follow igku @zariya_zaya
Bagaimana kalau tunangan yang sudah lama tak kau temui, tiba-tiba dia menjadi buta, apa kau percaya?
Yuna, bidan cantik dari desa tak sengaja bertemu dengan pria asing yang menyelamatkannya beberapa kali. Pria asing itu tak sengaja mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Yuna karena suatu hal dan menjadi buta.
Pria buta itupun meminta Yuna menikah dengannya. Awalnya Yuna menolak karena ia sudah bertunangan, tapi rasa bersalah telah membuat Yuna mengambil keputusan pahit dalam hidupnya, yaitu melanggar janjinya pada tunangannya yang tak pernah ia temui sejak ia masih kecil. Tak disangka, ternyata pria buta itu adalah tunangan masa kecilnya sendiri, yang baru saja kembali dari Swiss, yaitu Yeon.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah Yeon benar-benar buta atau hanya pura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 24 Soo, Xiang, Chui
Pria berkacamata itu tidak sendirian. Ia dibantu oleh beberapa pria berjas hitam yang salah satunya pernah Yuna temui di rumah sakit. Mereka-mereka itu adalah para pengawal setia Yeon yang selalu siap siaga membantu dan menuruti semua perintah dan keinginan Yeon. Seperti sekarang ini, salah satu pengawal Yeon bernama Lucas membantunya berjalan menuju ke dekat ketua geng motor yang berdiri menganga di depan Yeon seolah ia kenal, siapa pria berkacamata hitam itu.
“Lama tak jumpa, Soo Lee Khin. Apa kau masih bisa mengenaliku?” nada suara Yeon terlihat santai. Meskipun ia sekarang sedang berakting sebagai pria buta, tapi ia masih bisa melihat semua orang yang ada didepannya termasuk Yuna yang wajahnya sudah sangat pucat karena shock.
“Bo-Bos, kau kah itu?” tanya orang yang ternyata bernama Soo Lee Khin (dibaca solikin).
Yeon tersenyum. “Ehm, ini aku. Kenapa kau teriak-teriak padaku, Soo?”
Seolah ketakutan melihat Yeon, pria bertato itupun menundukkan kepalanya sambil berkata, “Maaf Bos, saya tidak tahu kalau mobil sedan hitam ini milik Bos juga, yang saya tahu mobil anda adalah Ferrari merah yang terparkir rapi di halaman rumah, saya pikir anda ada di rumah Bos. Sebab itulah saya ingin … anda menikahkan saya dengan wanita itu. Kebetulan anda di sini … jadinya ya ….” Soo Lee Khin melenggak lenggokkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dan terlihat malu-malu kucing sambil menunjuk Yuna.
Sedangkan gadis yang ditunjuk semakin menganga lebar mendengar percakapan mereka berdua. Rasa shock atas kedatangan calon suaminya yang tiba-tiba saja ada di desa ini, masih belum hilang, sekarang ditambah lagi pernyataan nyeleneh dari si kampret ketua geng motor itu. Bisa-bisanya si Soo ini punya niatan menjadikan dia istri, kenal aja nggak main jadiin bini aja. Tanpa izin pula?
Dan mengenai calon suaminya, Yuna benar-benar bingung, sebenarnya siapakah Leonard alias Yeon itu? Bagaimana bisa ia mengenal anak-anak bengal ini? Ditambah lagi, mereka semua sepertinya tunduk dan takut pada Yeon. Terbukti dari perubahan sikap si ketua geng yang tadinya garang, langsung ciut begitu mengenali siapa pria berkacamata hitam itu dan malah memanggilnya dengan sebutan ‘Bos’.
Artinya, Leonard adalah pemimpin para geng motor di desa Malingmati. Semua ini sangat aneh bagi Yuna. Mendadak, Yuna baru sadar kalau ia akan menikah dengan orang paling misterius yang pernah ia kenal.
Sebuah jitakan dari tongkat yang dibawa Yeon langsung mendarat mulus di kepala Soo Lee Khin sehingga pria bertato itu mengerang kesakitan. “Auch! Sakit Bos. Kenapa anda memukul saya dengan tongkat itu? Dan juga … apa yang terjadi pada anda Bos? Kenapa pakai kacamata dan tongkat?” tanyanya sambil meringis menahan sakit.
“Diam kau bengek!” bentak Yeon dan semua anak laki-laki ini kompak menundukkan kepala mereka melihat Yeon mulai marah. “Beraninya kau menginginkan calon istriku menjadi istrimu, ha? Apa kau bosan hidup? Pergi sana! Jangan ganggu wanitaku lagi! Dan juga … siapa yang menyuruhmu keluar dari desa? Aku memintamu untuk tetap tinggal di desa! Bukannya keluyuran nggak jelas begini!” Yeon masih emosi. Wajahnya terlihat serius.
“Mereka Bos, Xiang Xiang Mhaling Sheng dan Chui Lan Sheng. Mereka berdualah biang keladinya. Xiang dan Chui bilang pada saya, kalau ada wanita resek yang memarahi mereka. Makanya mereka minta bantuan saya, saya tidak tahu kalau wanita yang mereka maksud adalah calon istrinya Bos, sorry Bos! Salahkan saja bocah gemblung duo Sheng itu.” sebuah jitakan keras mendarat lagi di kepala Soo Lee Khin. “Auch! Kok dijitak lagi, Bos!” ketua geng itu kesakitan sambil memegangi kepalanya.
“Beraninya kau mengatai istriku wanita resek, ha! Apa kau minta kukuliti sekarang juga?” Yeon sudah mengangkat tongkatnya tapi Soo Lee Khin langsung menahannya dengan kedua tangan sambil gemetar ketakutan.
“Bu-bukan saya Bos, saya hanya menirukan ucapan duo sableng Sheng itu. Harusnya mereka yang anda kuliti Bos, bukan saya,” ujar ketua geng motor itu.
“Pergi kau dari hadapanku dan lakukan saja tugasmu! Jangan sampai kesabaranku habis di sini!” tandas Yeon.
“Baik Bos!” seru Soo Lee Khin dengan tegas dan langsung menghimbau anak buahnya untuk pergi dari sini sesegera mungkin.
“Oey kau! Xiang Xiang Mhaling Sheng dan kau … Chui Lan Sheng! Kemari kau!” teriak Yeon pada dua pemuda desa yang bernama nyeleneh bin aneh itu.
Yuna yang mendengar nama-nama langka disebutkan Yeon, sampai menahan tawa. Sungguh ia ingin sekali tertawa lepas, tapi tidak tega melihat raut wajah pemuda-pemuda itu.
“Iya, Bos!” ujar duo Sheng itu bersamaan. Kepala mereka tetap menunduk karena takut pada Yeon.
“Minta maaf pada wanitaku!” suruh Yeon tanpa basa-basi.
“Sekarang, Bos?” tanya Chui Lan Sheng.
“Tahun depan! Ya sekaranglah! Apa kau ingin kupatahkan seluruh tulang-tulangmu, ha?” bentak Yeon kesal.
“Nggak Bos,” seru pemuda itu dan langsung bergegas menuju Yuna untuk meminta maaf diikuti saudaranya yang ketakutan melihat Yeon marah. “Maafkan kami, Bu Bos!” ujar duo Sheng itu sambil membungkukkan badan bersama-sama.
Yuna yang tidak pernah dihormati seperti ini jadi tersentak bercampur haru juga. Seumur-umur, baru kali ini ada orang mau membungkukkan badan dihadapannya. Dan itu merupakan sesuatu yang wah bagi Yuna. Ia merasa dimanusiakan kembali.
Selama ini, Yuna sering di bully, di caci maki, direndahkan dan bahkan tak dianggap manusia oleh beberapa orang yang tidak menyukainya hingga ia berujung di tempat pengasingan ini. Namun di desa ini, ia benar-benar terkejut ada orang yang mau menundukkan kepala dihadapannya meskipun dengan terpaksa.
“Pergilah ke sekolah, mungkin kalian akan terlambat. Aku akan bantu bicara pada guru kalian agar tetap diizinkan sekolah. Dan jangan nakal lagi!” Yuna menatap kedua pemuda nakal yang sebenarnya baik itu dengan perasaan lega.
“Baik, bu Bos! Jadi kami dimaafkan?” tanya duo Sheng itu bersamaan.
“Iya, asalkan kalian berjanji satu hal padaku setelah ini!”
“Apa itu?” mereka kompak lagi.
“Jangan pernah bolos sekolah, seriuslah belajar dan jangan pernah menggoda wanita lagi! Kalau sampai aku melihat kalian berdua seperti itu, aku akan menyuruh calon suamiku mencincang kalian di atas pohon!” Yuna menggunakan nama Yeon untuk mengancam dua pemuda ini.
“Baik, bu Bos!” kedua pemuda itu memberi hormat sambil meletakkan telapak tangan mereka dipelipis layaknya hormat pada sang saka merah putih. “Kami pergi mandi dulu bu Bos! Setelah itu, kami berangkat ke sekolah! Permisi!” duo bersaudara yang bermarga Sheng itupun menaiki motor mereka sambil berboncengan dan melesat pergi untuk melakukan apa yang diinginkan Yuna.
Ada banyak hal yang Yuna petik dari para berandal desa ini. Dari luar, mereka terlihat garang dan menakutkan, tapi di dalam … sebenarnya mereka semua adalah orang yang baik. Kita tak bisa menilai orang hanya dari sampul luarnya saja. Belum tentu orang baik akan terus terlihat baik, begitupula sebaliknya.
Yuna mulai sedikit paham, ini adalah awal mula perjalanan hidupnya bertemu dengan orang-orang baru yang akan menghiasi hari-harinya selama berada di tempat ini, dan dimulai dari calon suaminya sendiri. Orang, yang kini ada di belakang Yuna.
Orang berkacamata itu juga penuh misteri, tapi tak dapat dipungkiri … hal itu membuat Yuna jadi penasaran akan siapakah sosok calon suaminya ini sebenarnya. Dan Yuna harus mencari tahu secepatnya.
Setelah kedua pemuda itu hilang dari pandangan, Yuna mendekat ke arah Yeon dan mulai menanyakan banyak hal padanya untuk mengurangi rasa penasarannya.
“Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kuajukan padamu!” ujar Yuna setelah ia berdiri di depan Yeon. Untuk beberapa saat, kedua insan ini saling berhadapan.
“Kita bicara di dalam mobil,” ujar Yeon tanpa ekspresi. Yeon memberi kode pada anak buahnya untuk membantu memasukkan barang-barang Yuna ke dalam bagasi mobil. “Berikan tanganmu!” Yeon mengulurkan satu tangan kanannya dihadapan Yuna, sementara tangan kirinya memegang tongkat.
“Nggak usah gandeng-gandengan! Nggak usah sok sweet-sweetan! Aku bisa jalan sendiri!” tegas Yuna, ia benar-benar jutek pada Yeon.
“Siapa yang mau sweet-sweetan sama kamu? Siapa juga yang mau gandeng-gandengan? Tuntun aku! Aku kan tidak bisa melihat!” sergah Yeon modus. Padahal aslinya ia bisa melihat tapi pura-pura buta dan minta bantuan Yuna menuntunnya. Bilang aja pengen gandengan tangan Yeon, pakai nyangkal segala!
Yuna langsung salah tingkah karena ia salah paham maksud Yeon mengulurkan tangannya. “Oh maaf … aku lupa kalau kau buta, habis ... tingkahmu tak mencerminkan seperti orang buta.” Yuna memegang tangan Yeon dan menuntunnya berjalan menuju mobil tanpa sadar bahwa ucapan Yuna itu benar-benar sarkasme banget untuk Yeon.
BERSAMBUNG
***
Dilarang ngakak sewaktu baca nama anak-anak desa, ya … kalau sakit perut, aku nggak bertangggungjawab hehehe …