NovelToon NovelToon
Twins Revenge War

Twins Revenge War

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Supernatural / Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:511k
Nilai: 5
Nama Author: Nagi Sanzenin

Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.

Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.

Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...

Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.

Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.

Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...


Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.

Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Jawaban Mama

"Waaa!!!" Pasukan yang ada diatas gedung berteriak.

Gedung itu hancur karena ledakan bom bunuh diri Minami. Puluhan helikopter yang berjaga diatas gedung ungu segera menyelamatkan orang-orang yang ada di atas atap gedung itu. Beberapa dari mereka menaiki helikopter musuh yang ditinggal begitu saja.

Rei dan Rin melesat dengan sayap lipat mereka sambil membawa Presdir Akira dan Neko.

Tak lama kemudian gedung itu sudah rata dengan tanah. Orang-orang dijalan dan rumah dekat situ beramai-ramai melihat apa yang terjadi.

Polisi membubarkan kerumunan massa, Tim SAR dan petugas pemadam kebakaran berdatangan ke lokasi, melakukan evakuasi.

Satu jam kemudian, ditemukan puluhan korban tewas. Puluhan orang pasukan Organisasi yang menjaga Minami juga tewas... Beserta penjaga bertopeng gas itu...

Mereka ditemukan tewas akibat ledakan dan mayatnya tertimbun reruntuhan puing gedung. Mayat Minami tidak ditemukan, sudah hancur berkeping-keping karena ledakkan bom.

Rei, Rin, dan Neko dibawa pergi ke rumah sakit menggunakan mobil Presdir Akira.

"Akira, aku menelan batu permata itu." Ucap Neko pada Presdir Akira ketika melaju di dalam mobil.

"Apa... Luar biasa." Sahut Presdir Akira dengan datar, terus melihat ke depan, "Kau berhasil, misi kali ini pun telah diselesaikan odd-thief cat 883."

"Tidak, bukan odd-thief cat 883 lagi... Namaku Neko."

Neko duduk disebelah kursi pengemudi dengan angkuh. Presdir Akira menggerling sejenak ke arah Neko.

"Anakku yang memberikannya?" Tanya Presdir Akira, "Baiklah, namamu sekarang adalah Neko..." Presdir Akira tersenyum pada Neko, dan Neko balas tersenyum.

Rei dan Rin tidak mendengar percakapan itu... Mereka sungguh lelah, mereka tertidur dalam mobil, perjalanan menuju rumah sakit...

Mereka tiba di rumah sakit beberapa saat kemudian. Tentu saja Presdir Akira memboking rumah sakit itu. Mereka dirawat dalam ruangan VIP, Neko dibawa ke ruang operasi untuk mengeluarkan permata Red Diamond dari perutnya.

Setelah itu, Kaoru dihubungi anggota Organisasi dan dia segera pergi kerumah sakit...

"Kalian sudah baik-baik saja?" Tanya Presdir Akira pada Rei dan Rin didalam kamar rawat VIP. Dan seperti biasa, masih nada datar dan tanpa ekspresi.

"Kau tinggal kami 10 menit dan balik lagi nanya sudah baik belum? Belum!" Jawab Rei ketus.

Presdir Akira tersenyum, dia ingat siapa yang menjawab dengan jawaban yang sama seperti Rei dulu.

"Kami tidak menderita luka parah, Neko sudah menyembuhkan kami." Ucap Rin pada Presdir Akira, "Bagaimana dengan nyawanya? Dia bilang nyawanya berkurang bila menyembuhkan makhluk hidup..."

Rin meletakkan laptop di atas meja, mereka sudah berganti baju dengan pakaian rumah sakit, alat rahasia mereka aman disimpan anggota Organisasi.

"Yeah, nyawanya akan berkurang satu hari sekali penyembuhan, dan tentu saja tidak bisa membangkitkan orang mati." Jawab Presdir Akira, "Waktu hidupnya masih 10 tahun lagi kalau tidak di usik... Dia dapat beregenerasi menyembuhkan luka, jadi dia tak akan pernah mati karena luka."

.............

Waktu itu, jam menunjukkan pukul 01.42 dini hari...

Tak lama kemudian Kaoru sampai dirumah sakit dan langsung menuju kamar rawat Rei dan Rin.

"Rei! Rin!" Seru Kaoru sembari membuka pintu kamar rawat Rei dan Rin, tampak juga Presdir Akira disana.

"Selamat pagi Kaoru, anak kita tentu baik-baik saja, jangan khawatir." Sapa Presdir Akira, tersenyum pada Kaoru.

Kaoru abai dan langsung masuk ke dalam ruangan itu.

"Iya ma, kami baik-baik saja..." Kata Rin pada Kaoru yang memeluk Rei dan Rin bergantian.

"Kau tidak memelukku Kaoru?" Sambung Presdir Akira, sedikit menggoda Kaoru.

"Untuk apa?" Kaoru bertanya datar.

"Kita sudah tidak bertemu lebih dari 2 hari, setidaknya beri aku hadiah sedikit."

Presdir Akira berjalan mendekati Kaoru dan mendekapnya dengan sangat erat, "Jadi... Apa jawabanmu?"

"Itu tidak penting sekarang, aku membencimu," Jawab Kaoru, mendorong Presdir Akira menjauh darinya, "Aku tanya padamu, kemana Rei dan Rin pergi dan tak pulang-pulang? Mengapa kau tahu dimana mereka berada?"

Suasana lengang, mereka diam sejenak...

"Rei dan Rin terlibat misi Organisasi..." Jawab Presdir Akira, "Tentu saja aku tahu dimana tempat misinya... Karena..."

"Misi seperti apa?" Potong Kaoru, mengerutkan kening dan menatap tajam Presdir Akira.

"Emm... Mengambil kembali permata yang dicuri..." Presdir Akira memalingkan matanya dari Kaoru.

"Ohh begitu, baiklah... Jawabanku untuk pertanyaan-mu adalah 'tidak'..." Seru Kaoru, memalingkan wajahnya dari Presdir Akira.

Presdir Akira langsung memandang Kaoru, dia tampak terkejut... Begitu juga Rei dan Rin...

"Kenapa?" Presdir Akira bertanya, meremas tangan Kaoru dengan ekspresi campur aduk.

"Karena mereka selalu terluka kalau terlibat denganmu!" Seru Kaoru marah, "Bagaimana kalau mereka mendapat luka yang parah? Aku tidak ingin mereka dekat-dekat denganmu! Aku sangat membencimu! Sangat benci!"

Kaoru melepas paksa tangannya dari Presdir Akira.

"Tidak ma! Aku yang salah karena sudah mengacaukan rencana Organisasi!" Potong Rei, "Kami pergi atas keinginan sendiri, tidak ada hubungannya dengan papa si... Papa kami."

Rei kelepasan mengatakan 'papa sialan', tapi untung dia berhenti ditengah kalimat.

"Benar! Kami hanya suka berlagak menjadi pahlawan! Tidak ada hubungannya dengan papa!" Sambung Rin, juga memprotes keputusan mamanya.

"Kaoru, aku serius... Aku benar-benar akan melindungi kalian. Menikahlah denganku, tak akan kubiarkan mereka dan kau terluka lagi."

Presdir Akira menyentuh wajah Kaoru dengan tangannya, memaksanya untuk beradu tatapan.

"Sekolah mereka terlantar kalau terlibat denganmu, minggu lalu, hari ini, dan seterusnya!" Ucap Kaoru, menepis tangan Presdir Akira dari wajahnya.

"Kami akan pergi sekolah hari ini!" Rin segera menyela pembicaraan Kaoru dan Presdir Akira.

"Tidak boleh, dengan luka-luka itu kalian harus istirahat dirumah sakit minimal satu hari, kalian juga tidak tidur dari semalam, 'kan?" Sahut Kaoru, menoleh ke arah Rin dan menatapnya dengan tatapan sayang...

Kaoru kembali menatap datar Presdir Akira, "Pokoknya, aku tidak mau..."

"Aku ingin seorang ayah!" Rei berteriak memotong kalimat Kaoru.

Kaoru menoleh ke arah Rei dengan ekspresi prihatin, "Tapi Rei..."

"Aku ingin dia menjadi ayah resmi kami, aku menyukainya... Menikahlah dengannya ma." Rei memalingkan wajahnya dari tatapan Kaoru.

"Aku juga menyukai papa, bukankah tak ada alasan untuk menolaknya? Luka ini karena kami sendiri..." Rin ikut membela Presdir Akira.

Kaoru terdiam, dia menatap Presdir Akira sambil mengerutkan kening dengan penuh arti, aku membencimu...

Suasana menjadi sunyi, Kaoru menggigit bibirnya... Merasa tak dapat menolak keinginan anak kembarnya.

"Baiklah... Asal kau bisa membuatku jatuh cinta padamu..." Ujar Kaoru memecah kesunyian, dia mengalah.

Presdir Akira tersenyum lega, menggendong dan mengangkat Kaoru tinggi-tinggi.

"Apa... Lepaskan! Turunkan bodoh!" Seru Kaoru, wajahnya memerah, malu dilihat anak-anaknya.

"Yeay!" Rei dan Rin ikut berseru senang.

..............

"Berterimakasih-lah, aku sudah membantumu mendapatkan mama." Rei berkata angkuh pada Presdir Akira, Kaoru sudah pergi dari ruang rawat mereka untuk pulang... Dia akan membuat surat izin tidak masuk sekolah untuk Rei dan Rin.

"Rupanya kau menyukaiku Rei?" Presdir Akira menggoda Rei.

Rei mengerutkan keningnya, "Tidak juga, kau menyebalkan, harusnya kau mengerti kalau mama membencimu." Rei memalingkan mukanya.

"Aku tahu... Sekarang tantangan-mu sudah lunas?" Presdir Akira duduk bersandar di kursi ruang rawat kamar VIP itu.

"Benar, kau sudah mendapatkannya." Jawab Rei, "Kau bebas melakukan cara apa saja untuk membuat mama jatuh cinta, waktumu tak terbatas."

"Baiklah..." Presdir Akira tersenyum senang, dan menutup matanya, "Akan kubawa Kaoru pada orang tuaku..."

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, Kaoru dan Presdir Akira terus menemani Rei dan Rin dirumah sakit... Suasana diantara mereka masih sedikit canggung, tentu saja itu karena Kaoru enggan move on...

"Papa kan CEO, apa pekerjaanmu tak terlantar kalau menemani kami sepanjang hari?" Tanya Rin saat mereka sedang makan malam di rumah sakit.

"Biarkan saja, kalian tak perlu memikirkannya..." Jawab Presdir Akira, "Besok aku akan membawa kalian ke rumah orang tuaku." Presdir Akira menutup sebelah matanya dan menggerling Kaoru.

"Aku belum siap mental untuk bertemu orang tuamu..." Ucap Kaoru, memalingkan wajahnya.

"Jangan takut, mereka tidak akan memakan manusia..." Presdir Akira bergurau, lalu tersenyum jahil, "Tapi aku bisa memakan-mu... Seutuhnya."

Wajah Kaoru memerah mendengar hal itu, tiba-tiba saja tubuhnya merasa merinding.

Rei dan Rin tertawa melihat ekspresi Kaoru, walau sebenarnya tidak terlalu mengerti apa maksudnya 'dimakan'.

Keesokan harinya mereka pulang dari rumah sakit, diantar dengan mobil yang dikemudikan langsung oleh Presdir Akira...

"Aku sudah menyiapkan segala keperluan kalian untuk pergi hari ini, bersiap-siaplah, kita akan pergi ke Amerika jam 12.00 WIB nanti." Kata Presdir Akira ketika mereka sudah sampai dirumah Kaoru.

"Baik!" Jawab Rei dan Rin bersamaan... Presdir Akira sedikit membelai kepala Kaoru, membuat Kaoru menggembungkan pipi. Kemudian mobil Presdir Akira pergi meninggalkan halaman rumah mereka...

"Apa yang dia siapkan untuk kita?" Tanya Rei pada Rin, mereka berjalan menuju pintu rumah.

"Tidak tahu... Yang penting, kalau kita sudah pulang, berarti ada PR yang numpuk." Jawab Rin sembari mengeluarkan kunci rumah dari dalam sakunya, mereka punya kunci duplikat.

"Bagaimana dengan Neko? Aku melupakannya!" Rei tiba-tiba berseru, teringat pada Neko.

"Kau benar-benar ketinggalan informasi, pikirannya main terus, sih... Neko sudah selesai menjalani operasi, Red Diamond aman. Neko kembali dibawa pulang anggota Organisasi, lebih dulu sebelum kita pulang." Jelas Rin.

Kaoru memperhatikan anak-anaknya berbicara, sedikit banyak tidak mengerti.

Dia lalu masuk ke dalam kamarnya di lantai satu, "Bereskan barang kalian, kerjakan tugas sekolah, dan bersiap-siap pergi, sebelum pergi kita makan siang dulu." Kaoru berpesan pada Rei dan Rin.

"Baik!" Jawab Rei dan Rin, mereka lalu menaiki tangga ke lantai dua.

"Jadi? Apakah Neko sedang mengerjakan misi rahasia yang baru?" Tanya Rei pada Rin saat mereka tiba dilantai dua.

"Benar, misi ini mungkin cukup merepotkan." Terdengar suara serak seorang laki-laki, itu Neko.

"Apa? Kenapa kau disini?" Rin bertanya terkejut.

"Ini misi rahasia berkepanjangan yang baru, menjaga seluruh anggota keluarga Akira." Jawab Neko, "Aku sedang menunggu kalian pulang, mulai sekarang aku kucing peliharaan disini dan akan tinggal disini." Neko menyisir kumisnya dengan sombong.

"Barang-barang kalian sudah ku-bereskan, PR nya sudah ku-kerjakan, kalian tinggal bersiap-siap pergi saja, aku akan menjaga rumah." Lanjutnya.

"Kau mengerjakan PR?" Rei bertanya tidak percaya.

"Kau meremehkan-ku? Soal anak SD bagai upil dimataku." Sahut Neko, berdiri dengan dua kaki belakangnya dan berpangku tangan.

"Iya deh, terserah." Rei dan Rin masuk kekamar masing-masing, bersiap-siap pergi ke Amerika, selanjutnya petualangan dalam keluarga Sakaki.

To be continued...

1
mellamello
gantung🥺
Kita_Yama
kalo adik lu dijual, siapa yang bakal nafkahin ente
Kita_Yama
Tiba-tiba keinget lagu LaoNeis
Kita_Yama
jangan bilang situ kalo dah nikah istrinya yang disuruh kerja
Gissa_Chieko
bagus
@Ay_k02
👍👍👍👍👍👍👍👍
Tara
Pengen dech punya anak jenis seperti ini.. Uhuy🤭😉🌹😱🥰🙏
Tara
Untung cuman 1 nyawa. Anyway, turut berduka cita. Sore sore gini enaknya ngopi Cantiq.. Here gift 4 ur kak.. Semangat🎁👍🥰🤭😱🙏💐🌹💕
Tara
Ingat jurit malam waktu itu ada ploncoan😅😱🤭
Tara
Ya lah.. Sing lish dipake.. Ini yg bloon siapa. Bujug bune😤
Gubrak!
Tara
Hadeuh.. Pusying aku Baca ini.. Huibat idenya.. Tapi bisa bisa kutintut guru nya Buat soal ancur Kaya gitu.. Hadeuh.. Gilingan😤😱🙈🤭😉😡🥺🤯
Tara
Gila. Soal apaan tuch.. Yg Buat soal lagi mabuk yach.. Ada Ada aja.. Hadeuh🙈😱😤🤭😉🤔🤯
Tara
Katanya Sultan. Kalo aku mah uda Buat gelang atau kalung dengan GPS didalamnya.. With money u can make it all.. 🤔🙈🤗😉👌
Tara
Betul.. Hajar Bozz...
Tara
Keren
Tara
Wah jadi selebriti terkenal dach🤭😱😉
kak, itu cover nya Soraru sama Mafu ya?
Aisyah Suyuti
seru juga
(◕ᴗ◕✿) CH
Ayo, kapan diupdate?
(◕ᴗ◕✿) CH
Ehem, apaan tuh? Aku aku benci dengan pikiranku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!