Maya terpaksa menggantikan ibu nya yang tengah sakit untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pengusaha kaya raya yang sudah memiliki seorang istri yang berprofesi sebagai model.
Karna kesibukan sang istri yang begitu padat membuat Alvian lebih banyak mengahabiskan waktunya di rumah bersama pembantunya daripada dengan istrinya sendiri, hingga pada suatu hari ia melakukan kesalahan yang fatal terhadap pembantunya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raisya ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Sebelum menikahi Maya, Alvian mengajak Maya untuk pulang ke rumah ibunya terlebih dahulu, untuk meminta ijin dan doa restu dari beliau.
Di sepanjang perjalanan, Maya tampak gugup dan juga takut untuk bertemu sang ibu, ia tidak punya keberanian untuk menampakkan wajahnya di depan ibu dan adik-adiknya, ia tidak akan sanggup melihat wajah kekecewaan ibu dan juga kedua Adiknya itu, karna berita tersebut pasti sudah sampai kepada mereka.
Meskipun begitu Maya berusaha memberanikan dirinya untuk menemui mereka, berharap mereka masih mau menerima Kedatangannya, masih mau menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga mereka, dan yang terpenting Maya sangat berharap jika kesehatan ibunya tidak terganggu atas kejadian ini.
"May... kamu tenang ya, semuanya akan baik-baik saja, saya akan menjelaskan semuanya sama ibu kamu bahwa semua ini adalah kesalahan saya" Ucap Alvian sambil menggenggam tangan Maya. Alvian dapat melihat raut wajah Maya tampak pucat dan juga bingung.
"Tidak Tuan... kita sudah sepakat untuk merahasiakan ini semua, termasuk kepada Ibu dan juga Adik-adik aku, karna jika mereka tau yang sebenarnya, mereka pasti akan sangat marah kepada Tuan, mereka akan membenci tuan, ibu pasti tidak akan mengijinkan aku kembali ke rumah tuan, ibu tidak akan membiarkan aku hidup bersama laki-laki yang sudah menghancurkan hidup putrinya, apalagi Tuan sudah punya istri" Maya sangat hafal dengan watak ibunya, walaupun mereka orang miskin tapi mereka sangat menjunjung tinggi kehormatan dan harga dirinya.
"Tapi kamu sedang hamil May, jadi ibu kamu pasti meminta saya untuk bertanggung jawab dan menikahi kamu" Ucap Alvian tampak yakin.
"Nggak tuan... Ibu bukan orang yang seperti itu, Ibu paling tidak suka dengan orang yang suka melecehkan perempuan, jadi ibu pasti lebih memilih jika aku membesarkan anak aku sendiri daripada harus melihat aku menikah degan laki-laki seperti itu, karna bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti laki-laki terus akan melakukan hal yang sama kepada wanita lain, ibu pasti takut jika Pernikahan putrinya tidak bahagia" jelas Maya lagi.
"Tapi saya gak tega melihat kamu terus menerus di salahkan oleh semua orang, kamu harus menanggung semua kesalahan saya" Alvian berusaha meyakinkan Maya.
"Tuan gak perlu mengkhawatirkan saya, saya yakin saya bisa melewati semua ini, saya juga yakin bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita semua" Maya tetap bersikeras dengan keputusannya.
"Terimakasih May... terimakasih untuk semuanya, saya janji saya akan berusaha membuat kamu dan anak yang ada dalam kandungan kamu ini bahagia" ucap Alvian tulus , merasa berhutang Budi kepada Maya.
Akhirnya Alvian dan Maya sudah sampai di daerah tempat tinggal Maya, Alvian menitipkan mobilnya di sebuah lahan kosong milik salah seorang warga, karna rumah Maya harus melewati sebuah GG yang tidak bisa di lalui mobil, jadi terpaksa mereka harus berjalan kaki untuk sampai kerumah Ibu Maya.
Saat mereka turun dari mobil, Kebetulan para ibu-ibu sedang berkumpul di sebuah warung, tampaknya mereka sedang berbelanja sambil bergosip-gosip ria, tentu saja kedatangan Maya dan Alvian menjadi sasaran empuk untuk mereka, mereka seakan mendapatkan mangsa untuk menjadi bahan pergunjingan mereka.
Pandangan mereka tak lepas dari Alvian dan juga Maya, dari semenjak Alvian dan Maya turun dari mobil Mewah milik Alvian, ibu-ibu tersebut memperhatikan dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, sambil berbisik-bisik, mereka juga tampak terkagum-kagum melihat ketampanan Alvian, mereka tidak menyangka jika pria ya h ada di Vidio ternyata sangat tampan.
"Eh... eh, liat tuh, bukannya itu Maya, dia turun dari mobil mewah sama laki-laki yang ada di Vidio itu" ucap Seorang perempuan paruh baya yang tubuh nya gemuk, namanya adalah Mira.
"Ia bener... itu laki-laki yang ada di Vidio, cowoknya ganteng banget ya, pakaian nya juga rapih, kayanya laki-laki itu orang kaya, liat aja tuh mobil nya bagus banget pasti mahal" jawab Bu esih Salah satu tetangga Maya.
"Laki-laki itu memang kaya, liat aja tuh mobil nya bagus banget, dan denger-denger bapaknya orang terkaya nomor satu di kota ini" Bu ntin yang dandanan nya tampak menor ikut menambahi.
"Wihhhh pantes aja si Maya sampai rela mengorbankan harga dirinya demi laki-laki itu, wong orang nya ganteng gitu, kaya lagi" ucap Bu Mira lagi
"Ia yah... gak nyangka si Maya jadi kaya gitu, padahal selama ini dia keliatannya polos banget" ucap Bu Esih
"Makanya jangan suka nilai orang dari luar nya aja, belum tentu hatinya baik, contohnya si Maya, dia rela menyerahkan tubuhnya sama laki-laki yang sudah punya istri, jadi pelakor yang kaya di film-film itu loh ibu-ibu" ucap Entin sambil ketawa cekikikan.
"Saya heran kenapa ya... laki-laki itu mau aja tergoda sama Maya, Padahal istrinya model cantik yang lagi naik daun itu loh" ucap Bu Mira lagi.
"Ya... namanya juga laki-laki pasti mau aja lah, ibaratnya kucing kalo di kasih ikan, pasti langsung di mbat" mereka pun tertawa senang mendengar ucapan Bu Entin.
Ucapan mereka benar-benar terdengar jelas di telinga Maya, sepertinya mereka sengaja melakukan hal itu untuk menyindir Maya.
Maya berusaha untuk tidak menghiraukan ucapan-ucapan mereka, menganggap semuanya hanya angin lalu walaupun kata-kata itu terasa sangat menyakitkan.
Berbeda dengan Alvian yang merasa sangat geram dengan kata-kata mereka yng sudah benar-benar keterlaluan menghina Maya, ia hendak menghampiri mereka untuk meminta mereka menarik kembali ucapannya dan meminta Maaf kepada Maya, tapi Maya mencegahnya, ia tidak ingin menambah masalah dan membuat keributan di sana.
"May... kenapa sih kamu melarang saya untuk menemui mereka, kata-kata mereka sudah benar-benar keterlaluan May..." Ucap Alvian kesal.
"Untuk apa Tuan..biarkan saja mereka berbicara sesuka hati mereka, kita tidak perlu menghiraukan ucapan-ucapan mereka, semua itu hanya akan menambah masalah semakin besar, kita hanya akan menjadi tontonan bagi warga-warga yang lain" Maya berusaha meredam kekesalan Alvian.aa
"Saya bener-bener heran sama kamu May, kamu masih tetep sabar walaupun mereka sudah merendahkan harga diri kamu, sebenernya hati kamu terbuat dari apa sih May" Gerutu Alvian, ia benar-benar tidak habis pikir terhadap Maya, Mays bisa sekuat dan sesabar itu dalam mengahadapi semua masalah ini.
Maya dan Alvian hampir sampai di rumah ibu Maya, hanya tinggal beberapa langkah lagi, tapi Maya justru terdiam sambil menatap rumah tersebut, kakinya terasa kaku untuk di gerakan, dan tangannya terasa dingin, keberanian tiba-tiba saja menciut, pikirannya sudah melayang kemana-mana membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi, tapi Alvian berusaha meyakinkan Maya dan memberikan kekutan kepadanya untuk menghadapi semua ini.