Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menantu Tedjakusuma
"Wanita itu ... ibu saya."
Widitama belum pernah membeberkan fakta itu pada orang lain. Tapi ia merasa Amaia harus mengetahuinya karena sekarang mereka berada di kapal yang sama.
Ucapan Widitama membuat Amaia terkejut dan mendorong pelan bahu pria itu. Seringai tipis terlihat di bibirnya. Sementara Amaia terus menatap setengah heran.
"M-maksud kamu, Tante Sasti ...."
"Intinya dia terlibat dan dialah yang memicu kepergian ibu saya," kata Widitama seraya bergerak mundur.
Meski ada kebencian dan kemarahan, tapi di depan Amaia dia bersikap seolah kalimat tadi tidak mengandung dua hal itu. Sikapnya terlalu santai untuk seseorang yang dipenuhi dendam. Barangkali karena sikap tenang itulah Amaia tampak semakin terkejut. Widitama baru saja mengatakannya tanpa ada beban sedikit pun.
"Sudah, ya. Informasi segitu dulu. Saya capek, mau istirahat," pungkas Widitama.
Amaia bergerak cepat dan menahan lengan suaminya. "Cerita lebih banyak lagi."
"Nggak mau." Widitama melepas pegangan Amaia. "Saya akan mencicilnya. Jadi kamu sabar saja."
"Mas ...."
"Jangan memberi perintah, Mai Kecil." Suara Widitama berubah tegas.
Meski begitu, Amaia tetap keras kepala menahan lengan Widitama lagi. Sampai suaminya berdecak kesal. Lagi-lagi Amaia menandangnya penuh harap.
Widitama menarik pergelangan Amaia sehingga tubuh gadis itu menubruk dada bidangnya. Amaia terkesiap. Berusaha melepaskan diri, Amaia memberontak kecil. Tapi Widitama tak akan melepasnya.
"Kalau cerewet, saya buat kamu diam dengan cara saya sendiri," ucap Widitama setengah mengancam.
Ia suka melihat wajah Amaia sedikit panik dan ketakutan. Maka Widitama mencondongkan tubuh agar kepalanya bisa sedikit menunduk ke wajah Amaia. Dia menggoda Amaia dengan mendekatkan bibir mereka, tapi Amaia menahan kedua lengan suaminya.
"Kenapa? Bukannya kamu suka yang seperti ini? Waktu itu kamu duluan mencium saya," cetus Widitama dengan suara pelan yang berat.
"Nggak, lepasin. Aku juga mau istirahat."
"Biar saya bantu kamu istirahat. Dari tadi kamu menahan-nahan saya terus. Itu yang kamu mau, kan? Istirahat di ranjang kita?"
"Nggak, Mas Widi. Lepasin aku," pinta Amaia sedikit panik.
Widitama tersenyum tipis melihat Amaia memberontak. Ada rasa senang dalam dirinya melihat kemenangan itu. Ia iseng menunduk lagi, hendak menyentuh bibi Amaia dengan bibrinya. Tapi lagi-lagi respons Amaia sama; mendorong dada Widitama agar menjauh.
Setelah puas melihat Amaia panik, Widitama melepas pinggangnya. Nyaris saja Amaia terjengkang ke belakang.
"Makanya, kalau saya bilang nanti, ya nanti." Widitama melonggarkan dasi. "Lihat, sudah mau tengah malam. Saya ngantuk, besok harus kerja."
Mata Amaia langsung tertuju pada jarum jam di dinding. Tak ada jawaban dari gadis itu, Widitama melenggang masuk ke kamar.
Sebelum ke kamar mandi, dia berdiri di depan cermin sambil melepas arloji, dasi, mengeluarkan ponsel dan dompet dari saku celana, dan beberapa benda yang masih melekat di tubuhnya. Sampai hanya menyisakan celana boxer hitam sebatas atas dengkul.
"Lucu juga wajah kamu yang panik itu, Mai Kecil," guman Widitama seraya mengingat-ingat ekspresi Amaia tadi.
*****
Siang ini Widitama dikejutkan dengan kehadiran Amaia di kantor. Padahal papanya sudah berencana akan membawa Amaia tour Tedjakusuma Property. Tapi Widitama tetap kaget karena istrinya datang bersama Ferdian ke gedung itu.
"Nona Amaia sedang diajak keliling kantor oleh Pak Ferdian," ucap Edgar melaporkan saat Widitama baru masuk ke ruangannya.
Rapat dengan tim lapangan untuk proyek pembangunan perumahan di Surabaya, baru saja kelar. Tak ada masalah sejauh ini. Widitama beruntung karena saat melaporkan kinerjanya nanti, Ferdian pasti akan puas. Suara untuknya sebagai calon petinggi Tedjakusuma Property pasti akan kian bertambah.
Namun, bukan itu yang mengusik Widitama saat ini. Tapi rencana apa yang disusun oleh ayahnya dan Sasti sehingga tak memusingkan tentang Rakha.
"Biarkan saja dia," kata Widitama seraya duduk di kursi kerjanya. "Bagaimana dengan perempuan yang bersama Rakha? Lalu apa sudah dapat informasi tentang rencana Sasti? Kalian masih mengikuti Rakha, kan?"
Edgar mengangguk sambil menyerahkan tablet digital kepada bosnya. "Perempuan itu masih di Bali sekitar dua hari lalu, tapi maaf Pak Widi, kami belum menemukan identitasnya secara pasti. Beberapa informan kita baru mengetahui jika dia dulunya adalah anak dari mendiang seorang pengusaha. Kami sedang mengusutnya lebih jauh.
"Lalu tentang Bu Sasti, saat ini kami belum tahu pasti rencananya. Tapi bisa dipastikan orang-orang yang mengejar Rakha adalah orang yang pernah menjadi bawahan Pak Ferdian. Mereka tak segan berbuat hal buruk jika diperintahkan. Bukankah itu artinya, Bu Sasti sedang berusaha membuang anaknya sendiri? Sedangkan Pak Rakha terlihat di bandara kemarin menuju Bali."
Widitama mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan kukunya. "Itu artinya mereka gagal bertemu. Mungkin saja Rakha datang ke acara pesta malam itu untuk membicarakan sesuatu dengan Sasti. Karena ibunya tak bisa dihubungi, dia jadi cemas. Dia mungkin sudah sadar bahwa pada akhirnya dia akan dibuang."
Perkataan Widitama dibalas Edgar dengan anggukan setuju. Tablet digital itu kembali diserahkan kepada sang asisten.
"Pantau terus pergerakan mereka. Saya harus mencari tahu sesuatu," ucap Widitama seraya beranjak.
"Apa perlu saya bantu, Pak Widi?"
"Jangan. Cuma saya yang bisa mendapatkan informasi ini dari papa. Kamu akan saya perintahkan kalau sudah tepat waktunya." Ia melirik Edgar sebelum beranjak ke standing mirror. "Saya penasaran, kenapa dia sangat terobsesi dengan peninggalan mendiang ayahnya Amaia. Dan saya juga ingin tau peninggalan itu betul-betul masih berbentuk bangunan atau sebaliknya."
Tentu saja Edgar tak banyak berkomentar. Karena tau Widitama bisa mengurus hal itu. Lagipula hanya Widitama yang bisa berlama-lama di sisi Ferdian untuk mencari infromasi. Apalagi setengah kepercayaan Ferdian kini sudah digenggam oleh Widitama.
Hanya tinggal menunggu waktu sampai semua kepercayaan itu sepenuhnya milik Widitama. Lalu dengan begitu dia bisa menghancurkan ayahnya sendiri.
Ketika keduanya hendak keluar dari ruangan, pintu di depannya sudah lebih dulu dibuka. Sekretaris Widitama muncul bersama dua orang familiar di belakangnya. Amaia dan Ferdian tersenyum lebar pada Widitama.
"Mas," sapa Amaia dengan ceria.
Ia tahu gadis itu tengah berpura-pura karena ada Ferdian di sana. Pintar sekali dia, pikir Widitama. Kalau Amaia terlihat sangat gembira dan sudah dekat sekali dengan Widitama, Ferdian setidaknya akan berpikir bahwa Amaia sudah masuk perangkap mereka.
Padahal di sini Ferdian-lah yang telah masuk jebakan.
"Papa harus pergi sekarang, Widi. Tadi Amaia senang sekali diajak keliling dan nggak sabar ingin bekerja di sini," ungkap Ferdian.
"Oh ya? Terima kasih sudah menjaga istri saya, Pa." Dengan gerakan pelan, Widitama merangkul pinggang Amaia. "Dia pasti semangat sekali."
"Ya, tentu. Papa juga tak sabar melihat Amaia menjadi bagian dari perusahaan kita." Ferdian menatap Amaia lagi. Topeng penuh perhatian, ketulusan, dan kasih sayang, masih terlihat di wajahnya. "Dia kan menantu Tedjakusuma satu-satunya. Tentu saja Amaia harus menjadi bagian dari bisnis ini. Bagaimana, Mai?"
Amaia mengangguk malu. "Kalau Mas Widi setuju aku kerja di sini, aku pasti akan bersedia. Biar bagaimanapun, aku harus membicarakan dulu dengan suamiku, Pa." Dia mendongak pada Widitama saat melayangkan senyuman lebar.
Ah, gadis itu memang sudah sedikit pintar. Widitama senang kalau Amaia belajar banyak. Tak menjadi gadis bodoh lagi.
"Tentu saja boleh," jawab Widitama.
"Senang melihat kamu bahagia begini, Amaia. Yang sudah lewat tak perlu kamu pikirkan. Biar itu jadi urusan Papa. Mengerti?" tanya pria paruh baya itu.
Widitama tahu ke mana arah pembicaraan itu. Pastilah, Rakha. Itu berarti Ferdian memang akan mengurus langsung putra keduanya.
"Ayah pergi dulu. Kalian makan siang-lah berdua. Ajak istrimu makan enak, Widi." Ferdian menepuk lengan kanan sang putra.
Sepeninggal Ferdian, Widitama langsung melepas pegangan pada pinggang Amaia. Gadis itu juga menjauh beberapa langkah. Sementara sejak tadi Edgar mengamati mereka dalam diam. Seperti tengah menahan tawa karena akting kedua bosnya.
"Aku mau pulang karena urusan di sini udah selesai," ujar Amaia, "Mas Edgar nggak sibuk, kan? Anterin aku pulang."
"Kamu nggak dengar kata papa saya barusan? Kita makan siang bersama." Widitama yang merespons. "Lagipula, Edgar itu orang saya, bukan bawahan kamu. Dia akan mendengar perintah saya, bukan kamu, Mai Kecil."
Amaia menghelan napas. "Aku harus pergi mengurus tugas akhir. Jadi Mas Widi perintahkan saja pada Mas Edgar untuk nganterin aku."
"Gar," panggil Widitama tanpa melihat sang bawahan.
"Ya, Pak Widi?"
"Antar kami ke restoran untuk makan siang," titahnya.
"Ah, ya. Baik, Pak Widi." Edgar segera melenggang keluar.
Widitama tersenyum puas dan penuh kemenangan ke arah Amaia. Apalagi saat istrinya terlihat menahan kekesalan.