Terjebak di antara cinta kedua pria tampan, sebenarnya itu tak diharapkan oleh Kanzha Almayra atau yang lebih dikenal sebagai Ayra.
Terlebih lagi, kedua pria tampan tersebut adalah kakak-beradik kandung yang berasal dari keluarga yang kaya raya dan cukup terkenal.
Ayra tak menyangka jika kedua pria itu akan terpikat oleh dirinya. Padahal, Ayra hanya seorang gadis dari keluarga miskin dan seorang yatim piatu.
Kejadian demi kejadian mengharuskan Ayra lebih dekat kepada kedua pria tampan tersebut. Walaupun pertamanya Ayra kesal kepada mereka, namun sikap dan sifat keduanya membuat Ayra yang ketus menjadi tulus.
Akankah salah satu diantaranya mampu meluluhkan hati seorang Ayra? Ataukah, Ayra tak 'kan terpikat oleh keduanya dan lebih memilih pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lien Machan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Perut sudah terasa keroncongan, dan waktunya dia makan.
Mata Kendra mengerjap menelisik setiap penjuru ruangan dan mencari keberadaan gadis bodohnya. Dia ingat betul siapa pemilik kamar sempit yang terdapat segala macam perabot menjadi satu di ruangan tersebut.
Walaupun Kendra tadinya berpura-pura pingsan biar tidak di usir Ayra dari kamar kontrakannya, dia akhirnya pingsan beneran dengan meminum obat yang berefeksamping kantuk yang di berikan Ayra pemberian enyak Wati.
Pemuda yang katanya mirip oppa korea itu pun tertidur di kamar Ayra dengan nyenyak saking kelelahannya. Seharian tak istirahat membuat Kendra merasa lelah dan lemah. Walaupun, tidur di kamar kontrakan ini gak ada nyaman-nyamannya karena badan terasa pegal. Namun karena sudah lelah, Kendra pun tetap tidur dengan nyenyak.
"Kemana tuh si bodoh? Perut gue kelaperan tapi dia gak perduli sama sekali." Gerutunya kesal seraya bangkit. "Ish, badan gue pegel semua. Apa dia biasa tidur cuma pake tikar doang? Ya tuhan, bahkan kasur lantai pun tak ada!" Mata Kendra terus menyapu seluruh ruangan.
Terdengar dari luar suara langkah kaki mendekat dan mendorong pintu kamar Ayra. Dengan cepat Kendra berbaring lagi walaupun badan terasa sakit.
Bodo amat lah, yang penting si onah kagak ngusir gue.
Ceklek
Pintu kayu itu terbuka menampakkan tubuh kecil si gadis yang sering di katai si bodoh.
Tangan kiri gadis itu menenteng sebuah kantong kresek yang berisikan sesuatu.
Ayra melirik Kendra sekilas yang buru-buru menutup kembali matanya dan berpura-pura tertidur supaya tak di suruh pulang. Kemudian, gadis itu duduk di depan kompor gas kecil yang dia bawa sengaja dari rumahnya untuk di gunakan sebagai alat memasak.
Panci berisikan air di taruh di atas kompor yang langsung di nyalakan apinya supaya air itu mendidih. Setelah mendidih, sebuah bungkusan dari dalam kantong kresek tadi ia keluarkan yang kemudian di masukan kedalam air yang sudah mendidih tadi sampai matang. Tak lupa beberapa cabe rawit di masukkan sebagai pelengkap.
Kendra terus memperhatikan Ayra yang sedang memasak sesuatu. Tiba-tiba cacing di perutnya bernyanyi menandakan minta di empani.
Krucuk****k ... keeeookkk
Tangan Kendra langsung memegang perutnya yang sudah terdengar konser vokal dari para cacing. Sedangkan Ayra hanya fokus kepada masakannya yang sudah matang dan segera ia tuangkan kedalam mangkuk.
Ayra berkata tanpa menoleh ke belakang, "Kalau kamu laper, pulang sana. Disini gak ada makanan enak buat kamu. Aku gak bisa ngasih kamu makan. Buat diri sendiri aja masih kerepotan, apalagi buat kamu!"
Kendra tetap diam dan tak bergerak sambil memegang perutnya.
"Gak usah berpura-pura lagi. Aku tahu kalau kamu udah bangun dari tadi. Sana pulang!" Usir Ayra.
Dia tahu kalau gue udah bangun dari tadi?
Bukannya marah, Kendra malah berdiri kemudian duduk di samping Ayra.
"Wanginya bikin gue laper. Bagi dong, gue laper banget nih!"
Mata Ayra menyipit mendengar rengekan Kendra. "Ini makanan punyaku. Kamu bisa membeli yang enak."
Namun, bukan Kendra namanya. Jika dia tak bisa merebut perhatian si markonahnya.
"Gue keburu pingsan kalau beli dulu." Di rebutnya mangkuk yang berisi mie instan dari tangan Ayra.
Dengan cepat Kendra memakan mie yang masih panas itu sambil sesekali meniupnya.
Mulutnya mengembung karena makanan yang penuh. "Enak." Cuma itu yang terdengar Ayra.
Gadis itu hanya menatap makanannya yang di santap langsung oleh Kendra.
Semangkuk sudah habis tanpa sisa. Meninggalkan mangkuk yang bersih tinggal biji cabe rawit saja.
"Kenapa lu nyembuyiin makan seenak ini dari gue?" Ayra menatap tak percaya.
Makanan seenak ini katanya.
"Hei, itu hanya mie instan. Di warung, di toko banyak yang jualan. Kamu tinggal beli saja!" Celoteh Ayra kesal.
"Gue belum pernah makan makanan seperti ini. Masakin lagi dong, onah. Please!"
"Kamu itu orang kaya. Mana pernah makan makanan orang miskin macem aku. Yang ada kamu bakal diare kalau makan yang beginian." Celetuk Ayra sebel karena Kendra minta lagi.
"Masa sih cuma orang kaya yang gak pernah makan mie instan? Tuh di iklan banyak artis yang promoin. Tapi, memang di rumah gue kagak pernah nyediain makan seperti ini. Gue kira gak enak, nyatanya enak banget. Udah buruan, masakin lagi dong dua sekaligus!" Pinta Kendra sambil mengetuk mangkuk menggunakan sendok. "Lagi ... lagi ... lagi ...!" Teriaknya seperti anak kecil minta makan.
Ayra kesel banget liatin kelakuan manja Kendra, di tambah makanan untuk dirinya di makan oleh pemuda itu. Niat hati biar irit beli mie instan untuk makan malam ini, taunya malah di makan habis oleh si markoho jelek ini.
Dua bungkus mie instan di masak lagi oleh Ayra diatas kompor yang di nyalakan lagi. Belum Ayra menuang bumbu di mangkuk, Kendra sudah mengambil panci kecil itu dan merebut bumbu yang sudah di sobek Ayra untuk siap di tuangkan.
"Hei!" Kendra tak perduli dengan teriakan Ayra.
Semua bumbu di masukkan kedalam panci kecil yang langsung di aduknya rata yang kemudian ia santap dengan lahap.
Ayra hanya melongo manatap lapar melihat Kendra makan dengan lahap sambil menggigit sendok.
"Mie instan ... makan malam aku. Huhuhuuu!"
Tiga bungkus sudah habis menyisakan bungkusan kosong yang berceceran di dekat kompor.
"Sluuurrpp ... aaahhh. Kenyangnya!" Di usapnya bibir seksinya dengan telapak tangan untuk membersihkan sisa makanan yang baru saja di lahapnya.
Segelas air mineral di samping Ayra langsung di teguk sampai habis.
"Enak?" Kendra mengangguk. "Kenyang?" Dia mengangguk lagi dengan cepat. "Itu makan malamku, markoho jelek!" Pemuda itu langsung menutup kedua telinganya mendengar teriakan Ayra.
"Sorry!" Hanya itu yang keluar dari mulut Kendra.
"Cih. Meminta maaf saja gak bikin aku kenyang! Dasar markoho jelek ... jerapah burik. Iiihhh, kesel aku!" Ayra marah sambil mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang gila.
Ingin sekali Kendra tertawa terbahak melihat Ayra yang sedang marah sambil mengacak rambutnya sendiri. Namun, ia memilih diam dan tertawa dalam hati.
Pffftt, si onah bikin gue guling-guling ini. Tahan Ken, jangan ketawa! Saat ini dia sedang marah. Kalau dia marah, bisa di sleding lu sambil koprol keknya. Batin Kendra.
"Terus, gue harus ngapain dong biar lu seneng?" Tanya Kendra.
Ayra memutar bola matanya malas. "Kamu gak bisa balikin makan malam aku. Sebaiknya kamu pergi deh, biar aku bisa menenangkan hati!"
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Huuuh, udah ngusir gue lagi nih!
"Emm, gimana kalau gue ganti mie instan lu pake makanan lain? Lu mau makan apa? Biar gue beliin sekarang juga."
Mendengar kata makanan, senyum Ayra terukir sedikit. Matanya melirik Kendra sinis.
"Aku mau sate kambing pake lontong!" Kata Ayra dengan jutek.
"Apa lagi?"
"Kwetiau goreng boleh juga!"
"Lalu?"
"Jus mangga sama es teh manis!" Lanjut Ayra.
"Terus?"
"Terus ... terus kayak tukang parkir. Udah itu aja. Cepet, aku laper!" Masih saja berbicara dengan jutek.
Kendra tersenyum, kemudian berdiri dan menyambar jaketnya yang tergeletak di atas tikar.
"Baik nona, sesuai permintaan!"
Senyum Kendra sangat manis membuat Ayra berkedip tak percaya.
Blush
Entah mengapa wajah Ayra memerah karena panggilan nona dari pemuda yang selalu bertengkar dengan dirinya.
Tubuh jangkung Kendra sudah tak terlihat lagi seiring pintu kayu yang tertutup rapat.
Ayra menepuk-nepuk pipinya tak percaya.
Puk ... puk ... puk
"Apa aku sedang bermimpi? Dia bilang nona? Biasanya kan onah?"
Semoga mama nya cepet sembuh ya kak Machan
Semangat dan sukses Machan 🥰
Kisah yang kamu tulis ini sudah sangat bagus. Semua tokohnya bahagia. Dan semoga kebahagiaan juga menaungi othornya.
Bunga-bunga untuk Bang Kend dan Ayra 🌹
Selamat Ayra - Kendra, Mela -Andra. Semoga kebahagiaan selalu menaungi kalian 🥰
juga untuk Thor nya 😍😍