Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pondok kayu didalam hutan
Keesokan paginya, tepat jam tujuh, Sera sudah berdiri di depan cermin besar kamar utama. Ia memilih pakaian kasual yang santai namun tetap sopan—celana denim berpotongan nyaman dan sweater rajut tipis berwarna putih gading. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan tergerai bebas, hanya dijepit sebagian di sisi kanan.
Tanpa seragam sekolah, tanpa riasan tebal khas perjamuan, Sera merasa... aneh. Seolah ia melepas topeng yang selama ini melindunginya.
Tok. Tok.
Ketukan di pintu langsung membuyarkan lamunan Sera. Jantungnya refleks berdegup lebih cepat, teringat ancaman implisit Yunkai semalam. Saat pintu terbuka, sosok yang berdiri di sana berhasil membuat Sera terpaku di tempatnya.
Yunkai tidak memakai kemeja formal dengan lencana kerajaan yang biasa ia kenakan. Pria itu memakai kaus sweater hitam polos yang pas di badan, membingkai bahu tegapnya dengan sempurna. Rambutnya ditata sedikit acak-acakan, jatuh di dahi dengan natural.
"Kau telat dua menit, Seraphine," sapa Yunkai. Sudut bibirnya terangkat tipis melihat ekspresi tertegun Sera.
Sera cepat-cepat menguasai diri, berdehem pelan sambil meraih tas selempang kecilnya. "Hanya dua menit. Jangan berlebihan, Yunkai."
Mendengar namanya dipanggil langsung tanpa gelar, mata Yunkai berkilat puas. Ia mundur satu langkah, memberi jalan bagi Sera untuk keluar. "Bagus. Kau mengingat aturan main kita hari ini."
Mereka berjalan menyusuri koridor mansion yang sepi. Tidak ada pelayan yang berbaris memberikan salam seperti biasa. Keheningan ini justru membuat atmosfer di antara mereka terasa begitu intens. Setiap langkah kaki mereka yang seirama seolah menggaungkan sisa ketegangan dari malam sebelumnya.
Begitu sampai di halaman depan, Sera menghentikan langkahnya. Di sana tidak ada mobil limosin hitam atau sopir pribadi keluarga Kane yang biasa mengantar mereka. Yang ada hanyalah sebuah mobil sport dua pintu berwarna abu-abu pekat yang terparkir gagah.
Yunkai berjalan mendahuluinya, membuka pintu sisi penumpang, lalu menatap Sera yang masih bergeming. "Masuklah."
Sera cukup patuh hanya untuk sekedar duduk manis di kursi penumpang. Begitu Yunkai masuk, ruang kabin mobil yang minimalis itu mendadak terasa begitu sempit. Aroma parfum maskulin Yunkai langsung mendominasi udara, memicu memori Sera tentang seberapa dekat jarak mereka semalam.
Yunkai menyalakan mesin mobil. Raungan mesin yang halus namun bertenaga memecah keheningan pagi. Namun, alih-alih langsung menginjak gas, Yunkai justru memiringkan tubuhnya ke arah Sera.
Sera tersentak saat merasakan pergerakan tiba-tiba itu. Ia refleks menoleh dan mendapati wajah Yunkai sudah berada hanya beberapa senti di depannya. Napas Sera tertahan. Tubuhnya otomatis bersandar penuh pada jok mobil, matanya melebar waspada.
"Kau mau apa?" tanya Sera ketus, meski ada getaran halus dalam suaranya yang tidak bisa ia sembunyikan. Tangannya mencengkeram sabuk pengaman di dadanya, mengira Yunkai akan melanjutkan aksinya yang tertunda semalam.
Yunkai menatap manik mata Sera yang bergerak gelisah, lalu pandangannya turun ke bibir gadis itu yang mengatup rapat. Yunkai tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tahu persis seberapa besar pengaruhnya pada Sera.
Tanpa sepatah kata pun, tangan Yunkai bergerak melewati bahu Sera. Jari-jarinya dengan lembut menyentuh helai rambut Sera yang tergerai, menyisipkannya ke belakang pundak, sebelum tangannya meraih sabuk pengaman di sisi atas kursi Sera.
Klik.
Yunkai mengunci sabuk pengaman itu ke tempatnya. Ia tidak langsung menjauh. Pria itu tetap menahan posisinya, menatap Sera dengan jarak yang begitu intim, menikmati rona merah yang perlahan menjalar di pipi gadis di hadapannya.
"Memasang sabuk pengamanmu," bisik Yunkai parau, suaranya terdengar geli sekaligus sengaja menggoda. "Kau pikir aku mau melakukan apa, hmm?"
Sera menggigit bagian dalam pipinya, merasa bodoh karena sudah salah paham—atau mungkin, merasa kecewa karena dugaannya salah. Ia mendorong dada Yunkai dengan ujung jarinya, mengembalikan jarak di antara mereka.
"Jalankan saja mobilnya," ketus Sera, membuang muka sepenuhnya ke arah jendela dengan jantung yang berdegup liar.
Yunkai terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar begitu seksi di dalam kabin mobil yang tertutup. Ia kembali ke posisi mengemudinya, menginjak pedal gas, dan membawa mobil itu membelah jalanan pagi yang masih lengang.
Tarik-ulur itu kembali dimulai, dan Sera tahu, mempertahankan dinding pertahanannya hari ini akan jauh lebih sulit daripada sebelumnya.
Mobil sport yang dikemudikan Yunkai melaju membelah jalanan pinggiran kota yang mulai berkabut. Keheningan di dalam kabin tidak lagi terasa canggung, melainkan dipenuhi oleh ketegangan yang tertahan. Sera terus menatap keluar jendela, memperhatikan deretan pohon pinus yang melesat cepat, sementara jemarinya diam-diam meremas tali tasnya untuk mengalihkan fokus dari profil samping Yunkai.
"Kita mau ke mana?" tanya Sera akhirnya, memecah keheningan setelah hampir tiga puluh menit perjalanan.
Yunkai meliriknya sekilas melalui spion tengah, satu tangannya berada di kemudi sementara tangan lainnya bertumpu santai di atas tuas transmisi. "Ke tempat di mana kau dan aku terbebas dari hiruk pikuk ancaman nama belakang kita."
Sera mendengus tipis, mencoba menyembunyikan getaran aneh di dadanya mendengarkan kalimat itu. "Jawaban yang sangat klise, Yunkai."
"Tapi kau menyukainya, kan?" sahut Yunkai santai.
Sebelum Sera sempat membalas, Yunkai memutar kemudi, membawa mobil itu keluar dari jalur utama menuju sebuah jalan setapak yang menanjak dan dikelilingi hutan pinus yang lebat. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di sebuah area terbuka di puncak bukit. Di sana, sebuah pondok kayu bergaya modern dengan dinding kaca besar berdiri kokoh, menghadap langsung ke arah lembah yang diselimuti awan putih.
"Turunlah," ujar Yunkai sembari mematikan mesin.
Begitu Sera melangkah keluar, udara dingin pegunungan langsung menusuk kulitnya, membuat tubuhnya refleks sedikit menggigil. Ia mengeratkan sweter rajutnya. Belum sempat ia melangkah, sepasang tangan besar dari belakang menyampirkan mantel longgar ke atas pundaknya.
Sera menoleh dan mendapati Yunkai sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Aroma parfum pria itu yang bercampur udara dingin langsung mengepung indra penciuman Sera.
"Aku tidak kedinginan," kilih Sera, mencoba bergerak maju untuk menjaga jarak.
Namun, Yunkai lebih cepat. Ia menahan kedua ujung jaket yang menggantung di bahu Sera, menariknya lembut hingga tubuh Sera kembali mundur dan punggungnya bersandar pada dada bidang Yunkai.
"Aku tahu, aku hanya menyuruhmu untuk membawakan mantel ku, Seraphine," bisik Yunkai tepat di samping telinganya, embusan napas hangatnya kontras dengan udara dingin di sekitar mereka.
Sera menahan napas, jantungnya kembali berulah. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Yunkai merembat melalui punggungnya. "Kau berjanji untuk menjaga jarakmu hari ini," protes Sera dengan suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin, meski ia tidak menolak jaket itu.
Yunkai terkekeh rendah, getaran di dadanya terasa jelas di punggung Sera. Ia perlahan melepaskan pegangannya, membiarkan Sera berbalik menghadapnya.
"Aku berjanji menjaga jarak jika kau memintanya dengan hatimu," balas Yunkai, matanya menatap Sera dengan intensitas yang tidak berkurang sedikit pun dari semalam.
"Tapi matamu tidak mengatakan hal yang sama."
Sera menatap manik mata gelap itu, mencari celah kebohongan atau sekadar permainan di sana, namun ia tidak menemukan apa pun selain kesungguhan. Sifat defensif Sera kembali bangkit untuk melindunginya. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari pesona pria itu.
"Jangan terlalu percaya diri, Yunkai. Aku ikut hari ini hanya karena aku butuh istirahat dari sekolah. Bukan karena hal lain," ucap Sera tajam, meski rona merah di pipinya berkata sebaliknya. Ia berbalik dan berjalan mendahului Yunkai menuju teras pondok kayu tersebut.
Yunkai memperhatikan punggung Sera dengan senyum tipis yang penuh arti. Gadis itu selalu memasang durinya setiap kali merasa terancam oleh perasaannya sendiri. Namun bagi Yunkai, itu justru bagian yang paling menarik.
"Terserah apa katamu," seru Yunkai dari belakang sembari menyusul langkah Sera. "Ayo masuk. Aku bertaruh kau belum pernah membuat sarapanmu sendiri seumur hidupmu."
Sera menghentikan langkahnya di depan pintu kaca, menoleh dengan alis bertaut. "Membuat sarapan? Kau tidak menyewa koki?"
Yunkai melewati Sera, membuka pintu pondok dan menahannya agar gadis itu bisa masuk. "Sudah kubilang, hari ini hanya ada kau dan aku. Kita yang memasak, atau kita kelaparan."
Sera melangkah masuk ke dalam pondok yang hangat, menatap area dapur bersih yang minimalis namun dilengkapi peralatan mewah. Tantangan baru telah dimulai, dan Sera sadar, berada di tempat terisolasi seperti ini bersama Yunkai tanpa ada orang lain akan menguji seluruh batasan yang telah ia tetapkan.