkejut mendengar pertanyaan Adnan barusan, mereka tidak menyangka ada hal besar seperti ini yang tidak mereka ketahui setelah kepergian Ayla.
"Apa yang kau lakukan itu? Apa kau sudah gila? Seharusnya kau tidak melakukan nya Bastian!" ucap Adnan yang kali ini tidak lagi memanggil Bastian dengan sebutan kak.
"Kalian tau apa? Itu adalah satu-satunya syarat dari Ayla, dia sendiri yang mengajukan syarat itu, jika aku tidak menyetujui nya dia mungkin tidak akan pergi kekeluargaan Aditama," ucap Bastian membela diri.
"Sudahlah, jangan bertengkar, biarkan saja kalau memang Ayla menginginkan hal itu, tidak ada hubungan ya sudah, lupakan saja yang penting keluarga kita sekarang hidup dengan damai memiliki dukungan yang kuat dari keluarga Aditama," ucap sang papa yang terlihat sama sekali tidak memiliki penyesalan atas kepergian Ayla dan fakta tentang pemutusan hubungan tersebut.
"Aku tidak menyangka, ternyata yang ada di pikiran kalian semua selama ini hanya lah harta," ucap Adnan sambil geleng-geleng kepala.
"Apa bedanya dengan mu? Kenapa tiba-tiba kau terlihat jadi orang yang paling menyesal? Apakah karena Ayla sekarang tidak lagi bisa kau siksa?" ucap Bastian dengan lantang.
Adnan seketika terdiam mendengar ucapan sang kakak, dia tidak menyangka kalau Bastian mengetahui hal itu.
"Dengar kalian semua, aku memang jahat, tetapi aku sama sekali tidak pernah menyiksa Ayla seperti yang Adnan lakukan, lagipula yang ku lakukan ini adalah keputusan yang tepat, jika aku tidak menandatangani surat pemutusan hubungan itu, mungkin perusahaan sekarang sudah bangkrut," ucap Bastian yang kemudian berlalu pergi dari hadapan semua orang.
Sementara mama Tina terduduk di sofa, hatinya merasakan rasa sakit yang luar biasa, sejak tau kalau Ayla memutuskan hubungan dengan keluarga mereka ia merasa separuh dari hidupnya ada yang hilang.
"Ayla, benarkah dia melakukan hal ini?" ucap mama Tina sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Biar bagaimanapun Ayla adalah satu-satunya anak perempuan sah kelurga Gunawan.
"Ma, tenang saja, mungkin saat itu Ayla sedang marah, mama kan tau sperti apa dia, nanti kita manfaatkan pertemuan di pesta ulang tahun keluarga Aditama, kita pasti bisa membujuk nya," ucap Alena seolah-olah dirinya peduli dengan kejadian tersebut.
Padahal dari lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat senang dengan kejadian tersebut.
"Benarkah? Apakah kita menerima undangan?" tanya mama Tina kembali bersemangat.
"Iya ma," jawab Alena sambil menganggukkan kepalanya.
"Membujuk? Mimpi saja, aku lebih ingin melihat Ayla yang saat ini hidup tersiksa di keluarga Aditama dengan suami lumpuh dan rusak mental itu," batin Alena.
Sementara itu Adnan masih terpukul mental nya, dia mengingat bagaimana Ayla mengakui Gavin sebagai kakak nya, keakraban mereka membuat Adnan iri, akhir-akhir ini dia selalu menatap gaun pesta merah muda itu, dia ingat kalau dulu dirinya pernah menjadi seorang kakak yang sangat penyayang dan selalu memanjakan Ayla.
"Kenapa? Kenapa setelah Ayla pergi separuh hatiku selalu terasa kosong?" tanya Adnan sambil memegang dadanya.
Sementara itu di sisi lain.
"Inilah keluarga mu? Benar-benar membuat ku jengkel, sudah bagus kau meninggalkan mereka," omel Gavin yang saat ini duduk di samping Leo yang sedang mengemudi mobil kembali ke rumah.
Ayla hanya diam, sesekali dia menatap Valen, ada sesuatu yang ingin dia ucapkan namun tertahan oleh omelan Gavin yang tidak ada habisnya.
"Sudahlah tuan muda bungsu, kau ini sangat cerewet," ucap Leo yang merasa risih karena omelan tersebut.
"Aku ini kesal, aku tidak menyangka ada kakak kandung yang memperlakukan adik sperti hewan peliharaan," ucap Gavin.
"Kau salah," ucap Ayla kini bersuara.
Gavin dan Valen seketika memusatkan pandangan mereka kepada Ayla.
"Kau ingin membela nya?" tanya Valen.
"Tidak, tapi Gavin salah kalau bilang mereka memperlakukan ku seperti hewan peliharaannya, karena di keluarga Gunawan hewan peliharaan di perlakukan dengan sangat baik dan lembut, mereka makan tiga kali sehari dan juga sangat di sayang, tapi aku, aku harus melakukan semua pekerjaan seperti pelayan baru akan dapat makan, itupun sehari satu kali," ucap Ayla dengan senyum tipis nya.
Gavin dan Valen serta Leo seketika menatap Ayla, mereka tidak menyangka kalau hewan pun lebih beruntung di keluarga Gunawan di bandingkan dengan Ayla anak kandung mereka.
"Astaga, Ayla kau benar-benar bertahan selama itu?" ucap Gavin.
"Nona muda kau sangat sabar," ucap Leo.
"Aku tidak menyangka keluarga Gunawan sekejam itu," batin Valen.
"Aku sudah terbiasa," jawab Ayla singkat.
"Dia masih saja bisa tersenyum, pantas kondisi fisik nya sangat rapuh dia terlihat kurus seperti orang kekurangan gizi," batin Valen lagi.
Kini dirinya tampa sadar semakin memperhatikan Ayla dan juga memberikan kasih sayang lebih secara tersembunyi.
"Aku menyesal mengejek nya di pertemuan pertama kami," batin Gavin yang kini baru menyadari kehidupan pahit yang di alami Ayla di keluarga Gunawan.
***
Sehari setelah itu ...
Tak terasa malam pesta ulang tahun Gavin pun telah tiba, suasana pesta terlihat sangat ramai, Ayla ternyata benar-benar mampu menangani tugas yang diberikan Maya padanya.
****