NovelToon NovelToon
Trapped By You

Trapped By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

​​"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"

Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.

"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.

​"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"

​"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak ada lagi topeng

Mansion Veldens berdiri megah di balik gerbang besi yang menjulang tinggi. Lampu-lampu sorot di sekeliling benteng beton itu memancarkan cahaya kekuningan yang dingin, membelah kegelapan malam.

​Mobil milik Mara berhenti tepat di depan pintu utama. Beberapa pengawal berpakaian serba hitam dengan senjata api tersembunyi berdiri berjejer tegak, menundukkan kepala dalam-dalam saat pintu kendaraan mewah itu terbuka.

​Mara keluar lebih dulu. Tanpa memedulikan gemercik air hujan yang membasahi jas mahal dan rambut galapnya, ia kembali membungkuk untuk meraih tubuh Kayna secara paksa.

​"Jangan sentuh aku! Kubilang jangan sentuh aku, Damara!" jerit Kayna melengking. Ia memukul dada keras Mara dengan kedua tangannya yang memar, berusaha sekuat tenaga untuk meronta.

​Namun, perlawanan Kayna bagaikan ketukan jemari pada dinding beton. Mara tidak bergeming sedikit pun. Cengkeraman tangannya di balik pinggang dan bawah lutut Kayna justru semakin mengencang, mengunci wanita itu dalam dekapan protektif yang dingin dan tak tertembus.

​"Tutup mulutmu, Kayna, atau aku harus mengikat dan menyeretmu di depan para pengawalku," ancam Mara dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup menghentikan jeritan Kayna seketika.

​Langkah kaki Mara yang panjang dan tegap melintasi koridor utama mansion yang megah. Karpet tebal meredam setiap jejak langkahnya. Pria itu membawa Kayna naik ke lantai atas, langsung menuju kamar tidur utama.

​BRAKK!

​Mara mendorong pintu kayu jati tebal itu dengan kakinya, melangkah masuk, lalu mendudukkan Kayna di atas sofa beludru berwarna hijau zamrud.

​Begitu tubuhnya menyentuh sofa, Kayna langsung menyudutkan diri seolah-olah Mara adalah seekor pemangsa yang siap menerkamnya kapan saja. Tatapan mata Kayna yang biasanya jernih dan penuh kehangatan kini memancarkan rasa benci, jijik, dan kekecewaan yang teramat mendalam.

​Topeng pria sempurna, lembut, dan penyayang yang selama berminggu-minggu dikenakan Mara di hadapan Kayna telah hancur total. Kini, di depan wanita itu, hanya ada sang Ketua Mafia Lexans, seorang mafia yang berdarah dingin dan tak berbelas kasih.

​Mara melepas jas hitamnya yang bernoda darah yang sudah mengering, menghempaskannya ke atas lantai tanpa peduli, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Ia kemudian berjalan menuju laci, mengambil kotak obat-obatan , dan melangkah kembali mendekati Kayna.

​"Ulurkan tanganmu," perintah Mara dingin seraya berlutut di depan sofa.

​"Pergi!" desis Kayna parau. Air mata yang mongering di pipinya meninggalkan jejak kepedihan yang nyata. "Jangan berpura-pura peduli padaku! Kau iblis penipu!"

​"Aku bilang ulurkan tanganmu, Kayna," ulang Mara, suaranya turun satu oktaf, syarat akan tekanan dominasi yang tak terbantahkan. Sebelum Kayna sempat menarik tangannya lebih jauh, Mara sudah mencengkeram pergelangan tangan halus wanita itu.

​Jemari Mara yang panjang mengoleskan salep dingin ke kulit pergelangan tangan Kayna yang merah memar akibat gesekan tali tambang tebal di gudang pelabuhan tadi. Gerakan tangannya begitu perlahan dan hati-hati, sangat bertolak belakang dengan aura mengerikan yang melingkupi tubuhnya.

​Kayna meringis menahan perih, namun rasa sakit di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan hancur hatinya saat ini.

​"Kenapa kau lakukan ini padaku?" bisik Kayna dengan suara bergetar hebat. Matanya menatap tajam ke arah kepala Mara yang tertunduk mengobatinya. "Kau bilang kau mencintaiku... Kau bilang aku adalah segalanya bagimu... Tapi ternyata seluruh kenangan kita, cerita masa lalu kita... semuanya cuma dongeng menjijikkan yang kau ciptakan dari amnesiaku!"

​Mara menghentikan gerakan tangannya. Ia perlahan mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata Kayna yang berkaca-kaca.

​"Apakah itu penting?" tanya Mara datar.

​"Tentu saja itu penting, Damara!" teriak Kayna, emosinya kembali meledak. "Kau memanipulasi otakku! Kau membuatku merasa bersalah setiap kali aku meragukanmu! Kau berpura-pura menjadi tunangan penyayang, padahal sebelum kecelakaan itu... aku membencimu! Aku menolak pertunangan gila itu!"

​Sebuah senyuman tipis yang sangat dingin terukir di sudut bibir Mara—senyuman yang membuat bulu kuduk Kayna berdiri tegak.

​"Dan itu adalah manipulasi paling sempurna yang pernah aku lakukan dalam hidupku," ujar Mara tanpa ada sedikit pun nada penyesalan dalam suaranya. "Kau tersenyum padaku. Kau memelukku setiap pagi. Kau mencari perlindungan di dadaku saat kau takut. Kau bergantung sepenuhnya padaku, Kayna. Setiap detik dari kebohongan itu... adalah surga bagiku."

​"Kau gila! Kau benar-benar psikopat berdarah dingin!" Kayna menepis tangan Mara dengan sisa tenaganya, berdiri dari sofa walau tubuhnya masih lemas. "Kau membunuh orang-orang di gudang itu tanpa mengedipkan mata! Kau menjalankan bisnis senjata api dan perdagangan manusia! Kau adalah penjahat, Damara!"

​Mara ikut berdiri secara perlahan. Tinggi tubuhnya yang mencolok membayangi Kayna, mengikis seluruh ruang gerak wanita itu hingga Kayna terdesak bersandar pada dinding dingin di belakangnya.

​Mara memajukan tubuhnya, menempelkan kedua telapak tangannya di dinding tepat di sisi kiri dan kanan kepala Kayna, mengurung wanita itu sepenuhnya dalam kungkungan tubuh tegapnya.

​"Aku memang penjahat, Kayna. Aku adalah iblis." bisik Mara tepat di depan bibir Kayna. Hembusan napasnya yang hangat terasa begitu membekukan. "Dan iblis ini... yang tidak akan pernah membiarkan pria mana pun atau siapa pun menyentuh sehelai rambutmu."

​"Kau bisa mengurung tubuhku di mansion ini, Damara," balas Kayna dengan napas memburu, menatap Mara tanpa gentar sedikit pun meski air mata terus menetes dari pelupuk matanya. "Tapi kau tidak akan pernah bisa memiliki hatiku lagi. Ingatanku mungkin belum pulih sepenuhnya, tapi rasa benci ini... rasa benci ini sangat nyata!"

​Mara terkekeh pelan, sebuah kekehan berat yang penuh dengan ketenangan yang mengerikan. Jemari tangannya yang dingin naik, membelai rahang Kayna dengan sangat lembut, menekan ibu jarinya di atas bibir Kayna yang gemetar.

​"Aku tidak butuh hatimu jika aku bisa menggenggam seluruh ragamu, Kayna," desis Mara dingin. "Bencilah aku sesukamu. Menangislah setiap malam. Tapi pernikahan kita akan tetap dilangsungkan dalam beberapa hari lagi. Tanpa ada penundaan. Tanpa ada pembatalan."

​"Aku tidak akan pernah mau menikah dengan seorang pembunuh!"

​"Kau tidak punya pilihan, sayang," potong Mara dengan nada mutlak. "Mulai malam ini, seluruh akses keluar mansion ditutup. Semua pintu, jendela, dan koridor dijaga ketat. Kau tidak akan bertemu siapa pun tanpa izin dariku."

​Sebelum Kayna sempat membalas kata-kata kejam itu, suara ketukan keras pada pintu kamar memecah keheningan yang mencekam di antara mereka.

​TOK! TOK! TOK!

​"Tuan Veldens! Ini Carlos!" suara Carlos terdengar tegang dan tergesa-gesa dari luar kamar. "Ada situasi darurat mengenai kode terenkripsi milik Martin!"

​Mara memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas berat, lalu perlahan mundur menjauhi Kayna. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan sebelum melangkah menuju pintu dan membukanya sedikit.

​"Ada apa?" tanya Mara dingin pada Carlos yang berdiri di luar.

​"Tuan, peretas kita baru saja menembus data rahasia ponsel Samuel sebelum dia pingsan," bisik Carlos dengan nada amat serius, matanya sesekali melirik ke arah Kayna yang berdiri kaku di dalam kamar. "Disana tertulis Martin tidak bekerja sendirian. Sebelum menyergap Nona Kayna, dia telah mengirimkan seluruh data jaringan logistik senjata api Lexans dan lokasi mansion ini... kepada salah satu petinggi faksi saingan di Singapura."

​Mara menajamkan tatapannya, "Siapa?"

​"Faksi Chen, Tuan," jawab Carlos meyakinkan. "Dan yang lebih buruk... pesan terenkripsi itu juga berisi instruksi khusus untuk menyerang restoran Sunny Bless milik Tuan Erick malam ini sebagai umpan pengalih perhatian!"

​DEG!

​Mendengar nama sang ayah dan restoran keluarganya disebut, darah di seluruh tubuh Kayna seketika membeku. Rasa takut yang jauh lebih besar daripada ketakutannya pada Mara mendadak menghantam dadanya hingga ia sulit bernapas.

​Mara memutar tubuhnya perlahan, menatap Kayna yang kini menatapnya dengan mata terbelalak lebar penuh kepanikan.

​"Papa..." cicit Kayna, suaranya nyaris tak terdengar. Tanpa memedulikan rasa bencinya pada Mara, Kayna berlari mendekati pria itu dan mencengkeram lengan kemeja Mara. "Damara! Apa maksudnya?! Apa yang akan mereka lakukan pada Papaku?!"

​Mara menatap cengkeraman tangan Kayna di lengannya, lalu kembali menatap mata wanita itu. Senyuman licik kembali terukir di wajah tampannya.

​"Inilah dunia bawah tanah yang kau benci, Kayna," desis Mara pelan namun sarat ancaman. "Sekarang katakan padaku... apakah kau masih ingin berlari dariku, saat satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan nyawa ayahmu malam ini adalah iblis yang baru saja kau benci?"

...●Bersambung●...

1
Putri💅🏻💅🏻
bagus banget
AzhuraAstra
Lanjut seng!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!