NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Terlalu Kejam

"Ma, tadi Om Wiryo ngapain marah-marah di sini? Memangnya kalian sudah saling mengenal sebelumnya?"

Pertanyaan yang selalu ingin dihindari oleh Widya kini ditanyakan langsung oleh anak perempuannya. Dia bingung kan ndak memberikan penjelasan namun dengan cepat Hermawan pembantunya.

"Sepertinya Wiryo sedang ada masalah keluarga. Bodohnya dia datang kemari hanya ingin meminta bantuan. Memang Apa urusannya sama kita?"

Nina mengerutkan alisnya. "Maksud Papa Om Wiryo memiliki masalah dengan keluarganya dan datang ke sini buat meminta bantuan? Nggak jelas banget jadi orang! Memangnya rumah kita tempat pengaduan? Sekalian aja datang ke psikiater kalau nggak mampu menanggung beban keluarga, kok malah ke sini!"

Nina menyesal karena sudah menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Dia pikir pria itu memang memiliki urusan pekerjaan dengan ayahnya. Kalau saja dia tahu ternyata ada urusan yang tidak melibatkan keluarganya tentu ia tidak akan memintanya masuk ke dalam rumahnya.

"Lain kali kalau ada tamu datang ke sini kalau Papa nggak ada di rumah jangan bukakan pintu kalaupun sudah terlanjur ketemu langsung suruh pergi nggak usah nunggu papa dengan alasan apapun," peringat Hermawan.

"Tapi bagaimana kalau tamunya itu memang benar-benar penting ingin bertemu dengan papa?" tanya Nina.

Kejadian hari itu sebuah pembelajaran untuknya. Tidak semua orang yang terlihat baik memiliki niatan yang baik juga. Buktinya saja Wiryo yang sudah dimaafkan tapi masih juga membuat kegaduhan di rumahnya.

"Ya apapun alasannya suruh pergi saja. Kalau ingin ketemu sama papa langsung saja ke kantor, nggak perlu datang ke rumah."

"Oke, bisa dimengerti."

Hermawan masih cukup kesal dengan kejadian itu. Dia berniat ingin menemui Wiryo di luar.

"Ma, Papa mau keluar sebentar. Nanti waktunya makan malam kalian makan saja duluan, nggak usah nungguin papa."

Hermawan berpamitan pada media dengan meraih jaket yang ada di sampingnya.

Widya menautkan alisnya. Biasanya Hermawan tidak akan pergi sebelum selesai makan malam, tapi kini dia terlihat terburu-buru ingin keluar.

"Memangnya papa mau ke mana sih? Apa nggak sebaiknya nunggu selesai makan malam dulu?"

Hermawan memang sengaja tidak memberitahu Widya mengenai tujuannya yang ingin bertemu dengan Wiryo di luar. Dia hanya tidak ingin Widya resah memikirkan mantan suaminya itu.

"Kalau nunggu selesai makan malam terlalu lama Ma, nanti Papa bisa makan sendiri kok. Kalian cukup tunggu Rendra pulang."

Widya mengangguk dengan perasaan tak nyaman. "Ya sudah kalau itu menjadi keputusan Papa. Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa hubungi kami."

"Hmm..."

Pria itu langsung bergegas keluar tanpa berbasa-basi lagi, dan itu membuat Nina, Widya dan juga Dion saling bertatapan satu sama lain.

"Memangnya papa mau ke mana sih ma? Tidak biasanya keluar sendiri setelah jam kerja celetuk Dion. "Atau jangan-jangan dia ada janji sama selingkuhannya?"

Widya melotot dan membentaknya. "Hus! Sembarangan aja kalau ngomong!"

Cukup geram dengan celetukan anak laki-lakinya yang membuat pikirannya bertambah tak nyaman. Ia hanya takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap suaminya, karena tidak biasanya Hermawan keluar sendiri di saat jam istirahat. "Kalau Papa lagi keluar sendiri itu artinya dia memang ada pekerjaan dengan rekan bisnisnya. Kalau ngajak kita yang ada nggak bisa fokus dengan obrolannya. Kamu itu kalau ngomong di sliding dulu, jangan asal nerocos aja!"

"Kapok...! Sukurin...!" Nina melepas tawanya dengan menjulurkan lidah ke arah adik laki-lakinya. Dia terlihat begitu senang melihat adiknya ditegur oleh ibunya.

"Kakak ini apa-apaan sih! Seneng ya..., melihatku ditegur sama Mama?"

Dengan melepas tawanya Nina menjawab. "Ya senang lah! Salah sendiri. Makanya jadi orang itu jangan terlalu usil! Kalau sampai kedengeran Papa bisa dipotong uang jajanmu!"

"Pokoknya kalau sampai uang jajanku dipotong berarti kalian berdua yang sudah mengadu, dan kalian harus bertanggung jawab," desisnya dengan mendengus.

"Loh! Ngapain juga aku harus tanggung jawab? Salah salah sendiri kok orang lain suruh tanggung jawab. Mau lari dari kenyataan kamu? Jadi cowok jangan bermental tempe, nggak bakalan laku!"

"Siapa yang bermental tempe?"

Bukan Dion, tapi Rendra sudah berdiri di belakang Nina dan itu membuatnya terkejut. Refleks gadis itu menoleh dan menegurnya.

"Kakak! Ngagetin aja!"

"Baru pulang Ren?" tanya Widya mengulas senyumnya.

"Iya ma." Rendra mengambil tempat duduk disebelah Nina dengan melepaskan jas kerjanya.

Nina mendengus. Ia tahu pria itu lagi cari kesempatan buat bisa dekat-dekat dengannya.

"Ih..., kakak! Buruan mandi sana. Jorok banget habis ngantor seharian nggak langsung mandi. Mandi dulu sono, setelah itu kita makan malam."

Rendra meliriknya sekilas dengan melepaskan kancing kemejanya. "Tunggu sebentar lagi, masih capek aku. Kalau kalian mau makan, makan dulu gih, nanti aku bakalan nyusul."

"Nyusul apaan? Sekarang aja masih belum mandi. Jorok banget jadi orang!"

Rendra memicingkan matanya. 'lihat saja, nanti malem bakalan habis sama aku.'

"Ya udah deh aku mandi dulu bentar."

Dia kembali beranjak dengan berjalan gontai menuju kamarnya.

"Nina, kamu itu apaan sih! Keterlaluan banget sama kakakmu!"

Widya yang sudah cukup mengenali Rendra dia tak suka saat anak perempuannya terlalu mengatur-ngatur kakak tirinya. Sejak kedatangannya, pria itu selalu menunjukkan sifat baiknya, bahkan sangat loyal kepada adik-adiknya.

"Aku hanya menasehatinya supaya dia itu nggak kebiasaan! Memangnya aku salah menasehatinya agar dia itu belajar lebih baik. Seharian dia ada di kantor pasti bau dong? Bukannya lekas mandi malah bersantai-santai, kan nggak enak dilihat."

Widya mencebikkan bibirnya. "Ck, halah! Wong kamu sendiri baru pulang dari kampus langsung rebahan kok, lalu apa bedanya sama Rendra? Jadi orang nggak usah terlalu sok! Tanpa kamu suruh mandi kalau sudah waktunya mandi juga dia lakukan, nggak perlu diperintah."

Nina mendengus. "Ih Mama! Kok jadi belain dia sih?"

"Ya nggak belain, emang kamunya aja yang terlalu bawel! Untungnya saja kakakmu itu super sabar. Kalau dia tegas seperti Papa, yang ada kamu nggak bakalan dikasih izin buat bernafas. Mama sarankan jangan memanfaatkan orang yang sabar, entar kalau dapat imbasnya baru tau rasa kamu!"

"Kasian deh Lo!" Kini Dion gantian meledeknya. Dia balas dendam karena sudah ditertawakan saat dimarahi oleh ibunya.

"Bales dendam Lo!" Nina melemparkan bantal sofa pada adiknya dan ditangkap oleh bocah itu.

Dion terkekeh berhasil membalaskan dendanya. "Udahlah kak, jadi orang jangan egois, bisa ngatur orang lain tapi nggak bisa intropeksi diri. Jadi cewek jangan terlalu galak, entar nggak laku loh!"

"Sembarangan aja kalau ngomong!" Nina memelototinya.

"Ya bukannya sembarangan kak, tapi buktinya memang bener kan? Kamu diselingkuhi oleh pacarmu. Dia lebih memilih wanita lain, berarti ada yang salah denganmu! Bisa jadi kamu terlalu kejam..., atau bisa jadi kurang cantik."

Tangan Nina mengepal dan memekik. "Dion....!!"

1
aku
asekk!! aku suka keributan mereka 😁😁🤣🤣
aku
gass wir, tuntutlah, biar endingnya ente yg masuk bui 🤣🤣🤣
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!