NovelToon NovelToon
Possessive Husband

Possessive Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:863.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji Rahayu Ningsih

"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.

"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.

Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.

"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.

"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Harus kemanakah aku pergi?

Pagi ini Nadia sedang menyirami tanaman di depan rumah Melody. Pekerjaan Melody yang menjadi dokter spesialis anak sekaligus dokter kandungan, membuat perempuan itu tidak sempat merawat tanamannya. Melody sangat sibuk, sehingga dia jarang sekali memperhatikan kondisi rumahnya.

Pagi ini Nadia sedang dirumah sendiri, Dimas juga sedang ada urusan diluar. Bibir Nadia tersenyum dikala melihat ibu-ibu yang belanja sayuran didepan gerbang rumah Melody, meliriknya.

"Masa iya, itu calon istrinya Mas Dimas. Gak pantes banget. Mas Dimaskan Pengacara hebat, masa milih calon istri yang kayak gitu." Cibir salah satu ibu-ibu itu ketika melihat Nadia hanya mengenakan daster. Bibir Nadia tersenyum kecut, yang ibu-ibu itu katakan memang benar. Dia tidak pantas bersanding dengan Dimas.

"Gak, saya dengar-dengar dia itu cuma numpang di rumahnya Mbak Melody. Bukan calon istrinya Mas Dimas. Mana mau Mas Dimas punya istri kayak gitu. Gak modis, norak lagi." Sahut ibu-ibu lainnya, matanya melirik Nadia sinis.

"Ih, gak punya malu banget. Paling itu cuma akal-akalan dia doang kalik supaya bisa dekat sama Mas Dimas. Makanya dia numpang di rumah Mbak Melody."

Nadia ingin menutup telinganya dan berpura-pura tuli, tapi nyatanya tidak bisa. Ucapan ibu-ibu tadi seperti kaset rusak yang terus terngiang di telinganya.

Kaki Nadia beranjak masuk kedalam rumah, dia berlari menaiki tangga dengan air mata terus mengalir dikedua pipinya.

***

"Brengsek emang Rehan, Jo." Melody yang sedang ingin keluar dari rumah sakit, mendengar suara orang yang menyebut-nyebut nama Rehan. Apakah Rehan suami sahabatnya?

"Pantas Nadia pergi, ternyata dia sekasar itu sama perempuan." Kali ini telingannya tidak mungkin salah, Melody bersembunyi dipojok dinding.

"Terus gimana? Kamu juga gak mungkin menyalahkan Rehan, mungkin dia sedang banyak pikiran, sehingga dia terbawa emosi dan tidak sengaja memukul Kinan." Jeo terlihat berpihak kepada Rehan. Hal itu membuat Luwis menggertakan giginya, marah.

"Kamu ada di pihak dia atau aku?!" Luwis menunjuk Jeo, marah.

"Aku tidak berpihak ke kamu atau Rehan, hanya saja...."

"Terserah kamulah, Je." Luwis mendekat kearah brankar milik Kinan. Dia Menggegam tangan Kinan yang sedari tadi tidak sadarkan diri.

Jeo terdiam, dia bingung harus berkata apa, semuanya semakin rumit.

Dibalik pintu, Melody menganggukkan kepalanya. Sekarang dia tahu, yang dewasa belum tentu baik. Nyatanya Rehan yang umurnya terpaut 5 tahun dengan Nadia, seharusnya bisa menjaga Nadia, tapi kali ini lelaki itu malah menyakiti Nadia.

"Iblis." Geram Melody, tertahan.

***

Dimas sedang uring-uringan tidak jelas, dia sedang bertengkar dengan Rehan. Kedua lelaki itu sedang melakukan baku hantam dihalaman rumah Melody, Hal itu membuat para tetangga datang kesitu.

"Ada apa ini?" Melody keluar dari mobilnya, dia menghampiri Abang sepupunya.

"Kamu sembunyikan dimana istriku?!" Rehan berdiri dengan sempoyongan. Dia menatap Melody dengan tatapan tajam.

"Berhenti menatap adik sepupuku seperti itu!" Bentak Dimas, marah. Melody menggelengkan kepalanya didepan Abang sepupunya, tangannya memegang pergelangan tangan Dimas.

"Nadia ada didalam." Jawab Melody, tenang.

"Nadia gak ada didalam, Lody." Bisik Dimas. Hal itu membuat Nadia tercengang.

"Bagaimana bisa? Tadi pagi aku melihat Nadia menyirami tanaman didepan rumah. Tidak mungkin dia pergi dari rumah ini tanpa memberi tahuku." Melody menggengkan kepalanya, dia terisak pelan.

"Gak usah drama, sekarang katakan dimana istri saya?!" Bentak Rehan, emosi.

"Istri Mas namanya Mbak Nadia?" tanya tetangga yang sedang menyaksikan pertengkaran antara Dimas dan Rehan.

Mendengar pertanyaan ibu-ibu itu, bibir Rehan tersenyum. Rehan berjalan menghampiri ibu-ibu itu.

"Ibu tahu dimana istri saya berada?" Rehan terlihat antusias ketika bertanya kepada ibu-ibu itu.

"Tadi pagi saya melihat Mbak Nadia pergi naik Taxi sambil membawa koper. Tapi saya tidak tahu dia pergi kemana." Rehan tertunduk mendengar jawaban ibu itu. Dia menyisir rambutnya kebelakang dengan air mata mengalir. Dia kira hari ini dia sudah bisa bertemu dengan istrinya, namun kenyataannya salah.

Rasa rindunya terhadap Nadia sudah membuncah. Dia ingin segera membawa istrinya kedalam pelukannya seperti dulu. Selama Nadia pergi, Rehan sama sekali tidak tinggal diam. Dia sampai menyewa detektif handal untuk melacak keberadaan istrinya.

"Ibu serius?" Melody menghampiri ibu-ibu itu. Air matanya luluh seketika.

"Iya, mbak." Jawab ibu-ibu itu. Sedangkan ibu-ibu lainnya menatap Melody, Dimas, dan Rehan kasihan.

Dimas ikut tertunduk disamping mobil Melody. Dimas menjambak rambutnya sendiri dengan perasaan hancur. Setelah penantian panjang, dia fikir dia akan bisa bersama dengan Nadia, namun nyatanya itu hanya angan-angan saja.

"Harapan ku untuk bisa bersamamu harus kembali aku kubur dalam-dalam." Dimas mengepalkan tangannya, marah. Andai tadi dia tidak pergi mengurus data-data kasus Claennya, mungkin Nadia masih ada disini.

***

Kaki Nadia sudah capek berjalan. Air matanya terus mengalir membanjiri kedua pipinya. Kaki Nadia masuk kedalam halaman rumahnya, dia berdiri didepan pintu rumah papanya.

Nadia mengetuk pintu itu ragu, hanya papanya yang dia miliki, harus kemana lagi dia pergi? jika tidak di tempat papanya ini.

Tok.., tok...

Setelah hampir 5 menit Nadia berdiri didepan pintu rumahnya, akhirnya pintunya terbuka. Menampilkan Meli yang sedang menatap Nadia sinis.

"Kamu? Kenapa malam-malam kamu kesini sendiri? Suamimu mana?" Meli mengedarkan pandangannya kepenjuru arah. Mencari sosok Rehan yang selalu bersama dengan Nadia.

"Aku pergi dari rumah, Ma. Aku sudah tidak bersama Mas Rehan lagi." Mulut Meli menganga, dia berdecak pinggang didepan anak tirinya.

"Terus kamu kesini mau apa?" Tanya Meli, lantang. Tatapan mata Meli seperti leser yang siap membunuh Nadia kapanpun dia mau.

"Papa mana?" Meli mengedarkan pandangannya kedalam rumah.

"Pa, papa. Ini aku, Pa. Nadia pulang, Pa." Teriak Nadia, Meli tersenyum sinis, dia menarik rambut panjang Nadia dengan kasar.

"Sampai mulut kamu berbisa karena memanggil papa kamu, papa kamu juga gak bakal keluar dari dalam rumah. Dia sedang mengurus proyek hotelnya di Bali." Meli menatap sinis Nadia. Dia menarik rambut Nadia semakin keras.

"Dan ingat, aku tidak akan membiarkan kamu kembali tinggal disini. Kamu itu hanya membuat masalah dan beban dikehidupan kami. Sudah baik dinikahi sama orang kaya, malah pergi dari rumah." Air mata Nadia mengalir deras. Kata-kata Mama tirinya sangat membuat hatinya terluka.

"Ma..." Nadia tersungkur didepan Meli, sambil memeluk kaki mama tirinya.

"Ijinkan aku malam ini tinggal disini, hanya malam ini. Setelahnya aku akan pergi, aku akan pergi dari kehidupan kalian." Nadia memohon belas kasihan kepada mama tirinya.

"Kamu kira aku bodoh?! Besok papa kamu aksn pulang dari Bali. Dia tidak akan mengizinkan kamu pergi dari rumah ini, kalau dia tahu kamu tidak lagi tinggal bersama Rehan." Meli mendorong Nadia kasar, hingga membuat perut Nadia sakit.

"Kamu itu bukan anak ku, jadi mau sekeras apapun kamu menangis, aku tidak akan luluh." Meli menyeringai didepan Nadia.

"Untuk malam ini saja, Ma. Izinkan aku tinggal disini, aku takut. Aku takut berkeliaran dijalan sendiri, aku takut ada penjahat yang menyakitiku." Nadia terus memohon, dia terus meminta belas kasihan kepada Mama tirinya.

"Bahkan kematian mu lah yang aku tunggu." Sentak Meli.

1
Muna Junaidi
Hadirrrr kembali thorrrr💃💃💃
Alyah Nasution
😂😂 lucu hahaha
Apih Nabila
lanjut kak
Teriyanti Yan
Musiknya terlalu brisik, sehinga suaranya kurang jelas
Rahayu
Kalau saya lanjut ceritanya masih ada yang baca?
Rita Erisha
visual + bio nya nadia donk thor
Rita Erisha
visual nadia nya donk thor
Andez Ajja
🤣🤣🤣😂😂😂😂resiko mas hhhhh
Andez Ajja
cerita xa sangat mnarik
Yana Saleh
next dong
Ulfa Sawani
asyik bacax
Ulfa Sawani
seru yaaa
Ulfa Sawani
ceritax seru yaaaa..pengen sepeti dlm cetita ini..
Reni Tri Cahyowati
lanjut thor
Onih Sumarni
.😁😁🤲
Wiwin Yustika Yustika
Lanjut dong
Öžôŕã
bunuh aja si rehan sebel aq
Öžôŕã
gedek gwe sma rehan,,,, cuma manis di mulut doang
Öžôŕã
knapa kagak keluar negri skalian thorr
Ni Made Partini
habis sampai sini Aja nih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!