Nindi seorang gadis belia yang masih duduk kelas akhir bangku menengah atas. terpaksa harus menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husnel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Setelah selesai sarapan , pak RT pun duduk bergabung dengan kami.
" Apakah bapak ini Ayahnya nak Ardian". tanya pak RT ramah.
" Iya pak, saya baru datang semalam, ya maklumlah, orang petualangan seperti saya emang seperti ini" jawab pak Nugraha bercanda
" Ah bapak bisa aja,, ha... ha.. Gimana sarapannya, apa bapak suka". tanya pak RT basa basi.
" Wah enak, kalau tidak.. pasti bersisa, Oh ya pak, saya mau cari tempat usaha, dekat sini apa ada tempat kosong yang bisa dibangun atau ditempati". Tanya pak Nugraha.
" Oh ada pak, disebelah rumah bapak itu kan ada tanah kosong, rencana mau dijual, kalau boleh saya tau, mau buka usaha apa pak. tanya pak RT lagi.
" Maaf sebelumnya ya pak, ini kami rencana mau buat kafe, kalau bapak tidak keberatan, nanti kita bisa kerja sama,". ungkap pak Nugraha.
" kalau masalah detilnya nanti kita lanjutkan, setelah tanah itu dapat". kata pak Nugraha.
" Oh... Nanti saya tanya pemiliknya ya pak".
jawab pak RT.
" Bapak jangan pikirkan macam macam. nanti usaha kami tidak akan mematikan usaha bapak, bahkan kalau dapat kerjasama kita ini akan menambah omzet bapak". ungkap pak Nugraha menjelaskan.
Pak RT mendengar penjelasan pak Nugraha, jadi semakin semangat.
" Mudah mudahan ya pak, kehadiran keluarga bapak membuat warga disini senang dan sejahtera ". harapan pak RT
" Amin, mudah mudahan ya pak, Ardian sudah cerita tentang lamaran kemaren, dan bisa kita arahkan ke usaha ini, kalau bapak tidak terganggu". ucap pak Nugraha.
" Ah tidaklah pak, bahkan saya merasa senang, kalau itu terjadi, jadi kami tidak takut dan kegelapan lagi. sebab di sana kan tanah kosong, biasanya dipakai untuk main bola bagi anak anak". jelas pak RT lagi.
" oh, apakah tidak marah pemuda di sini kalau tempat itu dibangun, takutnya nanti ada yang protes" ungkap pak Nugraha.
" Tidaklah pak, tanah itu kan. pemilik sah sudah ndak ada lagi, tapi ada satu anaknya merantau ke Malaysia, dan sudah jadi warga di sana. tapi istrinya masih saudara sama istri saya..
Nanti biar saya bicarakan dulu sama istri saya ya pak, kalau ok saya kabarin lewat nak Ardian saja". ungkap pak RT.
" Oh gitu, gimana kami langsung ke rumah bapak saja, setelah Ardian pulang kantor". kata pak Nugraha penasaran.
" Boleh lebih bagus. saya tunggu ya pak". kata pak RT senang.
Setelah sarapan dan percakapan panjang, kamipun pamit pulang. Pak RT tidak mau menerima uangnya pak Nugraha. katanya tanda perkenalan.
Sampai di rumah, kami melihat tanah lapang yang di samping rumah. " Cukup luas ya mi, kalau kita buat kafe dan mini market pun bisa lo mi". ungkap pak Nugraha pada istrinya.
" Iya mi, mami suka, lagi pula samping rumah lagi, jadi Nindi dan Ardian tidak jauh untuk mengontrol nya". kata buk Rasti ikut senang.
Nindi Pun bahagia. karena dekat dari rumah.
Setelah sore Ardian dan Angga pulang dari kantor. Ardian langsung mencari istrinya.
yang ternyata berkutat dengan bik Ina di dapur sedang buat kue.
" Buat apa sayang, kok sibuk banget.". ucap Ardian memeluk istrinya dari belakang.
" Eh kakak, pilih tempat dong.. malu sama bik Ina". kata Nindi merajuk.
" Kalau begitu kita ke kamar yuk". kata Ardian menggoda istrinya.
Bik Ina yang mendengar senyum senyum saja.
Sekarang juragannya jadi Bucin , selalu menggoda istrinya. muka Nindi memerah seperti tomat matang karena ulah suaminya.