we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain ( sedang di revisi )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 bertemu pahlawan
Gerbang utama Kerajaan Valen akhirnya terbuka di hadapan mereka.
Begitu melangkah masuk, We Lin langsung terpaku.
Jalan batu yang lebar membentang sejauh mata memandang. Di kedua sisinya berdiri bangunan-bangunan megah dengan arsitektur yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ada toko pakaian, toko senjata, restoran, hingga deretan toko perhiasan yang memajang berbagai batu permata berkilau di balik etalase kaca.
Seluruh kota terasa hidup.
Musik para seniman jalanan mengalun dari berbagai sudut, sementara anak-anak berlarian sambil membawa balon berwarna-warni. Di sisi lain, para pedagang sibuk menawarkan dagangan mereka kepada setiap pengunjung yang lewat.
We Lin tanpa sadar tersenyum.
"Ramai sekali..."
Tetua Morcant tersenyum kecil.
"Kalau menurutmu ini sudah ramai, tunggu saja besok."
We Lin menoleh penasaran.
"Besok?"
"Festival Seratus Bintang Valen dimulai. Orang-orang dari berbagai kerajaan akan datang. Kota ini bakal jauh lebih sesak daripada sekarang."
We Lin menghela napas pelan sambil tersenyum.
"Hampir saja aku lupa kalau festivalnya dimulai besok."
Tetua Morcant terkekeh pelan.
"Wajar. Sejak masuk kota, matamu terus sibuk melihat ke sana kemari."
We Lin hanya tertawa kecil, lalu mereka kembali berjalan menyusuri jalan utama.
Sepanjang perjalanan, We Lin berkali-kali berhenti hanya untuk melihat barang-barang yang dipajang di setiap toko.
"Kalung ini indah sekali."
"Cincinnya juga."
"Eh? Batu ini bisa menyala?"
Melihat ekspresi kagum We Lin, Tetua Morcant hanya terkekeh pelan.
"Kau benar-benar seperti anak kecil."
We Lin tersenyum canggung.
"Maklum... ini pertama kalinya aku melihat kota sebesar ini."
Tetua Morcant tidak menjawab.
Namun, dalam hati ia merasa keputusan membawa We Lin ke Kerajaan Valen memang pilihan yang tepat.
Tak lama kemudian, di tengah keramaian...
Seorang gadis kecil tiba-tiba berlari sambil menangis.
"Maaf! Maaf!"
Bruk!
Tanpa sengaja ia menabrak seorang pemuda berambut pirang yang mengenakan jubah putih sederhana.
Beberapa kotak yang dibawanya langsung terjatuh dan isinya berserakan.
We Lin yang berada tidak jauh dari sana segera menghampiri.
"Biar kubantu."
Ia berjongkok dan memunguti satu per satu kotak itu, lalu menyerahkannya kembali.
Pemuda itu menerima dengan senyum hangat.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Gadis kecil itu membungkuk berkali-kali.
"Maaf, Kak..."
Pemuda tersebut hanya mengusap pelan kepala gadis kecil itu.
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati saat berlari."
Melihat senyum tulus pemuda itu, We Lin ikut tersenyum.
"Orang ini baik juga."
Ia sama sekali tidak mengetahui...
Bahwa pemuda yang baru saja ia bantu adalah salah satu pahlawan termuda Kerajaan Valen.
Seseorang yang namanya dikenal hampir di seluruh benua.
Sang pahlawan memandang punggung We Lin yang perlahan menjauh.
Entah mengapa...
Pria itu memberikan kesan yang berbeda dari semua orang yang pernah ia temui.
Senyum tipis pun terukir di wajahnya.
"Semoga kita bertemu lagi."
Sementara itu...
We Lin justru berhenti di depan sebuah kios yang menjual tusuk daging panggang.
Aroma daging yang dipanggang di atas bara membuat perutnya langsung berbunyi.
"Aromanya enak sekali..."
Tetua Morcant menghela napas sambil tersenyum geli.
"Kalau begitu, ayo kita makan dulu."
Wajah We Lin langsung berseri-seri.
"Setuju!"
Di tengah meriahnya Festival bintang yang akan segera dimulai...
Takdir mempertemukan dua orang yang belum menyadari betapa pentingnya pertemuan singkat itu.
Dan tanpa disadari oleh keduanya...
Pertemuan hari ini hanyalah awal dari kisah yang akan mengubah masa depan Kerajaan Valen.
Malam mulai menyelimuti Kerjaan valen.
Lampu-lampu kristal yang tergantung di sepanjang jalan utama
Satu persatu menyala, Memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh kota tampak jauh lebih indah.
bilang aja aku akan ngejawab satu persatu