Arc 1 = Mu Rong (1 — 13)
Arc 2 = Tao Jahat Penyebar Sial (14 — 44)
Arc 3 = Golongan Bangsawan (45 — ?)
Arc 4 = Sistem Keabadian Raja Iblis (April to?)
[Judul menjelaskan secara tidak langsung jalan ceritanya]
Xuan Cheng mendahului kehidupannya dengan kehancuran yang dialami oleh Desa tempat tinggalnya.
Legenda keempat raja iblis yang menyeramkan, masih menjadi rahasia dan tidak ada satupun raja iblis yang berani muncul di hadapannya.
Sosok laki-laki misterius dari tanah Dao Shan telah menjadi Gurunya. Dia begitu menyimpan banyak rahasia yang belum diketahui olehnya.
Dan hal besar kemudian terjadi ketika usianya menginjak 20 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arinimase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 23 - Melintasi Desa Mati
Desa Xu adalah Desa yang tidak pernah ditinggali oleh siapapun dan di dalamnya, hanya berisikan makam-makam milik penduduk desa yang sudah mati. Para penduduk desa Xu mati karena pertarungan antara kerajaan Mu Rong dan orang-orang dari tanah Dao Shan dua ratus tahun lalu. Itulah mereka menyebutnya sebagai desa kuno yang mati.
Dan tepat di tengah-tengah perjalanan itu, Zhang Xiao Ye kembali berhenti di sana dengan orang-orang di belakangnya. Dia berhenti melangkah ketika berada di tengah-tengah Desa Xu dan tepat di depan sebuah pohon besar yang telah dikelilingi oleh makam para penduduk desa.
Melihat dia yang berhenti di tengah-tengah Desa, membuat Ling Pei penasaran dan bertanya, "Mengapa berhenti di sini?"
Mo Xiu lanjut bicara, "Ya, Xiao Ye. Mengapa berhenti? Apakah ada sesuatu yang menghalangi?"
Zhang Xiao Ye menoleh ke arah Xuan Cheng yang berdiri di sebelahnya dan bertanya, "Apakah kau bisa melihat apa yang saat ini sedang berada di bawah pohon besar di sana?" Ucapnya sambil menunjuk ke arah pohon tersebut.
Xuan Cheng mengikuti apa yang dikatakan oleh Zhang Xiao Ye padanya. Dia segera melihat ke arah pohon besar yang berdiri tidak jauh di depannya. Namun, belum sempat dia melihat arwah yang tinggal di sana, tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam mendadak muncul di hadapannya dan langsung menendang tubuhnya hingga terpental jauh dari tempat sebelumnya.
Zhang Xiao Ye bergerak cepat menyiapkan kedua tangannya dan menangkap Xuan Cheng sebelum dia menghancurkan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya.
Pada akhirnya, Zhang Xiao Ye membawa Xuan Cheng di atas kedua tangannya dan bertanya, "Apa yang kau lihat tadi?"
Xuan Cheng menatap khawatir ke arah Zhang Xiao Ye dan menjawab, "Bayangan hitam anak perempuan."
Zhang Xiao Ye mendengus dan berkata, "Oh, jadi dia anak perempuan. Pantas saja dia hanya menunjukkan wujudnya padamu dan tidak pada yang lainnya. Lalu, apa yang saat ini dia lakukan?"
Xuan Cheng meremas pakaian Zhang Xiao Ye ketika dia sedang mengangkatnya dan menjawab, "Dia menangis. Di depan semua orang, dia merasa dipermalukan. Bisakah Guru menurunkanku sekarang? Aku sudah baik-baik saja."
Zhang Xiao Ye tersentak dan langsung menurunkan Xuan Cheng kembali. Dia langsung menatap ke arah arwah anak perempuan yang masih berdiri di depannya dan juga di hadapan Ling Pei dan Mo Xiu.
Dia memakai pakaian hitam terbuka karena sebagian dari pakaiannya habis terkoyak-koyak. Hanya Xuan Cheng yang mampu melihatnya dan Zhang Xiao Ye yang mampu merasakan keberadaannya namun, dia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan arwah anak perempuan itu.
Zhang Xiao Ye melipat tangannya dan berkata, "Hanya kamu yang bisa melihatnya, Xuan Cheng. Sebaiknya ini akan menjadi pembelajaranmu untuk yang kesekian kalinya. Cobalah untuk berkomunikasi dengan arwah itu dan jika melawan, kamu juga harus bisa melawannya." Ucapnya yang kemudian melemparkan sebilah pisau belati ke arah Xuan Cheng.
Xuan Cheng terkejut dengan keberadaan pisau belati yang berada di atas tangannya dan balik bertanya pada Zhang Xiao Ye, "Apa maksudnya ini? Apakah aku harus bertarung dengannya? Tapi, Guru sama sekali belum memberikanku pedang untuk berlatih!"
'pufft' Zhang Xiao Ye sedikit tertawa dan berkata, "Siapa yang menyuruhmu untuk bertarung? Aku hanya menyuruhmu untuk berkomunikasi dengannya. Tapi, ada satu hal yang perlu kamu ingat baik-baik. Jadikanlah arwah itu sebagai senjatamu dan pisau belati yang berada di tanganmu akan menjadi pedang untuk mu."
Di hadapannya, Xuan Cheng langsung berteriak, "Ini hanya pisau belati! Apakah Guru sama sekali tidak bisa membedakan antara pedang dengan pisau?!"
Zhang Xiao Ye mengayunkan cambuk ekor kudanya kembali dan menjawab, "Aku belum selesai berkata. Pisau belati yang ada di tanganmu akan berubah dengan perlahan jika, kamu terus mengumpulkan banyak arwah yang akan merasuki pedangmu. Tapi, karena itu hanyalah arwah anak perempuan, pisau itu tidak akan mengalami perubahan dan akan tetap sama seperti ini."
Xuan Cheng kembali berkata dengan nada menawar, "Kalau begitu, kenapa tidak langsung pedangnya saja? Akan lebih merepotkan jika aku harus mengurus pisau belati layaknya seorang anak."
Zhang Xiao Ye langsung menjawab, "Jangan memulai negosiasi denganku."
Di depan mereka, dua orang yang telah mendengar omong kosong dari mereka berdua, membuat Ling Pei berkata, "Apa yang kalian bicarakan? Menunggu Bai Hua menghancurkan bumi?"
Zhang Xiao Ye mengayunkan tangannya dan berkata dengan tenang, "Bai Hua masih bisa bersabar sebentar lagi."
"Guru! Arwah anak perempuan itu, menghilang!" Ucap Xuan Cheng secara tiba-tiba dan langsung menoleh ke arah Zhang Xiao Ye setelah dia mengatakan kalimatnya.
Arwah anak perempuan itu, saat ini berada di belakang Zhang Xiao Ye sedang terbang melesat ke arahnya, dibarengi dengan beberapa bayangan hitam yang membentuk benda tajam yang ada di sekitarnya.
Bayangan hitam itu seolah membentuk sebuah pedang dan hendak untuk menikam Zhang Xiao Ye dari belakang tanpa diketahui olehnya. Dengan cepat, Xuan Cheng berlari ke belakang dan menepis seluruh bayangan hitam yang akan menikam Zhang Xiao Ye dari belakang. Namun, ada salah satu yang mampu terlepas darinya dan berhasil mengoyak daging pada pipi sebelah kanan Zhang Xiao Ye.
Merasakan bahwa ada sesuatu yang keluar dari dalam dagingnya, membuat Zhang Xiao Ye langsung berkata, "Kamu keluar satu, Xuan Cheng."
Xuan Cheng langsung berteriak, "Kau hanya memberikanku pisau belati saja dan kau ingin aku melindungimu?!" Ucapnya sambil mengatur nafas yang terdengar sangat berantakan.
Zhang Xiao Ye kembali berkata, "Tunggu! Kau menyebut diriku sebagai seorang teman? Aku ini Gurumu dan aku berhak untuk mengubah pisau belati itu menjadi pisau dapur untukmu. Apa kau mau?"
”Kenapa aku merasa jauh lebih sengsara hidup dengannya?” batin Xuan Cheng yang kemudian kembali melihat arwah anak perempuan itu melesat kembali ke arah Zhang Xiao Ye dan akan melancarkan serangannya yang berikutnya.
Xuan Cheng merasa heran mengapa arwah gadis itu hanya menyerang Zhang Xiao Ye meskipun saat ini, dia sedang menentangnya untuk bertarung. Mungkinkah karena masa lalu mereka sehingga arwah gadis itu hanya menyerang Zhang Xiao Ye saja?
Tanpa perlu pikir panjang kembali, Xuan Cheng segera berlari menghampiri arwah anak perempuan yang akan menyerang kembali ke arah Zhang Xiao Ye. Seharusnya, serangan yang dilakukan oleh arwah anak perempuan itu dengan gerakan menepis dari pisau belati milik Xuan Cheng, itu akan membuat hasil seri pada mereka berdua.
Lalu, ketika kedua senjata itu saling menabrak. Hembusan angin besar yang mengoyak daging ketiganya dan menghancurkan beberapa bangunan di sekitarnya. Membuat Ling Pei dan Mo Xiu sangat terkejut dengan pertarungan yang dilakukan oleh Xuan Cheng dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh mereka berdua.
"Siapa yang sedang melakukan pertarungan di sini?"
Butiran debu dan pasir yang berterbangan, membuat pandangan mereka sedikit tertutupi karena tidak bisa melihat seorangpun yang berdiri di depan mereka.
Belum lama setelah pandangan mereka tertutupi. Sebuah bayangan putih dan merah, berdiri tepat di tengah-tengah Ling Pei dan Mo Xiu. Dan setelah apa yang menutupi pandangan keduanya menghilang, tampak terlihat Zhang Xiao Ye yang berdiri di belakang Xuan Cheng, sedang menaruh kedua jarinya pada dahi seorang anak perempuan yang saat ini sedang berdiri di depan mereka berdua.
Tatapan mata yang diberikan Zhang Xiao Ye pada arwah anak perempuan yang sudah memunculkan wujudnya pada semua orang, terlihat tajam dan seperti tidak biasanya. Dia terlihat sangat membencinya dan enggan untuk menyentuhnya lagi sehingga, hal itu membuatnya langsung berbalik badan dan berkata pada Xuan Cheng, "Kamu bisa berbicara dengannya saat ini."