Judul sebelumnya "Pacar Halu Aesthetic"
Alina dikirim oleh ibunya ke desa Eyangnya yang jauh dari kota karena sebuah kesalahan yang tak di sengaja. Banyak hal yang tak terduga terjadi disana.
Di sana dia bertemu dengan Jordan yang kebetulan sedang shooting sebuah Film di desa itu.
Yang lebih menariknya, Alina yang notabenenya seorang penulis novel menemukan sebuah komputer di ruang bawah tanah, Saat ia gunakan komputer itu untuk menulis novelnya hal aneh pun terjadi.
Dimana peran pria dalam novelnya yang bernama Luhan datang menemuinya setiap malam dalam wujud nyata. Dan Luhan akan menghilang saat pagi datang.
Tanpa sadar Alina jatuh cinta pada Luhan. Sementara itu disisi lain Jordan mulai menyukai Alina.
Bagaimana kisah mereka,? Ikuti terus kisah mereka. Jangan lupa beri dukungan kalian..
Dan tanpa sadar Alina jatuh cinta dengan karakter yang di buatnya sendiri.
Bagaimana kisah cinta mereka,? Yuk mulai baca...
Yuk dukung karya Author dengan memberi like, komentar, vote serta tambahkan ke daftar favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 23
Selesai sarapan pagi semua kru mulai berkemas. Dari raut wajahnya mereka tampak begitu senang karena hari ini akan kembali ke kota. Tinggal beberapa hari di desa terasa sangat menyiksa bagi mereka bagai di dalam penjara.
Tapi tidak dengan Jordan, pria itu tampak gelisah dan berjalan mondar mandir di halaman Vila sambil mencoba menghubungi seseorang dengan ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Alina.
" Hei, apa kau sudah berkemas,?" teriak Harry dari balkon kamarnya di lantai dua.
Jordan mendongak, dia kembali mengantongi ponselnya karena nomor Alina masih tak bisa dihubungi.
" Belum,"
" Cepatlah, sebentar lagi kita akan berangkat,"
" Lemparkan kunci mobilnya,!" titah Jordan.
Harry menaikan sebelah alis matanya, menatap curiga pada Jordan.
" Untuk apa? " serunya dari atas sana.
" Aku akan pergi sebentar,"
Harry tampak berpikir, tentu saja dia tau apa tujuan Jordan meminta kunci mobil.
Kamu pasti akan pergi menemui gadis itu. Maaf, aku tak akan membiarkannya.
Harry membalik badannya dan berjalan kembali ke dalam kamar. Jordan masih menunggu di bawah dengan kepala terus menengadah. Tengkuknya sudah pegal, tapi Harry tak kunjung menunjukan wajahnya.
" Mas Harry," seru Jordan. Namun tak ada sahutan dari atas sana.
Jordan mendesis sambil berkacak pinggang merasa kesal. Karena Harry tak kunjung muncul Jordan pun memutuskan untuk mengambil sendiri kunci mobil itu ke dalam.
Saat kaki Jordan baru menginjak anak tangga Topan tampak turun dengan menenteng koper besar di tangannya. Jordan terpaksa menunggu di ujung tangga sampai pria itu sampai ke bawah.
" Sudah selesai berkemas,?" tanya Topan dengan nafas tersengal, karena koper itu lumayan berat.
" Hem, ini aku akan ke atas untuk mengemasi barang ku," dalih Jordan sambil berlalu.
Baru setengah tangga yang ditapaki Jordan ,Harry sudah muncul dan turun dengan dua koper di tangannya. Satu miliknya satu lagi punya Jordan. Melihat Harry sudah turun Jordan pun menghentikan langkahnya.
" Ini punya mu," Harry menyerahkan koper hitam milik Jordan.
" Mana kunci mobilnya,?" bisik Jordan sambil melirik Topan yang masih berdiri di ujung tangga.
" Kita akan segera berangkat," ujar Harry meneruskan langkahnya menuruni anak tangga.
Jordan mendengus, dia menyusul Harry sambil menyeret kopernya.
" Apa sudah semua, tak ada yang tertinggal?" tanya Topan pada Harry yang baru saja selesai menuruni anak tangga.
" Sepertinya sudah," jawab Harry.
" Baiklah, kita berkumpul di ruang tamu dulu," perintah Topan melanjutkan langkahnya.
Jordan membuang nafas kasar, sepertinya tak ada celah untuknya pergi menemui Alina seperti janjinya semalam. Di tambah nomor ponsel Alina yang tak aktif membuatnya semakin frustasi.
" Saya akan masukkan koper ini ke mobil, mana kuncinya," ujar Jordan mengulurkan tangannya pada Harry mencoba mengecoh.
Harry tersenyum tipis menyadari akal licik Jordan, tentu saja dia tak akan masuk ke dalam perangkap Jordan.
" Biar aku saja," Harry mengambil alih koper di tangan Jordan dan menyeretnya dengan santai keluar Vila. Jordan mengepalkan tangganya merasa kesal.
" Sial," rutuknya menendangkan kakinya ke udara.
Semua orang sudah berkumpul di ruang tamu, mereka sudah tampak siap untuk berangkat. Topan memberikan sedikit kata pengarahan sebelum mereka pergi. Jordan tampak gelisah, dia tak bisa menyelinap pergi karena Harry terus mengawasinya.
" Ok, sekian saja, silahkan masukan semua barang - barang ke dalam mobil," ujar Topan mengakhiri pidato singkatnya.
Ketika kerumunan itu membubarkan diri, Jordan mengambil kesempatan itu untuk pergi. Kebetulan Topan sedang mengajak Harry mengobrol dan dia bisa leluasa pergi tanpa sepengetahuan Harry.
Sementara itu Alina masih betah di bawah selimutnya. Karena tidur kemalaman membuat gadis itu masih tidur meski matahari sudah merangkak naik.
Bahkan gedoran pintu kamarnya tak sedikit pun membuat gadis itu merasa terganggu.
" Alina, kenapa kau belum bangun?" Kau pikir ini jam berapa sekarang,?" seru Eyang dengan tangan tak henti mengetuk pintu kamar Alina.
Lelah membangunkan Alina yang tak kunjung bangun, wanita tua itu pun akhirnya meninggalkan kamar cucunya.
" Dia masih tidur,?" tanya Haikal melihat wajah kesal ibunya yang baru kembali dari kamar Alina.
"Hem, biarkan saja, nanti kalau perutnya lapar dia juga akan bangun sendiri " kesal Eyang.
Mereka pun sarapan pagi tanpa Alina. Selesai sarapan Haikal pun bersiap pergi ke ladang. Belum lama Haikal pergi seseorang mengetuk pintu, membuat Eyang Wati mengentikan sejenak pekerjaannya yang sedang mencuci piring.
" Iya,, sebentar," teriak Eyang dari dapur.
Dengan langkah tergesa Eyang Wati menuju ke depan.
" Siapa sih, tak sabar sekali," gerutunya karena pintu yang terus di ketuk.
Saat pintu di buka seorang pemuda tersenyum hangat pada Eyang. Mata eyang Wati menyipit memperhatikan raut wajah pemuda itu.
" Selamat pagi eyang,!" sapa Jordan ramah.
" Siapa ya,?" tanya Eyang.
" Saya Jordan, apa Eyang lupa,?"
" Jordan,?" Eyang Wati tampan mengingat siapa pemuda itu. " oh kamu artis yang di Vila itu ya," ujar Eyang senang karena berhasil mengingat siapa orang yang dihadapannya ini.
" Iya,,"
" Mau bertemu Alina?" tebak Eyang. Dan langsung di balas anggukan kepala oleh Jordan.
" Sayangnya dia belum bangun," ujar Eyang membuat Jordan kecewa seketika.
" Bagaimana kalau siang nanti kemari lagi, mungkin dia sudah bangun,"
Jordan mengusap tengkuknya, tentu saja dia tak bisa. Eyang Wati masih berdiri di ambang pintu menunggu jawaban dari Jordan.
" Bagaimana,?"
" Hah,, " Jordan gelagapan.
" Saya cuma mau pamit sama Alina, saya akan kembali ke kota pagi ini dengan rombongan," jelas Jordan.
" Oh begitu, ya nanti akan eyang katakan padanya,"
Jordan mendadak lesu, dia berharap Eyang akan membangunkan Alina atau mengizinkannya masuk untuk menemui Alina. Tapi sepertinya itu tak akan terjadi.
" Baiklah, saya permisi," ujar Jordan dengan senyum terpaksa.
Eyang Wati kembali menutup pintu saat Jordan sudah pergi. Dengan langkah gontai Jordan meninggalkan rumah Eyang sambil sesekali menoleh kebelakang berharap Alina akan muncul.
Saat sampai di Vila, semua orang sudah berada di halaman Vila bersiap untuk pergi, tampaknya mereka hanya menunggu Jordan.
" Darimana saja, semua sudah menunggumu," ketus Harry. Meskipun dia tau kemana Jordan pergi dalam beberapa waktu yang lalu.
Tanpa berkata apapun Jordan langsung masuk ke dalam mobil. Tak lama berselang Harry pun menyusul.
...----------------...
Ada sedikit perubahan pada penulisan nama Hari menjadi Harry.. Sedikit bikin ragu kalau menulisnya dengan Hari. hihi... di bab sebelumnya nanti akan author revisi.