Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Warisan Berlumur Ungu
Pilar cahaya ungu itu berdiri tegak, seolah-olah memaku langit malam tepat di atas pusat ibu kota. Cahayanya tidak berpendar seperti kembang api, melainkan berdenyut pelan seperti jantung raksasa yang baru saja bangun dari tidur panjang. Aruna bisa merasakan getaran dari pilar itu merayap di bawah kakinya, melewati tanah lembah, dan berakhir tepat di tanda lahir pergelangan tangannya yang kini terasa panas membara.
Kaisar tua, yang biasanya terlihat tenang dan penuh wibawa, kini mencengkeram lengan kursinya hingga kayu jati itu berderit. Wajahnya yang keriput tampak sangat pucat di bawah siraman cahaya ungu dari kejauhan.
"Itu... Segel Keabadian yang Terlarang," gumam Kaisar tua. Suaranya terdengar seperti bisikan kematian.
Arvand segera berdiri, tangannya secara insting mencari gagang pedang di pinggangnya. "Ayah, apa maksudnya? Bukankah segel di bawah istana itu hanya legenda untuk menakuti musuh?"
Kaisar tua menggeleng perlahan, matanya tidak lepas dari cahaya di cakrawala. "Bukan legenda, Arvand. Ibumu... Ratu yang asli dan ibu kandung Ratri, bekerja sama sebelum kekacauan sepuluh tahun lalu terjadi. Mereka tidak hanya mengamankan takhta, mereka mengubur sesuatu yang tidak seharusnya disentuh oleh manusia."
Aruna merasa tenggorokannya kering. Nama ibunya di dunia ini, Sena, selalu disebut sebagai wanita ambisius yang dingin. "Apa yang mereka kubur, Ayahanda? Dan kenapa cahaya itu muncul sekarang, tepat saat kita akan kembali?"
Kaisar tua menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kasihan, tapi juga rasa takut yang mendalam. "Mereka mengubur 'Cermin Jiwa'. Sebuah alat yang bisa memisahkan atau menyatukan jiwa dari berbagai dimensi. Sena percaya bahwa dengan alat itu, dia bisa memanggil kembali kekasihnya yang tewas di medan perang. Tapi yang dia lakukan justru merobek kain realitas di tempat ini."
Aruna terhuyung mundur. Jadi, perpindahannya ke tubuh Ratri bukanlah kecelakaan? Bukan sekadar keberuntungan naskah? Apakah ini adalah rencana yang sudah disiapkan sepuluh tahun lalu oleh seorang ibu yang berduka?
"Kita harus berangkat sekarang!" seru Arvand. Ia memberikan isyarat pada para pemimpin pasukan rahasia. "Siapkan kuda! Kita tidak akan menunggu sampai fajar. Jika segel itu pecah sepenuhnya, ibu kota akan menjadi lubang hitam yang menelan kita semua!"
Suasana kamp yang tadi tenang seketika berubah menjadi hiruk-pikuk yang terkendali. Prajurit-prajurit bergerak cepat, mengemas perlengkapan dan menyiapkan senjata. Aruna membantu Mira yang ternyata adalah Mira palsu atau bayangan ilusi dari Seraphina untuk menguji kesetiaan Aruna sebelumnya... untuk menyiapkan keperluan Arel.
"Madam, Anda harus memakai baju zirah ringan ini," ujar Seraphina yang tiba-tiba muncul di belakang Aruna. Ia menyodorkan rompi dari kulit naga yang tipis namun sangat kuat.
"Sera, jelaskan padaku. Kau tahu tentang Segel ini, kan?" Aruna menatap tajam wanita misterius itu.
Seraphina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan. "Aku adalah saksi mata saat Sena menggali lubang itu, Aruna. Aku yang membantunya menulis mantra pengikatnya. Tapi aku tidak tahu kalau efeknya akan menyeretmu dari duniamu sendiri."
"Jadi aku benar-benar ditarik ke sini sebagai tumbal?" tanya Aruna dengan suara bergetar.
"Atau sebagai penyelamat," balas Seraphina pendek sebelum ia menghilang di antara kerumunan prajurit.
Perjalanan menuju ibu kota dilakukan dalam kecepatan penuh. Aruna memacu kudanya di samping Arvand, melewati hutan-hutan yang kini tampak lebih menyeramkan karena pantulan cahaya ungu di dedaunannya. Arel berada di depan Arvand, didekap erat agar tidak jatuh saat kuda melaju kencang.
Setiap beberapa kilometer, mereka berpapasan dengan penduduk desa yang berlarian keluar dari rumah mereka. Wajah-wajah mereka penuh ketakutan. Beberapa dari mereka berlutut di pinggir jalan saat melihat panji bunga melati milik Kaisar tua, menangis meminta perlindungan.
"Lihat itu, Ratri," Arvand menunjuk ke arah gerbang utama ibu kota yang sudah terlihat di kejauhan. "Prajurit penjaga gerbang sudah meninggalkan pos mereka. Mereka ketakutan pada sihir itu."
Benar saja, gerbang raksasa ibu kota terbuka lebar tanpa penjagaan. Namun, suasana di dalam kota jauh lebih mengerikan. Orang-orang berdiri mematung di jalanan, persis seperti para prajurit di benteng Utara. Mereka terjebak dalam ilusi masa lalu mereka masing-masing.
Aruna melihat seorang pedagang pasar yang tertawa sendirian sambil memegang koin emas yang sebenarnya adalah batu kerikil. Ia juga melihat seorang ibu yang menimang udara kosong seolah-olah sedang menimang bayi.
"Cermin Jiwa itu... dia sedang menghisap kesadaran mereka," gumam Aruna. Ia bisa merasakan tarikan yang sama di dalam kepalanya, namun tanda lahir di pergelangan tangannya terus berdenyut, memberikan semacam pelindung yang menjaganya tetap sadar.
Mereka mencapai alun-alun istana. Di sana, pilar cahaya ungu itu berpangkal dari sebuah lubang besar di tengah-tengah taman mawar yang dulu sangat disukai Sena. Di tepi lubang itu, berdirilah sosok yang membuat napas Aruna tercekat.
Pangeran Kaelan.
Namun, Kaelan tidak lagi terlihat seperti pangeran yang mereka kenal. Tubuhnya diselimuti oleh aura hitam, dan matanya benar-benar ungu sepenuhnya. Di tangannya, ia memegang sebuah pecahan kaca besar yang bersinar terang... pecahan dari Cermin Jiwa.
"Kaelan! Hentikan ini!" teriak Arvand sambil melompat turun dari kuda. Ia menghunus pedangnya, melangkah maju menutupi Aruna dan Arel.
Kaelan menoleh, gerakannya kaku seperti boneka yang digerakkan oleh benang tak kasat mata. "Hentikan? Kenapa? Aku baru saja akan mengembalikan Ratri-ku yang asli. Aku bisa melihatnya di dalam cermin ini, Arvand! Dia sedang menangis, meminta dilepaskan dari kegelapan tempat wanita asing ini mengurungnya!"
"Ratri yang kau maksud sudah lama tiada karena ambisinya sendiri, Kaelan!" balas Arvand. "Wanita di depanku ini adalah ibu dari anakku, dan dia jauh lebih berharga daripada bayangan yang kau kejar!"
Kaelan tertawa, suara tawa yang terdengar ganda. Suaranya sendiri dan suara melengking seorang wanita yang sangat Aruna kenali. Suara Selina.
"Anakmu? Kau pikir anak itu benar-benar anakmu?" Kaelan mengangkat pecahan kaca itu. Cahayanya menyambar ke arah Arel.
Seketika, Arel berteriak kesakitan. Tubuh bocah itu mulai berpendar dengan warna ungu yang sama. Di dalam cahaya itu, muncul bayangan seorang pria lain yang bukan Arvand. Seorang pria dengan wajah yang sangat mirip dengan sang 'Penulis' yang mereka lawan di benteng tadi.
Aruna terbelalak, dunianya seakan runtuh untuk kesekian kalinya. "Apa... apa maksudnya ini?"
Kaisar tua maju dengan langkah gemetar. "Sena... dia menggunakan benih dari dimensi lain untuk menciptakan pewaris yang sempurna. Arel... dia bukan hanya manusia, dia adalah jembatan hidup antara duniamu dan dunia ini, Aruna."
Arvand terdiam, pedangnya turun sedikit. Matanya menatap Arel dengan tatapan yang hancur. "Jadi selama ini... aku membesarkan anak dari pria yang mencoba menghancurkan dunia ini?"
"Ayah... tolong Arel..." rintih Arel sambil mencoba menggapai Arvand.
Melihat penderitaan Arel, Aruna tidak peduli lagi dengan asal-usul atau naskah mana pun. Ia berlari menerjang pilar cahaya ungu itu, mengabaikan teriakan peringatan dari Seraphina. Begitu tangannya menyentuh pilar itu, tanda lahir di pergelangan tangannya meledak dalam cahaya perak yang sangat menyilaukan.
BOOM!
Gelombang energi mementalkan Kaelan dan para prajurit di sekitarnya. Aruna berdiri di pusat pilar cahaya, tangannya mencengkeram pecahan Cermin Jiwa yang dipegang Kaelan tadi. Ia bisa merasakan ribuan memori masuk ke dalam otaknya... memori Selina, memori Ratri yang asli, dan bahkan memori tentang bagaimana dunia ini diciptakan.
Di dalam pecahan cermin itu, Aruna melihat sosok dirinya sendiri di masa depan, sedang duduk di sebuah kursi mewah di dalam istana ibu kota, mengenakan mahkota hitam. Namun, di sampingnya bukan Arvand, melainkan Kaelan yang memakai zirah kaisar.
"Pilih, Aruna," suara Selina bergema di kepalanya. "Tetaplah di sini sebagai ratu sejati dengan kekuatan penuh, atau hancurkan cermin ini dan kembalilah menjadi manusia biasa yang lemah, tapi kau akan kehilangan Arvand dan Arel selamanya karena dimensi ini akan menutup akses untukmu."
Aruna menatap ke luar pilar cahaya. Ia melihat Arvand yang sedang berjuang melawan pengaruh sihir untuk mencapainya. Ia melihat Arel yang mulai memudar karena energinya diserap oleh segel.
"Aku tidak butuh mahkotamu!" Aruna berteriak.
Ia mengangkat pecahan cermin itu tinggi-tinggi, bermaksud menghantamkannya ke pilar batu istana. Namun, tepat sebelum cermin itu pecah, tanah di bawah mereka terbelah lebih lebar.
Dari dalam lubang Segel Keabadian, muncul tangan-tangan raksasa yang terbuat dari bayangan hitam. Tangan-tangan itu bukan milik Kaelan atau Selina. Itu adalah tangan dari makhluk-makhluk penghuni celah dimensi yang sudah menunggu ribuan tahun untuk masuk ke dunia ini.
Salah satu tangan bayangan itu menyambar kaki Arvand dan menariknya menuju lubang gelap tersebut.
"ARVAND!" Aruna menjerit.
Ia harus memilih dalam hitungan detik: Menghancurkan cermin untuk mematikan pilar cahaya dan menyelamatkan dunia, atau menggunakan energi cermin itu untuk menarik Arvand kembali, namun itu berarti membiarkan segel tetap terbuka dan makhluk-makhluk dimensi masuk.
Aruna menatap Arvand yang hampir tertelan kegelapan. Arvand menatapnya dengan senyum sedih, seolah-olah dia sudah merelakan nyawanya demi keselamatan Aruna dan Arel.
"Lakukan, Ratri! Hancurkan!" teriak Arvand sebelum kepalanya menghilang masuk ke dalam lubang.
Aruna menangis histeris. Ia mengangkat pecahan cermin itu, tapi alih-alih menghancurkannya, ia justru menusukkan pecahan kaca tajam itu ke telapak tangannya sendiri yang bertanda lahir perak.
Darah merah segar bercampur dengan cahaya perak dan ungu. Sebuah ledakan yang belum pernah terjadi sebelumnya mengguncang seluruh ibu kota. Cahaya itu begitu terang hingga menelan seluruh kota, mengubah malam menjadi siang yang buta.
Saat cahaya itu mereda, Aruna mendapati dirinya terbaring di tengah taman mawar yang hancur. Pilar ungu itu sudah hilang. Gerbang dimensi sudah tertutup. Ibu kota kembali sunyi, namun orang-orang yang tadi membeku kini jatuh pingsan di jalanan.
Aruna merangkak mencari sosok Arvand. "Arvand? Kamu di mana?"
Ia menemukan Arvand tergeletak tidak jauh dari lubang yang kini sudah tertutup tanah. Namun, saat Aruna menyentuh pundak suaminya, Arvand tidak bergerak. Tubuhnya terasa dingin, dan jantungnya tidak berdetak.
"Tidak... tidak mungkin... Arvand, bangun!" Aruna mengguncang tubuh suaminya dengan gila-gilaan.
Tiba-tiba, Arel mendekat dengan langkah pelan. Mata bocah itu tidak lagi ungu, tapi warnanya berubah menjadi emas murni. Ia menyentuh dada Arvand, dan sebuah kehangatan aneh menyebar dari tangan kecilnya.
Arvand tersentak, menarik napas panjang seolah-olah baru saja keluar dari air bah. Ia menatap Aruna dengan bingung. "Aku... aku masih hidup?"
Aruna memeluk Arvand dan Arel erat-erat, menangis sejadi-jadinya. Mereka selamat. Segel itu sudah hilang. Namun, saat Aruna menoleh ke arah Seraphina yang berdiri di dekat reruntuhan, ia melihat wajah wanita itu penuh dengan kengerian.
Seraphina tidak menatap mereka. Ia menatap ke langit. Di sana, bulan yang tadi pucat kini terbelah menjadi dua, dan dari celah bulan itu, muncul sebuah tulisan bercahaya yang bisa dibaca oleh semua orang di dunia itu.
Tulisan itu berbunyi: "BAB 23: AKHIR DARI VERSI BETA. MEMULAI PEMBARUAN SISTEM DUNIA DALAM 60 DETIK."
Aruna terpaku. "Pembaruan sistem? Apa maksudnya ini?"
Seraphina mendekati Aruna, suaranya gemetar. "Aruna... kau tidak hanya menghancurkan cermin itu. Kau baru saja mematikan 'server' dunia ini. Semuanya... semua orang di sini akan dihapus untuk digantikan dengan versi yang baru."
Aruna menatap tangannya yang berdarah. Di sana, tanda lahir peraknya kini berubah menjadi sebuah angka digital yang terus menghitung mundur.
00:59... 00:58... 00:57...
Apakah seluruh dunia NovelToon ini akan benar-benar terhapus dan diulang dari awal? Bagaimana nasib Aruna, Arvand, dan Arel jika memori mereka juga ikut dihapus oleh sistem? Dan siapakah sebenarnya yang memegang kendali atas 'Pembaruan Sistem' yang mengerikan ini?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.