NovelToon NovelToon
To Be New Yiyi

To Be New Yiyi

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / TimeTravel / Chicklit / Tamat
Popularitas:184.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Virgi

Sinopsis

Pernah tidak kepikiran kalau saja kalian punya ilmu yang tiada tanding di alam lain? Ya... kita mungkin tidak pernah kepikiran sampai ke sana, tapi ini beda dengan yang di alami oleh Tan Xiao Yi. Di kehidupannya saat ini dia adalah seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang anak dan sebagai istri dari seorang pengusaha yang cukup sukses.
Hingga suatu ketika pada saat malam tiba, dia langsung pindah ke dimensi alam lain yaitu era 700 masehi masa Dinasti Tang. Disanalah dia memasuki ke dalam tubuh seorang gadis cantik bernama Yiyi.
Bagaimana kehidupan dia disana sebagai Yiyi? Apakah dia bisa kembali ke alam nyatanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mo Yan mulai tertarik padaku

Cukup lama kami berciuman hingga dia seperti tidak dapat menahan hasrat nafsunya. Dia melepaskan tali pinggang hanfuku bagian luar tanpa sepengetahuanku, karena aku sudah terbawa suasana keromantisan kami. Benar-benar di luar kendali.

"Aaaahhhhh...." desahku saat dia mendaratkan ciumannya ke jenjang dadaku yang sedikit terbuka. Kemudian aku tersadar atas perlakuannya yang sudah sejauh ini. Aku menatapnya yang masih asyik menikmati hasratnya dan kemudian aku langsung menutup rapat hanfuku agar tidak kelihatan bidang dadaku (masih pakai dalaman kok).

Dia menatapku bingung. "Kenapa?"

"Mmmm.... Aku belum bisa melakukannya sekarang."

"Tapi kan kau selirku. Sudah menjadi kewajibanmu untuk melayaniku sebagai suamimu." Dia duduk dipinggir ranjangku sambil membetulkan pakaiannya yang sedikit acak-acakkan.

"Aku belum siap," jawabku singkat sambil duduk.

"Bukankah kau menyukaiku?"

"Beri aku waktu untuk menerima semua perasaan dari anda! Aku masih trauma dengan sikapmu yang kemarin. Maaf!" ucapku yang minta pengertiannya.

Aku melihat kekecewaannya dan dia mengepalkan tangannya. "Baiklah! Aku beri kau waktu agar bisa menjalani kewajibanmu."

"Terima kasih, Yang Mulia."

Dia mendekat lagi dalam jarak yang sangat dekat sekali. Perlahan-lahan dia seolah ingin menciumku, tapi ternyata .... "Aku tidak suka menunggu terlalu lama. Pastikan siapkan dirimu secepatnya!" bisiknya dengan suara yang seksi.

Aku bisa merasakan darahku memanas dan pipiku juga terasa panas. "Mm.." jawabku cepat sambil mengangguk pelan.

Dia tersenyum dan berlalu pergi. Lega rasanya seperti habis tahan nafas sekian lama. Aku langsung membantu Ruyi membereskan semua barang-barang. Tidak hanya Ruyi, beberapa dayang perempuan yang lain dan beberapa pengawal juga membantuku. Mo Yan mengerahkan semuanya untuk melayaniku.

Sesekali aku melamun dan memikirkan perkataan Mo Yan yang tidak sabar untuk dilayani sebagai suami. 'Aku harus gimana ya? Dia bukan suamiku yang sesungguhnya. Tapi dia suami dari raga yang ku pakai sekarang ini. Aku salah tidak ya?' Pertanyaan-pertanyaan membingungkan selalu berlalu lalang di benakku.

"Nyonya, apa yang sedang nyonya pikirkan? Hamba lihat, nyonya melamun terus. Apakah nyonya sudah berhasil menaklukkan Yang Mulia?" tanya Ruyi seakan-akan mengejekku.

"Kau ini!" kataku sambil mencubit pelan pipinya.

"Aw...." teriaknya pelan.

"Jangan bicara sembarangan!"

"Tapi hamba lihat, Yang Mulia mulai memperhatikan nyonya dengan sangat baik."

"Yang pastinya kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Itulah yang membuatku bersyukur."

"Anda benar, nyonya Hamba turut senang."

"Ayo, kita selesaikan!" ajakku padanya sambil menata barang.

Kami menyelesaikan hingga menjelang petang. Aku mengambil alih untuk memasak di dapur kecilku. Masakan sederhana dari abad 21 aku ciptakan di abad ini. Setelah jadi beberapa menu masakan, aku mengajak para dayang-dayang dan pengawal baruku untuk makan bersama dalam satu meja makan yang panjang. Seperti dugaanku, kalau mereka akan merasa sungkan dan menolak karena suatu peraturan tapi aku tetap memaksa dengan sedikit ancaman akan memecat mereka semua, akhirnya mereka menyerah.

"Ayo, kalian semua makanlah dan ambillah yang kalian suka! Aku senang, karena kalian di tunjuk Yang Mulia untuk menemaniku nantinya," kataku ramah sebagai salam awal pertemuan kami.

Aku mulai mengajak mereka berbincang satu persatu sambil makan. Aku ingin mengenal mereka walaupun hanya sebentar. Memang tidak semua bisa di percaya, karena siapa tahu di antara mereka ada salah satunya seorang mata-mata yang bisa membunuhku kapanpun mereka mau. Bagaimanapun aku tetap harus waspada.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Mo Yan yang sudah ada di tengah-tengah kami tanpa sepengetahuan kami.

Para dayang dan pengawalku semua beranjak dari kursinya dan berlutut karena takut. "Hormat pada pangeran ke-3!" seru mereka kompak sambil memberi hormat.

"Apa kalian tidak tahu pada peraturan yang di tetapkan di istana? Dengan nyali kalian yang cukup hebat, berani duduk berdampingan dengan selir Yi dalam satu meja makan," ucapnya dingin dengan perasaan tidak sukanya.

"Ampun, pangeran!" Mereka memohon dengan serentak.

"Lancang!" seru Mo Yan dengan nada tinggi.

"Yang Mulia, mereka tidak salah sama sekali. Ini semua adalah salah hamba. Hamba yang menyuruh mereka menemani hamba makan sebagai awal pengenalan kami," jelasku sambil memberi hormat.

"Ini tidak bisa di maafkan, kalian semua harus di hukum dengan pukulan sebanyak dua puluh kali," kata Mo Yan yang tidak menghiraukan penjelasanku.

"Ampun, pangeran!" kata mereka bergiliran sambil terkejut.

Aku terkejut dengan sikap Mo Yan. Kenapa hatinya begitu keras sampai tidak mau memaklumi mereka semua?

"Jika Yang Mulia mau menghukum mereka, maka hukumlah hamba juga!" pintaku yang sudah berlutut di depannya.

Mereka semua melihat ke arahku. Mo Yan menghampiriku dan menarik tanganku agar aku tidak berlutut lagi, tapi aku menolaknya. Aku tidak peduli apakah dia akan marah atau tidak. Aku hanya merasa kalau orang-orang tidak bersalah, tidak seharusnya menerima hukuman.

"Baiklah, kalian ku ampuni. Kalian boleh pergi sekarang dan lakukan pekerjaan kalian masing-masing! Aku tidak ingin melihat kejadian seperti ini lagi," perintah Mo Yan.

"Baik, pangeran. Terima kasih," kata mereka.

"Terima kasih, Yang Mulia. Anda telah mengampuni mereka," kataku sedikit lega.

Dia membantuku berdiri. "Yiyi, mereka punya peraturan sendiri di istana. Baik itu bekerja padamu atau pada siapapun anggota kerajaan di sini, tetap saja tidak boleh tidak taat. Kau sebagai selir, harusnya kau tahu juga dengan peraturan ini dan jangan dianggap remeh, karena jika bukan aku yang melihatnya, maka siapkanlah kepala mereka untuk di penggal," jelasnya yang bikin merinding.

"Baik, Yang mulia. Hamba tidak akan melakukannya lagi," ucapku sedikit menyesal.

"Kenapa tidak mengundangku makan juga di sini? Segitu cepatnya kau melupakanku?"

"Mmm.... Kalau begitu aku siapkan dulu makanan baru untukmu. Tunggu disini sebentar!" seruku sambil berjalan ke arah dapur kecilku.

"Yiyi, kau mau kemana?"

"Menyiapkan makanan. Anda tunggu saja! Hamba akan segera datang."

Sekitar dua puluh menit, aku menyelesaikan tiga menu masakan. Ruyi membantuku membereskan semua agar Mo Yan merasa nyaman. Aku sudah menghidangkannya di atas meja makan. Mo Yan menghirup aromanya sambil diresapi.

"Ini semua, siapa yang masak?" tanya Mo Yan penasaran. Dia tampak tidak sabar ingin mencicipinya.

"Ini semua, nyonya yang masak Yang Mulia," jawab Ruyi.

"Benarkah?" tanya Mo Yan lagi.

"Cicipilah! Nanti baru berkomentar lagi," kataku yang sudah tidak sabar ingin melihat reaksinya.

Mo Yan mencicipi satu persatu masakkanku. Satu suapan di mulutnya satu anggukan kepala yang tandanya kalau dia menyukai masakkanku.

"Benar-benar lezat. Kenapa aku tidak pernah tahu kalau kau pandai memasak?"

Aku hanya tersenyum. "Jika anda suka, lain kali akan kubuatkan lagi jika berkunjung ke sini."

"Tidak, tidak...Tidak ada kata lain kali, tapi aku akan kesini setiap hari untuk makan masakkanmu dan kamu harus menemaniku makan." Dia tampak senang saat makan tanpa menghiraukan keberadaanku, Ruyi, dan Ling Zhe. "Yiyi, makanlah!"

"Hamba sudah kenyang. Perut ini sudah tidak bisa menerima apapun lagi."

"Sungguh sayang kau tidak bisa menikmatinya bersamaku. Setelah dari sini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

1
Ibuk'e Denia
aq mampir thor
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Ni Ketut Patmiari
Ini balas dendam nya kapan ya?
Bukan nya cpet2 slesaiin misi, emang ga mikir ninggalin suami n anak2 di dunia modern
ucan
bagus banget ceritanya thor
Virgi: terima kasih😻
total 1 replies
Sri Tati
Luar biasa
nuke
payah masa pake jampi2 segala
IndraAsya
next 💪💪💪😘😘😘
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘 😘😘
Natsuki
Wihhh keren "..... 😎
Rani Wardanan
setidaknya mereka diberikan keturunanlah..
Mio mio
semangat kak
Anifka Widha
bukan ngontrak say tapi ngekos
Anifka Widha
tuh kan apa kubilang jampi jampi alias pelet ikan
LilyArni
selir sampe 6 ckckckck.....
Ria Diana Santi
Boom like untuk mu Thor!

Makasih banyak ya buat support mu pada karya ku! ❤️🤗😘
Ria Diana Santi: Sama²...
total 2 replies
Indri Satria
thor semangat
BIDADARIQ 1516: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya
"Kaisar Rubah"
thanks 🦋🦋🦋
total 1 replies
Rusmina Hz
semangat Thor
Virgi: terima kasih🙏
total 1 replies
Rusmina Hz
ok lanjut
Rusmina Hz
semangat thor
Raina Yuni Apriani
aduhhhh peran nya bodoh banget sih udah tau selir itu jahat masih mau ngebantuin mana katanya mau bales demdam uhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!