Update setiap : Rabu, Sabtu, dan Minggu.
Agatha Rosseta terlahir kembali tepat pada saat malam pertama dia menikah dengan Duke Coldine. Di kehidupan keduanya itu dia berniat untuk menjalani kehidupan dengan baik dan dapat bercerai dengan Duke Coldine secara baik-baik.
Namun, semuanya sedikit melenceng dan ada beberapa fakta yang Agatha dapatkan. Bagaimana akhir dari kehidupan kedua Agatha Rosseta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[23] Duke, Duchess, dan Istana
......................
Eros, buku itu terbuka menampilkan halaman yang penuh dengan tulisan. Ya, Saat ini Agatha sedang menikmati novel tersebut. Sembari memasukkan camilan yang dia dapat dari Cecil tadi ke mulutnya, dia membaca dengan fokus. Dengan disinari oleh bulan, Agatha sangat menikmati waktu-waktu ini. Waktu di mana dia sendirian dan tidak ada yang mengganggunya sama sekali. Agatha mampu membaca lebih cepat dari orang lain, entah itu buku fiksi atau non-fiksi.
Kriet! Suara deritan pintu mengalihkan perhatian Agatha, dia baru ingat kalau pintu kamarnya belum dia kunci dari dalam. Betapa kecewanya Agatha karena waktunya malam ini tidak sepenuhnya untuk dirinya sendiri.
Agatha menutup buku yang berada di pangkuannya dan turun dari ranjang. Rambut keperakan mulai terlihat ketika Agatha semakin mendekati pintu. "Tuan Duke?" tanya Agatha memastikan.
"Apa ... saya mengganggu tidur Anda?" pria yang masih berdiri di ambang pintu itu bertanya.
"Em, sebenarnya saya belum tidur. Tapi, Anda sedikit mengganggu waktu saya untuk membaca novel. Ada apa Anda kemari?" Agatha menatap Duke Coldine yang terlihat agak aneh, menurutnya. Hal ini tidak biasa dan tidak pernah terjadi di kehidupan terdahulu. Tetapi, itu artinya nyawa Agatha masih bisa terselamatkan.
"Saya tidak bisa tidur, kemudian saya menebak Anda akan sibuk dengan novel-novel yang Anda dapatkan tadi siang. Boleh saya meminjam salah satunya dan membacanya di sini?" Agatha tidak menjawab, tapi tangannya menarik pintu sehingga pintu terbuka lebar.
Bagaikan dapat menerjemahkan apa yang dilakukan oleh Agatha, Duke Coldine mulai melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Setelah Agatha menutup pintu dan menguncinya dari dalam, gadis itu membuka tirai jendela sehingga sinar rembulan masuk ke dalam kamarnya. Dia memindahkan camilan ke meja dekat jendela dan menuangkan teh.
"Tuan Duke bisa memilih novel yang akan dibaca. Novel lainnya ada di atas tempat tidur saya," ucap Agatha dibalas anggukan oleh Duke Coldine.
Agatha kembali duduk di atas ranjangnya, matanya kembali membaca setiap kata yang tertulis di novel yang dia baca. Gadis itu terlarut, seakan tidak ada hal lain yang ada di sekitarnya. Sementara itu, Duke Coldine menimang mana novel yang akan dia baca. Semuanya novel romantis, itu jelas. Namun yang dia pilih adalah novel dengan jalan cerita yang tidak terlalu rumit dan tidak memiliki banyak konflik yang berat. Dan satu lagi, novel yang memiliki halaman paling sedikit.
Bersama dengan sang bulan yang menemani kedua orang itu, waktu terus berjalan, dan mungkin waktu berjalan terlalu lambat untuk keduanya. Tepat pada pukul tiga dini hari, Agatha menutup buku yang sedari tadi berada di atas pangkuannya. Hatinya sedikit hancur, gadis itu terlalu masuk ke dalam cerita yang dituliskan oleh Adora.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sial!" kesal Felix. Berbagai umpatan sudah keluar dari mulutnya, Eva yang ada di sebelahnya juga tak kalah marah dan khawatir.
"Felix, mungkin kita harus mendobrak pintunya," usul Eva kepada Felix, dahi pria itu lumayan berkeringat. Namun bukannya setuju, Felix menolaknya dan memilih untuk kembali mengetuk pintu. "Felix, kamu tahu bukan sudah berapa lama kita ada di sini? Satu jam! Dan apa yang kita dapatkan dengan mengetuk pintu? Tidak ada,"
Eva mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Agatha, tingkat kesabarannya sudah mencapai batas. Suara benturan antara tubuh dengan kayu terdengar ketika tubuh Eva menabrak pintu. Gadis itu kembali mengambil ancang-ancang untuk kembali mendobrak pintu.
Brak! Pintu berhasil didobrak oleh Eva. Jujur saja, Felix sedikit terkejut kalau gadis pelayan seperti Eva bisa mendobrak pintu kamar yang cukup tebal dan kuat. Matanya menatap ngeri kepada gadis itu. Tetapi, ini waktunya untuk menarik Tuannya.
"Tuan, ayo bangun," geram Felix, tangannya tak lupa menarik telinga Duke Coldine. Duke Coldine mengaduh kesakitan dan segera bangun.
"Hei hei ... tanganmu, lepaskan! Memang aku ini anak kecil?"
"Anda tidak melakukan hal yang aneh bukan?"
"Hei, apa maksudmu ...."
"Anda tidak melakukan apapun pada Nyonya bukan?" dengan tatapan yang tajam, Felix seperi seorang hakim saat ini. Mencari sebuah kebenaran dari si tersangka kejahatan. "Jika Anda tidak melakukan apapun, maka sekarang saatnya untuk mandi. Felicia sudah datang subuh tadi," lanjut Felix.
Duke Coldine pun mengangguk mengiyakan, dia dan Felix keluar dari kamar Agatha tanpa berpamitan kepada si empunya kamar. Kedua pria itu berjalan tergesa-gesa.
Setelah membersihkan diri, Duke Coldine menemui Felicia di dalam kamarnya bersama dengan Felix dan juga Pangeran Liam. Keempat orang itu berkumpul, mata mereka menatap ke bungkusan yang terletak di atas meja.
"Saya berusaha sebaik mungkin," ujar Felicia.
"Aku percaya pada kemampuanmu, Saudariku. Kerja kerasmu tidak akan pernah mengecewakan," kata Felix menanggapi saudarinya.
"Memang apa yang ada dalam bungkusan itu?" tanya Pangeran Liam bingung.
Duke Coldine tidak membuang waktu lagi, dia membuka bungkusan yang terletak di atas meja. Sebuah gaun berwarna biru terlipat dengan rapi, matanya bisa melihat beberapa hiasan yang tertempel di gaun tersebut. Menurut Duke Coldine, gaun itu sangat indah.
"Ini bagus. Felicia, kamu dan aku akan tetap di kamar. Sementara Felix dan Pangeran Liam beraktivitas seperti biasanya," ujar Duke Coldine memberi perintah.
Ya, ini adalah kejutan untuk Agatha. Gaun adalah salah satu barang yang disukai perempuan dan tentu saja, gaun baru akan menjadi sebuah kejutan yang sangat cocok untuk menghadiri sebuah pesta.
Sore pun tiba, saatnya untuk mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta ulang tahun pangeran. Ketika Agatha akan merias diri, Felicia tiba-tiba muncul dan membuat Agatha terkejut. Tak lupa juga dengan gaun yang selama beberapa hari Felicia buat, gadis itu membawanya dan meminta Agatha untuk memakainya.
Agatha memandang takjub gaun itu, tapi ada kemungkinan bahwa gaun itu akan terasa berat. Namun tak seperti yang dipikirkan, gaun yang dipakai oleh Agatha itu ringan ketika dipakai. "Felicia, terima kasih. Saya sangat menyukai gaun yang Anda buat," ucap Agatha sambil menangkup tangan Felicia.
Felicia terkikik, dia senang melihat wajah nyonyanya yang bahagia. Gadis itu mendekatkan mulutnya ke telinga Agatha, kemudian berkata, "Tuan yang meminta saya membuat gaun ini. Jangan lupa untuk berterima kasih kepada beliau," bibir Felicia terangkat dan membentuk sebuah senyuman.
"Sudah siap Putriku? Kami sudah menunggumu," Marques Rosseta berada di ambang pintu, memandangi putrinya yang terlihat imut di matanya. "Ayo, Ayah harap kamu tidak gugup di acara nanti," tambah Marques Rosseta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yups! Terima kasih sudah kembali membaca novel ini. Terima kasih sudah membaca bab 23. Nantikan kelanjutannya di bab selanjutnya ya. Jangan lupa untuk support aku😚
Beri :
▪Like
▪Komentar
▪Vote
▪Rating
▪Follow (jika berminat ya hehe🤣🤣)
▪Dan share juga jika menurut kalian cerita ini bagus.
Okay, sampai jumpa di bab selanjutnya. Danke