we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 kerajaan valen
Sementara itu...
Jauh dari kota kecil tempat We Lin tinggal.
Di Kerajaan Valen.
Sebuah kerajaan besar yang dikenal sebagai tanah para ksatria, penyihir, dan petualang.
Clang!
Clang!
Suara pedang beradu terdengar dari arena latihan.
Di tengah lapangan.
Seorang pemuda mengayunkan pedangnya dengan kecepatan luar biasa.
Sorak sorai langsung menggema.
"Itu dia!"
"Pahlawan muda Kerajaan Valen!"
"Kudengar dia baru saja mengalahkan monster tingkat tinggi!"
Banyak orang memandangnya dengan kagum.
Di mata mereka, pemuda itu adalah harapan generasi baru.
Di tempat lain.
Akademi Sihir Valen sedang membuka ujian tahunan.
Ratusan murid berbakat berkumpul dari berbagai penjuru kerajaan.
Ada yang ingin menjadi penyihir terhebat.
Ada yang ingin menemukan sihir baru.
Dan ada yang bermimpi mengukir namanya dalam sejarah.
Sementara itu...
Di pelabuhan utara.
Kapal-kapal besar terus berdatangan.
Membawa pedagang, petualang, dan berbagai kabar dari negeri yang jauh.
Suasana ramai memenuhi dermaga.
Namun di balik semua kesibukan itu.
Sebuah rumor mulai menyebar diam-diam.
Tentang artefak kuno yang telah terbangun.
Tentang kekuatan yang telah lama menghilang.
Dan tentang seseorang yang belum diketahui identitasnya.
Rumor itu masih kecil.
Hanya beredar di kalangan tertentu.
Namun perlahan...
Semakin banyak pihak mulai memperhatikannya.
Kerajaan.
Akademi.
Guild.
Organisasi kuno.
Bahkan para pemburu artefak.
Semuanya mulai bergerak dengan tujuan masing-masing.
Dunia yang tenang perlahan berubah.
Roda takdir kembali berputar.
Namun jauh dari semua keramaian itu...
Di sebuah kota kecil yang tenang.
Sebuah toko perhiasan sederhana masih berdiri seperti biasa.
Di dalamnya.
We Lin sedang duduk di belakang meja kasir.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
Ia menghitung hasil penjualan hari itu dengan wajah serius.
Di sakunya.
Liontin tua itu masih tersimpan dengan tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tanpa mengetahui bahwa di tempat-tempat yang jauh.
Banyak orang mulai mencari jejak yang sama.
Dan tanpa disadari oleh We Lin sendiri...
Sejak segel pertama liontin itu terbuka.
Takdirnya telah mulai bergerak.
Perlahan.
Namun pasti.
Menuju Kerajaan Valen.
Malam itu.
Tetua Morcant masih memegang buku tua yang berisi berbagai catatan kuno.
Matanya tiba-tiba berhenti pada sebuah halaman yang sudah menguning.
"Hm?"
Ia menyipitkan mata.
Di halaman itu terdapat sebuah simbol.
Simbol yang sangat mirip dengan ukiran pada liontin milik We Lin.
"We Lin."
"Hm?"
"Coba lihat ini."
We Lin mendekat.
Tatapannya jatuh pada gambar di dalam buku.
Simbol itu memang terlihat sangat mirip.
"Ada apa dengan simbol itu?"
Tetua Morcant membaca catatan di bawahnya.
"Artefak ini pernah muncul dalam catatan Kerajaan Valen."
"Valen?"
"Iya."
"Dan beberapa bulan lagi, Festival Seratus Bintang akan diadakan di sana."
We Lin terdiam.
Tetua Morcant melanjutkan.
"Menurut catatan ini, selama festival berlangsung akan dipamerkan banyak artefak kuno dan peninggalan bersejarah."
"Termasuk benda-benda yang berkaitan dengan simbol ini."
Mata We Lin sedikit menyipit.
Untuk pertama kalinya sejak liontin itu aktif, ia menemukan petunjuk yang jelas.
"Mungkin aku harus pergi."
Tetua Morcant mengangguk pelan.
"Itu pilihan yang masuk akal."
We Lin terdiam beberapa saat.
Pikirannya mulai memikirkan berbagai hal.
Jika ia benar-benar pergi ke Valen.
Mungkin ia bisa menemukan asal-usul liontin itu.
Mungkin juga ia bisa mengetahui alasan artefak tersebut memilih dirinya.
Namun kemudian ia teringat sesuatu.
"Lalu toko ini bagaimana?"
"Hm?"
"Kalau aku pergi, tidak ada yang menjaganya."
Tetua Morcant menyesap teh terakhirnya.
"Lalu siapa bilang kau pergi sendirian?"
We Lin berkedip.
"Kakek mau ikut?"
"Tentu."
Tetua Morcant berdiri perlahan.
Tatapannya jatuh pada liontin di tangan We Lin.
"Aku pernah melihat simbol itu bertahun-tahun yang lalu."
"Meski ingatanku tidak lengkap..."
"Aku ingin memastikan satu hal."
We Lin menatapnya.
"Satu hal?"
Tetua Morcant mengangguk.
"Apakah liontin itu benar-benar artefak yang kupikirkan."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Tetua Morcant terlihat sedikit serius.
Tidak seperti biasanya.
Melihat itu, We Lin akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
"Kalau begitu kita pergi bersama."
Sudut bibir Tetua Morcant sedikit terangkat.
"Bagus."
Di luar toko.
Angin sore berhembus pelan.
Tidak ada yang menyadari bahwa perjalanan sederhana menuju Festival Seratus Bintang...
Akan menjadi awal dari terbukanya rahasia yang telah tersembunyi selama bertahun-tahun.
Dan untuk pertama kalinya.
We Lin serta Tetua Morcant akan melangkah keluar dari kota kecil itu.
Menuju Kerajaan Valen.
Keesokan paginya.
Matahari baru saja terbit.
Sinar keemasan menyelimuti kota kecil tempat We Lin tinggal.
Di dalam toko.
We Lin sedang membereskan berbagai barang yang akan dibawa.
Beberapa pakaian.
Peralatan sederhana.
Serta beberapa perhiasan hasil buatannya.
"Kurasa ini sudah cukup."
Sementara itu.
Tetua Morcant duduk santai sambil menikmati teh.
Seolah mereka tidak akan melakukan perjalanan jauh.
We Lin meliriknya.
"Kakek tidak membawa apa-apa?"
Tetua Morcant mengangkat cangkir tehnya.
"Aku membawa ini."
We Lin terdiam.
"Itu teh."
"Tepat sekali."
We Lin hanya bisa menghela napas.
Beberapa saat kemudian.
Pintu toko terbuka.
Seorang pelanggan tetap masuk.
Namun ia langsung terkejut melihat keadaan toko.
"Hm? Kalian mau pergi?"
We Lin mengangguk.
"Hanya untuk beberapa waktu."
"Kemana?"
"Kerajaan Valen."
Mata pelanggan itu langsung membesar.
"Valen?!"
"Itu sangat jauh!"
Tetua Morcant tertawa kecil.
"Itulah kenapa kami berangkat lebih awal."
Tidak butuh waktu lama.
Kabar keberangkatan mereka mulai menyebar ke seluruh kota.
Banyak orang datang untuk berpamitan.
Bagaimanapun.
Toko perhiasan We Lin sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Menjelang siang.
Persiapan akhirnya selesai.
We Lin berdiri di depan toko.
Tatapannya menyapu bangunan sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Sudah banyak hal terjadi di tempat itu.
Dari toko yang sepi.
Hingga menjadi toko yang ramai dikunjungi orang.
Tanpa sadar.
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Aku pasti kembali."
Tetua Morcant berjalan mendekat.
"Tentu saja."
"Kita belum sempat menjadi kaya."
We Lin langsung menoleh.
"Kakek..."
"Apa?"
"Tidak ada."
Mereka berdua pun mulai berjalan meninggalkan kota.
Perlahan.
Gerbang kota semakin jauh di belakang mereka.
Jalanan batu berubah menjadi jalan tanah.
Pohon-pohon tinggi mulai memenuhi pemandangan.
Perjalanan menuju Valen resmi dimulai.
Namun beberapa jam kemudian.
Tetua Morcant tiba-tiba berhenti.
"Hm?"
We Lin ikut berhenti.
"Ada apa?"
Tetua Morcant menatap ke arah hutan di samping jalan.
Ekspresinya berubah serius.
Tidak seperti biasanya.
We Lin langsung menyadarinya.
"Kakek?"
Tetua Morcant tidak menjawab.
Angin berhembus pelan.
Daun-daun berguguran.
Suasana sekitar tiba-tiba terasa sunyi.
Lalu...
Krak!
Suara ranting patah terdengar dari dalam hutan.
Satu kali.
Kemudian dua kali.
Dan semakin banyak.
We Lin menyipitkan mata.
Seseorang sedang mendekat.
Bukan hanya satu orang.
Melainkan beberapa orang sekaligus.
Tak lama kemudian.
Beberapa sosok berjubah hitam keluar dari balik pepohonan.
Wajah mereka tertutup.
Namun aura yang mereka pancarkan membuat suasana menjadi tegang.
Mereka tidak terlihat seperti pedagang.
Bukan pula petualang biasa.
Salah satu dari mereka melangkah maju.
Tatapannya langsung tertuju pada We Lin.
"Jadi..."
"Kami akhirnya menemukanmu."
We Lin mengernyit.
"Menemukanku?"
Orang berjubah itu tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih ke liontin yang tersimpan di balik pakaian We Lin.
Meski tertutup.
Seolah ia tahu benda itu ada di sana.
Mata Tetua Morcant langsung menyipit.
Untuk pertama kalinya.
Aura tua yang tenang itu perlahan berubah.
Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai.
We Lin menyadari satu hal.
Perjalanan menuju Valen...
Mungkin tidak akan semulus yang ia bayangkan.