Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebiasaan yang akhirnya boleh dilakukan
Entah mengapa secara tiba-tiba, gadis itu nampak mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Seolah sedang menahan sesuatu. Meninggalkan komentar-komentar analis yang sebelumnya hampir muncul secara beruntun.
Tiap lukisan, patung, bahkan ukiran pilar yang hampir tak pernah absen untuk ia komentari meski hanya gumaman semata, kini tiba-tiba mendadak diam.
Angga yang sedang sedikit mencondongkan tubuh untuk mengamati tekstur sebuah lukisan abstrak pun menoleh.
"Loh? Kenapa, Yun?"
Yuna menggigit pelan bibir bawahnya. Pandangannya jatuh ke lantai granit yang mengkilap bersih.
"Maaf."
"Hm?"
"Aku..."
"...sepertinya terlalu banyak bicara."
Suasana hening beberapa detik.
Yuna kembali menundukkan kepalanya.
"Aku terlalu sok tahu. Maafkan aku."
Angga mengangkat alisnya sejenak. Kemudian tertawa pendek. Tawa yang tidak menyiratkan nada mengejek sedikitpun.
"Loh? Ngapain minta maaf?"
Yuna berkedip.
Ekor matanya melirik ke arah Angga, yang kini kembali mengalihkan pandangannya pada lukisan di depannya.
Ia pun ikut memandang lukisan itu. Lukisan yang menampilkan sapuan warna merah, hitam, dan emas yang memenuhi hampir seluruh kanvas. Menghasilkan bentuk yang sama sekali tidak jelas jika hanya dilihat sekilas.
"Gapapa dong. Ini kan galeri seni."
Yuna perlahan mengangkat wajahnya.
"M-maksudnya... tidak apa-apa aku terus berbicara?"
"Yep."
Sudut mata Angga melirik kearah Yuna. Kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada lukisan di depannya.
"Galeri seni itu bukan cuma tempat lihat lukisan. Tapi juga tempat orang bebas berpendapat."
Ia kemudian menunjuk pelan ke arah lukisan di depan mereka.
"Lihat yang ini..."
Yuna menoleh ragu—ke arah lukisan yang Angga tunjuk.
"Kalau ditanya pelukisnya pengen nyampein apa..."
Telapak tangannya mengusap udara. Seolah ingin mengusap keindahan kanvas tanpa menyentuh.
"Bisa jadi jawabanku beda sama jawabanmu. Dan itu nggak jadi masalah kok."
Yuna mengikuti telapak tangan Angga yang kini hanya berjarak beberapa centi dari lukisan abstrak itu.
Motifnya kembali memenuhi pandangannya. Karena semakin lama ia melihat, semakin banyak pola yang mulai muncul:
Komposisi warna gelap di bagian bawah. Semburat emas yang perlahan naik. Lalu guratan merah yang saling berpotongan tanpa aturan.
"Seolah..."
"Ingin menunjukkan sesuatu tanpa menjabarkannya secara langsung..."
Ia menoleh kearah Angga dengan tatapan ragu.
"Aku... mungkin benar kan?"
Angga tersenyum hangat.
"Mungkin aja..."
"Soalnya tiap pemikiran orang kan beda-beda. Dan justru itu yang menurutku jadi seru."
"Seru?"
Mata Yuna membulat.
"Yep!"
"Kalau semua orang mikirnya sama..."
"...galeri seni bakal ngebosenin."
Yuna menoleh perlahan.
"Jadi..."
"...aku boleh berkomentar?"
"Boleh."
"...Menganalisa semuanya?"
"Boleh banget, Yuna."
Jawaban itu datang begitu ringan. Seolah memang tidak ada alasan untuk melarangnya.
Yuna mematung. Matanya sedikit membulat.
Di sekolah, ia sudah terbiasa menelan kembali kalimat-kalimat yang terlalu panjang sebelum sempat keluar dari mulutnya.
Bukan karena tidak tahu harus berkata apa. Justru karena terlalu banyak yang ingin ia katakan.
Namun ditempat ini...
Di depan deretan karya yang bahkan dibuat agar setiap orang memiliki penafsiran berbeda...
Seseorang justru berkata...
"Silakan."
Bahu Yuna yang sejak tadi menegang perlahan mengendur.
"...Tak kusangka," gumamnya lirih.
Angga mengernyit.
"Nggak nyangka? Kok malah gitu?"
"Heh?!"
Yuna gelagapan karena gumamannya terdengar sampai ke samping.
"Aku justru kepikiran kalo kamu bener-bener lagi menikmati galeri ini sebagaimana mestinya loh. Masa kamu nggak nyadar sih?" sambung Angga dengan suara ringan.
Yuna semakin mematung.
Karena mungkin...
Tempat ini memang diciptakan agar setiap orang bebas mengamati dunia dengan caranya masing-masing.
Untuk pertama kalinya, Yuna tidak merasa perlu mencari kalimat yang paling aman sebelum berbicara.
"Yah... meskipun..."
Angga menggaruk pipinya pelan.
"Kamu ngomongnya masih kayak kritikus seni."
Yuna langsung berkedip.
"Kritikus seni?"
Matanya memicing tak percaya. Namun juga timbul sedikit kekhawatiran yang mengganggu benaknya.
Di sana, Angga malah tersenyum kecil.
Kemudian melangkah setengah langkah mendekat disampingnya. Bukan untuk mendesak, melainkan ikut memandang lukisan yang sama.
"Coba deh..."
"...daripada bilang, 'komposisi warnanya tidak simetris,' atau 'goresannya mengarah ke sini...'"
"... kamu bilang..."
Ia memandang lukisan itu beberapa detik.
"'Menurutku lukisan ini sedang menceritakan seseorang yang berusaha bangkit.'"
"'Atau...'"
"'Menurutku pelukisnya lagi menyimpan rasa rindu.'"
Mata Yuna semakin melebar mendengar pernyataan itu.
"Tapi..."
"Itu hanya asumsi."
"Iya, tahu."
Angga mengangguk.
"Namanya juga apresiasi. Nggak perlu butuh jawaban yang bener kok. Kita kan tugasnya cuma nyoba memahami."
Angga kembali menatap kanvas di depan mereka.
"Karena menurutku..."
Angga menarik napas panjang. Seolah mencari kata sederhana yang tepat untuk menjabarkan maksudnya.
"Seni adalah sesuatu yang dituangkan oleh seseorang. Atau sang seniman. Kedalam sebuah karya..."
"Dan bukan sekumpulan data yang harus dirangkum untuk disimpulkan akhirnya."
"Melainkan sesuatu yang ingin sang pencipta seni, ingin bagikan ke orang lain untuk dirasakan maknanya."
Sunyi kembali memenuhi ruangan.
Tatapan Yuna perlahan kembali menuju lukisan itu.
Namun kali ini...
Ia tidak lagi memperhatikan arah sapuan kuas.
Tidak lagi menghitung proporsi objek.
Tidak lagi membandingkan komposisi warna.
Melainkan...
Mencoba membayangkan...
Apa yang mungkin sedang dirasakan seseorang saat pertama kali melukiskan semua itu.
Dan untuk pertama kalinya...
Yuna tidak sedang menganalisis sebuah lukisan. Melainkan sedang mencoba memahami hati manusia.
Angga tiba-tiba menepukkan kedua telapak tangannya sekali.
"Yaudah lah ya? Malah giliranku yang sok tahu sekarang hahaha."
Yuna tersentak kecil. Lalu senyum tipis muncul di bibirnya.
Kemudian,
"Kita foto buat bukti dokumentasi dulu deh. Abis itu, terserah kita mau lanjut jalan-jalan lagi. Atau langsungan pulang."
Yuna berkedip sekali. Tatapannya perlahan menyapu ruangan—ke puluhan lukisan yang masih berjajar rapi.
Ada pemandangan alam.
Potret manusia.
Lukisan abstrak.
Sampai karya kontemporer yang sulit ditebak maknanya.
Beberapa detik menyusuri, pandangannya pun akhirnya berhenti pada lukisan yang terpajang di sudut ruangan. Yang menampilkan sebuah lukisan berukuran sedang dipasang sendirian pada dinding putih.
Latar belakangnya gelap. Di tengah kanvas, sekuntum bunga sedap malam digores memanjang ke atas.
Kelopak-kelopaknya berwarna putih kekuningan. Namun tak ada tangkai yang benar-benar digambar. Hanya siluet tipis berwarna abu-abu yang samar, seolah sengaja dibiarkan menggantung di antara ada dan tiada.
Bunganya tampak berdiri sendiri.
Sunyi.
Misterius.
Namun justru memancarkan kesan anggun yang sulit dijelaskan.
Yuna memandanginya cukup lama.
"Sepertinya..."
Ia bergumam lirih.
"...aku ingin mengobservasi yang itu."
Angga mengikuti arah pandangnya.
"Oh..."
"Cocok juga tuh!"
Tanpa banyak bicara lagi, Yuna dan Angga berjalan menghampiri lukisan itu dengan langkah pelan. Seolah gema sekecil apapun akan menggangu keheningan yang telah dibangun oleh karya tersebut.
Mereka berdua berhenti beberapa centi dari dinding. Kepala mereka sedikit mendongak sebab ukuran lukisan yang ternyata lebih tinggi ketimbang dilihat dari kejauhan sebelumnya.
Srettt...
Tanpa menunggu waktu, Angga membuka resleting tas punggungnya. Tangannya merogoh ke dalam. Kemudian mengeluarkan ponselnya yang dibalut casing hitam polos.
Ia mengusap sekilas lensa kameranya menggunakan ujung kaus. Lalu mengangkat ponsel itu ke depan wajah.
"Kamu dulu ya."
Yuna menoleh cepat. Kemudian mengangguk dan berlari kecil ke depan lukisan itu.
Ia berdiri tegak di samping lukisan bunga sedap malam. Kedua tangannya jatuh rapi di sisi tubuh. Tatapannya mengarah lurus ke kamera. Dengan senyuman yang begitu tipis.
Hampir tak terlihat.
Seperti senyum formal yang biasa muncul ketika seseorang diminta berfoto untuk keperluan administrasi.
Angga yang semula sudah siap menekan tombol kamera, justru kembali menurunkan ponselnya.
"Kok..."
"...kaku banget ya?" gumamnya spontan.
Yuna yang mendengar itu langsung refleks membenarkan posisi kacamatanya.
"Coba ganti gaya, Yun."
Yuna menautkan sisi rambutnya ke belakang telinga.
"Seperti bagaimana?"
"Eee..."
Angga terdiam.
Masalahnya, dia sendiri tidak tahu.
Ia memang sering melihat teman-teman perempuannya berfoto. Tapi ketika harus menjelaskan bagaimana cara melakukannya...
Otaknya mendadak kosong.
"Ya..."
Angga menggaruk tengkuk.
"Pokoknya jangan terlalu kaku."
Yuna mengangguk.
Kemudian mencoba mengangkat satu tangan. Jarinya membentuk tanda V.
"Begini? Apakah sudah cocok?"
Angga meringis canggung.
Karena menurutnya, pose itu lebih cocok diperagakan oleh Melody.
"Coba yang lain."
Yuna menurunkan tangannya.
"Oh."
Ia mencoba lagi. Kali ini kedua tangannya bersedekap di depan dada.
"Kalau begini?"
Angga memiringkan kepala.
"Itu bukannya kayak Ega tadi ya? Yang kamu bilang 'seperti menahan sesuatu'?"
Yuna menghela napas kecil. Tangannya jatuh keras di samping tubuhnya.
"Kalau begitu bagaimana?" sungutnya sedikit kesal.
Angga ikut menghela napas.
"Gue juga gak tahu."
Mereka berdua akhirnya terdiam. Dua orang yang sama-sama sedang memikirkan sesuatu yang seharusnya sangat sederhana.
Sampai akhirnya—
"Apa kita foto bersama saja, Ga?"
Angga langsung menoleh cepat.
"Sama-sama? Nggak salah nih?"
Yuna ikut membulatkan mata.
"Salah? A-apa yang salah?"
Ia kembali menyadari bahwa kalimatnya mungkin terdengar aneh.
Namun Angga hanya tersenyum maklum.
"Enggak. Maksudku..."
Ia mengangkat ponselnya sedikit.
"Kalau sendirian, menurutku bakal lebih bagus."
Yuna mengernyit.
"Kenapa?"
"Soalnya kalo sendiri-sendiri kan kek bisa menjelaskan isi pikiran lukisan pilihan perorangan. Bukan isi pikiran kelompok."
Yuna terdiam. Kemudian mengangguk pelan.
"Benar juga."
Angga kembali menatap lukisan bunga sedap malam yang ada disamping Yuna.
"Jadi?"
Alis Angga mengkerut. Seolah kata yang akan ia ucapkan akan terdengar sedikit aneh.
"...sekarang kita pikirin gimana pose yang cocok buat kamu."
Di tengah galeri seni yang sunyi itu, untuk pertama kalinya tugas apresiasi seni mereka justru menghadirkan sebuah permasalahan yang sama sekali tidak tercantum dalam instruksi guru.
Bagaimana cara berpose normal di depan kamera.
sebelumnya lebar lapangan