Alesia terkejut saat tiba tiba Leon suaminya tidak lagi mengenalinya. Leon juga bersikap dingin dan tidak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka.
Beberapa pertanyaan memenuhi otak alesia.
“Kenapa? Bagaimana mungkin? Dan apa yang terjadi?”
Apakah ujian itu mampu membuat cinta alesia dan leon semakin kuat atau bahkan pada akhirnya hancur berlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba jujur
Alesia menatap suaminya yang begitu lahap menyantap makan malamnya. Alesia benar benar bingung harus bagaimana sekarang. Kedatangan rico membuat alesia merasa sedikit bersalah pada suaminya.
Santi yang menyadari kediaman alesia tersenyum miring. Santi masih merasa kesal karna ternyata alesia mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan rico. Pria yang tidak lain adalah photografernya.
“Makan yang banyak leon. Kamu pasti capek seharian kerja.”
“Iya tante. Ini juga udah banyak banget kok.”
Santi sengaja berkata seperti itu untuk menyadarkan alesia dari kediamanya. Dan cara itu berhasil, alesia kembali melahap makananya meski dengan sangat tidak berselera.
Selesai makan malam leon kembali mengerjakan pekerjaanya yang belum sempat dia selesaikan saat di kantor. Sedangkan santi, wanita berambut sebahu itu memilih untuk bersantai di ruang keluarga. Berbeda dengan alesia yang terus duduk di kursi meja makan.
“Nyonya kenapa?”
Alesia menoleh. Alesia tanpa sadar meneteskan air matanya. Entah kenapa setelah apa yang santi ucapkan padanya alesia menjadi takut juga sedih.
“Ya tuhan... Nyonya, ada yang sakit nyonya? Apa perlu saya panggilkan tuan leon?”
Bi inah terlihat sangat panik karna alesia yang menangis. Selama ini yang bi inah kenal adalah alesia wanita yang tangguh juga pekerja keras. Apa lagi alesia tidak pernah sekalipun terlihat sedih meski memang tidak pernah bisa akur dengan santi.
“Jangan bi.. Saya nggak papa. Saya juga nggak sakit.” Geleng alesia sambil mengusap air matanya.
Bi inah menatap alesia sendu. Nyonya mudanya memang tidak ramah. Tapi bi inah tau alesia adalah wanita yang sangat baik. Mungkin itu sebabnya leon tetap ngotot menikahi alesia meskipun santi terus menentangnya dulu.
“Kalau begitu saya ke atas ya. Terimakasih untuk perhatian bi inah.”
Alesia bangkit dari duduknya kemudian berlalu setelah berkata.
Berbeda dengan leon yang tampak tidak bisa konsentrasi dengan laptopnya. Leon bahkan beberapa kali salah dalam mengecek laporan yang di kirim oleh sekertarisnya.
Deringan hp yang ada di samping tumpukan berkas membuat leon dengan sigap meraihnya. Tanpa mengecek lebih dulu siapa yang menelponya leon langsung mengangkat dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
“Bagaimana hasilnya? Kamu sudah tau siapa yang menyuruh mereka?”
“Leon.. Ini aku pingkan.”
Leon berdecak. Pria itu menghela nafas gusar. Pikiranya begitu sangat kacau sekarang.
“Maaf saya pikir orang saya..” Pelan leon.
“Ya.. Nggak masalah. Kamu lagi ngapain? sudah makan?”
Leon memejamkan kedua matanya. Dengan kasar leon menghempaskan punggungnya ke senderan kursi kebesaran yang di dudukinya.
“Pingkan maaf, saya sedang sibuk sekarang.”
“Begitu ya? Kalau begitu maaf aku ganggu. Kamu jangan lupa makan dan cukupkan istirahat.”
“Ya.”
Leon langsung memutuskan sambungan telponya setelah itu. Leon tidak ingin mendengar apapun yang di katakan pingkan. Karna meskipun memang pingkan baik juga perhatian padanya pingkan tetaplah orang lain. Apa lagi leon sudah beristri. Leon tidak mau alesia salah faham.
Ya tuhan...
“Kamu kenapa leon?”
Suara santi membuat leon membuka kedua matanya. Leon menatap santi yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
“Nggak papa tante.”
“Jangan bohong. Tante tau kamu sedang ada masalah. Kamu bisa ceritakan sama tante. Jangan di pendam sendiri.”
Leon terdiam. Rasanya tidak mungkin jika leon menceritakan pada santi. Karna jika leon bercerita itu artinya leon jujur bahwa dirinya sudah bisa mengingat semuanya tentang santi juga alesia. Dan kalau santi tau itu, santi pasti akan kembali tidak mau akur dengan alesia istrinya.
“Hanya masalah pekerjaan.”
“Bukan tentang rico dan alesia?”
Leon mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.
“Apa maksud tante?” Tanya balik leon merasa bingung dengan pertanyaan santi tentang rico dan alesia.
Leon tau siapa rico. Rico adalah photografer yang tergila gila pada istrinya. Rico juga selalu mendekati alesia di tempat kerja. Meskipun memang alesia selalu mengelak namun tetap saja leon merasa gerah jika ada pria lain yang berusaha mendekati istri tercintanya.
Santi menghela nafas.
Apa yang baru saja aku katakan?
“Tante, siapa rico?”
Leon sedang berbohong. Tentu saja leon sangat mengenal siapa rico. Leon hampir setiap hari bertemu dengan rico saat menjemput alesia dulu. Leon juga sering melihat sendiri bagaimana rico yang mendekati bahkan sering mencuri pandang pada alesia saat alesia sedang bersamanya di lokasi pemotretan mereka.
Gigi leon mengatup keras dengan kedua tangan terkepal erat tanpa sepengetahuan santi.
“Em.. Nggak, bukan siapa siapa.”
Leon menelan ludahnya. Mungkin santi sedang berbohong agar leon dan alesia tidak bertengkar. Santi berusaha melindungi alesia.
“Tante istirahat dulu. Kamu segeralah istirahat setelah pekerjaan kamu selesai.”
Santi berlalu setelah itu. Leon tidak menyangka jika santi bahkan sampai menyinggung soal rico.
“Apa rico datang kesini?” Lirih leon bertanya tanya.
Leon ingin sekali bertanya pada alesia tapi sepertinya itu mustahil. Yang alesia tau leon tidak mengingat apapun tentangnya. Alesia pasti akan langsung bisa menebak bahwa ingatan leon sudah sepenuhnya kembali jika leon bertanya tentang rico padanya.
“Hhh.. Rico.. Tidak seorangpun yang akan aku biarkan dengan bebas mendekati istriku.”
Leon bangkit dari kursinya dan melangkah cepat keluar dari ruang kerjanya. Leon juga tidak lupa menutup pintu ruang kerjanya sebelum berlalu.
Ceklek
Alesia menoleh ketika pintu kamarnya terbuka. Buru buru alesia mengusap air matanya tidak ingin suaminya tau bahwa dirinya sedang menangis.
Leon terdiam sesaat. Pria itu berdiri di ambang pintu menatap istrinya yang duduk di tengah ranjang dengan tatapan yang juga terarah padanya.
“Kakak..”
“Ada yang mau aku bicarain..” Lanjut alesia.
Leon mengepalkan kedua tanganya erat. Leon sudah bisa menebak bahwa yang akan di bicarakan istrinya pasti tentang rico.
Leon menghela nafas. Seulas senyum leon ukir untuk istrinya. Leon harus berpura pura tidak tau apa apa dan mendengarkan dengan seksama apa yang ingin di bicarakan oleh alesia. Meskipun memang itu tentang rico.
Pelan pelan leon melangkahkan kakinya menuju ranjang. Leon naik dan duduk tepat di depan alesia.
“Kamu nangis?” Tanyanya pura pura tidak tau.
Air mata alesia kembali menetes untuk yang kesekian kalinya. Alesia tidak tau kenapa tiba tiba perasaanya begitu lembut dan gampang sekali menangis.
“Tadi siang.. Rico datang kesini.”
Leon tetap tenang. Meskipun ekspresinya memang sedikit berubah namun itu tidak di sadari oleh alesia yang sibuk memainkan kedua tanganya yang saling bertautan.
“Rico? Siapa rico?”
Leon geram sebenarnya. Pria manapun juga pasti tidak akan rela jika istrinya di dekati oleh pria lain.
“Dia temen aku. Photografer yang sering bahkan hampir setiap ada projek pasti aku kerja bareng dia. Aku jujur kak.. Kamu memang sangat tidak menyukainya dulu. Tapi demi tuhan hubungan kami hanya sebatas teman kerja saja. Nggak lebih.”
Hati leon menghangat saat itu juga. Alesia sedang berusaha jujur dengan menjelaskan semuanya. Dan leon sangat menghargai itu.
“Jangan nangis. Nanti cantiknya ilang loh.”
sukses
semangat
mksh