Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilham kecewa
Pagi hari, Sifa bangun dengan wajah sembab.
Agar tidak terlalu kumal dan sembab, Sifa membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum ia ingin mengacak acak dapur untuk membuat sesuatu
Setelah bersih, dan memakai pakaian yang kemarin dikasih oleh Najwa, walaupun lewat telepon sih, akhirnya Sifa berjalan menuju dapur.
"Mbok" Panggilnya
"Eh non, jam segini sudah cantik, mau simbok buatkan sesuatu?"
"Malahan Sifa ingin buat sesuatu mbok. Oiya, simbok masak apa? Sifa bantuin ya mbok?"
"Sudah, non istirahat saja, mau dipajang, jangan terlalu capek didapur" Nasehat simbok
"Tapi kalau Sifa nganggur, tambah capek mbok. Oiya, itu pepaya mau diapain mbok?"
"Pepaya buat sayur bening non, buat ntar siang"
"Semua?"
"Ya dibagi dua, kalau enggak bagi tiga"
"La terus, sekarang simbok mau masak apa?"
"Nasi goreng non"
"Kok, dimana mana sarapannya nasi goreng ya mbok? apa, orang kaya itu cinta mati sama nasi goreng ya mbok"
"Ahaha, itu kesukaan tuan besar, sama tuan dokter non... Pokoknya poreper nasi goreng haha"
"Memang, nasi semalam ada sisa?"
"Tidak non"
"Wah, kerja dua kali mbok. Begini mbok, gimana kalau pepayanya dibikin sambal goreng saja, emmp, diongseng. Enak mbok, cocok buat teman nasi waktu sarapan. Kalau simbok bingung, simbok yang marut pakai parut gebral, Sifa yang bikin bumbunya. Terus, entar goreng tempe sama telur dadar, pasti makannya nambah"
Simbok manggut manggut
Setelah pepaya mentah sudah selesai diparut, bumbupun sudah dibikin, Sifa mulai mengongseng. Wangi bawang putih geprek sudah membuat iler ngalir kayak pancuran.
Setelah rempah lain diongseng dan wangi, lanjut dikasih air, barulah parutan pepaya dimasukkan
"Tunggu biar matang dan airnya menyusut mbok"
"Wah, pelajaran baru buat simbok non. Eh, terus dikasih kecap nggak non?"
"Nggak usah, enakan begitu, pedes pedes gimana gitu. Mbok, Sifa mau bikin kue lumpur. Tepung tepungan dimana mbok?
"Wah, tuan dokter semok nanti non, tiap hari menu jajannya ganti ganti melulu" Simbok ngobrol, tapi tangannya sibuk menunjukkan barang yang Sifa inginkan
"Kan Sifa sudah bilang mbok, badan Sifa akan capek kalau tidak ada aktifitas" Begitupun Sifa, tangannya sibuk dengan apa yang akan ia bikin
Setelah adonan encer selesai, Sifa mulai menata cetakan diatas kompor, dan memasukkan bahan kue kedalam cetakan tersebut.
Beberapa menit kemudian,
Dengan telaten, Sifa mengangkat satu persatu kue lumpur dari cetakan
"Emmmp haruuum"
"Minta dibantuin nggak non?"
"Nggak usah mbok, simbok goreng tempe sama telor aja, ini biar Sifa yang nerusin"
Akhirnya simbok goreng tempe tanpa tepung, reques Sifa.
Simbok sibuk menata piring, gelas diatas meja makan. Karena tangan Sifa memang terampil, Sifa mengambil beberapa bawang merah lalu mengirisnya
"Memangnya, kue lumpur dikasih irisan bawang ya non?"
Sifa menaruh irisan bawang diwajan yang masih ada tempe yang digoreng "Tuh" tunjuknya pada wajan
"Oh, iya non, simbok lupa" Cengirnya
-
Wahidah dan Anand sudah berada dimeja makan
Wahidah menatap menu ndeso yang sudah lama tidak ia rasakan
"Mbok, tumben ada ongseng pepaya?"
Simbok berjalan mendekati sambil membungkuk "Maaf nyonya, apa nyonya tidak suka dengan menu hari ini?"Lirihnya
"Oh tidak masalah mbok, cuma tumben aja. Eh ada tempe goreng sama telur dadar, wah cocok pih. Oiya, Sifa sudah keluar belum mbok?"
"Tanyanya satu satu mih, simboknya bingung"-Anand
"Ah papih, semangat aja pih, kan kita mau ngangkat mantu ?" Wahidah sambil menyentong nasi untuk Anand
"Serah mami"
"Papi ingin mencoba masakan jadul? harumnya menggoda pih"
"Iya deh, sekalian tempenya, eh itu dikasih apaan kres kres dikasih telur ya?"
"Bukan, itu irisan bawang goreng. Sudah cobain. Eh Sifa mana mbok?"
"Non masih sibuk bikin ini nya"
Simbok membawa kue lumpur buatan Sifa
Wahidah mencium uap yang masih melayang keudara
"Emmmp haruuum, Sifanya mana, disuruh sarapan dong"
"Nanggung katanya nya, tinggal sedikit lagi"
"Masa, penasaran aku mbok"
Wahidah berdiri
"Bentar ya pih"
Wahidah berjalan menuju dapur yang terhalang partisi
"Emmmp, kalau tiap hari Ilham dibikinin camilan gonta ganti, bisa jadi buto ijo dia mah"
"Kok"-Sifa bingung
"Iya, Ilham badannya gede, tinggi pula orangnya, kalau tiap hari dikasih kosentrat melulu, apa nggak gemuk dia"
"Haha, memangnya ayam. Ya enggak kak, kan pakai aturan. Ini camilan untuk pagi pagi saja. Kalau siang, bapak pasti makan yang berat berat"
Wahidah memperhatikan Sifa mengangkat kue lumpur, tapi sedetik itu Wahidah melihat wajahnya Sifa terlihat sembab. Wahidah memegang pundak Sifa dari belakang
"Kamu kenapa? semalam kamu habis nangis ya? kenapa? apa kakak telah menyinggungmu?"
Sifa geleng geleng
"Emmp, sekarang Sifa sudah nggak kerja, tapi utang Sifa banyak" Ucapnya sendu
"Utang sama siapa? berapa? tetanggamu?"
"Bukan tetanggaku"
"Lalu? bank?"
"Bukan?"
"Siapa?"
"Bapak"
"Hah?? hutang apa kamu sama Ilham ?"
"Utang seratus jutaan"
"Seratus juta... Maksudnya?"
"Kemarin Sifa menguras habis duit bapak buat beli baju, Sifa takut nggak bisa bayar"
"Memang yang minta dibayar itu siapa?"
"Nggak ada, tapi Sifa malu kak, bukannya Sifa bantu, malah ngabisin"
"Ahaha ahaha, sudah jangan dipikirin, sekarang sarapan. Dan, kita akan kerumah sakit bawa undangan, sekalian bawa kue lumpur ini. Bagaimana?"
"Iya kak"
Wahidah berjalan menuju meja makan lagi
"Wih papi, diem diem makannya nambah"
-
Setelah selesai sarapan, Wahidah dan Sifa akhirnya meluncur kerumah sakit
-
Ilham bangun pagi sekali, setelah rapih, Ilham langsung menuju dapur.
Ilham berharap, hari ini tersedia sarapan nasi liwet seperti dua hari yang lalu, yang pernah simbok janjikan
Ilham duduk dimeja makan
"Sarapan wan" Simbok menyerahkan secangkir kopi dan roti tanpa kulit isi selai anggur
Alis Ilham sudah nyambung
"Sarapannya begini? "
"Iya wan" Jantung simbok sudah bergetar seperti menemui dept colector
"Nasi liwet yang simbok janjikan mana? apa berasnya habis?"
Simbok diam
"Haduh non, yang bikin masalah non, Eh. sekarang non malah nggak nginap lagi disini. Nasiiiiibbb"
"Eh hehe , non Sifa kenapa nggak nginep lagi disini wan?"
"Heh, nanti seminggu lagi"
"Yess"-Simbok
"Kelihatannya, mbok siti girang banget kayak nemuin lotre"
"Ehehe, non kan anaknya ramah wan"
"Oiya ? darimana simbok tau? kan hanya semalam nginep"
"Dari penampilan wan" Mbok Siti tambah menjengkelkan dimata Ilham
"Modus ya mbok, biar saya nggak nanya nanya"
"Bener tuan"
"Sudahlah, lama lama berurusan sama simbok bukannya kenyang malah naik darah, saya berangkat mbok"
"Roti sama kopinya?" Simbok mlongo
"Habisin simbok" Mbok Siti tambah mengangah
Kedua kalinya Ilham sudah dibikin kecewa sama mbok Siti
-
Siang itu, Wahidah dan Sifa, mengantarkan surat undangan segepok kerumah sakit, tapi Wahidah buru buru karena ada kepentingan urusan arisan.
Wahidah hanya memberi pesan kepada Ilham saja masalah undangan
"Sifa, kakak tunggu disini ya? kamu yang masuk . Sekalian antar undangan ini, taruh aja dimeja. Kakak sudah chat sama Ilham"
"Iya kak"
Akhirnya Sifa turun dan berjalan menuju ruangan dokter Ilhamnya
Bersambung....
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx