Menikah bukan berarti jodoh sudah bermuara pada tempatnya. Terkadang Tuhan hanya mempertemukan, namun tidak menyatukan.
Senja adalah perempuan korban dari perjodohan kedua orangtuanya, niat hati untuk mengabulkan keinginan orang tuanya, membuat Senja harus menelan pahit sekelumit kisahnya sendiri.
Seperti apa kehidupan Senja setelah menikah????
Akankah ia temukan kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
visit to Biru's house
SENJA
+082134567×××× CALIING
New number is Caliing, "Kira-kira siapa ya? Duuh mau angkat tapi takut Mas Dewo," aku berdiri menghindar dari Risa juga Alan dan Viona yang duduk dimeja sebelah.
"Ris, aku angkat telfon dulu ya." Risa yang sedang menyuapkan sesendok lasagna, mengangguk tanpa menoleh.
Assalamualaikum
Onttyyyyyy.... Kok Onty ketemu sama Onty Vio enggak ajak Biru.
Onty Vio? aku menatap ke arah Viona yang ternyata sedang menatapku, melambaikan tangan sembari memperlihatkan ponselnya yg menampilkan pesan singkat sembari berbisik "Sorry" dengan wajah dipenuhi senyum jahilnya.
Hufft Ternyata Biru yang telfon, setelah Viona kirim foto aku ke Biru.
Iya, Bi... Onty gak sengaja ketemu sama Onty Vio didekat sekolah.
Aku mau sama Onty, Mau sama Onty.... suara Rengekan Biru mulai terdengar serak, Mungkin dia mulai menangis.
Besok kita ketemu disekolah ya, Bi....
Enggak mau maunya Sekarang! Biru mau sama Onty. Suara Biru bersautan dengan suara Perempuan yang ikut membujuk Biru, Tapi bukan diam malah terdengar semakin kencang tangisannya
"Kasihan Biru, Kak! Kakak ikut kerumah ku sebentar ya?" ucapan Viona semakin membuatku kebingungan, harusnya siang ini aku kerumah Mama Sinta.
Tapi entah kenapa, Ide Viona juga sedikit memberi angin segar untukku. Ya, dari tadi memang udah ngerasa gak semangat aja mau kerumah Mama Sinta, lebih tepatnya karena aku takut mertuaku akan mempengaruhi masalah perceraian ku.
"Mau, ya?" ujar Viona menagih jawaban.
Bi... sebentar ya, kalau Onty gak sibuk nanti Onty main kerumah Biru, kemudian aku tutup telfonnya.
"Aku pamit sama temanku dulu ya, Vi."
Risa yang sudah menghabiskan hampir semua makanan dimeja, menatap lekat kearahku, "Ada masalah, Nja?"
"Aku mesti balik dulu deh, Ada urusan sebentar sama Viona,"
"Yah, terus aku balik sama siapa dong?"
Belum Aku menjawab, Seperti biasa Sang Puckboy SiAlan selalu punya seribu satu ide untuk semua perempuan dimuka bumi.
"Kan ada aku, Risa... Nanti biar Abang Alan antar ya,"
Abang?? ieeuuuhh baru aja godain Viona, sekarang udah pindah jalur lagi!
Aku hanya memutar mata malas, kemudian pamitan dengan Risa dan meninggalkan cafe bersama Viona.
"Biru pasti senang banget nih, Kakak mau datang," ucap Viona yang fokus memegang kemudi mobil.
Sepanjang perjalanan, aku dan Viona saling bertukar cerita, hingga akhirnya aku mengetahui jika Viona ternyata bekerja mengelola perusahaan mendiang Ayahnya bersama Pak Awan.
Tidak sampai 20 menit, mobil yang Viona kendarai tiba disebuah Rumah megah dengan Fasad megah, dan beberapa pilar yang menjulang tinggi.
Waahh ini rumah apa istana?
Ternyata dekat sama sekolah, mungkin kalau pagi pasti terkena macet, tapi harusnya gak membuat Biru sampai sering terlambat datang ke sekolah.
Viona mengajakku untuk turun dari mobil dan masuk kerumah mewahnya,"Biru.... Liat ini Tante bawa siapa?" Viona berteriak dari arah tangga.
Biru yang sedang berada dalam gendongan Oma-nya langsung sumringah begitu melihat aku yang datang bersama Viona.
Anak laki-laki itu memaksa turun dari gendongan Oma-nya dan berlari menghampiri ku, kemudian menghambur kepelukan ku, "Onty..... Biru kangen sama Onty, Biru mau sama Onty,"
Aku angkat tubuh kecil itu kedalam gendonganku, "Biru kangen ya, sama Onty juga..."
"Alhamdulillah... akhirnya bisa datang kesini juga Ontynya, dari kemarin Biru ngerengek Mulu, maunya sama Onty." ucap Mama Utari.
Biru sudah tak menghiraukan apa yang dibicarakan Oma-nya, Ia memeluk erat tubuhku seakan tak ingin ditinggalkan.
Tak terasa hampir 2 jam lamanya aku menemani Biru main dirumahnya, sembari ditemani Mama Utari ngobrol.
"Tante seneng, Senja mau main kesini. Selain Biru jadi enggak rewel lagi, Tante juga jadi ada teman ngobrol, Makasih ya, Nja... Jangan kapok main kesini,"
"Iya, Tante. Justru Senja minta maaf kalau kedatangan Senja jadi ganggu waktu Istirahat Tante,"
"Enggaklah, sama sekali enggak ganggu,"
Biru merangkak mendekatiku kemudian mengalungkan tangan dileher sembari mendudukkan diri kepangkuan ku, "Onty, Biru mau makan kue,"
"Biru mau makan kue? Kue apa?"
"Gimana kalau kita bikin cookies coklat kesukaan Biru, dibantu sama Onty Senja?" Usulan Mama Utari disambut teriakan riang oleh Biru.
...----------------...
Mama Utari
Aku menunjukan sebuah foto yang Viona kirimkan melalui pesan singkat, Foto Senja dengan caption, Onty Vio meet with Onty Senja.
Setelah melihat Foto tersebut, Biru langsung merengek meminta untuk menelfon Senja, beruntungnya aku menyimpan kontak semua wali kelas Biru disekolah.
Tidak mau membuat cucu kesayangan ku semakin rewel, aku pun mendial nomor Senja dan membiarkan Biru untuk mengobrol dengan guru kesayangannya.
Saat telfon ditutup, Biru malah semakin uring-uringan ingin segera bertemu dengan Senja. Ah gara-gara Viona Ini! aku kirim pesan saja ke Viona untuk bawa Senja kerumah.
Melihat Viona datang membawa Senja bersamanya, membuat Biru sangat gembira. Setelah bermain bersama Biru, aku menilai jika Senja ternyata perempuan yang sangat lembut dan telaten dalam mengasuh anak.
Pantas saja Biru menyukai Senja
Beberapa bulan setelah kelahirannya, Biru yang kala itu baru belajar tengkurap dan seharusnya masih membutuhkan Asi eksklusif dari Mamanya, harus mengalami kesulitan karena keegoisan Mamanya yang lebih memilih karier nya sebagai model ketimbang mengurus suami dan anaknya.
Praktis sejak saat itu, Biru yang tinggal terpisah dari Mamanya, sama sekali tak mendapat kasih sayang dari seorang Ibu. Yah walaupun sebagai Oma, Tante, dan Papanya selalu melimpahkan kasih sayang, tapi tetap Saja Ia selalu merasa kurang, apalagi saat melihat teman-temannya yang selalu bersama Ibu mereka.
Melihat Biru dan Senja terlihat begitu akrab tak berjarak, membuatku sedikit terenyuh, apalagi melihat Biru yang selalu menggelayut manja seakan tak ingin jauh dari perempuan itu.
"Onty, Biru mau makan kue,"
"Biru mau makan kue? Kue apa?"
"Gimana kalau kita bikin cookies coklat kesukaan Biru, dibantu sama Onty Senja?"
Aku mengajak Senja membuat Cookies coklat kesukaan Awan dan Biru.
"Senja gak begitu pintar bikin cookies, Tante,"
"Gak apa, Senja lihat sambil bantuin saja Ya."
Biru menghampiri Senja dengan apron mini kepunyaannya, "Sini Onty pakai kan"
Setelahnya, Senja membantuku menyiapkan bahan kue dan mulai membuatnya, Meski bilang tidak pandai membuat kue, cukup hanya dengan memberi arahan saja, dia sudah terlihat mahir dalam membuatnya. Dan ternyata, perempuan ini cukup responsif dan banyak tanya.
Bedanya margarin sama mentega apa, Tante,?
Kenapa harus pakai coklat batang juga, Tan? Kan tadi udah pakai coklat bubuk?
Choco chips nya kapan dituangin?
Wahh tenyata bikin Cookies gampang ya, Tan!
Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang Senja lontarkan selama proses pembuatan kue, Mudah sekali akrab dengan Senja, pantas saja Biru suka.
"Hmmmm, wangi apa ini? Pasti lagi pada bikin kue ya," tebak Viona yang keluar dari bilik kamar dengan tampilan yang sudah berubahan, mengenakan dress rumahan yang lebih santai.
"Sini Onty, aku bikin kue sama Oma sama Mama,"
Aku menoleh kearah Senja yang menjatuhkan Spatula setelah mendengar ucapan Biru, mungkin Senja terkejut dengan sebutan Biru untuk dirinya.
"Mama??" tanya Viona dengan mengulum senyum.
"Onty, Sayang..." ucap Senja meralat.
"Emang kenapa aku gak boleh panggil Mama ke Onty sih? Onty enggak mau ya jadi Mamanya, Biru." protes Biru.
Ingin sekali rasanya menertawakan muka merah Senja yang salah tingkah karena celotehan Biru, "Bi.... Sekarang panggilnya Onty dulu ya, panggil Mamanya kapan-kapan,"
Muka Senja tetiba menegang dengan jawaban yang ku ucapkan, semburat kekhawatiran muncul di wajahnya, apakah aku salah bicara?
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalaam," Rasa penasaranku terpotong dengan ucapan salam dari arah pintu.
"Papa... Aku lagi bikin kue sama Mama sama Oma..." teriak Biru kegirangan ketika melihat Awan datang.
Mendengar Biru mengulangi kata-katanya, Lagi-lagi aku menoleh melihat Senja dengan raut muka yang masih saja datar, "Mungkin memang benar ada yang salah"
"Cobain nih, Bang! Biru habis bikin kue sama Kak Senja, enak banget loh..."
"Senja?"
lu yg tinggalkan anak dan suami lu demi karir modelmu.
egois lu Jihan dan gak tahu malu.
Setuju banget mak, mencintai orang yg Sama dg waktu yg lama dan harus setiap hari tanpa lelah Dan bosan.
Mantap mak pesannya. Angkàt topi untukmu.
Alamak.......mantap banget kata²nya Thor.
"I know... Tapi, jika suatu saat kamu merasa ingin memulai kembali berpetualang, aku ingin kamu tahu, ada aku dan Biru yang siap menemanimu untuk kembali berpetualang, mencari seperti apa rupa kebahagiaan dan membangun tempat untuk kata Pulang,"
Bukan kata dan rayuan gombal tapi juatru kata² oenuh makna ini yg bikin hati aq juga ikut meleyot Bang Awan.