NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Gadis Desa

Terjerat Pesona Gadis Desa

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: D'wie

Berryl Van Houten adalah seorang tuan muda tampan dan mapan dari pengusaha terkenal. Di usianya yang menginjak kepala 3, ia justru masih menjomblo. ia kerap dikira impoten oleh orang-orang sekitarnya sehingga orang tuanya kerap melakukan sayembara untuk mencarikan jodoh bagi putranya itu.


Hanindita, seorang gadis desa yang cantik keluarga Handoko yang tak pernah dianggap. Ia kerap disiksa keluarganya sendiri dan dilecehkan kakak tirinya membuat Hanindita jadi pribadi yang introvert dan dingin.

Adakah yang mampu menyelamatkannya dari keluarga toxic itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.24

Tepat jam makan siang Berryl pulang ke rumah. Sesuai janjinya, ia hendak mengajak Hanindita membeli segala perlengkapan dan kebutuhan pribadi Hanindita.

"Sudah siap?" tanya Berryl pada Hanindita yang tengah berada di kamar ganti.

Dengan langkah malu-malu, Hanindita keluar dari walk in closet. Berryl sampai berdecak kagum saat melihat Hanindita yang terlihat jauh lebih cantik dengan dress yang ia beli sebelum tiba di rumah. Dress berwarna biru muda dengan panjang sebatas lutut dan terdapat sabuk di bagian pinggang membuat Hanindita terlihat begitu menawan. Tak tahan melihat gadis cantik itu, Berryl langsung mengambil langkah panjang mendekati Hanindita dan meraih pinggangnya dengan sebelah tangan sehingga kini tubuh mereka saling menempel.

Wajah Hanindita sontak saja bersemu merah, darahnya berdesir, jantungnya pun berdegup kencang karena mereka kini nyaris tanpa jarak.

"Kau sangat cantik, sweetie. Sangat-sangat cantik. Kau tau, rasanya aku ingin sekali memakanmu saat ini juga." bisik Berryl di telinga Hanindita membuat Hanindita jadi panas dingin karenanya.

"Makan? Me-memangnya aku makanan?" sahut Hanindita gelagapan. Berryl justru terkekeh dan mengecupi seluruh wajah Hanindita gemas.

"Huh ... gila, sepertinya aku sudah benar-benar gila karena kamu, sweetie." ucap Berryl membuat Hanindita mengerutkan keningnya tidak mengerti apa maksudnya. "Gila karena aku telah tergila-gila padamu. Sepertinya benar kalau aku sudah jatuh hati bahkan jatuh cinta padamu, sweetie. Aku harap kau pun bisa segera mencintaiku." ucap Berryl seraya memeluk erat tubuh mungil Hanindita.

"Benarkah? Secepat itu?" tanya Hanindita ragu.

"Apalagi yang kau ragukan, hm? Mau aku membuktikan dengan cara apalagi? Haruskah aku menjadikanmu milikku seutuhnya saat ini juga agar kau percaya?" tanya Berryl seraya menatap lekat wajah Hanindita yang masih polos karena belum tersentuh make up sama sekali.

"Bukannya aku udah jadi milikmu?"

"Belum, sweetie. Kita memang telah menikah tapi kau belum jadi milikku seutuhnya." Hanindita mengerutkan keningnya karena belum mengerti dengan perkataan Berryl. "Sudah ... sudah ... nanti saja kita bahas lagi. Kita pergi sekarang, oke?"

Hanindita pun mengangguk. Tapi baru satu langkah Berryl melangkah, Hanindita telah kembali mengehentikan langkahnya.

"Ada apa?"

"Apa ... apa tidak apa-apa aku begini saja? Nggak perlu pakai bedak atau dandan?" tanya Hanindita ragu.

"Apa kau punya bedak?" Hanindita menggeleng. "Lipstik?" Hanindita kembali menggeleng. "Jadi bagaimana kamu mau berdandan, hm?" Hanindita tersenyum malu menyadari ia tidak memiliki apapun selain baju lusuh dan kumalnya. "Sudah, jangan khawatir, nanti kita beli semua apa yang kau butuhkan. Kalau ada yang kurang, kita bisa minta tolong sama mommy. Aku yakin, kau pasti bingung ingin beli apa saja."

"Apa aku boleh ke taman bermain ... hubby?"

Awalnya Berryl terkejut mendengar kata-kata itu, tapi setelah beberapa detik kemudian, ia justru tergelak karenanya. Selain karena itu untuk pertama kalinya Hanindita menyebutnya hubby, Hanindita juga menyatakan keinginannya yang sungguh sangat sederhana. Bila gadis-gadis lain lebih suka mengajak pasangan pergi ke mall atau jalan-jalan ke tempat yang indah, Hanindita justru memintanya pergi ke sebuah taman bermain. Sebenarnya Berryl memahami itu. Mungkin itu karena Hanindita belum pernah merasakan pergi ke taman bermain, jadi di kesempatan pertama ini ia ingin sekali pergi ke tempat yang digemari anak-anak itu. Tentu saja dengan senang hati Berryl akan mewujudkan.

"Ke taman bermain? Oke. As you wish, sweetie. Ayo!" ajak Berryl seraya merangkul pinggang Hanindita.

Pelayanan yang melihat kemesraan yang dilakukan oleh Berryl pada Hanindita tentu saja tak dapat mengerjapkan matanya. Ini pemandangan langka. Sayang rasanya mengedipkan mata walau hanya satu kali saja. Sebab belum tentu mereka bisa kembali melihat sisi romantis majikan mereka itu. Tapi dalam hati mereka berharap, agar ini akan terus berlanjut. Sebagai bawahan merek hanya berharap, sesuatu yang terbaik untuk majikannya apalagi tuan mudanya itu yang baru kali ini bisa merasakan seperti orang normal lainnya, yakni memiliki pasangan.

Setibanya di ruang tamu, posisi Berryl masih dengan merangkul pinggang Hanindita yang terus saja tersipu malu. Bagaimana tidak, ia menjadi bahan perhatian para pelayan yang ada di hampir setiap sudut rumah. Apalagi ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan seorang pria yang kini telah sah menjadi suaminya.

"Halo sepupu." sapa seseorang membuat Berryl segera memalingkan wajahnya menatap ke sumber suara. Matanya membulat, namun dalam sekejap Berryl berhasil mengendalikan keterkejutannya. Sedangkan Hanindita, hanya bisa menatap bingung seorang pria blesteran yang sama seperti suaminya. Wajah mereka sedikit mirip, tapi tetap bagi Hanindita, wajah Berryl tetap jauh lebih tampan. Sorot mata hingga rahangnya lebih tegas. Hanya postur tubuhnya saja yang nyaris sama, mulai dari tinggi hingga lebar bahu dan otot-ototnya. Namun dari segi gaya berpakaian, sosok itu terlihat lebih glamor. Tidak seperti Berryl yang lebih menyukai gaya santai, formal hanya saat bekerja saja.

"Kau ... ternyata kau masih berani menunjukkan batang hidungmu di depanku, hm?" ucap Berryl sarkas dengan seulas senyum tipis menunjukkan keramahan.

"Kenapa tidak sepupu? Bukankah kita keluarga, bukankah kita memang seharusnya menjalin silaturahmi." ucap sosok itu tak kalah sumringah.

"Oh ya, kau benar. Apa menyapaku dengan cara mencoba meretas keamanan data perusahaanku juga merupakan bagian dari silaturahmi ... sepupu?" ucap Berryl dingin. Kini ia merubah raut wajahnya menjadi sangat dingin. Bahkan terlihat menyeramkan. Hanindita yang masih berada di sisi Berryl pun dapat merasakan perubahan suasana itu. Hanindita dapat melihat, aura permusuhan antara kedua orang itu yang menguar di sekelilingnya.

"Ooops ... Ternyata kau masih secerdas dulu, sepupu. Kau bisa anggap begitu." sahutnya acuh. Lalu mata sosok itu memicing saat melihat Berryl tampak menggandeng seorang gadis yang tidak ia kenali. "Wow, kau sudah bisa menggandeng seorang gadis ternyata! Cantik ... Hai cantik? Mau berkenalan dengan ku!" sapa sosok itu membuat Berryl segera menarik tubuh Hanindita agar berdiri di belakangnya.

"Jangan macam-macam! Dia wanitaku!" desis Berryl membuat sosok itu membulatkan mulutnya.

"Wow, wanitaku! Kau sudah tidak impoten lagi? Mungkinkah? Hai, kau bisa mendengarku kan? Apa kau tau, Berryl ini impoten. Lebih baik kau segera tinggalkan dia sebelum kau menyesal." pekik sosok itu pada Hanindita yang berdiri di belakang Berryl.

"Bajing*an!" seru Berryl murka.

Bugh ...

"Berryl, apa yang kau lakukan?" teriak Ivanka saat melihat Berryl melayangkan tinjunya tepat ke rahang sosok itu.

"Aku peringatkan kau sekali lagi, jangan pernah macam-macam denganku apalagi wanitaku! Atau aku akan membalasnya berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari yang pernah kau rasakan!"

"Aunty, lihat! Sepertinya Berryl masih saja membenciku. Dia tidak menyukai kedatanganku kemari." ucap sosok itu dengan wajah penuh penyesalan.

"Berryl, kau tidak boleh seperti itu dengan Karl. Dia itu sepupumu sendiri. Lupakanlah kejadian di masa lalu! Kalian itu bersaudara. Tidak sepatutnya kalian masih saling bermusuhan." ujar Ivanka seraya memapah Karl duduk kembali di sofa.

"Mom, aku tidak memiliki saudara seekor serigala." desis Berryl sinis lalu ia pun segera berlalu dari sana sambil merengkuh pinggang Hanindita agar tak pernah menjauh dari sisinya.

...***...

...Happy reading 🥰🥰🥰...

1
74 Jameela
smngt hanindita raihlah kebahagiaan,,menjaga kewarasan lahir bathinmu
Nur Lela
luar biasa
Nurul F
Season dua nya dong thor
Jumi Eko
Luar biasa
Jumi🍉
⭐⭐⭐⭐⭐
Wisteria
kapok cinta dungu 🧠 g waras
Iis Isnawati
Kecewa
Iis Isnawati
Buruk
Devi Nawang Sari
Luar biasa
Nurul F
Wuaaaahhhhhh ceritanya bgus banget Thor😍😍😍
Mariani SPd
yah dah selesai aja Thor. .... mantap /Good/
Mariani SPd
kalo benci dg Lidya kenapa gak di ceraikan aja. dosa lho jahat sama istri wkwkwk......bikin emosi aja deh
Kinar
Luar biasa
Nurlaila Hasan
kadang cinta menjadikan orang jdi bodoh
Nurlaila Hasan
suka bangeeet ceritanya
Nurlaila Hasan
akoh mewek/Sob//Sob/
Rumini Parto Sentono
Luar biasa
Mazree Gati
bukanya minta tolong pak rt kek pak lurah kek,,,ini orang pingsan luka2 bukanya kerumah sakit mala kepenginapan,,isinya orang tolol semua
Wisteria: lagi ngumpati yg nulis y aku jg gemes ujung"nya dimaafkan di kasih kesempatan ke2, hadeh Thor sakit hati ku
total 1 replies
Mazree Gati
berhasil berhasil,,karena terlalu cengeng dan lemah dan tolol
VaNiLaLuLaBo
Kolot
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!