Gadis bernama Shanum tidak pernah menyangka bahwa dia akan terlibat hubungan cinta terlarang (cinta se-jenis).
Setelah lepas dari cinta terlarangnya, dia dipertemukan dengan laki-laki yang malah merenggut mahkotanya secara paksa karena dendam.
Tapi Tuhan Maha Adil, pada akhirnya dia dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menerima dia apa adanya, mencintai dengan tulus dan mendapatkan kebahagiannya hingga akhir hayatnya.
Hi reader, kalau sekiranya Novel ini kurang nyaman dibaca, silakan memilih bacaan yang sesuai umur dan tipe Novel yang disukai 🥰❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Merona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Masih Sama
"Anak-anak kerjakan ulangan kalian dengan teliti, baca soalnya dengan seksama, dan waktu pengerjaannya 60 menit!" titah seorang guru pada muridnya.
"Jangan lupa, berdoa agar diberi kelancaran dan kemudahan di hari pertama UAS," ucapnya mengingatkan.
"Siap, Pak!" jawab siswanya serentak.
Saat ini Shanum kesulitan memfokuskan pikirannya. Kejadian tadi pagi di depan gerbang sekolah benar-benar membuyarkan kosentrasinya.
"Inhale, exhale ..." gumamnya
"Fokus, fokus, fokus!"
"Ayo, Shanum. Semangat!!" pekiknya lantang.
Dia tidak sadar kalau suaranya menggema seisi kelas. Ruangan yang sebelumnya senyap, menjadi ramai seketika. Terdengar suara tawa teman-temannya saling bersahutan.
"Hm ... kerjakan ulangannya Shanum, jangan buat kegaduhan!" tegur gurunya sambil menggelengkan kepala melihat tingkah absurd salah satu siswinya.
"Eh, iya Pak, maaf..." jawab Shanum sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
Suara riuh teman-temannya yang mentertawakan tingkah konyolnya barusan, perlahan menghening. Yang terdengar kini hanya deru napas dan detak jantung yang hanya terdengar oleh telinga mereka masing-masing.
Akhirnya Shanum bisa kembali fokus, dia mengerjakan setiap soal dengan begitu mudah. 45 menit terlewati dan dia mengumpulkan kertas soal pertama kali.
"Bagus Shanum, kamu bisa pulang lebih dulu."
"Iya, Pak. Terimakasih ..." jawab Shanum dengan sopan.
Sebelum Shanum meninggalkan kelasnya, dia memperhatikan seisi ruangan, semuanya nampak tak bergeming dengan kepala tertunduk dan bola mata tertuju pada beberapa lembar kertas yang tergeletak di atas meja.
Juga terlihat olehnya wajah gusar sahabatnya, nampak dengan jelas raut kebingungan yang kini menderanya. Bagaimana tidak, selama ini karena Shanumlah dia bisa mengerjakan soal-soal ulangan dengan benar dan mendapat nilai sempurna. Tapi sekarang dia harus mengerjakan sendiri dengan kemampuan yang dia punya.
...~~~~...
"Bi Kalsum, Shanum pesan Bakso Merconnya seporsi ya," pinta Shanum.
"Minumnya naon geulis?" tanya Bi Kalsum.
"Air putih aja Bi, kan biar hemat," balas gadis itu sambil memperlihatkan gigi kelincinya.
"Iya atuh, sebentar ya Bibi siapin dulu ...."
"Iya, Bi ...."
"Neng, ini baksonya sudah siap," ucap Bi Kalsum
"Ah, nuhun pisannya, Bi ...."
"Sami-sami, geulis ...."
Dengan antusias, Shanum menambahkan kecap, saos dan sambal pada kuah baksonya. Saat ini dia butuh 'amunisi' untuk menyegarkan kepalanya kembali.
Shanum melahap baksonya penuh semangat. Terdengar suara rauhan bersahutan dari bibirnya karena kepedasan.
"Huh-hah, pedes gila!" racaunya.
"Uhuk.. uhuk ..." Shanum tersedak.
"Ah, air. Bi, minta air lagi!" teriak gadis itu panik dengan setengah menangis karena rasa panas dan pedas ditenggorokannya.
"Ini minumlah," tawar seseorang menyodorkan air minum untuknya.
"Makanya makan pelan-pelan, jangan gerasak-gerusuk. Kebiasaan banget kamu tuh," ucap seseorang lagi sambil membersihkan sisa kuah bakso di sudut bibir Shanum.
Empat bola mata yang saling merindu, kini bertemu tanpa jarak. Keduanya beradu pandang meluapkan kerinduan.
Tatapannya masih saja sama, hangat namun amat menusuk.
Seketika bayangan-bayangan kebersamaan terlintas kembali, karena bagaimanapun juga keduanya masih menyimpan rasa, rasa yang tak tuntas.
"Abna?"
"Iya, ini aku," jawab Abna. Ia lalu bangkit dari sampingnya.
"Kamu mau kemana?" Shanum menahan langkah Abna dengan memegang pergelangan tangannya.
"Bukan urusan kamu!" jawab Abna
"Aku butuh kejelasan soal kita," lirih Shanum
"Enggak ada lagi yang bisa kita bahas, semuanya sudah selesai!" ketus Abna.
"Ta- Tapi ..." Sebelum Shanum selesai berbicara, Abna telah berlalu pergi. Dia berjalan dengan begitu tergesa dan sesekali berlari. Dia tidak ingin luluh hanya karena melihat raut memelas dari wajah Shanum.
Shanum menatap punggung lelaki yang dicintainya dengan mata sendu. Untung saja di kantin hanya ada dia sendiri, jadi dia bisa dengan leluasa mengeluarkan rasa sakit lewat tangisan.
"Aku kangen sama kamu ...."
Bi Kulsum yang melihatnya, hanya bisa menatap dari balik kaca roda bakso. Sengaja membiarkan anak gadis di depannya itu meluapkan emosinya seorang diri.
...Untuk apa kamu memberi ku perhatian, bila hanya meninggalkan luka?...
...***...
MESKI ALUR CERITA LAMBAT...TAPI NGGAK BIKIN BOSAN.