Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat
Di antara keinginan memiliki anak dan luka yang tak terucap, Hana dihadapkan pada kenyataan paling pahit—bahwa kadang, orang yang paling kita perjuangkan … justru menjadi alasan kita harus belajar melepaskan.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah. Farhan langsung menuju kamar. Di perjalanan keduanya hanya diam.
Farhan membuka bajunya dan langsung masuk kamar mandi. Hana tampak menarik napas. Selama empat tahun pernikahan mereka, suaminya tak pernah mengacuhkan dirinya begini. Walau ia memang tak romantis.
Hana juga mengganti bajunya dengan baju rumahan. Tak berapa lama Farhan keluar dari kamar mandi.
Farhan langsung naik ke ranjang dan membuka laptop. Melihat pekerjaannya. Suasana kamar jadi terasa sunyi.
"Mas, kamu tak serius'kan ingin menikah lagi?" tanya Hana memecahkan kesunyian di kamar itu.
Farhan tampak menoleh. Ia mematikan laptopnya. Memandangi Hana dengan tatapan tajam.
"Hana, sudah aku katakan, aku tak ingin menyakiti kamu. Tapi aku menginginkan keturunan. Semua temanku telah memiliki anak, bahkan ada yang telah duduk di sekolah dasar anaknya!"
Hana menarik napas dalam. Ia paham dengan keinginan suaminya, karena ia juga menginginkan hal yang sama. Setiap acara reuni, teman mereka selalu menanyakan anak.
"Mas, aku juga ingin punya anak," jawab Hana.
"Keinginan saja tak akan bisa mewujudkan impian itu!"
Dahi Hana berkerut mendengar ucapan suaminya, "Maksud Mas apa?" tanyanya.
"Hana, empat tahun aku sudah bersabar menantikan kehadiran buah hati. Selama ini aku tak pernah betul-betul menuntutmu. Tapi batas kesabaran seseorang itu ada batasnya. Aku sudah tak bisa menunggu lagi!" seru Farhan.
"Jangan bilang ... Mas setuju dengan keinginan Mama untuk menikah lagi," ucap Hana dengan terbata.
Suasana mendadak menjadi sunyi. Farhan tak memberikan jawaban. Sama seperti saat di rumah mama tadi.
"Mas, jangan diam saja. Apakah Mas juga ingin menikah lagi?" Hana kembali menanyakan hal yang sama.
Farhan tetap diam. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, tapi justru terasa lebih berat. Seolah-olah ada sesuatu yang ia tahan, sesuatu yang sebenarnya ingin ia ucapkan tapi tak mampu keluar begitu saja.
Hana menatapnya lekat, menunggu. Jantungnya berdegup tak karuan.
“Mas ….” Suaranya melemah, hampir seperti bisikan, “Jawab aku, jangan diam saja.”
Farhan menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menunduk sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Hana.
“Aku … masih mempertimbangkan keinginan Mama, Hana.”
Seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dada Hana. Ia tidak langsung menangis. Tidak langsung marah. Hanya diam.
“Mempertimbangkan?” ulangnya lirih, seperti memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Farhan mengangguk pelan. “Aku sudah berusaha, Hana. Kita sudah berusaha. Berobat ke sana ke sini, ikut program ini itu … tapi hasilnya tetap sama.”
Hana menunduk. Tangannya mencengkeram ujung baju rumahannya tanpa sadar.
“Jadi … solusinya menikah lagi?” tanyanya pelan, suaranya mulai bergetar.
“Aku butuh keturunan,” jawab Farhan, kali ini lebih tegas. “Itu bukan sekadar keinginan, Hana. Itu tanggung jawab. Aku anak satu-satunya. Mama berharap besar padaku.”
“Lalu aku?” Hana langsung mengangkat wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku ini apa, Mas? Selama ini aku berusaha juga! Aku yang minum obat, aku yang bolak-balik ke dokter, aku yang menahan semua omongan orang!”
Farhan terdiam. Nada suara Hana tidak tinggi, tapi penuh luka.
“Setiap ditanya kapan punya anak… aku yang tersenyum, aku yang jawab seadanya, padahal di dalam hati rasanya seperti ditusuk,” lanjut Hana, suaranya semakin lirih. “Mas pikir aku tidak ingin punya anak?”
Farhan mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras.
“Aku tahu kamu juga ingin,” ucap Farhan. “Tapi kenyataannya belum ada. Dan waktu terus berjalan.”
“Jadi karena waktu … Mas memilih jalan ini?” Hana tersenyum pahit.
Sunyi kembali menyelimuti kamar itu. Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar samar.
Beberapa detik berlalu sebelum Hana kembali berbicara. “Kalau Mas menikah lagi … aku harus bagaimana?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam Farhan lebih keras dari apa pun. Ia menatap Hana lagi. Kali ini lebih lama.
“Aku tidak akan menceraikan kamu,” jawabnya.
Hana tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, lebih seperti tawa yang dipaksakan.
“Lucu ya,” gumamnya. “Mas bilang tidak mau menyakitiku, tapi semua yang Mas lakukan sekarang justru menyakitiku.”
Farhan menghela napas berat. “Aku tidak punya pilihan lain.”
“Ada,” potong Hana cepat.
Farhan menatapnya.
“Ada pilihan untuk tetap bersamaku dan menerima keadaan ini. Seperti aku yang menerimanya selama ini. Dokter juga mengatakan kalau aku tak ada masalah.”
“Dan hidup tanpa anak?” tanya Farhan, nada suaranya sedikit meninggi. “Kamu pikir itu mudah bagiku?”
“Lalu kamu pikir ini mudah bagiku, Mas?” balas Hana, kini tak mampu lagi menahan emosinya. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Melihat suami sendiri ingin berbagi dengan wanita lain demi sesuatu yang bahkan aku juga inginkan?”
Farhan terdiam lagi. Kali ini lebih lama.
Hana menghapus air matanya, tapi tangannya gemetar.
“Mas …,” ucapnya dengan suara yang kembali melembut, nyaris putus asa. “Kalau memang ini tentang anak kita masih bisa mencoba cara lain. Adopsi misalnya.”
Farhan langsung menggeleng. “Aku ingin darah dagingku sendiri.”
Jawaban itu seperti pisau. Hana menutup matanya sejenak. Dadanya terasa sesak.
“Jadi semua usaha aku selama ini tidak cukup di mata Mas?”
“Bukan begitu,” jawab Farhan cepat, tapi terdengar ragu. “Aku menghargai semuanya. Tapi aku juga harus realistis.”
Hana menatapnya lagi. Kali ini lebih dalam, seolah mencoba mengenali pria yang sudah empat tahun menjadi suaminya.
“Realistis atau egois?” tanyanya pelan.
Farhan langsung menegang. “Hana—”
“Aku hanya bertanya,, Mas,” potong Hana, suaranya terdengar lelah. “Karena yang aku lihat sekarang Mas hanya memikirkan keinginan Mas sendiri.”
“Itu bukan hanya keinginanku!” tegas Farhan. “Itu harapan keluarga.”
“Dan aku bukan keluarga?” tanya Hana cepat.
Suasana kembali hening. Kata-kata itu menggantung di udara. Farhan membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar.
Hana tersenyum tipis, penuh kepahitan. “Aku mengerti sekarang,” katanya pelan. “Di mata Mama, aku hanya istri yang gagal memberi keturunan. Dan di mata Mas … aku mulai menjadi beban.”
“Itu tidak benar,” jawab Farhan, tapi suaranya tidak lagi sekuat sebelumnya.
Hana menggeleng perlahan. “Kalau itu tidak benar … Mas tidak akan mempertimbangkan menikah lagi.”
Farhan tak bisa membantah.
Hana bangkit dari duduknya di tepi ranjang. Ia berjalan perlahan ke arah jendela, membuka tirai sedikit. Lampu-lampu kota terlihat dari kejauhan, tapi tak mampu menghangatkan hatinya.
“Mas tahu tidak …,” ucap Hana tanpa menoleh, “Dulu aku selalu bangga dengan pernikahan kita.”
Farhan menatap punggungnya. Diam, ingin mendengarkan lanjutan dari ucapan sang istri.
“Aku selalu bilang ke teman-teman … walaupun Mas tidak romantis, tapi Mas setia. Mas bertanggung jawab. Mas tidak pernah menyakitiku.”
Hana terdiam sejenak, menarik napas panjang. “Tapi ternyata … aku salah.”
Farhan langsung bangkit dari ranjang. “Hana, jangan bicara seperti itu.”
“Lalu aku harus bicara seperti apa?” Hana menoleh, matanya merah. “Aku harus tersenyum dan bilang aku baik-baik saja saat suamiku ingin menikah lagi?”
Farhan mendekat beberapa langkah, tapi berhenti. Jarak di antara mereka terasa begitu jauh, meski hanya beberapa meter.
“Aku belum memutuskan,” ucap Farhan, mencoba meredakan keadaan.
“Tapi Mas sudah mengizinkan kemungkinan itu ada,” balas Hana cepat. “Dan itu saja sudah cukup untuk menghancurkanku.”
Keduanya kembali diam. Kali ini lebih sunyi dari sebelumnya.
Akhirnya, Hana mengusap air matanya sekali lagi dan menarik napas dalam.
“Kalau memang itu keputusan Mas nanti …,” ucapnya pelan, “Aku tidak akan menahan.”
Farhan menatapnya kaget. “Maksudmu?”
Hana tersenyum kecil, tapi matanya penuh luka. “Aku tidak akan jadi penghalang kebahagiaan Mas.”
“Hana ... Apa maksudnya kamu menerima keputusan ini?" tanya Farhan dengan suara pelan, seolah takut bicara.
"Entahlah, Mas. Aku juga masih memikirkan semua ini." Setelah mengucapkan itu Hana berjalan keluar kamar. Udara di kamar terasa pengap. Ia butuh udara segar. Farhan tak menahan langkah istrinya.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....