NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Orang Tua yang Asing

Pagi itu, suasana rumah terasa lebih sibuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyinari lantai marmer yang bersih. Para pelayan terlihat mondar-mandir, menyiapkan berbagai hal dengan rapi. Laura Roberts berdiri di tangga lantai dua, memperhatikan semua itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Hari ini… orang tua Laura akan datang.

Ia menarik napas perlahan. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut pada dunia manusia, tapi karena ia harus menghadapi sesuatu yang bahkan tidak ia miliki—kenangan.

Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Ia tidak tahu seperti apa hubungan mereka sebelumnya.

Dan yang paling penting… ia tidak tahu apakah ia bisa meyakinkan mereka bahwa dirinya adalah Laura yang sama.

“Kenapa kamu berdiri di situ?” suara Martin terdengar dari bawah.

Laura menoleh, melihat Martin yang sudah duduk di kursi rodanya di ruang tamu. Tatapannya lurus, namun ada sedikit rasa penasaran di baliknya.

“Mereka akan datang sebentar lagi,” lanjut Martin. “Kalau kamu gugup, itu wajar. Tapi jangan terlihat terlalu aneh.”

Laura menuruni tangga perlahan. “Aku tidak tahu harus bagaimana,” katanya jujur.

Martin menghela napas pelan. “Bersikap biasa saja. Mereka orang tuamu, bukan orang asing.”

Laura hanya mengangguk, meski dalam hatinya ia tahu… mereka tetap terasa seperti orang asing.

Tak lama kemudian, suara mobil berhenti terdengar dari luar.

Jantung Laura langsung berdetak lebih cepat.

Pintu terbuka, dan dua orang masuk dengan langkah tergesa. Seorang wanita paruh baya dengan wajah elegan dan penuh kecemasan, serta seorang pria dengan tatapan tegas namun terlihat khawatir.

“Laura!”

Wanita itu langsung menghampiri.

Itu adalah Elsa Rojer.

Ia langsung memegang kedua bahu Laura, matanya menatap wajah putrinya dengan cemas. “Sayang… kamu baik-baik saja? Mommy sangat khawatir! Apa yang terjadi denganmu? Saat Mommy dengar kamu kecelakaan mobil…”

Suaranya bergetar.

Laura terdiam.

Ia bisa merasakan tangan wanita itu—hangat, penuh kekhawatiran, dan… tulus.

“Maaf membuat Mommy khawatir,” jawab Laura pelan, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

Wilson Roberts berdiri di belakang, menatap Laura dengan serius. “Kamu benar-benar tidak ingat apa-apa?” tanyanya langsung.

Laura menoleh, lalu menggeleng pelan. “Tidak… aku hanya ingat sedikit. Banyak hal terasa kosong.”

Elsa langsung memeluk Laura erat. “Tidak apa-apa… tidak apa-apa. Yang penting kamu selamat. Mommy tidak peduli kalau kamu lupa semuanya, selama kamu masih di sini.”

Laura membeku dalam pelukan itu.

Ia tidak tahu bagaimana harus merespon. Tapi perlahan… tangannya terangkat dan membalas pelukan itu dengan canggung.

Perasaan hangat itu kembali muncul.

Aneh… tapi menenangkan.

Martin memperhatikan dari samping, lalu berkata datar, “Dokter memang bilang kemungkinan kehilangan ingatan itu ada. Tapi kondisinya stabil.”

Wilson mengangguk pelan. “Bagus. Yang penting dia masih bisa berfungsi dengan baik.”

Laura sedikit menunduk. Kata “berfungsi” terdengar dingin, tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa ia memang sedang mencoba… belajar menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Elsa melepaskan pelukannya, lalu menatap Laura lagi dengan seksama. “Kamu terlihat berbeda,” katanya pelan.

Laura langsung menegang.

“Apa maksud Mommy?” tanyanya hati-hati.

Elsa tersenyum tipis. “Lebih… tenang. Dulu kamu lebih banyak bicara. Sekarang kamu terlihat lebih hati-hati.”

Laura menarik napas kecil. “Mungkin karena… aku masih mencoba menyesuaikan diri.”

Wilson mengangguk. “Itu masuk akal.”

Nyonya Quenza, yang sejak tadi memperhatikan, ikut tersenyum. “Laura memang masih beradaptasi. Tapi dia baik-baik saja.”

Elsa mengangguk, lalu menggenggam tangan Laura. “Kalau ada yang membuatmu bingung, kamu bisa bertanya pada Mommy atau Daddy. Kamu tidak sendiri.”

Laura menatap tangan itu.

Hangat.

Nyata.

Dan… asing.

Namun entah kenapa, ia tidak ingin melepaskannya.

Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Percakapan mengalir perlahan, penuh pertanyaan dan cerita. Elsa beberapa kali menanyakan hal-hal kecil—makanan kesukaan Laura, kebiasaan lamanya, bahkan kenangan masa kecil.

Dan setiap kali itu terjadi…

Laura harus berpikir keras.

Ia menjawab dengan hati-hati, memilih kata yang aman, menghindari kesalahan.

“Aku masih mencoba mengingat,” katanya berulang kali.

Wilson memperhatikannya dengan tajam, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Martin sesekali menyela, menjelaskan situasi Laura, seolah ingin memastikan semuanya tetap terkendali.

Namun di balik semua itu, Laura merasa seperti berjalan di atas tali tipis.

Satu kesalahan kecil…

Dan semuanya bisa runtuh.

Elsa tiba-tiba mengusap pipi Laura dengan lembut. “Kamu pasti lelah, ya?”

Laura mengangguk pelan. “Sedikit.”

“Tidak apa-apa,” kata Elsa lembut. “Kamu tidak perlu memaksakan diri. Pelan-pelan saja.”

Laura menatap wanita itu.

Ada sesuatu dalam tatapannya—kasih sayang yang tidak dibuat-buat, kekhawatiran yang tulus.

Dan untuk pertama kalinya…

Laura merasa bersalah.

Karena ia tahu…

Wanita ini mencintai anaknya.

Bukan dirinya.

Ia menunduk sedikit.

“Aku akan mencoba,” bisiknya pelan.

Wilson berdiri, lalu menepuk bahu Laura dengan ringan. “Itu sudah cukup.”

Hari itu berlalu dengan percakapan yang panjang.

Dan saat orang tua Laura akhirnya berpamitan, rumah kembali tenang.

Namun hati Laura tidak.

Ia berdiri di ruang tamu, menatap pintu yang baru saja tertutup.

Perasaannya campur aduk.

Bingung.

Takut.

Dan… sedikit hangat.

Ia menggenggam tangannya sendiri.

Dunia manusia ini ternyata tidak hanya rumit…

Tapi juga penuh ikatan yang tidak bisa ia pahami dengan logika.

Dan kini, ia harus belajar satu hal lagi—

Bagaimana menjadi anak…

Bagi orang tua yang bahkan tidak ia kenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!