Setelah lulus kuliah, kamu mau ngapain nih bestie? Kerja? Lanjut S2? Atau bahkan langsung nikah?? Xixixi.
Buat yang lanjut S2 semangat, yang kerja ga usah lesu letih dan lunglai, yuk mampir baca kisah seorang tokoh yang berakhir di jodohkan, dan hidup bahagia (?) setelahnya.
Kirana Putri yang baru saja lulus dari pendidikannya, harus merelakan mimpinya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lelaki penyayang, lembut dan setia, tentu saja bukan. Ia menikah dengan orang yang terlihat begitu membencinya, bahkan ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Mampu kah ia bertahan dalam kehidupan rumah tangga seperti itu? Atau justru ia akan menyerah dan kembali mengejar mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya_BC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah
Setelah shalat subuh, Rei langsung bersiap untuk pergi ke kantor. Saat ini ia sudah rapi dengan kemeja berwarna hitam yang biasa ia gunakan. "Ran, lihat dasi merah ga?" Tanya Rei yang menghampiri Ran di dapur.
"Dasi merah.. Di lemari deh kayaknya, sebentar" Ran berlari ke kamar dan mencari dasi berwarna merah. Setelah mendapatkannya ia segera menghampiri Rei dan memberikan dasinya.
".. Ini" Ucap Ran seraya memberikan dasi yang Rei cari.
"Pakein" Titah Rei mendapat anggukan paham dari Ran.
Terjadi keheningan selama Ran memasangkan dasi untuk Rei, lelaki itu menatap perempuan yang tengah fokus memasangkan dasi di dadanya. Tanpa aba-aba, ia mengecup bibi merah perempuan itu, sontak membuat Ran terkejut.
"Apasih mas?" Tanya Ran tak terkejut.
"Saya mau, mulai sekarang ada morning kiss" Pinta Rei.
"Biasanya kan ga ada? Ngapain sih??" Tanya Ran tak habis pikir.
"Yaudah mulai sekarang harus ada. Kalau kamu ga ngasih atau kelupaan, kamu bakal saya bikin tepar malemnya" Celetuk Rei membuat Ran membulatkan matanya.
"Apasih.. Yaudah pipi aja" Ucap Ran akhirnya mengiyakan.
"Ga. Saya maunya langsung di bibir" Tegas Rei dengan wajah songongnya.
"Ga mau!" Tolak Ran spontan.
"Yaudah, nanti malam kamu saya bikin ga tidur" Ancam Rei membuat Ran kelabakan.
"Yaudah! Iya!" Ucap Ran membuat Rei tersenyum jahil.
"Jangan senyum kaya gitu! Dasar om-om mesum!" Sembur Ran justru membuat Rei tertawa.
"Yaudah sini" Rei melebarkan tangannya, mengundang perempuan itu untuk masuk ke pelukannya.
Ran diam sebentar lalu masuk ke dalam pelukan Rei, merasakan kehangatan dari pelukan lelaki itu. Tangan Rei menyentuh pipi istrinya dan mencium bibir perempuan itu. Tangannya ia kalungkan di pinggang mungil istrinya, menikmati momen itu.
Ran melepaskan pelukan Rei darinya, ia sedikit menjauh dan memakaikan jas pada suaminya.
"Ayo sarapan dulu" Ajak Ran yang kemudian keluar dari kamar lebih dulu.
Setelah sarapan, Rei melajukan mobilnya dan sampai di kantor. Ia memarkirkan mobilnya dan kemudian akan masuk ke dalam kantor. Masih berada di area parkiran, ada seorang perempuan yang memanggilnya, seseorang yang terdengar tak asing baginya.
"Rei!" Rei berbalik dan menatap perempuan yang memanggilnya tanpa menjawab.
"Aku.. Aku minta maaf! Aku ga mau putus! Kita balikan ya? Aku ga papa deh jadi selingkuhan. Atau kamu nikahin aku, jadiin aku istri kedua, diam-diam aja" Bujuk Nadine seraya menarik-narik tangan Rei.
"Ga mungkin Dine!" Tolak Rei seraya menjauhkan tangannya dari Nadine.
"Rei, please... Aku ga mau putus! Aku emang sayang sama kamu, aku rela kasih apa aja buat kamu, ya? Kita balikan ya?" Nadine kembali memegang tangan Rei.
Dengan cepat Rei melepaskan genggaman tangan Nadine. "Apaan sih? Ini di kantor. Selagi saya masih bilang baik-baik, tolong kamu dengar. Hubungan kita udah selesai. Jangan ganggu saya lagi"
Rei berbalik hendak meninggalkan Nadine, namun Nadine menahannya. "Apa lagi?"
"Kamu kenapa jadi gini sih? Kita pacaran udah lama loh, kamu seenaknya tinggalin aku buat perempuan yang ga jelas itu"
"Ga jelas? Dia istri saya, paham kamu? Udah ya ga usah di bahas lagi, kita ga ada hubungan apa-apa selain teman dan rekan kerja." Rei berbalik dan berjalan masuk ke kantor.
"Huh, sialan!! Awas aja! Aku bakal bikin kalian pisah!!" Umpat Nadine.
Rei masuk ke ruangannya dan langsung mengerjakan pekerjaannya yang seperti biasa, menumpuk. Kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan Rei.
"Ya. Masuk"
Seorang pria yang merupakan bagian keuangan masuk ke dalam ruangan dengan membawa laporan keuangan.
"Maaf pak, saya membawa laporan keuangan bulan ini. Silahkan di cek, pak"
Dengan teliti Rei memeriksa laporan keuangan itu, namun ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut. ".. Kamu sudah cek ini sebelumnya?"
"..Sudah pak"
"Berapa banyak uang yang di gunakan untuk membeli bahan?"
"250 juta pak"
"Dari penjualan, berapa yang di hasilkan?"
"350 juta pak"
"Seluruh beban seperti listrik sudah di bayar? Gaji karyawan?"
"Sudah pak"
"Saya tanya, berapa banyak hutang kita?"
"30 juta pak"
"Sudah di bayar?"
"Sudah pak"
"Jadi, berapa total pengeluaran bulan ini? Dan berapa keuntungan yang kita dapat?"
"Keuntungan yang kita dapat sekitar 38 juta pak, dan total pengeluaran 312 juta"
"Oh begitu, berarti di sini seharusnya tertulis keuntungan sebesar 38 juta, benar?"
"Benar pak"
".. Kamu yakin sudah memeriksanya dengan benar?"
"..Maaf pak. Sebenarnya saya belum memeriksanya. Pak Bima langsung memberikan laporan ini pada saya dan menyuruh saya menyerahkannya pada bapak"
"Di mana Bima?" Rei menutup laporan yang ia periksa dan menatap karyawannya serius.
"Di ruangannya pak. Memang ada apa pak? Apakah ada kesalahan?"
"Lain kali periksa dulu. Kamu tau? Pengeluaran kita membengkak, ada apa ini? Bahkan hutang kita belum di bayar dan karyawan belum di gaji"
"Tapi pak, kata pak Bima semua sudah di bayar"
"Apanya? Bahkan uang yang masuk hanya 15 juta. Kemana sisa uangnya?"
"Maaf pak saya tidak tahu"
"Selama ini kamu ngapain?! Tidur?! Sampai masalah begini kamu tidak tahu, ini penting! Harusnya kamu tahu!" Rei menekan telepon di mejanya dan menelepon orang untuk memanggil Bima.
"Mohon maaf pak. Tapi pak Bima sedang tidak di tempat"
"S*alan!!" Rei langsung menutup telepon itu. Ia sangat marah, kemana uang-uang itu hilang?
"Lalu bagaimana kita akan membayar semua ini?! Setengahnya pun tidak ada! Bagaimana karyawan akan di gaji?!" Rei menggaruk kepalanya kesal.
"Mohon maaf pak, akan segera saya urus. Maaf atas kecerobohan saya"
"Panggil Bima secepatnya ke sini!"
"Baik pak" Pria itu keluar dari ruangan.
"Haah... Bagaimana aku harus membayar hutang dan gaji karyawan?!!"
"Masuk!" Titah Rei pada seseorang yang mengetuk pintu.
Rei melihat seorang wanita dengan pakaian yang ia lihat tadi pagi di parkiran. Membuatnya semakin kesal. Wanita itu berjalan menghampiri Rei dan memegang tangan Rei. Dengan cepat Rei menjauhkan tangannya dari tangan Nadine.
"Apa?!" Bentak Rei.
"Kamu kok marah-marah sih? Ada apa? Tadi aku liat Bayu keluar kaya ketakutan gitu. Ada apa?"
"Kamu kalau ga ada yang diperlukan mending keluar deh Dine. Aku lagi males" Usir Rei.
"Kok gitu sih? Aku mau nemenin kamu"
"Dine please! Keluar!!" Sepertinya Rei marah besar. Melihat Rei sangat marah, Nadine segera keluar dari ruangan.
Tak lama setelah Nadine keluar, pintu kembali terbuka tanpa didahului ketukan. Saat Rei mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang datang, ia terkejut dan langsung berdiri tegak.
".. Selamat siang pah" Sapa Rei.
"Panggil saya pak di saat bekerja" Tegur papah.
"Baik pak"
"Saya ingin menanyakan tentang keuangan bulan ini, mengapa bisa seperti ini?" Tanya papah serius.
"Maaf pak, saya barusan baru memeriksanya. Lebih dari setengah uang hilang, kita rugi besar"
"Lalu kamu hanya diam di sini?! Cari tahu kenapa bisa seperti ini! Di mana bagian keuangan? Panggil ke sini"
"Dia tidak ada di tempat pak"
"Kenapa kamu tidak berkeliling dan mencarinya?! Suruh orang untuk mencarinya!Bahkan karyawan dan hutang perusahaan belum di bayar, kita akan bagaimana setelah ini?!"
"Maaf pak, saya akan keluar dan mencarinya" Ucap Rei seraya menundukkan kepalanya.
"Sudahlah. Panggil semua petinggi perusahaan, kita adakan meeting sekarang juga"
"Baik pak"
Pukul sebelas malam, Ran duduk di sofa dan menunggu Rei pulang. Sudah jam segini tapi Rei masih belum pulang dan tidak memberi kabar apapun. Ia bolak-balik melihat ponselnya siapa tau ada kabar dari Rei. Namun pandangannya beralih pada Keli yang perlahan menuruni tangga. Ia segera berlari menghampiri Keli.
"Loh kok bangun?"
"..Haus..."
"Oh iya aku lupa pasang penghalangnya di pintu" Batin Ran teringat.
"Yaudah, besok kakak taruh air ya di kamar? Jadi kalau Keli haus ga usah turun, bahaya"
"Iya kak"
Ran mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Keli. "Kak, om mana?"
"Om masih kerja, belum pulang"
"Kok lama ya?"
"Iya, omnya lagi sibuk, makanya lama. Udah kan minumnya? Yuk bobo lagi? Sini kakak timang-timang"
Keli duduk di pangkuan Ran, Ran mengusap ngusap kepala dan punggung Keli. Tak lama Keli kembali tertidur, Ran mengubah posisi Keli yang duduk menjadi tiduran.
Tok Tok Tok
Ran yang masih menggendong Keli segera berdiri dan mengintip di jendela. Ternyata benar itu Rei. Ia segera membukakan pintu.
".. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam..." Ran memperhatikan wajah Rei yang sangat kusut, sepertinya ia kelelahan.
"Mas kenapa? Ayo masuk dulu, mas duduk dulu ya? Aku mau antar Keli ke kamar dulu"
Saat Ran kembali dari kamar Keli, ia melihat Rei menyandarkan kepalanya di sofa sambil melonggarkan dasinya. Ran segera menuju dapur untuk membuatkan susu untuk Rei.
"Mas, susunya di minum dulu" Ucap Ran seraya meletakkan susu di atas meja.
"Ya. Terimakasih"
".. Mas kenapa? Ada masalah di kantor?"
".. Saya pusing banget. Bulan ini pengeluaran bengkak, uang hilang, karyawan belum di gaji, hutang belum di bayar, hah... Ran, saya ke kamar dulu ya? Cape banget, abis meeting tadi"
"Iya mas" Ran memperhatikan punggung Rei yang kian menjauh, lelaki itu memasuki kamar dan menghilang dari pandangan.
si ratu drama nadine minta di baigon nie
pengen ku bunuh dua orang itu😭👍
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘