NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 13: Kesepakatan

​Dua puluh tiga jam dan empat puluh lima menit kemudian, aku kembali berdiri di depan pintu putar kaca raksasa Menara Adristo.

​Pakaianku masih sama persis dengan kemarin. Kemeja putih lengan panjang, rok hitam selutut, dan sepatu pantofel butut. Satu-satunya hal yang berbeda hari ini adalah isi di dalam tas jinjingku. Tidak ada lagi map plastik bening berisi fotokopi CV murahan. Sebagai gantinya, sebuah map kulit hitam tebal berlogo 'A' emas duduk dengan angkuh di dalamnya, memeluk sebuah kontrak bernilai satu miliar rupiah yang sudah kutandatangani.

​Aku menarik napas panjang, menyingkirkan sisa-sisa polusi Jakarta dari paru-paruku, lalu melangkah masuk.

​Suhu dingin lobi utama langsung menyergap kulitku. Berbeda dengan kemarin, hari ini tidak ada lautan pelamar berseragam hitam-putih. Lobi marmer ini kembali ke wujud aslinya: elegan, sepi, dan dipenuhi oleh eksekutif berjas rapi yang berjalan dengan langkah cepat seolah waktu mereka dihitung per detik.

​Aku tidak lagi berjalan mengendap-endap mencari lorong lift rahasia.

​Aku berjalan lurus membelah lobi, langsung menuju meja resepsionis utama yang terbuat dari pualam putih melengkung. Dua orang wanita cantik berpakaian blazer navy seragam dengan riasan tanpa cela berdiri di baliknya.

​Mereka menatap kedatanganku. Tepatnya, mereka memindai kemeja lima puluh ribuku dengan tatapan profesional yang menyembunyikan penilaian kritis.

​"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?" sapa salah satu resepsionis dengan senyum yang sangat terlatih.

​"Selamat pagi. Saya Nara Kusuma," kataku datar, tanpa basa-basi. "Saya ada janji dengan Bapak Rayan Adristo."

​Senyum resepsionis itu sedikit goyah. Matanya melebar sepersekian milimeter. Mengklaim memiliki janji langsung dengan CEO tertinggi di lobi utama dengan pakaian seperti ini jelas merupakan sebuah anomali.

​"Mohon maaf, Ibu Nara... apakah sudah ada jadwal sebelumnya dengan sekretaris beliau? Boleh saya tahu untuk keperluan apa?" tanyanya hati-hati, tangannya sudah bersiap di atas gagang telepon putih. Mungkin bersiap memanggil satpam jika aku mulai bertingkah seperti orang gila.

​"Sebutkan saja nama saya ke asisten beliau, Pak Daniel," jawabku setenang air kolam. "Beri tahu dia, dua puluh empat jam saya sudah habis."

​Resepsionis itu saling berpandangan dengan rekannya. Dengan sedikit ragu, ia mengangkat gagang telepon dan menekan beberapa tombol ekstensi.

​"Selamat pagi, Pak Daniel. Mohon maaf mengganggu waktunya... Di lobi ada seorang Ibu bernama Nara Kusuma, menyatakan memiliki janji dengan Bapak Rayan. Beliau berpesan... dua puluh empat jamnya sudah habis." Wanita itu terdiam mendengarkan jawaban dari seberang. Tiba-tiba, postur tubuhnya menjadi jauh lebih tegak. "Baik, Pak. Segera kami antar."

​Ia meletakkan gagang telepon. Ketika ia menatapku kembali, sama sekali tidak ada lagi sisa penilaian di matanya. Yang ada hanyalah kepatuhan mutlak.

​"Mari, Ibu Nara. Pak Daniel sudah menunggu di lantai tiga puluh. Saya akan mengantar Anda ke lift VIP."

​Aku hanya mengangguk pelan. Mengikuti langkah resepsionis itu menuju lorong kecil berkarpet tebal yang kemarin kumasuki secara ilegal. Pintu berdaun emas itu terbuka. Ia melakukan tap pada kartu aksesnya ke panel, lalu menekan tombol 30.

​"Silakan, Ibu," ucapnya seraya menunduk hormat saat aku melangkah masuk.

​Lift melesat naik tanpa suara. Aku menatap pantulan diriku di cermin mahogany. Wajahku terlihat pucat, tapi mataku tidak menyorotkan keraguan. Aku sudah selesai menjadi korban keadaan.

​TING.

​Pintu terbuka. Daniel, asisten berkacamata dengan setelan jas abu-abu yang kemarin menyerahkan map kepadaku di lobi, sudah berdiri menungguku tepat di depan pintu lift.

​"Selamat pagi, Nona Nara. Tepat waktu," sapa Daniel sopan. "Silakan, Bapak sudah menunggu di dalam."

​Ia membimbingku melewati meja resepsionis kosong di lorong senyap itu, lalu membukakan pintu ganda kayu mahoni raksasa.

​Ruangan itu masih sama mengintimidasinya dengan kemarin. Dan di balik meja kerjanya, Rayan Adristo duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Ia sedang menatap layar tabletnya.

​Mendengar langkahku, Rayan meletakkan tabletnya. Ia tidak menyuruhku duduk. Ia hanya menatapku lekat, menunggu langkah pertamaku.

​Aku berjalan ke depan mejanya. Tanpa disuruh, aku membuka resleting tasku, mengeluarkan map kulit hitam itu, dan menaruhnya di atas meja kaca di hadapannya.

​"Saya setuju," kataku memecah keheningan. "Dan saya sudah menandatanganinya."

​Rayan menatap map itu sekilas, lalu beralih menatap wajahku. Ketegangan di rahangnya tampak mencair, digantikan oleh kepuasan tipis khas seorang pebisnis yang baru saja memenangkan akuisisi alot.

​Ia menarik map itu. Membuka sampulnya. Tangannya dengan cepat membalik halaman demi halaman, memindai sekilas, hingga ia tiba di halaman terakhir.

​Pergerakan tangan Rayan terhenti.

​Mata kelamnya terpaku pada bagian bawah kertas, tepat di atas tanda tanganku. Tempat di mana tinta biru murahan milikku menodai kesempurnaan dokumen legal ketikan pengacaranya.

​Keheningan di ruangan itu berubah menjadi kaku.

​Rayan perlahan mengangkat wajahnya. Ia tidak terlihat marah, tapi ada gurat ketidaksukaan yang sangat jelas karena seseorang berani merusak draf kontraknya.

​"Tulisan tangan?" Suara bariton Rayan mendengung rendah. Ia membaca kalimat yang kutambahkan dengan nada mengeja. "'Singkatnya: Hidup saya, tetap milik saya.'"

​Ia menatapku tajam. "Apa maksud klausul tambahan konyol ini, Nona Nara?"

​Aku membalas tatapannya tanpa berkedip. Menolak untuk terintimidasi.

​"Maksudnya sangat harfiah, Pak Rayan," jawabku dengan intonasi selurus penggaris. "Saya dibayar mahal untuk menjadi pajangan di acara keluarga Bapak. Saya bersedia menjadi perisai Bapak dari cecaran media dan keluarga. Tapi saya bukan tawanan rumah."

​Rayan menyipitkan matanya.

​"Kalau Bapak membutuhkan boneka pajangan yang bisa Bapak kendalikan dua puluh empat jam penuh untuk memuaskan ego kontrol Bapak, silakan cari wanita lain atau beli manekin di toko mainan," lanjutku tanpa ampun. "Selama saya mematuhi batas wilayah sandiwara publik kita, saya berhak mencari pekerjaan, berhak bertemu teman saya, dan berhak bernapas sesuai jadwal saya sendiri. Kebebasan personal saya, tidak termasuk dalam angka satu miliar yang Bapak tawarkan."

​Daniel, yang sedari tadi berdiri di dekat pintu, terdengar menarik napas tertahan. Ia mungkin mengira bosnya akan segera memanggil security untuk melempar tubuhku dari jendela lantai tiga puluh.

​Tapi Rayan tidak meledak.

​Ia terdiam selama beberapa saat. Matanya terus mengulitiku, seolah sedang membedah lapisan demi lapisan pertahananku. Ia mencari jejak ketakutan, negosiasi, atau gertakan di wajahku. Ia tidak menemukannya.

​Tiba-tiba, dari hidungnya keluar sebuah embusan napas kasar yang terdengar menyerupai dengusan geli. Sebuah micro-expression yang memancarkan sesuatu yang sangat jarang kulihat dari orang-orang saat berhadapan denganku: Rasa hormat.

​Rayan menyukai ini. Ia tidak membutuhkan wanita menangis yang bergantung padanya, ia membutuhkan mitra bisnis yang tahu batas. Dan aku baru saja menggambar batasku dengan spidol permanen.

​"Efisien," gumam Rayan pelan.

​Ia meraih sebuah pulpen Montblanc dari atas mejanya. Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk berdebat lagi, ia membubuhkan tanda tangannya yang tegas tepat di sebelah tanda tanganku, menyetujui syarat sepihakku.

​"Saya terima syaratmu," katanya final, menutup map tersebut. Ia lalu menatap Daniel. "Daniel, proses administrasinya. Masukkan namanya ke dalam sistem keamanan apartemen saya. Dan transfer down payment lima puluh persen ke rekeningnya hari ini juga."

​Jantungku melompat brutal. Lima ratus juta. Hari ini.

​"Baik, Pak Rayan," jawab Daniel sigap. Asisten itu lalu menoleh ke arahku dengan senyum profesional. "Nona Nara, saya butuh nomor rekening Anda. Dan mohon persiapkan barang-barang pribadi Anda. Malam ini, tim kami akan menjemput Anda untuk pindah ke kediaman Bapak."

​"Malam ini?" ulangku sedikit terkejut.

​Rayan menatapku dengan tatapan sedingin es. "Waktu saya sangat berharga. Saya butuh kamu hadir di acara makan malam keluarga akhir pekan ini sebagai calon istri saya. Tidak ada waktu untuk bersantai. Kemasi barangmu malam ini."

​"Baik." Aku mengangguk kaku. Transaksi selesai.

​Aku berbalik dan berjalan keluar dari ruangan raksasa itu bersama Daniel. Asisten itu membimbingku kembali ke lift, meminta kartu identitas dan nomor rekeningku di sepanjang lorong.

​Hanya butuh sepuluh menit bagi Daniel untuk mengurus semuanya.

​Begitu aku melangkah keluar dari lobi Menara Adristo dan kakiku menyentuh aspal panas trotoar Jakarta, sebuah getaran pendek terasa di dalam tas jinjingku.

​Aku menghentikan langkahku di bawah bayangan halte bus.

​Tanganku yang sedikit berkeringat merogoh bagian dalam tas, mengeluarkan HP Android layarku yang layarnya sudah sedikit retak di ujung.

​Sebuah notifikasi pop-up dari aplikasi m-Banking menyala di layar lockscreen.

​Dana masuk: Rp 500.000.000,00.

Keterangan: Transfer R. Adristo - Termin 1.

​Aku berdiri mematung di pinggir jalan raya yang bising. Suara klakson Kopaja, deru knalpot motor, dan teriakan pedagang asongan seolah lenyap ditelan kehampaan.

​Mataku terpaku pada deretan angka nol yang berjejer panjang di layarku. Kemarin pagi, saldo di rekening ini hanya tersisa Rp 150.000. Cukup untuk ongkos bus dan makan siang di warteg selama tiga hari. Dan sekarang... angka setengah miliar itu duduk di sana, menatapku balik.

​Aku tidak tersenyum. Aku tidak melompat kegirangan atau berteriak histeris seperti pemenang lotre.

​Sebaliknya, ada sebuah batu raksasa transparan yang tiba-tiba terangkat dari atas tulang rusukku. Begitu beratnya batu itu, hingga ketika ia diangkat, aku merasa seperti kehilangan pijakan gravitasi. Napasku terengah pelan. Mataku memanas.

​Uang ini bukanlah sumber kebahagiaan. Uang ini adalah uang darah. Uang hasil menjual identitas dan jiwaku kepada seorang iblis korporat berwajah tampan.

​Tapi, uang ini juga merupakan sesuatu yang jauh lebih fundamental dariku: uang ini adalah kunci borgol.

​Dengan angka ini, aku baru saja membeli kembali nyawaku sendiri dari cengkeraman Ibuku. Buku catatan merah sialan itu telah resmi mati hari ini. Tidak ada lagi ancaman masa depan, tidak ada lagi jeratan balas budi seumur hidup.

​Aku mengunci layar HP-ku erat-erat. Menarik napas rakus, menikmati udara kebebasan pertamaku.

​Aku langsung membuka aplikasi chat. Mencari kontak Sari.

​Nara: Kamu di mana? Kita perlu ketemu sekarang. Bawa kopi yang banyak.

​Tiga detik kemudian, balasan Sari masuk.

​Sari: Aku di rumah. Kenapa? Kamu dapet kerjaannya?! Di Adristo Group beneran?!

​Aku menatap balasan antusias sahabatku itu. Bibirku tersenyum getir.

​Nara: Iya. Aku dapet kerjaannya. Gajinya di luar nalar. Tapi aku butuh bantuanmu buat packing.

Nara: Besok pagi, aku minggat dari rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!