Ternyata, Aku Cinta Pertamanya!
Bagi Lettu Kowad dr. Shaneen Kamila Mari, cinta adalah masa lalu yang penuh luka dan benteng pertahanan yang harus dijaga ketat. Namun, dunianya yang kaku dan perfeksionis seketika runtuh saat Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel—seorang Komandan Batalyon raksasa, dingin, dan berkuasa—datang membawa taktik perang kilat untuk melamarnya secara resmi.
Shaneen mengira ini hanyalah perjodohan birokrasi militer biasa. Ia tidak pernah tahu, di balik ketegasan dan perlindungan senyap sang Letkol, ada rahasia besar yang tersimpan rapat sejak masa berseragam putih-abu-abu. Di balik labirin berkas pernikahan dinas yang kaku, Shaneen akhirnya harus menghadapi kenyataan manis yang tak pernah ia duga seumur hidupnya bahwa pria tangguh itu tidak sedang mampir, melainkan sedang menjemput takdir yang sempat tertunda.
Sebab bagi Letkol Reyes, Shaneen bukanlah sekadar pilihan. Sejak awal, ia adalah satu-satunya misi yang harus dimenangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Gemuruh di Balik Selimut
Semburat warna jingga di langit sore mulai menyiram pekarangan Rumah Dinas Jabatan (Rumdisjab) Danyon. Kehangatan pelukan Letkol Reyes di area dapur kosong yang sempat membuat pertahanan logis Shaneen runtuh itu perlahan terurai saat jam dinding digital di ponsel menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Ayo kita pulang," ujar Reyes lembut, menyugar rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Pria raksasa itu mengambil alih tas medis milik Shaneen dan paperbag dengan gerakan jantan, sementara mobil HR-V putih milik Shaneen diputuskan untuk ditinggal sementara di halaman Rumdisjab agar besok pagi bisa dibawa oleh staf angkutan batalyon.
Begitu melangkah keluar menuju gerbang depan kompleks kediaman perwira, langkah tegap Shaneen mendadak melambat. Di sana, di bawah lambaian bendera ksatrian dan sapuan angin senja yang mulai mendingin, sebuah mobil dinas berpelat nomor komando batalyon sudah terparkir gagah.
Kehadiran sang Danyon yang turun tangan langsung membukakan pintu mobil untuk istri kowadnya di area ring satu tak pelak menjadi tontonan spektakuler bagi para bintara jaga dan staf personel yang sedang bersiap apel sore. Mereka memberikan hormat dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa segan sekaligus takjub atas sisi romantis sang singa jantan yang teramat langka.
Reyes sempat melirik tajam ke arah pos jaga—membuat para bintara yang tadinya mencuri pandang langsung refleks membuang muka tak berani mencari masalah.
Shaneen masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk dengan senyuman tipis yang menahan gengsi. "Letkol benar-benar suka membuat kehebohan di markas, ya."
Reyes memutari mobil, masuk ke kursi kemudi, lalu menginjak pedal gas membiarkan kendaraan membelah jalanan kota yang mulai merayap padat menuju kediaman pribadi mereka. "Itu bukan kehebohan. Itu adalah maklumat resmi agar seluruh ksatrian tahu siapa pemilik dokter mereka," jawab Reyes santai tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Malam pun jatuh dengan cepat, menyelimuti rumah modern klasik bernuansa kayu mahoni mahal milik Reyes. Setelah melewati makan malam yang berlangsung dengan obrolan-obrolan santai mengenai rencana tata ruang Rumdisjab tadi, atmosfer di dalam rumah berlantai marmer itu mendadak berubah drastis saat mereka berdua melangkah naik ke lantai dua menuju kamar utama.
Suasana tenang yang tadinya terasa nyaman, entah mengapa perlahan-lahan berubah menjadi pekat, sunyi, dan diselimuti ketegangan tipis yang merayap naik.
Shaneen yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya dan keluar dari walk-in closet dengan piyama satin panjang sewarna marun, mendadak membeku di ambang pintu. Lampu utama kamar sudah dimatikan, menyisakan lampu tidur temaram berwarna kuning hangat di sudut nakas yang memantulkan bayangan estetik pada dinding kayu.
Di atas ranjang king size yang luas itu, Letkol Reyes sudah berbaring telentang. Pria itu hanya mengenakan kaus santai berwarna putih polos, menonjolkan bentuk dada bidangnya yang tegap serta otot lengan kekar yang berurat kasar. Dia sedang menatap langit-langit kamar dengan sepasang mata elang yang tampak begitu dalam di bawah temaram lampu.
Mendengar suara langkah halus Shaneen, Reyes menolehkan kepalanya. Tatapan mereka bertemu di udara yang sunyi. Sesuatu di dalam sorot mata Reyes malam ini tampak berbeda—tidak ada lagi candaan usil es krim cokelat atau gurauan di dapur siang tadi, yang ada hanyalah intensitas tatapan seorang pria dewasa yang sedang menatap belahan jiwanya.
Shaneen menelan ludahnya pelan. Sebagai seorang dokter, dia tahu betul anatomi dan fungsi biologis manusia, namun sebagai seorang wanita yang baru menyerahkan rida hidupnya, mendadak seluruh teori medis itu menguap menjadi rasa tegang yang membuat jemarinya mendingin.
Shaneen melangkah perlahan menuju sisi ranjang yang kosong, menarik selimut tebal, lalu merebahkan tubuh mungilnya dengan posisi telentang—berusaha sedatar dan setenang mungkin menatap langit-langit kamar yang sama.
Keheningan malam itu terasa begitu mencekam, hanya diiringi oleh suara detak jarum jam dinding dan ritme napas mereka yang lambat. Shaneen bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh besar di sampingnya.
Tiba-tiba, kasur mewah itu terasa amblas. Pergerakan Reyes yang membalikkan tubuh raksasanya ke arah Shaneen membuat sang dokter refleks menahan napas.
Tangan besar Reyes yang hangat dan kasar perlahan merayap di atas permukaan selimut, lalu menyelinap masuk ke dalam, mencari jemari ramping Shaneen yang sedang mengepal kaku di atas perutnya. Reyes menautkan jari-jari mereka, merasakan sensasi dingin dari tangan istrinya.
"Kenapa?" bisik Reyes, suara baritonnya yang berat terdengar teramat rendah dan serak di tengah keheningan malam, mengirimkan getaran elektrik yang langsung menusuk hingga ke tulang belakang Shaneen.
Shaneen tidak memutar kepalanya, namun kelopak matanya bergetar halus di bawah cahaya temaram. "Siap... tidak, Letkol. Saya hanya sedang memikirkan jadwal besok pagi," jawab Shaneen, masih mencoba menggunakan tameng logisnya yang perlahan mulai retak.
Reyes terkekeh sangat rendah, sebuah desah napas hangat yang berembus di pelipis Shaneen saat tubuh raksasa itu bergeser semakin merapat tanpa jarak. Reyes menaikkan tangan kanannya, lalu dengan kelembutan yang kontras dengan ukurannya, jemari kasarnya mengelus perlahan tahi lalat di bawah mata kanan Shaneen, lalu turun menelusuri lesung pipinya yang mendadak menegang.
"Di sini, di rumah kita. Tidak ada Letkol, tidak ada pasien, dan tidak ada Lettu, Shaneen," ujar Reyes dengan intonasi yang begitu mengikat dan dalam. "Hanya ada aku, suamimu. Dan kamu, istriku."
Reyes sedikit menaikkan tubuhnya, mencondongkan dada bidangnya di atas tubuh mungil Shaneen hingga bayangan besarnya mengurung wanita itu sepenuhnya di bawah kungkungan selimut mahoni. Ketegangan di dalam dada Shaneen kian memuncak saat aroma maskulin berpadu hawa jantan Reyes mengepung seluruh indra penciumannya. Ritme jantungnya berantakan, bergemu berisik seolah mengkhianati seluruh barikade pertahanan dingin yang selama bertahun-tahun ini dia bangun dengan kokoh.
Mata elang Reyes mengunci mata sayu Shaneen yang kini menatapnya dengan campur aduk antara rasa tegang, pasrah, dan binar ketulusan yang teramat dalam. Reyes menundukkan wajahnya perlahan, membiarkan ujung hidung bangirnya menggesek pelan hidung button milik Shaneen, memberikan jeda intim yang teramat menyiksa di antara deru napas mereka yang kian menyatu.
"Boleh aku egois untuk malam ini, Shaneen?" bisik Reyes lirih tepat di depan bibir tipis Shaneen, sebuah permintaan izin yang teramat jantan dan penuh penghormatan tertinggi sebelum sang singa benar-benar mengklaim seluruh takdir manis yang sempat tertunda di antara mereka.
Shaneen merasakan pasokan udaranya seolah menipis saat bayangan tubuh raksasa Reyes mengukungnya sepenuhnya di bawah temaram lampu tidur yang kuning hangat. Cengkeraman jemari mereka di balik selimut semakin erat, menyalurkan rasa hangat yang perlahan mengikis suhu dingin di ujung-ujung jari Shaneen.
Mendengar bisikan lirih Reyes yang meminta izin dengan begitu jantan tepat di depan wajahnya, Shaneen terdiam sejenak. Sisi Virgonya yang biasanya selalu menuntut kendali logika dan keteraturan, kini perlahan melonggar. Di tengah gemuruh jantungnya yang kian berisik berkhianat, Shaneen membalas tatapan mata elang suaminya dengan sepasang netra sayunya yang kini memancarkan kepasrahan yang damai.
"Reyes..." suara Shaneen terdengar teramat pelan, hampir menyerupai bisikan angin malam, namun begitu jelas terdengar di rungu sang Letkol. Shaneen perlahan melepaskan cengkeraman kaku tangannya, membiarkan jemarinya berbalik menggenggam balik telapak tangan besar Reyes yang kasar.
"Ini bukan soal egois. Bukankah kita sudah sepakat untuk berjalan searah?"
Mendengar untaian kata lembut yang keluar dari bibir istrinya, seulas senyuman tipis yang teramat tulus dan penuh kelegaan terukir di wajah tegas Reyes. Semburat ketegangan yang sempat menggantung di udara kamar seketika mencair, digantikan oleh gelombang kehangatan yang begitu magis.
Suasana di dalam kamar utama bernuansa mahoni itu kian larut dalam kesunyian yang magis. Detik jam dinding seolah teredam oleh debar jantung Shaneen yang berirama konstan, berkhianat total pada pertahanan logisnya. Di bawah kungkungan tubuh raksasa suaminya, ketegangan Shaneen perlahan mencair menjadi sebuah kepasrahan yang manis.
Reyes menatap lekat-lekat wajah mungil di bawahnya. Dengan ritme yang teramat pelan dan penuh penghormatan, pria raksasa itu mulai mengklaim takdirnya yang sempat tertunda.
Reyes menundukkan kepalanya perlahan, mendaratkan kecupan pertama di dahi Shaneen. Lama dan dalam. Sentuhan bibirnya di sana terasa begitu sakral, seolah sedang menyalurkan seluruh janji setia untuk melindungi wanita ini seumur hidupnya. Shaneen refleks memejamkan mata, menikmati kehangatan yang menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.
Tanpa terburu-buru, bibir Reyes bergerak turun secara perlahan. Dia mengecup kelopak mata kanan Shaneen yang terpejam, tepat di atas tahi lalat kecil yang sejak dari dulu menarik seluruh perhatiannya. Kecupan itu terasa begitu lembut, seolah takut mengusik ketenangan sang istri. Bergeser sedikit ke samping, bibir kokohnya menyapa pipi halus Shaneen, mengulum pelan lesung pipi unik yang bermunculan alami karena Shaneen kini tak lagi menahan senyumannya.
Reyes menjauhkan wajahnya hanya sekian senti, membiarkan ujung hidung bangirnya menggesek pelan hidung button milik Shaneen yang mungil dan menggemaskan. Interaksi hidung mereka yang saling bersentuhan itu menciptakan sensasi kedekatan yang teramat intim, membuat napas Shaneen mulai terasa memberat.
Reyes kemudian memiringkan kepalanya perlahan menuju puncak kepala Shaneen. Dia membenamkan wajahnya di antara helai-helai rambut hitam yang panjang dan sedikit berantakan di atas bantal, menghirup dalam-dalam aroma alami rambut Shaneen yang berpadu dengan wangi sampo yang menenangkan. Baginya, ini adalah aroma terbaik yang mampu meluruhkan seluruh penatnya sebagai seorang komandan.
Tak berhenti di sana, pergerakan Reyes kian turun menyusuri siluet tubuh ramping istrinya. Tangan besarnya dengan lembut menurunkan sedikit kerah piyama satin marun yang dikenakan Shaneen, menyingkap hamparan kulit putih di area pundak dan bahunya. Di sana, tepat di dekat garis tali bra yang melingkar, terdapat sebuah tahi lalat berukuran sedang yang tersembunyi dengan rapi. Sebuah tanda lahir yang teramat privat, yang entah sejak kapan dan bagaimana bisa—hanya Reyes seorang yang mengetahui keberadaannya.
Reyes menatap tanda itu dengan binar posesif yang pekat, lalu mendaratkan kecupan hangat yang lama di atas tahi lalat sedang di pundak Shaneen tersebut. Shaneen refleks mencengkeram erat ujung sprei kasur, tubuhnya sedikit tersentak kecil merasakan sensasi menggelitik yang asing namun teramat candu.
Sentuhan itu kian memabukkan saat Reyes menggeser kecupannya naik menuju leher jenjang Shaneen. Reyes menyembunyikan wajah tegasnya di ceruk leher hangat milik istrinya. Posisinya benar-benar intim, ujung hidung bangir Reyes bersentuhan langsung dan bergesek pelan dengan permukaan kulit leher Shaneen yang sensitif, sementara napas hangatnya yang memburu berembus konstan di sana.
Shaneen mengerang rendah yang teramat samar, kepalanya refleks mendongak ke samping, memberikan akses yang lebih luas bagi suaminya. Aroma tubuh alami wanita yang menguar dari leher Shaneen seketika menjadi pemicu yang membakar habis sisa-sisa kesabaran sang Letkol.
Reyes kembali menaikkan wajahnya, menatap Shaneen begitu lama dalam keheningan yang sarat akan keintiman. Pria raksasa itu mengikis jarak yang tersisa, menempelkan dahinya dengan dahi Shaneen, membiarkan deru napas mereka yang hangat saling berkejaran di udara malam. Tatapan mata elangnya mengunci lekat-lekat sepasang mata sayu milik istrinya, seolah sedang membaca setiap gelombang emosi yang terpancar di sana.
Di tengah atmosfer yang kian pekat dan mendebarkan itu, Shaneen yang merasa dunianya perlahan mulai berputar tak tentu arah, mendadak berbisik lirih dengan nada yang teramat jujur.
"Pelan-pelan, aku belum pernah melakukan itu."
Mendengar pengakuan spontan yang keluar dari bibir tipis kemerahan istrinya, Reyes membeku sejenak sebelum sudut bibirnya tertarik lebar. Pria itu hampir tertawa renyah, refleks menjauhkan kepalanya sedikit lalu menutup sebagian wajah tegasnya dengan satu telapak tangan besarnya. Bahunya berguncang pelan. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa seorang dokter kowad yang biasanya begitu dingin, tangguh, dan logis di lapangan, mendadak menjelma menjadi sosok yang begitu polos dan menggemaskan di atas ranjangnya.
Melihat respons suaminya yang malah menahan tawa, wajah Shaneen seketika merona merah padam hingga ke leher. Rasa gengsinya sebagai seorang wanita terusik.
"Iiii... Aku serius tau," ucapnya lagi dengan nada sebal yang manja, sambil mengepalkan tangan mungilnya dan memukul dada bidang Reyes yang keras seperti batu.
Reyes segera menurunkan tangannya dari wajah, menangkap jemari mungil Shaneen yang baru saja memukul dadanya, lalu mengecup ujung jari-jari itu dengan tatapan yang teramat dalam dan penuh binar cinta.
"Iya sayangku," bisik Reyes lembut, suaranya yang bariton kini terdengar begitu serak dan menenangkan, perlahan meluruhkan rasa kesal buatan di hati Shaneen.
Tanpa memberikan jeda lagi untuk Shaneen berpikir logis, Reyes kembali menundukkan wajahnya. Pria itu mulai melumat habis bibir manis Shaneen dengan ritme yang teramat pelan dan lembut, seakan-akan waktu di sekeliling mereka sengaja dihentikan dan dunia ikut melambat hanya untuk memberikan ruang bagi penyatuan jiwa mereka. Shaneen memejamkan matanya, membiarkan dirinya terhanyut sepenuhnya dalam kehangatan lumatan sang suami yang begitu memabukkan.
Setelah memberikan kecupan dalam di bibir Shaneen, kecupan hangat Reyes mulai bergerak turun menyusuri dagu istrinya, lalu beralih menuju leher jenjang Shaneen yang sensitif. Di sana, Reyes memberikan lumatan-lumatan kecil yang sensual, menciptakan sensasi menggelitik yang teramat pekat.
Shaneen hanya bisa menggigit bibir bawahnya erat-erat demi menahan lenguhan yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, setiap sentuhan kulit, kecupan, dan usapan kasar dari tangan Reyes di atas permukaan kulitnya sudah seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang langsung melumpuhkan seluruh persendian tubuhnya.
Sentuhan Reyes kian bergerak turun, melewati tulang selangka menuju area yang kelak akan menjadi area paling favorit bagi sang Letkol. Pria itu mulai memainkan lidahnya dengan keahlian yang teramat taktis, memberikan sensasi hangat yang membakar habis sisa-sisa kesabaran Shaneen. Sentuhan yang begitu intens di area sensitif tersebut seketika membuat si pemilik Rachel and Samantha itu kehilangan kendali atas jemarinya sendiri.
Tangan ramping Shaneen yang bebas bergerak naik, menyusup ke sela-sela rambut hitam milik suaminya. Jemari lentiknya meremas lembut rambut tebal Reyes, mencengkeramnya dengan ritme yang tak beraturan seakan-akan gestur bawah sadarnya sedang menekan kepala sang suami agar terus berada di sana dan tidak berhenti sedetik pun dari posisinya.
Di saat yang bersamaan, tangan kanan Reyes yang besar tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang teramat telaten namun pasti, jemari bounces sibuk membuka satu demi satu kancing piyama sutra marun yang dikenakan oleh istrinya. Setelah kancing-kancing itu terlepas sempurna, menyingkap hamparan kulit perut Shaneen yang rata dan halus, Reyes memindahkan telapak tangan hangatnya ke sana. Dia mengelus pelan dan lembut permukaan perut istrinya, mengirimkan sensasi hangat yang membuat otot-otot perut Shaneen bergerak rileks di bawah sentuhannya.
Secara perlahan-lahan, sentuhan dan kecupan Reyes terus merayap turun menyusuri setiap inci lekuk tubuh Shaneen. Pria itu menjelajahi setiap jengkal keindahan istrinya dengan penuh tanda, seolah sedang menegaskan bahwa malam ini, seluruh jiwa dan raga Shaneen adalah milik mutlak seorang Reyes.
Namun, di saat sensasi kehangatan itu berada di puncaknya dan Shaneen sudah sepenuhnya pasrah dalam dekapan, Reyes tiba-tiba menghentikan seluruh pergerakannya. Pria raksasa itu menarik tubuhnya ke atas, menjauhkan wajahnya, bangun dan mengatur napasnya yang sudah terengah memburu.
Kehilangan kehangatan yang tiba-tiba membuat Shaneen perlahan membuka kelopak matanya yang sudah sayu. Dia menatap Reyes dengan pandangan bingung sekaligus linglung yang teramat kentara.
"Kenapa? Sudah selesai ya?" tanya Shaneen polos, suaranya terdengar sengau dan serak akibat kabut gairah yang masih menyelimuti kepalanya.
Reyes menunduk, menatap wajah cantik istrinya yang berantakan dengan binar posesif dan seringai tampan yang teramat seksi di bibir kokohnya.
"Belum sayang, ini baru dimulai," ucap Reyes dengan suara bariton yang teramat dalam dan bergetar sarat akan emosi purba seorang pria dewasa.
Sembari mempertahankan tatapan elangnya yang mengunci mata Shaneen, tangan kekar Reyes bergerak turun menuju pinggangnya sendiri, dengan gerakan lambat yang penuh penekanan, dia mulai membuka kancing celana yang ia kenakan.
Suara gemerisik pakaian yang terlepas di tengah kesunyian kamar yang temaram itu mendadak mengembalikan sisa-sisa kesadaran Shaneen tentang apa yang akan benar-benar terjadi berikutnya. Di bawah selimut mahoni yang hangat, malam panjang mereka yang sesungguhnya kini siap untuk digulirkan, mengukir babak baru yang takkan pernah terlupakan seumur hidup mereka.