Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22: Magic Practice
Karena kejadian serangan dan kekacauan di Kota Eldervale kemarin, Amorette memutuskan untuk mengubah sedikit jadwalnya. Hari ini adalah Hari Thrum, atau hari Kamis. Ia mengirim pesan lebih awal lewat burung merpati ke kediaman Pangeran Algernon, memintanya datang ke istana Elowen pagi-pagi sekali, jauh lebih cepat dari rencana awal. Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan, hal-hal yang membuat pikirannya tidak tenang semalaman, dan ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk bercerita—seseorang yang cerdas, bisa dipercaya, dan memahami situasi dengan baik. Algernon adalah satu-satunya orang yang memenuhi syarat itu.
Pagi itu, langit masih berwarna kelabu kebiruan saat Algernon tiba. Ia langsung diantar ke tempat latihan khusus yang terletak di sayap belakang istana, sebuah bangunan luas dengan lantai batu tebal dan dinding yang diperkuat sihir agar tidak mudah rusak saat digunakan berlatih. Ruangan itu kosong, tenang, dan hanya diterangi cahaya matahari pagi yang masuk lewat jendela-jendela tinggi.
Amorette sudah menunggu di sana, mengenakan pakaian latihan yang nyaman dan sederhana. Begitu melihat Algernon masuk, senyum tipis terukir di bibirnya, namun sorot matanya terlihat lelah dan penuh beban.
"Kau datang lebih cepat dari yang kuduga," sapa Amorette pelan, berjalan mendekat.
Algernon tersenyum santai meski matanya menangkap kegelisahan di wajah gadis itu. "Suratmu terdengar mendesak. Ada apa? Kau terlihat seperti tidak tidur semalaman."
Mereka duduk berdua di pinggir ruangan, di atas bangku panjang kayu. Amorette menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya secara rinci.
"Kemarin... saat aku berkeliling kota setelah pesta teh, aku melihat betapa indah dan hidupnya Eldervale. Tapi di saat yang sama, rasa takut tiba-tiba menyergapku. Aku membayangkan apa yang akan terjadi jika perang benar-benar datang ke negeri ini. Pemandangan indah itu akan hancur, orang-orang akan menderita... dan pemikiran itu membuatku semakin bertekad untuk mencegah segala hal buruk terjadi."
Amorette menundukkan pandangannya ke lantai batu yang dingin.
"Lalu, saat aku sedang berjalan di pasar... aku tidak sengaja menabrak seseorang. Pria itu... penampilannya sangat aneh, Algernon. Dia memakai jubah hitam pekat yang menyerap cahaya, rambutnya berwarna perak seputih salju, dan saat dia menunduk meminta maaf, aku sempat melihat matanya. Berwarna merah menyala, persis seperti bara api yang menyala. Dia pergi begitu saja sebelum aku sempat bertanya apa pun. Awalnya aku menganggapnya kebetulan, tapi..."
Suara Amorette sedikit bergetar saat melanjutkan ceritanya.
"Tidak lama setelah itu terjadi, ada ledakan besar. Kekacauan terjadi, orang-orang panik dan berlarian. Aku membantu mengevakuasi mereka, membagikan makanan, memastikan semua aman... tapi saat aku sedang mengatur warga di alun-alun, aku melihatnya lagi. Pria berambut perak dan bermata merah itu. Dia berdiri diam di atas puncak menara Katedral, sangat tinggi dan berbahaya. Dia berdiri di sana seolah dia yang mengatur semuanya. Dan yang paling mengerikan... dia menatap tepat ke arahku. Matanya merah itu menyala terang, seolah dia tahu persis siapa aku, dan apa yang aku rencanakan."
Amorette menatap Algernon lekat-lekat, mencari jawaban di wajah temannya itu.
"Ciri-cirinya terlalu khas, Algernon. Rambut perak, mata merah, jubah hitam... aku merasa aku pernah membaca atau mendeskripsikan sosok seperti itu di dalam buku sejarah atau legenda kuno. Siapa dia? Apakah dia musuh kita? Atau... apakah dia ada hubungannya dengan rencana jahat yang akan terjadi?"
Algernon terdiam cukup lama, wajahnya yang biasanya tenang kini berubah serius. Ia merenungkan setiap kata yang baru saja didengarnya, mengingat-ingat pengetahuan yang ia miliki.
"Rambut perak dan mata merah..." gumam Algernon pelan. "Itu adalah ciri fisik yang sangat jarang. Biasanya, ciri seperti itu hanya dimiliki oleh ras yang sudah lama menghilang, atau penyihir yang telah melakukan kontrak dengan kekuatan kegelapan purba. Warna mata merah itu sering dikaitkan dengan sihir darah, atau elemen api kegelapan yang sangat murni dan berbahaya. Jika dia berdiri di sana saat ledakan terjadi dan menatapmu seperti itu... maka kemungkinan besar dia bukan sekadar pengembara biasa, Amorette. Dia mungkin memang terlibat, atau setidaknya dia mengawasi gerak-gerikmu. Dan itu berarti... kau sudah menarik perhatian pihak yang tidak kita inginkan jauh lebih cepat dari perkiraan."
Algernon menatap Amorette dengan pandangan tajam namun penuh perhatian.
"Kau aman? Dia tidak melakukan apa-apa padamu selain menatap?"
"Dia hanya memberi isyarat tangan, lalu menghilang," jawab Amorette. "Tapi rasanya... rasanya aku sedang dipermainkan."
"Kalau begitu, kita tidak punya banyak waktu lagi," ucap Algernon tegas, mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius dan bertekad. "Jika dia mengawasimu, berarti kekuatanmu saat ini belum cukup untuk membuatnya takut, atau dia belum menganggapmu ancaman serius. Kita harus mempercepat segalanya. Kita harus menguasai sihir lebih cepat, lebih kuat, dan lebih dalam dari rencana awal. Mulai hari ini, latihan kita akan jauh lebih keras."
Amorette mengangguk setuju. Ia pun sadar akan hal itu. "Benar. Makanya aku memanggilmu pagi ini. Kita harus mulai dari dasar, meski ada hal yang sedikit rumit di sini."
Amorette berdiri dan mengambil dua buah buku tebal dari bangku di sampingnya. Satu miliknya dari perpustakaan istana, satu lagi milik Algernon yang dibawanya dari kediaman sendiri.
"Sebenarnya... tubuhku ini, pemilik aslinya, sudah memahami dasar-dasar sihir. Dia sudah pernah diajari, dia tahu teori, dia tahu cara menyalurkan energi. Tapi aku... jiwa dan ingatan yang ada di dalam tubuh ini sekarang... aku masih asing dengan semuanya. Aku tahu teorinya lewat buku dan ingatan samar, tapi aku belum terbiasa menggunakannya. Rasanya seperti tahu cara mengendarai kuda tapi belum pernah naik sama sekali."
Ia menatap Algernon dengan senyum kecil yang agak canggung.
"Dan kau sendiri, Algernon... kau sangat cerdas, kau hafal semua teori sihir di dunia ini, kau paham rumus dan mantera, tapi sampai detik ini kau belum bisa mengeluarkan sihir sama sekali. Kau punya pengetahuan, tapi tidak punya kemampuan teknis. Aku punya kemampuan dasar yang tertanam di tubuh, tapi tidak punya kebiasaan dan kendali yang baik. Kita berdua saling melengkapi kekurangan satu sama lain."
Algernon tertawa kecil, menyadari kebenaran itu. "Kau benar sekali. Aku tahu segalanya tentang sihir Cahaya dan Angin yang seharusnya aku miliki, tapi energiku selalu hilang atau tersumbat sebelum keluar. Dan kau, kau punya elemen Api Kegelapan yang langka dan kuat, tapi kau masih ragu dan belum terbiasa memanggilnya. Baiklah, mari kita mulai. Kita belajar dasar-dasar ini bersama-sama sampai kita benar-benar menguasainya dengan nyaman."
Mereka berdua pun membuka buku masing-masing, duduk bersila di lantai batu yang dingin, dan mulai menelaah setiap baris tulisan, setiap diagram, dan setiap penjelasan tentang cara merasakan, menarik, dan menyalurkan energi sihir.
Latihan pun dimulai dengan sungguh-sungguh. Mulai pukul empat pagi, mereka berlatih konsentrasi, merasakan aliran energi di dalam pembuluh tenaga mereka, dan mencoba mengeluarkan percikan kecil elemen masing-masing. Ada saat-saat di mana mereka berhenti untuk sarapan dan makan siang dengan sederhana di ruangan itu saja, namun pembicaraan mereka tetap berputar pada teori dan teknik sihir.
Amorette yang sebenarnya sudah memiliki dasar fisik yang mumpuni, perlahan mulai terbiasa. Ia belajar memisahkan ingatannya sendiri dengan ingatan pemilik tubuh, menyatukannya menjadi satu pemahaman utuh. Ia mulai bisa mengeluarkan api kecil yang berwarna merah gelap, api yang tidak membakar benda sembarangan kecuali ia menghendakinya. Sementara itu, Algernon, berkat pengetahuannya yang luar biasa, akhirnya menemukan letak kesalahannya. Ia terlalu berpikir dan menganalisis, sehingga menghalangi aliran energi. Begitu ia mulai melakukannya dengan perasaan dan insting, cahaya lembut berwarna keemasan mulai muncul di telapak tangannya, diikuti hembusan angin kecil yang berputar-putar di sekelilingnya.
Jam berganti jam, hingga pukul empat sore tiba. Sepanjang dua belas jam penuh itu mereka tidak berhenti berlatih dan berdiskusi. Hasilnya sungguh menakjubkan. Keduanya kini sudah cukup ahli dan pandai menguasai dasar-dasar sihir. Mereka sudah lancar menyalurkan energi, mempertahankan bentuk elemen, dan menggunakan beberapa mantra dasar yang berguna, seperti penerangan kecil, penguat tenaga, atau perisai sederhana.
"Dasar sudah kita kuasai sepenuhnya," ucap Algernon sambil mengusap keringat di dahinya, wajahnya berseri-seri karena puas. "Sekarang waktunya naik tingkat. Kita tidak bisa hanya diam di sini. Selanjutnya kita akan mencoba sihir tingkat lima. Itu adalah tingkatan terendah di atas pemula, tapi sudah masuk kategori sihir yang bisa digunakan untuk bertahan hidup atau bertarung sungguhan."
Amorette mengangguk antusias, meski tubuhnya terasa pegal luar biasa. Ia membalik halaman bukunya ke bab baru yang lebih rumit. "Sihir tingkat lima... pengendalian elemen jarak jauh dan pembentukan bentuk senjata atau perisai yang lebih kuat. Baiklah, mari kita coba."
Tiga jam berikutnya berlalu dalam keheningan dan konsentrasi penuh. Kali ini latihannya jauh lebih berat dan menguras tenaga. Algernon berusaha membentuk tombak angin yang stabil, sementara Amorette mencoba menciptakan bola api kegelapan yang bisa ia kendalikan terbang ke mana saja. Berkali-kali gagal, berkali-kali mencoba ulang. Kadang bola api itu meledak kecil, kadang angin Algernon malah membalik ke arahnya. Namun, berkat kerja sama dan saling mengoreksi, mereka perlahan mulai berhasil.
Menjelang pukul tujuh malam, mereka berdua sudah cukup menguasai sihir tingkat lima itu. Gerakan mereka lebih fleksibel, mantra mereka lebih lancar, dan energi yang keluar lebih terkontrol. Meski begitu, mereka sadar ini belum sempurna. Masih butuh latihan rutin agar bisa digunakan dalam situasi nyata tanpa ragu atau kehabisan tenaga.
"Sudah cukup bagus untuk hari ini," ucap Amorette sambil menghela napas panjang, melepaskan energi yang tersisa di tangannya. "Kita sudah melampaui target harianku."
"Kau benar. Tubuhku rasanya seperti mau patah," sahut Algernon sambil tertawa lelah.
Namun, tepat saat mereka hendak duduk kembali untuk beristirahat sejenak, pintu ruangan terbuka. Seorang pelayan istana berdiri di sana dengan sikap hormat, sedikit terkejut melihat suasana ruangan yang berantakan dan aura sihir yang masih terasa tebal di udara.
"Permisi, Yang Mulia Putri Amorette, Yang Mulia Pangeran Algernon..." ucap pelayan itu membungkuk. "Baginda Raja Julius mengirim saya untuk memanggil kalian berdua. Beliau mengundang kalian untuk segera menuju ruang makan utama, untuk ikut makan malam bersama beliau dan Ibu Ratu."
Amorette dan Algernon saling melempar pandang. Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap itu saja, keduanya sudah saling mengerti isi pikiran masing-masing.
Makan malam bersama Raja... di saat kita berdua terlihat berantakan, berkeringat, dan jelas-jelas habis menghabiskan waktu berdua berjam-jam di ruang tertutup.
Di mata orang lain, terutama di mata Ratu Mirelle dan Elarise yang pasti ada di sana, pemandangan ini adalah emas murni untuk gosip dan fitnah. Tapi di sisi lain, ini juga kesempatan emas untuk menunjukkan kedekatan dan kerja sama mereka di depan Raja.
Algernon mengangkat alisnya sedikit, menyembunyikan senyum jahilnya. Amorette hanya menarik napas panjang, merapikan sedikit rambut dan pakaiannya seadanya, lalu mengangkat dagunya dengan anggun kembali.
"Baiklah," ucap Amorette pelan namun tegas, menatap Algernon yang sudah bersiap berdiri. "Kalau begitu... mari kita hadapi mereka. Bagaimanapun juga, kita memang sedang bersama, dan tidak ada yang perlu disembunyikan."
Algernon mengangguk setuju. "Tepat sekali. Justru ini akan semakin memperkuat apa yang sudah kita tanamkan di benak semua orang. Bahwa kita adalah pasangan yang serasi, kuat, dan tidak terpisahkan."
Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, meski tubuh mereka lelah luar biasa, Amorette dan Algernon berjalan berdampingan keluar dari ruang latihan, menuju ruang makan utama, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.