NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Embun pagi masih betah menggelayut di pucuk-pucuk kamboja saat Gus Azlan melangkahkan kakinya memasuki area pemakaman umum yang terletak di pinggiran kota. Suasana masih remang, cahaya matahari hanya mengintip malu di ufuk timur, memberikan semburat ungu yang dingin. Azlan sengaja datang di jam ini, berharap kesunyian makam bisa menenangkan badai di dadanya setelah perdebatan batin yang melelahkan sepanjang malam.

Ia berjalan perlahan, menyusuri jalan setapak yang diapit nisan-nisan bisu. Langkahnya terhenti di depan dua gundukan tanah yang berdampingan, tempat di mana pasangan suami istri paling berjasa dalam ingatannya beristirahat. Azlan berjongkok, mengeluarkan sebuah buku Yasin kecil dari saku jubahnya.

Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menyadari bahwa ia tidak sendirian.

Di sisi lain nisan, bersimpuh seorang wanita. Ia mengenakan jaket denim pudar dan celana hitam, rambutnya yang kini tak lagi tertutup jilbab tampak berantakan tertiup angin pagi. Mata wanita itu sembab, merah, dan menyimpan keletihan yang teramat dalam. Tidak ada lagi binar kesucian yang dulu selalu membuat Azlan menundukkan pandangannya. Kini, mata itu menatap kosong ke arah nisan sang ayah.

Azalea Maheera.

Lea mendongak. Ia tampak sangat terkejut melihat sosok pria bersarung dan berbaju koko putih berdiri di hadapannya. "Gus... Azlan?" suaranya serak, hampir menyerupai bisikan angin.

Azlan tertegun. Ia ingin memalingkan muka sesuai aturan yang ia pegang teguh selama bertahun-tahun, namun kali ini, kakinya seolah terpaku ke bumi. Ada rasa sakit yang luar biasa melihat "bunga pesantren" itu kini tampak layu dan berduri.

Tanpa sepatah kata pun, Azlan duduk di atas rumput yang masih basah. Ia mulai melantunkan ayat-ayat suci. Suaranya yang merdu dan bariton menggema di antara kesunyian pagi. Setiap makhraj yang ia ucapkan terasa seperti hantaman di dada Lea.

“Shadaqallahul 'adzhim...” pungkas Azlan setelah menyelesaikan bacaan Yasinnya. Suaranya bergetar, ada tangis yang ia tahan di pangkal tenggorokan.

Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa menit. Hanya ada suara gesekan daun kamboja. Lea tidak berani menatap mata Azlan, ia justru sibuk mencabuti rumput liar di atas makam ibunya dengan jemari yang gemetar. Tato kupu-kupu di lehernya tampak jelas saat ia menunduk.

"Bagaimana kabarmu... Gus?" tanya Lea akhirnya. Pertanyaan itu terdengar sangat berat, seolah setiap katanya membawa beban berton-ton masa lalu.

Azlan tidak langsung menjawab. Air matanya menetes begitu saja, membasahi pipinya yang ditumbuhi jenggot tipis. Setelah bertahun-tahun, suara itu—suara yang dulu ia harapkan menjadi penenang harinya—kembali terdengar. Namun dalam keadaan yang sangat hancur.

Azlan teringat doanya semalam, tentang permintaannya untuk melupakan wanita ini. Tapi di sini, di depan makam kedua orang tuanya, ingatan itu justru menghantamnya lebih keras.

"Apa hatimu belum ikhlas, Lea?" tanya Azlan lirih. Suaranya penuh dengan nada kecewa, namun terselip kasih sayang yang masih tersisa. "Apa kamu begitu membenci takdir Allah sampai kamu harus merusak dirimu seperti ini?"

Mendengar kata-kata itu, sesuatu dalam diri Lea pecah. Ia tertawa getir, tawa yang kemudian berubah menjadi isak tangis yang memilukan.

"Ikhlas? Bagaimana aku bisa ikhlas, Gus?!" Lea tiba-tiba berdiri dan melangkah mendekati Azlan. Ia kehilangan akal sehatnya. Kepedihan bertahun-tahun meledak seketika. "Engkau tidak tahu rasanya menjadi aku! Engkau tidak tahu rasanya kehilangan duniaku dalam satu malam!"

Lea mulai memukuli bahu dan lengan Azlan dengan kepalan tangannya yang kecil namun penuh tenaga kemarahan. Azlan terkejut, namun ia tidak menghindar. Ia membiarkan aturan pesantren—tentang larangan sentuhan dengan bukan-mahram—terabaikan demi memberikan ruang bagi jiwa yang sedang sekarat ini untuk bernapas.

"Engkau tahu kenapa mereka pergi malam itu?!" teriak Lea sambil terus memukuli dada Azlan. Azlan hanya diam, membiarkan dirinya menjadi sasaran amarah Lea. "Mereka pergi karena mereka terlalu bahagia! Ayah bilang engkau sudah mengirim surat taaruf! Ibu bilang aku akan segera menjadi pengantinmu!"

Pukulan Lea melemah. Ia jatuh berlutut di depan Azlan, tangannya mencengkeram lengan baju Azlan dengan erat.

"Malam itu... aku sudah menyiapkan jawabannya, Gus. Aku sudah memantapkan hati. Aku bilang pada Allah bahwa aku siap menjadi makmummu selamanya. Tapi apa yang kuterima?! Allah mengambil mereka di saat mereka sedang mengurus kebahagiaanku! Jika Allah mencintaiku, kenapa Dia membiarkan aku sebatang kara di hari yang seharusnya menjadi awal hidupku?!"

Azlan mendengarkan setiap rintihan itu dengan hati yang hancur. Ia baru tahu sekarang bahwa Lea sebenarnya sudah menerima suratnya. Kenyataan itu seperti pisau yang diputar di dalam luka lamanya. Air matanya kini mengalir deras, membasahi tangannya yang masih dicengkeram oleh Lea.

"Lea..." Azlan berbisik, suaranya sangat dalam. "Aku pun hancur saat itu. Aku menunggumu di ndalem dengan harapan yang setinggi langit."

Azlan perlahan menarik napas panjang, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai seorang Gus, meski ia sendiri sedang rapuh. Ia ingat jubah yang ia kenakan, ia ingat amanah Abi, dan ia ingat aturan Islam yang kini memisahkan mereka lebih jauh daripada sekadar jarak kota.

"Tapi Lea... cinta bukan alasan untuk meninggalkan Tuhanmu," ucap Azlan dengan nada bicara khas pesantren yang tenang namun menusuk. "Perasaanku dulu... memang milikmu seutuhnya. Aku mencintaimu dengan cara yang aku tahu paling suci. Tapi hari ini, di sini... perasaanku bukan lagi milikmu."

Lea mendongak, matanya yang basah menatap Azlan dengan tatapan hancur. "Kenapa, Gus? Karena aku sudah kotor? Karena tato ini? Karena rambutku yang tidak lagi tertutup?"

"Bukan karena itu," Azlan menggeleng, suaranya mantap namun pedih. "Tapi karena aku telah menyerahkan hatiku sepenuhnya pada-Nya. Aku tidak bisa mencintai seseorang yang memilih untuk memusuhi Rabb-ku. Di dalam syariat yang aku pelajari, cinta itu adalah jembatan menuju Allah. Jika jembatannya justru menjauhkanku dari-Nya, maka aku harus meruntuhkan jembatan itu, meskipun hatiku ikut hancur di dalamnya."

Lea melepaskan cengkeramannya. Ia tersenyum sangat sedih. "Bahasa islami mu masih sama pintarnya, Gus. Engkau bicara seolah-olah hati bisa diperintah dengan dalil."

Lea berdiri, menghapus air matanya dengan kasar, memperlihatkan tato kupu-kupu yang seolah-olah sayapnya sedang menangis di lehernya.

"Aku mencintaimu, Gus Azlan. Dalam setiap makianku pada Tuhan di Kota A, namamu adalah satu-satunya alasan aku tidak mengakhiri hidupku. Tapi aku tahu... dalam bahasamu, aku adalah fitnah. Aku adalah dosa yang harus dihindari. Cintaku padamu tidak mungkin dalam bahasa islami yang engkau agungkan."

Lea berbalik, melangkah menjauh meninggalkan Azlan yang masih bersimpuh di antara dua nisan.

"Selamat tinggal, Gus. Teruskanlah menjadi suci. Biarkan aku tetap menjadi kupu-kupu hitam yang tersesat," ucap Lea tanpa menoleh lagi.

Azlan menunduk, bahunya terguncang hebat. Ia ingin mengejar, ia ingin merangkul Lea dan membawanya pulang ke jalan hidayah, namun kakinya tertahan oleh tembok besar bernama 'marwah' dan 'syariat'.

Di bawah langit pagi yang mulai terang, Azlan menyadari bahwa terkadang, cinta yang paling besar adalah membiarkan seseorang pergi agar ia bisa menemukan Tuhannya kembali dengan caranya sendiri, bukan karena paksaan seorang manusia.

Pagi itu, di pemakaman yang sunyi, Azlan kehilangan Azalea untuk kedua kalinya. Kali ini, bukan karena maut, tapi karena jurang keyakinan yang mereka gali sendiri-sendiri.

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!