Hidup ku tampak sempurna, dan sepertinya kebahagiaan itu berpusat pada ku, namun ternyata ada yang di sebut dengan derita!
Hidup Sky yang tampak sempurna, hancur perlahan. Sky, siswa SMA yang jatuh cinta pada kakak kelasnya. Gayung bersambut hubungan itu lanjut hingga bertunangan. Di hari pertunangannya, Sky mengetahui sang kekasih berselingkuh.
Sementara itu Sky sudah larut dalam arus dengan seorang siswa yang begitu di takuti di sekolahnya, hingga dia pun hamil.
Di buang oleh keluarga, hingga harus berjuang sendiri. Bagaimana Sky akan bertahan?lantas cinta mana yang akan menemukan Sky?
Hampir Putus asa dan menyerah, namun akan selalu ada terang yang menuntun langkahnya.
#Baca deh, jamin mewek!
#Author receh, pasti up setiap hari..
#Semoga suka, kecup basah buat semua nya..😘😘
#Romance#Cinta#Airmata#Kebahagiaan#Perjuangan Hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan
Hey, jantung..bisa kah kau berdetak biasa saja saat didekatnya??dan Hey, mata... sampai kapan kah kau tak puas mencarinya??
Bumi juga lah yang memberi kode pada Bintang saat melihat Helen menghardik Sky.
Tapi yang kini membuat Bumi bingung, kenapa wajah ceria gadis itu saat melihat nya tadi berubah jadi kesal? "Apa potongan rambut gue salah ya?dia ga suka kali ya sama model gini?tapi banyak bilang bagus..Ih, dasar cewek sarap!" batin Bumi.
Kali ini Sky tak menghabiskan baksonya seperti biasa, mood nya berubah hingga mempengaruhi nafsu makannya. Tinggal 2 butir sih bakso nya, dan itu juga langsung di comot Lena. "Udah kan ya?ayok balik ke kelas Len, malas aku lama-lama di sini" ucap Sky tak sekalipun menoleh ke arah Bumi yang berharap mendapat senyuman.
Melihat Sky pergi tanpa menoleh padanya, Bumi pun hanya bisa menahan kecewanya. "Udah, balik yuk" tanpa menuggu ketiga temannya menghabiskan makanannya, Bumi sudah berjalan
"Si t*i, arah nya salah, kelas lu dimana?" ucap Bintang yang buru-buru mengekor langkah Bumi. "Malas, gue mau cabut!".
Hingga jam pulang sekolah, Ke empatnya asik bermain gitar di warung mang Jaja. Saat murid lain masih berkutat dengan pelajarannya, pandangan Bumi juga tak lepas dari Sky yang tampak serius memperhatikan guru yang tengah menerangkan di depan kelas.
Nyatanya, Sky hanya pura-pura serius, bukan nya dia tidak tahu kalau Bumi memperhatikan dirinya, namun gadis itu masih kesal, karena Bumi dekat-dekat dengan cewek di kantin tadi.
Bel berbunyi, diiringi sorak Sorai yang terdengar bergemuruh dari tiap kelas. Apa lagi yang membuat siswa bahagia, selain mendengar bel tanda pulang.
Cinta memang tak mengenal logika. Tadi karena amarah dan rasa kesalnya, Sky udah berjanji dalam hati untuk menghindari Bumi, itu dua jam lalu, sekarang dia malah bersemangat keluar dari gerbang belakang menuju warung mang Jaja, dan tanpa di sangka nya Lena ikut. "Mmm..maaf Bu, kok ibu ngikutin saya ya?biasa nya kan lewat gerbang depan" tanya Sky berhenti. Dia kira Lena mengekori nya untuk melarang dirinya menemui Bumi.
"Hehehe, gue khawatir lu ilang, Sky" Lena cengengesan. Akhirnya Sky paham maksud Lena mengikutinya.
Ketiga pria tampan yang sedang main gitar dan ada yang tidur di lesehan, terkejut atas kedatangan tiba-tiba dua gadis cantik yang tersenyum pada mereka. "Mimpi apa gue, di datangin dua bidadari?nape neng, selendang nya ilang?"goda Bintang.
"Ih..kak Bintang, bisa aja" Sky sudah duduk di dipan tempat Bintang tadi rebahan. Lena ikut duduk, namun matanya terus ke arah Agus yang sedang bermain gitar tadi.
"Kenalin ini Agus, yang ini Ryan, tapi biasa kita panggil Bodat" tutur Bintang, yang langsung mendapat tendangan dari Ryan. Sedangkan Lena hanya tersenyum dan tak mau melepaskan genggaman tangannya pada Agus saat bersalaman. "Jadi ini yang kamu bilang mirip So Joong Ki itu?" bisik Sky ikut menatap Agus, setelah pria itu susah payah melepas tangannya. Lena hanya mengangguk tanpa sedikit pun melihat Sky, pandangannya masih mengunci sosok pria yang kini menguasai hatinya.
"Mmm..kak, kok cuma bertiga?" Ucap Sky malu-malu. Hanya mengucapkan itu saja jantung nya kini mulai ber-disko.
"Pake basa basi, lu mau nanya si planet Bumi??"
"Hehehe..." cengir Sky sambil mengangguk. Pipinya kini bersemu merah.
"Da pergi lah, ngamar sama cewek nya. Biasa lah, cewek nya posesif, minta jatah sama dia" ucap Bintang cuek, menenggak Coca cola nya santai. Namun tidak dengan Sky, setelah mendengar perkataan Bintang, wajah gadis itu menunduk, memerah, bahkan kini sudah sampai ke kupingnya. Kulit putih gading nya membuat wajah nya sudah sepertu kepiting rebus. Hati nya panas, begitu juga dengan matanya yang kini di penuhi genangan air mata.
Sekuat mungkin sudah di tahannya, dia tak mungkin menangis di depan teman-temannya, di remat nya ujung rok nya, sebagai penahan sedihnya. "Mulut lu gada filter nya ya,bisa di saring ga kalau ngomong" bentak Bumi yang keluar dari dalam warung berbentuk gerobak itu. Bumi sedari tadi sudah mendengar pembicaraan mereka, saat Sky dan Lena mampir, Bumi yang sedang tidur-tidur ayam itu terbangun, namun mengurungkan niatnya. Ada perasaan gembira dalam hatinya, saat tahu Sky datang mencari nya, yang dia sendiri tak sadari sejak kapan perduli pada kehadiran gadis itu.
"K-ak Bu-mi..huaaaaaaaaa..." tangis Sky pecah, mirip tangis bocil yang layangannya nyangkut di pohon. Semua pada kaget, begitu juga Lena, apa lagi Bumi. Dia tidak merasa sudah menzolimi anak orang. "Kok malah nangis, yang gue tampol kan si Bintang? malah lu yang mewek"
Namun Sky bukan berhenti, malah tetap menangis, tak mau mengatakan alasannya menangis. Bumi akhirnya menarik tangan Sky, naik ke motornya lalu pergi dari tempat itu. Bumi singgah sebentar ke indoapril untuk beli eskrim Magnum, hanya itu cara yang dia ingat yang bisa membuat Sky diam.
Kini kedua nya duduk di salah satu kursi di taman kota. Sky sudah diam, dan kini asik menjilati eskrim nya."Ini cewek benar-benar masih bocah ya, tadi nangis nya udah kayak anak di tinggal mati emak nya, giliran di kasih eskrim, cepat amat diam" batin Bumi melirik Sky yang masih asik dengan eskrim nya.
"Kenapa liatin aku kak? kakak mau?" sosor Sky. Namun Bumi menggeleng dan sedikit menjauhkan tubuhnya ke belakang. "Ayo kak, cobain" ujar Sky masih memaksa.
"Ga, gue ga suka yang manis" ucap Bumi sedikit membentak.
"Ih, nyebelin. Aku kan lagi sedih, pokoknya kakak harus cobain" masih tetap ngeyel. Bumi menatap manik coklat itu, ada rasa kesal, namun entah mengapa dorongan untuk membuat gadis itu senang lebih besar. Dan Hup! Bumi menggigit eskrim itu dan cepat-cepat menelannya.
"Puas lu?"
"Hehehe.."hanya tawa sebagai jawaban.
"Kenapa lu tadi nangis?"
"Oh..lupain aja"
"Di tanya, di jawab dong"
"Aku malas jawabnya" masih terus sibuk dengan jilatannya, membuat Bumi menelan saliva nya berat, bukan karena pengen lagi mencicipi eskrim itu, tapi lebih ingin menghis*p lidah yang sedang meliuk-liuk di batang eskrim coklat itu. Ada sesuatu di bawah sana yang ikut menegang. Segera di geleng-geleng kan kepalanya, menghalau pikiran kotornya.
"Ya gue pengen tahu, jangan-jangan lu kesambet tadi ya? masih enak-enakan cerita sama mereka tiba-tiba aja nangis"
"Kakak mau tahu?aku kesal sama kak Bintang. Aku sedih, marah sama apa yang dia bilang. Aku takut kak, kalau yang dia bilang tadi itu benar, bisa mati aku!"