ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Adam menghela napasnya sebelum mengetuk pintu rumah Arnold. ini malam, Arnold pasti ada di rumahnya Sekarang.
tok..
tok..
Cukup lama Adam berdiri sampai pintu itu terbuka, menunjukan wajah Arnold yang tak bersahabat menyambut kedatangan nya.
"untuk apa kemari?" ucapannya terdengar begitu sinis di telinga Adam.
"paman...aku hanya ingin...."
"siapa Arnold"
"ibu...." Adam menerobos masuk saat mendengar suara venty dari dalam rumah Arnold.
"ck.. b"Jing*n itu..." decih Arnold karena tubuhnya baru saja di tubruk dengan tak sopan nya oleh ponakannya itu.
Venty mendengus kesal saat melihat Adam kini berlutut di hadapannya. memegang kedua tangan nya dengan erat.
"ibu.. aku mohon maafkan aku.."
Venty diam saja. melihat kearah lain untuk tidak melihat wajah Adam yang begitu memelas. dia seorang ibu, sekesal apapun hatinya pada Adam pasti akan luluh jika melihat raut wajah yang begitu melas itu.
"lebih baik kau pergi. jangan ganggu ibu mu." Arnold menarik tubuh Adam dengan kasar lalu mendorong nya keluar dari rumah.
Brak...
Dengan cepat Arnold menutupnya dan tak lupa menguncinya supaya adam tak bisa masuk.
"paman... buka pintunya" teriak Adam.
"kak, ayo.. masuklah ke kamar. biarkan dia."
Venty melihat pintu yang terus di gedor dari luar itu dengan tatapan nanar. hatinya menjerit ingin sekali menghampiri putranya. tapi, kesalahan adam yang menurutnya sudah diluar batas sungguh membuat venty tak ingin memaafkannya.
"kak, ayo.." pinta Arnold, menarik paksa venty yang diam saja tak bergeming.
dok...
dok...
dok.
suaranya terdengar semakin keras dan tak beraturan. karena Adam mengetuknya dengan brutal, dia tak akan menyerah sampai venty mau bicara dengannya.
"ibu...aku mohon.... ibu... aku merindukan mu."
Venty menahan napas nya. suara Adam begitu membuatnya ingin sekali berlari ke arahnya. venty menghentikan langkahnya..
"Arnold, biarkan aku menemuinya sebentar saja." pinta venty. Arnold terlihat berpikir.
"tapi...." melihat wajah venty yang seperti itu membuatnya tak bisa memaksakan kehendak nya sendiri. "baiklah. aku akan membuka pintunya."
Venty duduk di sofa dengan tangan yang saling bertautan, menunggu kehadiran Adam. tak bisa dia pungkiri, rasa rindu terhadap putra nya begitu membuncah.
"ibu... " Adam berlari lalu memeluk tubuh venty. perlahan tangan venty terangkat, mengelus punggung Adam.
"aku tahu.. aku salah bu. aku menyesal..." isaknya. venty menggigit bibirnya, selama ini Adam tak pernah seterpuruk ini. mendengar tangisannya membuat venty yakin kalau putra semata wayangnya ini begitu menderita sekarang.
"apa yang terjadi?" tanya venty. Adam melepaskan pelukannya, tangannya masih menggenggam tangan venty dengan erat.
"Jessy.. hamil..." ucapnya lesu. venty mengerutkan keningnya, kenapa jika Jessy hamil memang nya?
Melihat raut venty yang kebingungan Adam kembali bicara. "dia bukan anakku."
"a.apa? dari mana kau tahu?"
"kehamilan nya sudah besar.. menginjak 4bulan." jelas Adam.
Venty tak bisa berkata apapun. dia sangat terkejut sehingga kehabisan kata-kata. Arnold tertawa remeh seraya mendudukan dirinya di sofa depan Venty.
"sudah ku bilang bukan? kau akan menyesali semuanya Adam."
Adam terdiam. ya, semua benar. dia baru menyadari kalau karma itu berlaku, jika dia menyakiti hati seseorang maka suatu saat nanti pasti akan merasakan hal yang sama bahkan lebih menyakitkan.
"lalu, kau mau apa sekarang?" tanya arnold.
"ibu, aku ingin bercerai dengan nya."
Venty tersenyum getir, dia merasa kalau Adam begitu bodoh.
"kenapa mengatakan nya pada ibu. saat kau menceraikan nya apa kau minta pendapat ibu?" pertanyaan venty membuat Adam membisu.
"urus masalah mu sendiri, Adam." ujar venty.
"dia istrimu sekarang, jadi bayi yang ada dalam perutnya adalah kewajiban mu mulai sekarang."
"ibu..."
"Adam, kau sudah dewasa. jangan karena emosi sesaat kau kembali menyesal. cukup Reva yang kau sakiti. sekarang kau berusaha lah hidup dengan baik, urus istri dan calon anakmu."
Adam meremas tangannya. "ibu..kau menerima Jessy...."
"tidak, sampai kapanpun ibu tak akan menerimanya." potong venty cepat. Adam menelan ludahnya.
"hum.. sudahlah. kau pulanglah, urus masalahmu. Jessy tanggung jawabmu. kau sudah berjanji pada orang tuanya untuk menjaga dan terus mencintainya seumur hidupmu." tukas Arnold.
Adam merasa semua ucapan venty dan Arnold bagai Sambaran petir di siang bolong. keduanya begitu sependapat, tak ada satupun dari mereka yang memihak kepada nya. sekarang rasa penyesalan itu terasa semakin dalam menggerogoti hatinya.
Di lain tempat, Reva terlihat begitu bahagia. tertawa senang dengan Amel dan Lexy di Lotte world, merayakan kenaikan jabatan lexy. ini ide Amel, gadis itu begitu bersemangat mengajak keduanya.
"Lexy, kau punya pacar?" tanya Reva. Lexy menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Reva yang berjalan di belakang nya.
"kau ingin mendekati ku?"
Reva terkekeh.."kau ini. aku hanya ingin bilang, kalau kau punya pacar ajak sekalian kesini."
"eoh.. ku pikir kau tertarik padaku." Lexy mencebikkan bibirnya. jujur saja Lexy tak masalah jika Reva memang menyukai nya.
Pria itu tak akan menolak jika seorang gadis cantik menaruh hati padanya, ya itu suatu yang normal bukan?
Reva dan Lexy duduk di bangku panjang yang ada di sana, memperhatikan Amel yang tengah mencoba mengambil boneka dari mesin.
"pacarku sudah menikah." ujar Lexy kemudian membuat reva melihat ke arahnya.
"ah. maaf.."
"tak apa. bagaimana dengan mu?"
Reva menghembuskan napas. apa dia harus menceritakan semuanya pada Lexy. rasanya tak pantas jika aibnya di sebarkan begitu saja.
"aku.. ah.. entah lah. ada yang suka atau tidak padaku saja.. aku tidak tahu."
"jangan bercanda, kau cantik."
"yah?"
Lexy memutar pandangan ke arah lain, ucapannya salah. tak seharusnya dia mengatakan itu.
"eum.. maksudku.. tak mungkin tak ada yang tertarik padamu.. kau gadis yang baik."
Reva tersenyum samar mendengar nya. "benarkah? tapi, aku rasa kau salah."
"kenapa?"
"hah.. kau tak tahu Lexy, ada seseorang yang begitu membenci ku."
"siapa?"
"um.. seseorang yang...."
"kakak.. lihat aku berhasil mendapatkan nya..." Amel berlari riang sambil membawa boneka beruang yang di apit di kedua tangannya.
"wah.. kau hebat." reva langsung berdiri, mengambil boneka itu.
Lexy menghela napas, dia dapat melihat tatapan Reva yang meredup sendu tadi. dan itu berhasil membuat hatinya berdesir tak beraturan. seolah dapat merasakan apa yang di rasakan reva. di balik senyuman nya yang ceria seperti nya terdapat luka yang tak bisa di sembuhkan begitu saja.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Lexy, dia merasa lucu karena hati nya dengan mudah tertarik pada gadis yang baru dikenalnya beberapa minggu ini.
***semoga hari kalian menyenangkan... makasih udah setia sama cerita author yang gaze ini.