" Kenapa?"
Sebuah kata yang paling sering di gunakan untuk mempertanyakan banyak hal yang terjadi dalam hidup ini.
Seperti yang dialami oleh sepasang sejoli yang memulai hubungan dari keisengan saat masih duduk di bangku SMA.
Dan terus berlanjut meski hubungan tersebut tak pernah mendapat dukungan dari siapapun.
Hingga akhirnya mereka sampai di fase akan di bawa kemana hubungan mereka.
Jika Arya memilih untuk break sejenak , berbeda dengan Lia yang justru memilih mengakhirinya saja.
Arya lantas menyesal dan berusaha meyakinkan sang pujaan hati untuk mau kembali melanjutkan hubungan mereka lagi.
Arya bahkan mengajak Lia menikah.
Tapi dengan tegas Lia menolak.
Arya tak menyerah. Berulang kali ia mencoba dan selalu saja ditolak . Namun Lia tetap pada pendiriannya.Ia tak mau.
Akankah Arya berhasil membuat Lia kembali dan menjadi jodohnya ?
Akan ada banyak cerita tentang tokoh lainnya.
Dan mereka semua akan saling berhubungan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thata Embem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen
🌺hem... 🌺
* * *
'' mah, Arya kayanya bakal pulang telat '' ucap Arya dalam sambungan telepon pada bu Alin, sang mama.
'' ya, uda. Jangan telat makan dan hati-hati dijalan pulang'' suara bu Alin terdengar begitu lembut.
' tut '' panggilan berakhir.
Seketika rasa bersalah kembali menyeruak, mengingat kejadian dimeja makan tadi pagi.
Bagaimana ia meninggikan suara pada wanita yang sudah melahirkannya itu.
Dan meski demikian, sang mama tidak pernah larut dalam kekesalan pada sikapnya selama ini.
Hal itu membuat Arya merasa terbebani.
Sebagai anak ,tentu ia ingin menjadi seperti yang kedua orang tuanya harapkan.
Tapi di sisi lain..
Mengabulkan apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya begitu sulit untuk ia lakukan.
Jangankan untuk melakukannya , hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Arya tak kuasa.
Karena melepas Lia adalah hal terberat yang tak sama sekali tak pernah terlintas di benaknya.
* * *
'' hei '' suara Alex menyapa seiring dengan duduknya ia di sofa .
Arya mengernyit bingung .
Kapan direktur hotel tempatnya berkerja itu masuk kedalam ruang kerjanya.
Mungkin karena terlalu larut dalam pikirannya tadi, hingga iapun tak menyadarinya.
''aku tadi uda ngetuk pintu.
Tapi karena gak ada jawaban, jadi kupikir gak apa-apa kali kalau aku main masuk aja ?'' ucap Alex yang duduk dengan menyilang kedua kakinya. Sementara matanya menelusuri ke sekeliling ruangan tersebut .
Ruangan tersebut sama seperti ruang kerja lainnya.
Tak ada yang spesial. Benar-benar menunjukkan pribadi penghuninya yang tak begitu tertarik dengan hal-hal berbau kemewahan. Pikir Alex.
Arya mengangguk.
Tanpa sengaja matanya melihat selembaran brosur yang ada di atas meja .
Sebuah brosur yang diberikan salah satu tamu hotel padanya tadi pagi.
Tamu wanita yang kebetulan berkerja sebagai marketing pemasaran sebuah apartemen. Hunian gedung bersusun yang letaknya sedikit menepi dari pusat kota.
'' apa'an tuh ?'' Lagi. Alex yang sudah berada di depan mejanya tanpa ia sadari.
Iapun melihat ke hal yang sama. Selembaran yang kini ada di pegangan tangan Arya.
Arya mengangkat untuk memperlihatkannya.
'' apartemen ?'' dengan sorot mata penasaran.
Arya mengangguk.
Alex tertawa kecil. Ia teringat obrolannya dengan pria berkacamata minus itu kemarin.
Ia awalnya tak percaya.
Saat Arya mengatakan bahwa hubungannya dengan Lia masih terjalin sampai saat ini.
Dan yang lebih tak ia sangka lagi adalah, jika alasan Arya melamar berkerja di hotelnya itu tak lain karena ingin selalu berada di dekat Lia.
Namun Alex masih ragu, jika memang sedalam itu perasaan Arya pada Lia,
kenapa ia tak menikahinya saja ?
Ooooo.. iya. Pasti karena tersandung urusan restu orang-tua.
Masalah klise antara si miskin dan si kaya.
Tapi yang ini lain judulnya.
Antara si GM tampan dan petugas housekeeping sederhana.
Alex tergelak dengan pikirannya sendiri.
'' apa yang sedang kau pikirkan ?'' tanya Alex yang merasa aneh dengan sikap Alex yang tiba-tiba tergelak sendiri.
'' gak.. Aku cuma gak habis pikir aja sama kamu.
Uda tau orang tua gak setuju kamu sama dia.
Tapi bisa-bisanya kalian tetap pacaran sampai sekarang.
Terus apa maksudmu dengan itu ?'' menunjukkan ke selembaran yang baru saja Arya letakan di atas meja.
'' aku ada sedikit tabungan hasil berkerja selama setahun waktu di Inggris .
Ku pikir ini bagus untuk investasi masa depan.
Yahhhh..biar kelihatan juga kemana uang hasil kerja keras ku dulu ''
'' oh, ku kira.. '' Alex melangkah perlahan.
Lalu berhenti saat melihat jam yang menggantung di dinding ruangan tersebut.
Jam dinding berbentuk segi empat itu menunjukkan pukul 7 .
Ia berbalik menatap Arya yang terlihat kembali meraih brosur yang tadi.
'' ini sudah lewat jam kerja.
Para anak buah mu juga sudah pada pulang.
Kenapa kamu masih di sini ? '' tanya Alex yang selalu saja penasaran pada apa yang ada kepala seorang yang jarang bicara seperti Arya.
'' aku nunggu Lia. Aku uda janji mau pulang bareng dia '' jawab Arya tanpa memalingkan pandangannya pada kertas bergambar gedung bertingkat tinggi .
'' jam berapa memangnya shift nya selesai ''
'' jam 9 ''
'' what ? Itu masih lama, Arya. Masih 2 jam lagi dan kamu bela-belain tetap disini hanya buat nungguin dia ?
ckckck, kamu memang sesuatu '' Alex menggeleng sambil bertepuk tangan pelan.
Arya melihatnya sesaat , dan kembali lagi melihat hal yang tengah menyita perhatiannya sejak tadi.
'' Ar, sebenarnya ada satu hal yang membuatku begitu penasaran.
Dan kalau kamu gak keberatan, boleh gak aku nanya sesuatu ? '' Alex kembali mendekat. Dengan kedua telapak tangan yang ia letakan di atas meja .
'' apa ?'' Arya sedikit mendongak. Dengan sebuah ekspresi yang sama sekali tak keberatan hal itu.
'' emmm... kamu sama Lia...Kalian uda pernah ngapain aja ? '' Alex dengan senyuman penuh goda.
Arya menggeleng.
'' masa sih Lia gak pernah kamu apa-apain ?
Apa ya istilahnya sekarang tu.. em... '' Alex sampai memejamkan kedua matanya. Ia tampak sedang berpikir keras agar bisa menemukan kata yang tepat untuk mengatakannya.
'' kamu kenapa, sih Lex ? Penasaran banget sama --''
ucap Arya yang mulai gusar akan sifat keingintahuan temannya itu harus terpotong.
Karena Alex dengan cepat menyelanya.
'' mantap-mantap..iya benar. Bahasa tren nya sekarang itu.M.A.N.T.A.P- M. A. N. T. A. P.
Jadi, masa kamu belum pernah mantap-mantap an sama Lia ? ''
Arya menghela nafas kasar. Di lihatnya Alex yang masih menatapnya dengan sorot mata berbinar. Menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
'' harus, ya ? Yang namanya mantap-mantap pan itu dilakukan ?
Bukannya itu hanya dilakukan oleh mereka yang sudah berstatus suami istri ?''
''wah.... Kacau, kamu Ar.
Sekarang itu udah jadi hal yang lumrah dilakukan.
Coba kamu pikir.
Kan saling cinta, saling sayang.
Jadi wajar kan kalo kalian melakukannya ?''
Arya menggeleng. Ia tak menyangka jika pemikiran Alex akan seliar dan sebebas itu.
Mungkin pengaruh beberapa tahun tinggal di lingkungan barat hingga lupa pada tradisi timur.
Hanya itu yang bisa menjelaskan sikap Alex yang demikian.
Kali ini Arya menarik nafas panjang.
''Gini, ya Lex.
Aku punya 3 adik perempuan.
Yang aku sayang dan harus aku jaga.
Begitu pun yang kulakukan sama Lia.
Dia perempuan yang aku sayang.Jadi uda seharusnya juga aku jaga.
Termaksud dari diriku sendiri.
Karena itu, aku berprinsip untuk tidak melewati batas. Aku berjanji pada dirimu sendiri untuk selalu memperlakukannya dengan baik.
Berharap ketiga adikku juga akan mendapatkan hal yang sama.
Kata orang jaman dulu karma itu berlaku. Maka aku gak mau jika aku sampai melakukan hal yang buruk sama Lia.
Karena aku takut nanti adikku yang akan terkena imbasnya.
Kamu yang anak tunggal mana tau rasanya seperti apa menjaga saudara, apalagi saudara perempuan ''
' sayang ' Arya tertegun dengan kata yang keluar begitu saja dari mulutnya. Ia baru sadar jika selama ini ia belum pernah menyatakan apapun pada Lia.
Sedangkan Alex. Setelah mendengar ceramah tadi, seketika raut wajahnya berubah menjadi kecut.
Ia menarik mundur tubuhnya.
Dan melipat kedua tangannya sejajar dada.
'' tapi Lia bukan adikmu '' ucapnya masih mencari celah untuk dapat menggoyahkan pendirian seorang Arya.
Arya seakan tersandung oleh kalimat Alex barusan. Lia memang bukan adiknya.
Jadi mana bisa rasa sayang terhadapnya sama dengan rasa sayang pada ketiga adik perempuannya.
'' kalo kamu benar-benar ada rasa sama Lia, pasti ada keinginan untuk lebih dari sekedar bertemu, saling menatap atau hanya berpegangan tangan saja.
Seharusnya ada sebuah dorongan yang kuat untuk lebih merapat, menyentuh atau bahkan -- '' Alex menggantung kalimat lnya saat mendapati ekspresi Arya yang berubah dingin.
Lagi. Tapi kali ini ucapan Alex membuatnya teringat pada saat ia berhadapan dengan Lia dibawah hujan deras tadi pagi.
Saat dimana pertama kalinya ia merasakan dorong sebagai seorang lelaki normal yang begitu tertarik dan juga penasaran akan sesuatu dari balik pakaian yang Lia kenakan .
Dimana baju Lia yang basah menjiplak lekukan yang terlihat begitu jelas .
Arya menggeleng untuk membuyarkan lamunan mesum yang memenuhi isi kepalanya.
Ia lalu menatap sinis pada Alex yang tengah menyeringai padanya. Sepertinya pria arogan itu sudah berhasil memancingnya dan itu membuat Alex terlihat senang.
'' tau apa kamu soal perempuan ? kamu aja sampai sekarang masih jomblo '' cetus Arya yang kesal karena sudah berhasil di permainkan oleh kata-kata Alex .
'' aku memang belum pernah pacaran. Atau lebih tepatnya gak minat untuk pacaran.
Jika suatu saat nanti aku bertemu seseorang yang bisa membuat ku jatuh hati, maka saat itu juga aku akan langsung mengikatnya.
Gak akan ku biarkan dia menunggu sampai dilema antara mau atau tidak dia dengan ku.
Karena kalau sudah terikat, dia gak akan punya pilihan lain selain untuk terus bersamaku.
Aku gak mau kaya kamu.
Yang gak pasti sama perasaan sendiri.
Apalagi uda tau kalau hubungan kalian juga gak akan ada yang dukung ''
'' apa maksud mu dengan aku gak yakin dengan perasaan ku sendiri ? Dan lagi tau darimana kamu kalau hubungan ku sama Lia gak ada yang dukung ?''
'' aku tanya kamu, Ar.
Kamu pernah bertengkar sama Lia ?
Berantem layaknya orang pacaran pada umumnya ?''
Arya terdiam. Karena memang hal itu belum pernah terjadi dalam hubungannya selama ini.
'' itu berarti hubungan kalian gak sehat. Karena ketika bertengkar itulah sifat buruk satu sama lain akan terlihat.
Mana kamu tau kalau dia itu benar-benar yang kamu inginkan kalau sifat buruknya saja kamu gak tau.
Jangan bilang kalau selama ini yang kalian lihat satu sama lain itu hanya yang baik-baiknya saja.
ck' kacau ! '' Alex menggeleng.
Ia seakan tak ada habisnya ingin mengompori Arya.
'' memang harus bertengkar ?'' Arya mulai terpancing.
Alex tersenyum saat mendapati sorot mata yang begitu antusias oleh ucapannya barusan.
'' ya, iyalah. Atau bila perlu kalian harus mengalami yang namanya p.u.t.u.s'' Alex kembali menyeringai.
Arya terdiam. Namun dengan cepat ia menyadarkan diri agar tak semakin dalam terpancing oleh perkataan Alex.
'' karena saat putus itulah kamu bisa tau sedalam apa perasaan mu ke dia.
Dan sepenting apa dia buat kamu ''
Arya meliriknya sesaat lalu kembali lagi pada selembaran yang ada di tangannya.
Entah mengapa ia sangat tertarik pada hunian yang tergolong mewah itu.
* * *
Pukul 9.
Lia tengah memegang handphone pembelian Arya untuknya yang sudah menemaninya selama 3 tahun.
Jempolnya mengusap layar yang retak karena jatuh saat ia hendak menerima panggilan telpon dari Arya tadi pagi.
Lia menyesal. Seharusnya ia tak mengangkat panggilan di saat ia tengah mengendarai motor. Apalagi di saat hujan deras.
Alat komunikasi itu mulai menunjukkan tanda-tanda rusak.
Lia sudah beberapa kali menghidupkannya, namun tak lama kemudian akan mati dengan sendirinya.
Ia juga sudah mencoba dengan mengirim pesan maupun telpon ke Mina .
Dan belum pesan itu terkirim, benda tersebut sudah kembali mati.
Begitu pun saat ia akan melakukan panggilan.
Baru saja akan terhubung, lagi-lagi layar handphone itu menjadi gelap.
Lia menghela nafas berat sambil memasukkan benda tersebut ke dalam saku depan jeansnya.
* * *
Lia terlihat keluar dari ruang loker bersama beberapa orang lainnya yang juga satu shift dengannya.
'' malam, pak '' seketika mereka semua menundukkan kepala saat melihat seorang GM hotel, berdiri tak jauh dari mulut pintu masuk.
Arya membalas sapaan tadi dengan tersenyum singkat.
Lalu mereka pun berjalan melewatinya.
Tapi tidak pada Lia yang berhenti tepat didekatnya.
Mereka yang sudah menjadi teman baru di bagian Housekeeping itu sempat memutar leher kebelakang.
Tampak oleh mereka , Arya dan Lia yang pergi dengan berjalan bersama ke arah yang berlawanan dengan mereka.
Dan merekapun mulai berbisik-bisik satu sama lain.
* * *
Lia yang baru saja memasang sefety belt nya merasa jika mobil tersebut tak bergerak maju, padahal mesinnya sudah menyala.
Ia lalu melihat pada pria di sebelahnya yang duduk di kursi kemudi.
Arya tampak memperhatikan jemarinya.
'' kenapa ?'' tanya Lia .
Arya mengangkat kepala dan menatapnya.
'' kamu pernah coba melepaskan cincin itu gak ?'' tunjuk Arya dengan ujung dagunya pada cincin couple yang melingkar di jempol kanannya.
'' gak pernah '' Lia menggeleng.
Tiba-tiba tangan Arya meraih tangannya. Mempertemukan dua jempol bercincinkan silver itu.
Perlahan Arya mulai menggerakkan jempolnya untuk mengusap lembut jempol gadisnya itu.
Matanya masih beradu pandang dengan Lia.
'' pergi kemana kamu sama Mina tadi pagi ?'' tanya Arya masih dengan jempol yang ia gesekan .
'' mamak menyuruh kami ke pasar untuk ngambil pesanan.
Karena jumat nanti Mina akan wisuda.
Dan malamnya akan diadakan selamatan kecil-kecilan ''
'' Aku gak tau kalau kamu bisa mengendarai motor ? Bisa ngebut, lagi ?
Padahal biasanya kamu kan di bonceng ?''
'' itu karena hujan.
Maksudnya biar bisa cepat sampai rumah sebelum kami kehujanan.
Padahal hujannya baru turun pas uda lewat masuk gerbang.
Tapi tetap gak keburu dan jadi basah '' Lia sedikit nyengir namun langsung luntur saat melihat raut wajah tak suka yang Arya tunjukkan.
'' aku gak mau lihat kamu mengendarai motor lagi.
Apalagi sampai ngebut kaya tadi pagi " ucap Arya bernada tegas .
Ia lepas pegangan pada jemari Lia.
Dan mereka pun pergi meninggalkan area parkir khusus karyawan hotel tersebut.
* * *
Beberapa hari kemudian.
'' Apa ini ?'' bu Alin yang melihat salah satu amplop putih diantara tumpukan surat-surat yang baru saja di antar oleh petugas kantor pos.
Karena penasaran, maka amplop itupun ia buka.
'' apartemen ? Atas nama Arya ? '' bu Alin tampak shock.
Dengan kertas yang masih berada dalam pegangan tangannya, bu Alin pun langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga dimana kamar Arya berada.
'' Ar.. '' bu Alin yang langsung masuk , karena memang pintu kamar tersebut jarang di kunci.
Arya yang sudah bersiap untuk berangkat kerja itu pun tampak terkejut, mendapati sang mama yang sudah berada di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dilihatnya sebuah kertas menggantung di tangan kanan sang mama.
'' kamu beli apartemen !?'' tanya bu Alin tanpa basa basi lagi.
'' dari mana mama, tau ?'' mencoba tetap tenang menghadapi sang mama yang terlihat akan murka.
'' ini ! Ada surat pemberitahuan untuk serah terima kunci apartemen '' bu Alin mengangkat kertas yang sejak tadi ia pegang dan menunjukan pada Arya.
Arya meraih kertas tersebut.
Ia berdecak kecil. Ia lupa jika surat pemberitahuan resmi akan di kirim ke alamat rumahnya.
Dan yang lebih luput dari ingatannya adalah tidak mendiskusikan hal tersebut pada sang mama.
" kenapa kamu gak bilang-bilang kalau kamu beli Apartemen ?
Apa rencana mu sebenarnya, Arya ?
Kamu mau kawin lari sama DIA ??? '' suara bu Alin lantang terdengar .
Hingga menembus sampai keluar ruangan .
Dan terdengar oleh mereka yang ada di lantai bawah.
Ketiga adik perempuannya yang tengah bersiap menuju ruang makan untuk sarapan itu langsung mendongak.Menatap ke lantai tiga dimana asal suara tersebut yang mereka tau adalah suara sang mama.
'' apaan, sih maaaaa..Ini tu gak ada hubungannya sama Lia '' Arya menghela nafas berkali-kali. Mencoba tidak tersulut emosi yang sama seperti yang tengah bu Alin rasakan saat ini.
" Arya beli apartemen itu buat investasi masa depan.
Gak ada maksud apa-apa '' Arya mencoba menjelaskan dengan bahasa dan juga nada yang halus .
Ia merasa sudah cukup merasa bersalah dengan semua kejadian lalu.
Karena itu, ia pun berjanji pada dirinya sendiri. Untuk tidak lagi meninggikan suara pada sang mama. Meski apapun permasalahanya.
Seketika wajah bu Alin berubah pias. Perlahan marah tadi menjadi serba salah karena sudah menuduh Arya yang tidak-tidak.
Hatinya sudah terlalu larut dalam kecemasan, ia takut jika anak tuanya itu akan nekat menentangnya.
'' mama '' Arya meraih sang mama.
Memegang pundak wanita yang hanya setinggi bahunya itu.
Di elusnya lembut kedua pundak wanita berambut panjang sebahu itu.
'' mama. Tolong jangan lagi berlebihan dalam memikirkan hubungan Arya sama Lia.
Arya gak akan senekat itu sampai akan menentang kalian.
Lagipula sudah Arya bilang kan, kalau Arya belum ada kepikiran buat nikah ''
Bu Alin tampak mulai menitikkan air mata.
Hatinya dipenuhi ketakutan jika apa yang selama ini menjadi kekhawatiran terjadi.
'' mama, mohon Arya.. Jangan buat mama khawatir lebih dari ini.
Kamu jangan seperti ini, nak.
Mama takut kalau kamu masih terus berhubungan dengan perempuan itu, hanya akan membuat hubungan keluarga kita nanti jadi berantakan ''
'' gak akan, ma .
Memangnya apa, sih yang salah dari Lia ?
Sampai mama berpikir dia akan membuat keluarga kita jadi kacau ''
'' pokoknya mama gak mau kamu berhubungan sama dia.
Putuslah dari dia, Arya.
Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih pantas dan juga lebih sepadan denganmu.
Bukan dia.
Dan jangan sampai dia.
Karena mama dan papa gak akan pernah bisa menerimanya masuk di keluarga kita.
Walau apapun yang terjadi ''
'' maaf, ma.
Tapi, Arya gak bisa ''
Bu Alin menyeka air matanya.
Ia mundur beberapa langkah kebelakang hingga pegangan di bahunya itu jatuh dan terlepas.
Ia berbalik, lalu berjalan perlahan keluar dari ruang tidur tersebut.
Saat tengah menuruni tangga, dilihatnya ketiga anak perempuannya yang menatap dengan penuh khawatir padanya.
" kalau begitu dialah yang seharusnya tau diri untuk melepasmu, Arya.
Dan akan mama buat hal itu terjadi "
critanya ku tunggu muncul di Noveltoon tv ya thorr 😘😘😘😘
lanjut Thor😁
buat aku penasaran dan gregetan mau jitak Lia nih🤣🤣