“Ku kira dia janda, ternyata suaminya masih ada.”
Hampir dua tahun Danzel menyendiri tak memiliki kekasih setelah wanitanya direbut dengan licik oleh pria lain. Padahal, orang tuanya terus mendesak untuk segera menikah hingga berusaha mengenalkan para wanita cantik kepadanya. Tapi, tak ada satu pun yang memikat hatinya.
Namun, siapa sangka, jika rasa kagum kepada sekretaris barunya membuatnya terpikat pada wanita yang memiliki nasib malang itu. Ia akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama mati rasa.
Danzel berusaha memikat orang yang dia taksir dengan mengambil hati putri dari wanita tersebut. Namanya hidup, tak ada yang sesuai keinginan. Sekretaris yang dia kira janda, ternyata masih memiliki suami.
Haruskah dia menjadi perebut istri orang agar cintanya tak gagal seperti dahulu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Danzel yang sudah cukup lama berada di dalam ruangan khusus istirahatnya pun mulai bosan berada di sana. Dia mengirimkan pesan kepada Steve yang berisikan menanyakan apakah Alcie sudah pergi atau belum.
Terlalu lama menunggu asistennya yang sedang mengetik tapi tak kunjung selesai, membuat Danzel tak sabar. Dia memencet panggilan suara untuk menanyakan secara langsung.
“Steve, kenapa kau lama sekali membalasnya, memangnya apa yang kau ketik sampai lima menit tak selesai?” oceh Danzel dengan suaranya yang sedikit dilirihkan. Walaupun ruangannya kedap suara, tapi tetap saja dia mengantisipasi agar tak bocor keluar.
“Aku sedang menjelaskan semua kronologi dari awal Nona Alcie datang, Tuan,” balas Steve.
“Ck! Memangnya kau mau menulis novel sampai harus sedetail itu,” omel Danzel. “Jadi, sekarang wanita itu sudah pergi atau belum?” tanyanya kemudian.
“Belum, Nona Alcie justru sedang duduk menunggu di dalam ruang kerja Anda.”
“What?” pekik Danzel. “Wanita gila! Cepat usir dia,” pintanya penuh paksaan.
“Sudah, Tuan. Tapi tetap saja dia tak mau pergi. Bahkan nyonya besar juga turut andil di belakangnya.”
Danzel menyisir rambutnya ke atas dengan jari, menghempaskan tubuh ke ranjang dan tak lupa berdecak sebal. “Aku tak mau tahu, Steve. Pikirkan cara agar dia pergi dari sini. Aku ingin segera keluar menemui Gwen, pujaan hatiku,” titahnya.
“Bagaimana caranya?”
“Kau pikirlah sendiri, kepalaku sudah sangat penuh dengan pekerjaan dan Gwen si wanita penyayang anak. Tak bisa lagi memikirkan hal receh seperti itu,” pungkas Danzel yang tidak mau mengambil pusing dan berurusan dengan Alcie.
“Bagaimana kalau kita takut-takuti saja dia?”
“Atur saja, yang penting dia segera pergi dari kantorku.”
“Baik.” Steve hendak mematikan panggilan dari atasannya, tapi terhenti karena Danzel sudah memanggil namanya.
“Steve.”
“Ya, Tuan?”
“Di mana remot televisi ruang istirahatku? Aku ingin melihat CCTV,” tanya Danzel. Dasar tuan muda, paling enak memang mencari barang dengan suara, cepat ketemu karena sudah pasti akan lama jika dia mencari sendiri. Sebab yang tahu betul dengan tata letak kebutuhannya adalah sang asisten.
“Di laci meja, Tuan.”
“Oke, jalankan rencanamu sekarang. Aku akan menonton dari sini.” Danzel pun memutuskan panggilan telepon tersebut dan menghidupkan televisi. Melihat suasana di ruang kerjanya.
Steve mengoperasikan ruangan atasannya dari komputer kerjanya yang terhubung dengan seluruh fasilitas di dalam ruang CEO. Dia menutup tirai yang ada di dinding kaca hingga tak ada lagi cahaya dari luar yang bisa masuk dan juga mematikan lampu.
“Siapa di sana?” teriak Alcie. Ia terkejut mendapati ruangan menjadi gelap. Tangannya langsung gemetar ketakutan dalam keheningan. Benar-benar tak ada cahaya sedikit pun.
Alcie ingin mencoba menerangi ruangan tersebut dengan ponselnya. Telapak tangannya sudah basah dengan keringat dingin. “Tolong jangan ganggu aku,” pintanya sangat lirih.
Biasanya wanita itu bisa membuka ponsel dengan cepat jika saat kondisi normal. Tapi berhubung tangannya terus mengeluarkan keringat dingin, membuat ponsel pintarnya tak bisa mengenali sidik jarinya. “Sial!” umpatnya.
Alcie semakin berdebar jantungnya saat layar LCD turun ke bawah, dan menampakkan sebuah film horor dengan suara seram dari speaker yang ada di atap, membuat suasana kian mencekam.
“A ... hantu ....” Alcie yang sudah tak kuat lagi berada di dalam sana pun lari terbirit-birit meninggalkan ruang kerja Danzel.
Danzel tertawa terbahak-bahak saat menangkap wajah Alcie yang ketakutan dari CCTV nya yang bisa menangkap jelas walaupun gelap. “Makanya, kalau diusir langsung pergi,” kelakarnya.
sama kayak yg aku alami
yg lamar aku kakaknya adeknya jd supir nya waktu itu
tapiii yg nikahi aku dan jodoh ku adeknya
hidup selucu ituu😀😀
laki² terbaik