Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Raka
Suasana Kampus terasa semakin sepi bagi Raka, setelah Alya lalu Siska sibuk dengan tugas akhir mereka. Harun yang duduk disamping menyenggol lengan Raka untuk membangunkannya dari lamunan. Karena dosen yang sedang berada didepan kelas sudah menatap kearah Raka yang tidak fokus.
Raka menoleh kearah samping, Harun langsung menunjuk kearah depan agar dirinya segera fokus menatap mata kuliah yang sedang berlangsung.
Setelah kelas selesai, hari sudah siang Raka yang teringat sudah mengajak Siska untuk bertemu melihat ponselnya apakah ada pesan darinya.
"Bro kenapa dari tadi enggak fokus banget. Lagi ada masalah?" Tanya Harun teman kelas Raka.
"Sedikit Run, gue tinggal duluan ya." Pamit Raka.
Raka menuju parkiran kampus segera menghidupkan mobil, ketika akan menginjak pedal gas tiba-tiba dari jendela kemudi ada yang menggendor kacanya. Ia menoleh dan ternyata itu Kimberly.
(Sedang apa wanita gatel ini dimobil Ku., hampir saja buat jantungan. Umpat Raka). Lalu membuka kaca mobil.
"Raka tunggu, mau kemana? Aku lagi enggak bawa Mobil. Ikut yah?" Ucap Kimberly dengan manja.
"Kamu Kan bisa naik taxi atau nebeng temen wanita. Aku ada urusan lain, sudah ya. Bye!" Jawab Raka segera menutup kembali kaca mobilnya.
Brummm ....
Mobil yang dikendarai Raka melesat, meninggalkan Kimberly yang masih berdiri pada tempatnya.
(Sial ! lagi-lagi gagal Aku deketin Kamu. Awas saja Raka lain Kali tidak boleh gagal. Umpat Kim), sambil merapikan rambut panjangnya yang sebahu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Raka sudah berada di lobby kantor Dimas, Ia segera mengirim pesan kepada Siska.
📱Raka
Siska, Aku sudah didepan lobby kantor. Segeralah turun.
📱Siska
Oke, tunggu sebentar. Aku siap-siap turun.
Siska sedikit merapikan riasan wajahnya, memoleskan sedikit gincu warna naturalnya agar terlihat lebih fresh. Lalu pergi menuju lift, sesampainya dibawah ia segera berjalan cepat menuju Mobil Raka yang sudah terparkir disana.
"Maaf ya Ka nunggu lama." Ucap Siska yang baru datang lalu langsung masuk kedalam mobil.
"Tidak kok, baru beberapa menit saja. udah siap?" Tanya Raka.
"Sudah Ka." Jawab Siska.
Lalu Raka menoleh kearah Siska dan maju kearahnya semakin dekat dan ..
Klik !!
Safety belt Ia pasangkan dengan baik untuk Siska. Hampir saja jantung Siska copot melihat kejadian yang dilakukan Raka.
(Kamu perhatian banget Ka. Seandainya Kamu bisa menjadikan Ku pasangan, bukan sahabat Mu. Lirih Siska).
"Lain kali langsung gunakan Sis, yuk Kita jalan." Ucap Raka memotong lamunan Siska.
Mobil Fortuner Raka kini sudah berhenti didepan cafe kawannya, didaerah Jalan Hayam Wuruk. Kevin yang baru datang menuju meja kasir lalu dikagetkan dengan kedatangan Mereka.
"Hai Bro, udah lama Kita enggak ketemu." Sapa Raka sambil menepuk Bahu Kevin.
"Hei Rakaa, long time no see!" Ucap Kevin, Merekapun berpelukan.
"Sama siapa Kamu kesini? wanita Mu?" Tanya Kevin tersenyum kearahnya.
"Kenalkan dia Siska, sahabat Ku di kampus." Jawab Raka.
"Kevin." Sapa Kevin.
"Siska." Jawab Siska
Dan keduanya pun bersalaman. Kevin masih menjabat tangan Siska seakan tidak ingin lepas, sedangkan siska mulai risih dengan tindakannya.
"Hei kasian itu tangan Siska. Buruan lepasin. Hati-hati Sis dia playboy. Haha!" Ucap Raka sambil berjalan kearah kursi pengunjung.
"Ma maaf Aku tak sengaja, melihat wanita secantik Mu membuat ingin berlama lama menjabat tangan." Gombal Kevin.
"Permisi Aku mau menyusul Raka." Ucap Siska.
(Aku akan mengenalmu lebih jauh Siska. Gumam Kevin).
"Kalian ingin pesan apa? Akan Aku traktir." Tanya Kevin lalu menarik kursi disamping Siska.
(Ini orang masih aja mepet, enggak tau apa aku nya risih. Aduh Raka punya temen kaya begini. Bikin aku ilfeel. Umpat Siska).
"Terserah Kamu lah yang mau traktir. atau sediakan menu yang recommend di cafe ini. Kamu bagaimana sis?" Tanya Raka.
"Aku samakan saja dengan pesanan Mu." Jawab Siska.
Padahal Siska sudah senang ketika Raka mengajaknya makan siang berdua, ternyata ada orang ketiga. Sekarang ia jadi tidak berselera menyantap hidangan yang cukup banyak disajikan oleh Kevin.
Kevin adalah teman kecil Raka saat berada di Jogja. Ketika SMP keduanya berpisah melanjutkan sekolah di kota yang berbeda. Raka dan keluarga pindah ke Jakarta mengembangkan bisnis Papahnya sedangkan Kevin melanjutkan sekolah di Makassar ikut dengan Om Tante yang merawatnya semenjak kecil, Karena ia sudah ditingal pergi oleh keduaorangtuanya yang meninggal kecelakaan. Rakalah saat itu yang menjadi satu-satunya teman yang bisa membuatnya bangkit dari kepergian orangtuanya.
Sekarang Ia sudah sukses, memiliki beberapa cabang cafe menu andalan makanan Makassar sesuai Kota asal om tantenya. Ia baru tinggal di Jakarta sekitar beberapa bulan lalu.
Raka dan Kevin justru asik dengan obrolan nostalgia saat kecil dulu seakan melupakan Siska yang ada disana. Raka menyadari perubahan wajah Siska segera mengajaknya mengobrol agar lebih kenal dengan Kevin. Dengan begini Raka sedikit melupakan kegundahan hatinya memikirkan Alya yang pergi ke Malang.
"Kamu tau Sis, Alya pergi ke Malang?" Tiba-tiba Raka memotong pembicaraan Siska dengan Kevin.
"Tau Ka, dia pamit ke aku beberapa hari lalu. Kayanya baru kemarin deh dia berangkat. Rasanya Aku mau ikut kesana, tapi Aku masih harus selesaikan magang 2 minggu kedepan."
(Ternyata Siska juga sudah tau, lalu Aku yang biasanya dekat dengan dirinya tidak diberi tau. Batin Raka).
Raka mengepalkan kedua tangan menahan emosi, melihat perubahan wajah Raka lalu Siska menyentuh tangan kanannya.
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Siska.
"Aku baik, hanya sedikit kecewa." Ucap Raka jujur.
Tak lama Kevin ijin kebelakang untuk mengecek chef baru. Raka kembali melanjutkan pembicaraan dengan Siska.
"Sis, sebenarnya Aku sudah lama menyukai Alya."
Siska yang mendengar itupun terkejut, tak menyangka jika Raka menyukai Alya. Lalu bagaimana dengan perasaannya? tetapi Ia sedikit lega karena Alya sudah dijodohkan dengan Dimas. Tentunya masih ada peluang untuk dirinya.
"Bagaimana ini Sis, Aku semakin emosi mendengar Alya dekat dengan Kakak Ku sendiri." Ucap Raka yang terlihat frustasi.
Siska mengusap lengan Raka untuk menenangkan. Ia mengerti pasti Raka terpukul wanita yang ia suka menjadi jodoh untuk kakaknya.
"Sabar Ka, mungkin ini yang terbaik untuk kalian. Kamu harus perlahan ikhlas menerima ini." Jawab Siska.
"Tidak semudah itu Sis, Aku menyukai Alya sejak awal bertemu. Tetapi aku tidak berani untuk mengutarakannya Karena Alya tidak ingin berpacaran lalu perlahan akupun mengikutinya tidak ingin berpacaran apalagi dengan wanita lain. Rencananya setelah Lulus aku akan melamarnya. Tetapi .. " kata-katanya terputus saat raka mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku paham dengan rasa kecewa Mu. Seharusnya dari awal Kamu bisa sampaikan kepada Alya. Tetapi ini sudah terjadi. Cinta tidak harus memiliki Ka. Melihat kebahagian orang yang Kita sayang itu juga sudah cukup membuat kita bahagia." Jelas Siska menenangkan.
"Kamu benar, terima kasih ya kamu sudah mau mendengarkan curhatanku. Perdana aku curhat dengan mu. Rasanya begitu nyaman. Kamu memang sahabat terbaikku." Jelas Raka.
(Apa sahabat baik untukmu? Bisakah kamu menggangapku lebih dari sahabat Raka? Lirih Siska).
Setelah percakapan cukup lama di cafe, Raka baru menyadari hari sudah sore. Ia lupa seharusnya mengantarkan kembali Siska ke kantor setelah makan siang.
"Maaf ya Kamu jadi kesorean disini. Apa Aku perlu minta ijin keatasan Mu untuk hari ini?" Tanya Raka tidak enak.
"Tidak perlu Raka, Aku memang sudah minta ijin untuk masuk setengah hari. Aku tau Ada sahabat yang sedang membutuhkan keberadaan Ku." Jawab siska.
.
.
.
Renata nya Thor