"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Desir di Antara Dua Kursi Depan
Aroma kulit premium dari jok mobil sedan mewah yang dikemudikan Martin berpadu dengan keheningan yang mendadak terasa pekat setelah pintu lobi BGC tertutup di belakang mereka. Di luar kaca mobil, pemandangan kota Jakarta yang sibuk berputar layaknya rol film bisu. Di dalam kabin, hanya ada suara deru mesin yang halus dan debaran jantung yang entah sejak kapan mulai berkejaran.
Kirana duduk di kursi penumpang depan, tepat di sebelah Martin. Kepalanya bersandar pada kaca jendela, menatap aspal yang tergilas roda, namun pikirannya masih tertinggal pada kilatan amarah di mata Adrian dan jeritan histeris Valerie setelah menerima tamparan mentah dari Martin. Ada rasa puas yang membuncah, tetapi di atas semua itu, ada satu rasa canggung yang mendadak menyergap batinnya: pengakuan spontannya di depan umum.
Ia menoleh sedikit, melirik profil samping wajah Martin yang tampak fokus menatap jalanan. Garis rahangnya tegas, jemarinya mencengkeram kemudi dengan santai namun mantap. Pria itu selalu ada di sana, menjadi perisai yang tidak pernah retak setiap kali badai emosinya mengamuk.
"Martin..." suara Kirana memecah kesunyian, terdengar lebih lembut dari biasanya, menanggalkan sejenak jubah ketegasan seorang Direktur Utama BGC.
"Iya, Nona?" jawab Martin tanpa mengalihkan pandangan dari lampu lalu lintas di depan yang baru saja berubah menjadi merah.
"Maaf ya... tadi aku memanfaatkan kamu," ucap Kirana, ada nada penyesalan yang tulus dalam suaranya.
Martin menghentikan mobilnya dengan halus seiring dengan berhentinya barisan kendaraan di depan mereka. Ia menoleh perlahan, menatap Kirana dengan binar mata yang selalu sulit dibaca namun menenangkan. "Soal apa, Nona?"
Kirana menggigit bibir bawahnya sekilas, mendadak merasa kikuk. "Tadi itu... aku berbohong kepada mereka. Aku mengatakan bahwa kamu adalah calon suamiku. Aku hanya butuh perlindungan agar Adrian tidak merendahkan harga diri kita lagi. Maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman."
Mendengar pengakuan itu, seulas senyuman tipis namun sangat menawan terukir di sudut bibir Martin. Ia memalingkan wajahnya kembali ke arah jalanan saat lampu berubah menjadi hijau, lalu menginjak pedal gas perlahan.
"Oh, soal itu... Tidak apa-apa, Nona," jawab Martin santai, suaranya terdengar renyah di telinga Kirana. "Betulan juga tidak masalah."
Deg.
Darah Kirana seketika berdesir hangat. Pipinya merona merah layaknya buah persik yang matang. Kalimat pendek Martin barusan terasa seperti sengatan listrik bertegangan rendah yang sukses mengacaukan sistem pertahanannya. Kirana didera rasa salah tingkah yang luar biasa. Ia segera memalingkan wajahnya kembali menghadap jendela, berpura-pura tertarik pada baliho besar di pinggir jalan, berusaha keras menyembunyikan senyum kecil yang mendadak ingin merekah.
Namun, gengsi seorang Aruna—atau kini Kirana—yang terluka oleh masa lalu segera bangkit mengambil alih. Ia berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya.
"Maaf, Martin... Jaga sikapmu," kata Kirana, berusaha terdengar dingin dan tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar. "Aku baru saja bercerai, dan kamu harus tahu batasanmu."
Kirana menarik napas panjang, menatap punggung tangannya sendiri. "Maafkan keegoisanku, Martin. Aku belum bisa menerima siapa pun saat ini. Lagipula... bukankah kamu juga sudah punya pasangan? Kamu sudah dijodohkan, kan?"
Senyuman di wajah Martin perlahan memudar, digantikan oleh sorot mata berpikir yang dalam. Ia mengangguk patuh. "Baik, aku mengerti, Nona."
"Baguslah..." gumam Kirana, meskipun di dalam lubuk hatinya, ada secuil perasaan kecewa ketika Martin menyerah dan patuh begitu saja.
Setelah percakapan singkat tersebut, suasana di dalam mobil kembali senyap. Hanya ada suara deru AC dan musik klasik bervolume rendah yang menemani perjalanan mereka. Mereka diam cukup lama, terperangkap di dalam pikiran masing-masing yang saling berkelindan.
Dua Suara dalam Satu Waktu
"Martin...!"
"Nona...!"
Secara tidak sengaja, kedua insan tersebut memanggil nama satu sama lain secara bersamaan. Seketika kejutan kecil terjadi di dalam kabin mobil tersebut.
Kirana terkekeh geli sambil menutupi bibirnya. "Ya sudah, kamu dulu saja yang bicara," kata Kirana, memberikan kesempatan.
"Nona dulu saja... ladies first," balas Martin dengan sikap gentleman tingkat tinggi.
Kirana memperbaiki posisi duduknya, menghadap sedikit ke arah Martin. Rasa penasaran yang sejak beberapa hari ini memenuhi benaknya akhirnya tidak bisa dibendung lagi. "Bagaimana dengan perjodohanmu di desa itu, Martin? Apa kamu menyukainya?"
Martin sedikit terkejut, kedua alisnya terangkat. "Kenapa Nona tiba-tiba tanya soal itu?"
"Ah... eh... enggak!" Kirana seketika panik dan wajahnya kembali memerah karena merasa tertangkap basah terlalu peduli. "Aku hanya... aku hanya tidak ingin kamu tidak bahagia karena harus menikahi orang yang tidak kamu cintai. Sebagai bos, aku kan harus memastikan kesejahteraan mental pegawaiku!" Alasan Kirana terdengar sangat berbelit-belit.
Martin tertawa lembut, suara tawa yang sangat seksi dan membuat hati Kirana makin karam. "Seperhatian itu Nona Kirana sama saya...?"
"Jawab saja! Gak usah banyak tanya dan menggoda!" potong Kirana cepat, menutupi malunya dengan sikap galak andalannya.
"Aku gak tahu, Nona..." suara Martin berubah menjadi lebih lembut dan sedikit melankolis.
"Gak tahu? Jangan bercanda sama aku, Martin. Mana ada orang yang tidak tahu perasaannya sendiri terhadap calon pasangannya," protes Kirana tidak puas.
"Aku benar-benar gak tahu, karena aku belum pernah melihatnya lagi sejak lama," terang Martin sambil memutar kemudi memasuki kawasan Menteng. "Terakhir aku melihatnya ketika aku berumur 7 tahun. Itu pun waktu kami masih sama-sama tinggal di desa kecil di Jawa Tengah."
Kirana tertegun, matanya berkedip-kedip menyimak. "Oh... jadi kamu dijodohkan sewaktu masih kecil? Oleh orang tuamu?"
"Bisa dibilang seperti itu," balas Martin singkat.
"Siapa nama wanita itu?" tanya Kirana, makin penasaran dan merasa seperti seorang detektif cinta.
"Nana... aku hanya panggil dia Nana. Nama aslinya pun aku gak tahu karena setelah itu keluargaku pindah ke kota dan kami kehilangan kontak sama sekali," kenang Martin.
"Kok... gitu? Kamu lucu, masa nama calon istri sendiri tidak tahu?" Kirana terbawa suasana cerita.
"Aku dulu memang sangat cuek, Nona. Dan aku sama sekali tidak peduli dengan perjodohan kolot seperti itu," aku Martin sejujurnya.
Kirana diam sejenak, menimbang-nimbang pertanyaan selanjutnya yang sedikit berbahaya untuk hatinya sendiri. "Kalau... kalau ternyata dia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, apa kamu mau menerima perjodohan itu?"
Martin tampak berpikir, matanya melirik Kirana sekilas dengan sinar jenaka. "Kalau dia cantik...? Mmmm... asal secantik Nona Kirana, mungkin aku pikir-pikir dulu untuk menolak."
Deg! Untuk kesekian kalinya, Kirana merasa jantungnya hampir meledak. Pipinya kini benar-benar sangat panas dan merona sempurna. "Kamu ini... gak ada orang di dunia ini yang wajahnya sama persis!" seru Kirana, menutupi wajahnya dengan berkas dokumen.
"Menurut saya ada, Nona," potong Martin tenang.
"Siapa? Saudara kembar paling," tebak Kirana.
"Bukan."
"Lalu...?"
"Seperti wajahnya Nona Aruna dan Nona Kirana," ucap Martin dengan nada suara yang sangat berarti dan dalam.
Getaran Aneh di Antara Kemudi
"Ih... kamu...!" Kirana yang merasa gugup dan malu seketika refleks mengangkat tangannya dan memukul bahu Martin karena kesal.
Namun, sebagai seorang mantan Pasukan Khusus dan ajudan terlatih, Martin memiliki refleks tubuh yang sangat cepat. Tanpa menoleh, tangan kiri Martin seketika bergerak menahan pukulan Kirana, menangkap pergelangan tangan wanita itu, dan menggenggamnya dengan sangat erat namun lembut.
Seketika gerakan mobil sedikit melambat karena Martin kehilangan sedikit konsentrasi. Di dalam kabin tersebut, kedua insan itu saling menatap satu sama lain. Mata Kirana bertemu dengan manik mata Martin yang sangat teduh dan tajam. Ada gelombang getaran aneh dan kuat yang seketika menyengat dada mereka masing-masing, sebuah perasaan yang belum pernah Kirana rasakan bahkan saat bersama Adrian dulu.
"Martin! Awas di depan...!" teriak Kirana seketika saat melihat sebuah truk mengerem mendadak di depan mereka.
Dengan kesigapan tingkat tinggi, Martin seketika melepaskan genggaman tangannya, kedua tangannya kembali ke kemudi, dan membanting setir secara halus ke arah kanan untuk menghindari tabrakan beruntun. Mobil mereka berhasil berhenti dengan aman hanya beberapa sentimeter dari bemper truk tersebut.
Napas Kirana tersengal-sengal, jantungnya berdegup kencang bukan hanya karena hampir tabrakan, namun karena sentuhan pergelangan tangan Martin tadi.
"Kamu fokus saja menyetir, Martin!" perintah Kirana dengan suara serak, menatap ke depan dengan tubuh bergetar.
"Baik, Nona. Maafkan kelalaian saya," balas Martin, kembali menyetir dengan tingkat konsentrasi penuh.
Kirana kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya terpejam lembut, namun benaknya kini sedang perang batin.
Martin... kok aku jadi semakin suka sama kamu ya? Kamu blak-blakan tapi sangat jujur. Kamu memang seorang ajudan, namun sikapmu sama aku seolah tidak ada batasan kolot seperti bos dan anak buah. Kamu mirip selayaknya teman berbagi cerita... atau mungkin... ke...ka...sih... batin Kirana, seketika merasa takut dengan pikirannya sendiri yang sangat berani tersebut. Aruna yang dulu penakut kini mulai terkikis oleh pesona nyata seorang Martin.
Masa Lalu Martin dan Valerie
Setelah suasana kembali tenang dan mobil kembali berjalan stabil di atas jalanan Menteng, Kirana kembali membuka suara. Ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya terkait kejadian di lobi BGC tadi.
"Soal Valerie... apa memang benar kamu pernah pacaran dengan wanita sialan itu, Martin?" tanya Kirana, menyelidik.
Martin tersenyum hambar, matanya menatap lurus ke depan. "Bisa dibilang seperti itu, Nona. Tapi tidak seperti yang dia ceritakan pada Adrian."
"Maksud kamu?"
"Sebenarnya sejak awal aku sama sekali tidak suka dengan perempuan gampangan dan bermuka dua seperti Valerie. Dia wanita yang sangat terobsesi pada status dan lelaki tampan. Dulu, saat aku masih di kampus, dia terus-menerus mengejar-ngejar aku, memberikan perhatian berlebih, dan dengan sepihak mengumumkan kepada teman-teman kuliahnya bahwa aku adalah pacarnya," kenang Martin dengan nada muak.
Martin terkekeh dingin. "Aku diamkan saja karena aku malas berdebat. Namun setelah dia tahu bahwa pekerjaan sampinganku adalah menjadi sopir dan pengawal pribadi, seketika sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia mundur, meninggalkanku, dan bahkan suka merendahkanku di depan orang lain sebagai lelaki miskin tanpa masa depan."
Kirana menyimak setiap kata Martin dengan seksama. Ada perasaan lega yang luar biasa di dalam hatinya saat mengetahui bahwa Martin tidak pernah memiliki perasaan cinta nyata untuk Valerie.
"Oh... begitu..." gumam Kirana sambil mengangguk-angguk puas. "Artinya, selain berhati busuk, wanita itu memang sangat matre dan bodoh. Dia tidak pernah tahu siapa kamu sebenarnya, Martin. Dan hari ini, kamu sudah memberikannya pelajaran yang sangat setimpal."
"Saya hanya tidak suka siapa pun merendahkan Nona Kirana. Sebab bagi saya, Nona adalah hal terpenting yang harus saya jaga... dengan nyawa saya sendiri," balas Martin sangat serius.
Kirana tersenyum manis, kali ini tanpa merasa malu lagi. Di dalam hatinya, Aruna sadar bahwa proses balas dendamnya terhadap Adrian dan Valerie tidak akan pernah terasa kesepian atau berat, karena ada Martin yang selalu setia berdiri di sampingnya, siap membantunya mengguncang dunia Adiwangsa Logistik hingga runtuh menjadi abu. Pertempuran baru saja dimulai, dan Kirana tahu, dia akan keluar sebagai pemenang utama.