NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu yang tidak pernah ada

Berita mengenai insiden Azizah yang secara tidak terduga menampar Ezra, telah menyebar luas di kalangan seluruh penghuni rumah. Siapa lagi kalau bukan Iyem pelakunya. Wanita paruh baya itu ternyata cukup lihai dalam bergosip. Bagi mereka, tindakan Azizah adalah sesuatu yang mustahil dilakukan oleh siapa pun di rumah itu.

Di sisi lain, kesehatan Amisha pun sudah jauh lebih stabil. Malam ini, alih-alih berdiam diri di kamar, ia justru mengajak seluruh asisten rumah tangganya untuk berkumpul di ruang tengah dan menghabiskan sisa malam minggu yang biasanya digunakan untuk berjalan-jalan.

Clara yang sejak tadi tidak mau lepas dari Azizah, terus menggelendot manja di lengan sang pembantu baru. Ia merasa seolah memiliki sosok kakak perempuan yang selama ini ia impikan.

Sementara itu, Darel sedang dalam perjalanan menjemput Windy dan bayinya di rumah mertua. Mereka dijadwalkan akan kembali ke rumah esok pagi.

Amisha menyesap teh hangatnya, lalu tatapannya tertuju pada Azizah yang tampak tenang walaupun menjadi pusat perhatian.

“Zah,” panggil Amisha lembut, “Aku sudah mendengar apa yang terjadi antara kau dan Ezra.”

Seketika, ruangan menjadi hening. Kelima asisten rumah tangga lainnya menahan napas, takut Nyonya Besar akan memarahi Azizah.

Namun di luar dugaan, Amisha justru tertawa kecil, “Jujur saja, aku merasa takjub dengan keberanianmu. Bahkan aku, sebagai ibu kandungnya sendiri, selama ini tidak pernah berani mengekang atau melawan sikap Ezra yang keras itu.”

Dewi berpandangan dengan temannya yang lain. Mereka tidak menyangka majikan mereka akan bereaksi seperti itu. Amisha kemudian menatap Azizah dengan sorot mata yang penuh apresiasi.

“Terima kasih sudah berani bersikap tegas, Zah. Mungkin memang sudah saatnya ada seseorang yang berani menunjukkan pada Ezra bahwa tidak semua orang bisa dia injak semaunya.”

Azizah segera mengeluarkan buku catatannya. Setelah menulisnya, ia pun menunjukkan tulisannya pada Amisha dengan kepala tertunduk, merasa bersalah atas keributan yang terjadi.

‘Maafkan saya, Nyonya. Karena telah menampar Tuan Ezra.’

Namun Amisha tidak marah. Wanita itu justru masih mempertahankan senyum hangatnya, “Jangan minta maaf, Azizah,” jawab Amisha lembut, “Aku justru merasa senang. Sepertinya, Ezra akhirnya bertemu dengan lawan yang pas.”

Celetukan Amisha itu sontak membuat Dewi, Iyem, Gita, dan yang lainnya tertawa lepas. Perkataan Amisha seolah sedang membahas pertandingan di atas ring tinju, bukan insiden penamparan yang serius.

Azizah hanya bisa mematung di tempatnya. Ia benar-benar bingung dengan sikap Amisha yang begitu tenang dan justru tampak bangga padanya. Padahal, beberapa jam lalu Amisha jatuh sakit karena beban pikirannya terhadap Ezra. Ia masih sulit memahami bagaimana seorang ibu bisa begitu suportif terhadap orang yang baru saja menyakiti putranya.

......................

Keesokan harinya, suasana rumah yang sempat menegang berubah drastis menjadi penuh keceriaan. Kehadiran Keira yang baru saja pulang membuat seisi rumah tampak lebih hidup. Setelah sarapan usai, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Mereka duduk melingkar di atas karpet dengan Keira yang berada tepat di tengah-tengah mereka. Tawa terbahak-bahak pecah ketika bayi mungil itu menunjukkan tingkah lakunya yang lucu. Sementara itu, pandangan Darel diam-diam tertuju pada Amisha. Ia tersenyum ketika melihat ibunya yang sekarang tampak jauh lebih ceria dan bugar dibandingkan kemarin.

Di tengah suasana yang riuh, Windy berdehem pelan, “Aku dengar dari Darel, katanya Azizah berani menampar Kak Ezra?” tanyanya membuka percakapan.

Pertanyaan itu membuat Amisha terkekeh. Clara bahkan menimpali dengan semangat, “Iya! Tamparan mbak Azizah benar-benar tepat sasaran!”

Darel segera menoleh pada adiknya dengan tatapan memperingatkan, “Clara, jaga sikapmu. Dia tetap kakakmu,” tegurnya tegas.

Clara hanya bisa mengerucutkan bibir, sedikit kesal, sebelum akhirnya kembali bermain dengan Keira.

Amisha mengusap pucuk kepala Clara dengan penuh kasih sayang, lalu beralih menatap Windy, “Aku sendiri tidak menyangka Azizah seberani itu melawan Ezra,” ujar Amisha, “Bagiku, itu sangat menggemaskan. Bayangkan saja, seluruh orang di rumah ini menciut setiap kali berhadapan dengan Ezra, tapi tiba-tiba muncul wanita manis dan mungil yang berani melawannya tanpa rasa takut sedikit pun.”

Darel menyahut dengan nada setuju, “Hitung-hitung Kak Ezra mendapat ganjaran karena sudah membuat Mama sakit kemarin.”

Mendengar penyebutan tentang kondisi kesehatannya, Amisha pun meluruskan bibir, “Sudahlah, jangan membahas itu lagi,” pintanya lembut, “Aku sekarang hanya ingin merayakan keberanian Azizah.”

Windy tersenyum dan mengangguk setuju, ia mendukung penuh keputusan mertuanya. Baginya, melihat Amisha bahagia dan melupakan kesedihan adalah prioritas utama saat ini.

Tidak lama, Azizah melangkah masuk ke ruang tengah dengan membawa nampan berisi teko kaca jus jeruk dan beberapa gelas. Begitu ia mendekat, Windy langsung menyapa.

“Nah, ini dia yang kita bicarakan.”

Walaupun merasa bingung dengan maksud ucapan itu, Azizah tetap bersikap profesional dan meletakkan nampan itu di meja depan sofa.

Melihat ekspresi Azizah yang tampak kebingungan, Darel akhirnya menjelaskan situasinya, “Kami sedang membicarakan bagaimana kau menampar kakakku.”

Mendengar pengakuan itu, Azizah refleks menggaruk telinganya yang tertutup hijab. Ia merasa malu karena insiden itu sekarang menjadi perbincangan hangat di rumah tempatnya bekerja.

Amisha segera menenangkan suasana dengan penuh kehangatan, “Tidak perlu malu, Zah. Anggap kami sebagai keluarga sendiri. Jadi, jangan sungkan, ya.”

Azizah pun tersenyum dan mengangguk, merasa sedikit lebih tenang di tengah keluarga majikannya.

“Tante? Bagaimana keadaanmu sekarang?” Suara melengking dari arah depan membuat mereka terkejut.

Hingga suara ketukan heels yang nyaring terdengar semakin mendekat. Muncullah seorang wanita berpenampilan mencolok dengan dress merah di atas lutut yang melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Rambutnya yang bergelombang bahkan ikut bergoyang mengikuti irama kakinya.

Amisha langsung berdiri, wajahnya yang tadi ceria sekarang berubah drastis menjadi penuh amarah.

“Apa yang kau lakukan di sini?! Aku tidak mengizinkan wanita sepertimu menginjakkan kaki di rumahku!”

Darel tidak kalah sigap. Ia segera berdiri dan memberi kode pada Windy untuk membawa Clara dan Keira naik ke lantai atas agar tidak menyaksikan keributan ini.

Azizah yang masih berdiri di sana hanya bisa terpaku, menatap wanita itu dengan perasaan tidak nyaman. Walaupun keluarga Amisha tidak berhijab, tapi penampilan wanita itu sangat kontras dengan sopan santun keluarga itu.

“Pergilah! Kami tidak menerima tamu sepertimu!” sentak Darel tegas.

“Kau berani mengusir kekasihku?!”

Suara dingin Ezra memotong suasana. Pria itu muncul dan langsung merangkul pinggang Sienna dengan posesif.

Kekasih? batin Azizah. Ia akhirnya memahami alasan di balik kebencian mendalam yang ditunjukkan oleh Amisha dan Darel.

Ezra menatap ibunya dengan tatapan menantang, “Sienna buru-buru datang setelah menyelesaikan pekerjaannya karena mengkhawatirkan keadaan Mama. Apa Mama tidak memiliki hati sedikit pun padanya yang datang ke sini walaupun masih jet lag?”

Sienna pun segera memasang wajah memelas, mencoba mencari simpati yang sama sekali tidak ia dapatkan.

“Untuk apa aku menaruh hati pada wanita murahan seperti dia!” potong Amisha tanpa ragu.

“Ma! Jaga bahasamu!” Ezra memperingatkan dengan nada tinggi, “Dia punya nama! Dan dia bukan wanita murahan!”

Mendengar pembelaan Ezra, Sienna tersenyum tipis, merasa berada di atas angin.

Amisha membelalakkan mata tidak percaya melihat anaknya begitu membela wanita itu, “Entah apa yang diberikan wanita itu sampai kau melupakan keluargamu sendiri” ujarnya sengit, “Sudah! Aku tidak ingin kita bertengkar hanya karena masalah ini! Sekarang pergilah, bawa kekasihmu! Aku tidak ingin melihatnya!”

Ezra tidak bergeming. Ia justru meremas lembut tangan Sienna.

“Tapi kami akan menikah, Ma.”

Sienna segera mengangkat jari manisnya, memamerkan sebuah cincin yang berkilau, “Ezra sudah melamarku semalam. Benar kan, Sayang?” tanyanya manja pada Ezra.

Ezra tersenyum penuh kemenangan menatap ibu dan adiknya, “Benar. Kami akan menikah, dan aku datang hari ini untuk meminta restu.”

“Restu?!” Amisha menggeleng keras, “Persetan dengan restu! Lebih baik aku tidak pernah melihatmu menikah daripada harus melihatmu menikahi wanita seperti dia!” Amisha menunjuk Sienna dengan telunjuk yang gemetar karena emosi.

Sienna segera menunjukkan wajah penuh ketakutan. Ia mengeratkan pelukannya di lengan Ezra.

Melihat ibunya menunjuk kekasihnya, Ezra pun meledak, “Sebenarnya apa yang membuat Mama tidak menyukai Sienna? Dia cantik, baik, dan yang paling penting, aku mencintainya!”

“Ezra! Ada banyak wanita baik-baik di luar sana, tapi kenapa kau harus memungut wanita dari dunia gemerlap seperti dia? Sadarlah, Nak, dia mau hanya karena uangmu! Setelah kau tidak punya apa-apa, dia pasti akan meninggalkanmu!

“Tidak, Ma! Sienna tidak seperti itu!”

“Terserah kau berpikir seperti apa, tapi yang penting Mama tidak setuju!” putus Amisha, “Kemarin kau datang menjengukku dengan ogah-ogahan, lalu sekarang dengan percaya dirinya kau meminta restu padaku untuk menikahinya! Mama tidak rela, Ezra! Walaupun dia berlutut di kakiku, aku tetap tidak akan menyetujui pernikahan kalian!” Tegas Amisha dengan dada yang naik turun.

Darel segera merangkul ibunya, berusaha menenangkan napas Amisha yang mulai memburu. Ia menatap kakaknya dengan tajam.

“Kau sudah dengar kan, Kak? Kami tidak setuju. Sekarang pergilah. Jangan membuat keadaan Mama semakin memburuk.”

Tanpa membiarkan perdebatan berlanjut, Darel segera menuntun Amisha menjauh dari ruang tengah menuju kamar.

Sienna merengek manja dalam pelukan Ezra, “Sayang, bagaimana kita akan menikah kalau Mamamu tidak setuju?”

Ezra membalas dengan nada dingin tanpa sedikit pun rasa sesal, “Tenang, Sayang. Kita bisa kawin lari. Restu mamaku tidak terlalu penting.”

Mendengar kalimat itu, Azizah yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran mereka seketika terkejut. Ia tidak menyangka seorang anak bisa dengan begitu mudahnya mengabaikan perasaan ibunya. Tanpa mempedulikan rasa takut, Azizah mendekat dengan langkah mantap sambil mengeluarkan buku catatannya.

Ezra dan Sienna menatap Azizah dengan heran. Namun Ezra segera mengenali wanita itu. Dialah pembantu bisu yang telah menampar pipinya kemarin.

Setelah selesai menulis, Azizah menunjukkan tulisannya dengan tegas.

‘Pernikahan adalah hal yang sakral. Tidak hanya mengikat dua orang, tapi dua keluarga. Nyonya Amisha pasti akan sangat sedih jika kau benar-benar melakukannya.’

Bukannya tersentuh, Ezra justru merebut buku itu dari tangan Azizah dan melemparnya kasar ke lantai.

“Bukan urusanmu! Wanita bisu!” bentak Ezra.

Sienna tertawa sinis, “Oh, jadi itu alasan kau menulis? Ternyata kau tidak bisa bicara. Kasihan sekali.”

“Dia juga yang menamparku kemarin,” adu Ezra kepada Sienna.

Sienna menyentuh pipi Ezra dengan nada manja, “Astaga, Sayang. Jadi dia pelaku yang membuat pipimu memerah kemarin?”

Azizah berdecak kesal. Rasa muak memenuhi dadanya melihat interaksi dua orang arogan di depannya. Ia segera memungut buku catatannya dari lantai dan menulis dengan pena yang ditekan kuat.

‘Tamparan itu sangat tepat ditujukan pada pria pecundang sepertimu, Tuan Ezra. Dan sekarang, aku bahkan bisa menampar kekasihmu, jauh lebih kasar daripada kemarin.’

Setelah menunjukkan tulisan tajam itu tepat di depan wajah mereka, Azizah meninggalkan ruang tengah dengan langkah menghentak penuh kekesalan.

“Berhenti! Beraninya kau sekasar itu pada kekasihku!” seru Ezra murka.

“Sudah-sudah. Lebih baik kita pergi sekarang. Aku sangat lelah, Sayang,” ujar Sienna, berusaha menarik Ezra pergi.

Ezra menghela napas panjang untuk menahan amarahnya, lalu menggenggam tangan Sienna untuk segera keluar dari rumah itu.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!