Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sesampainya di depan rumah Permana yang terletak di sebuah gang yang cukup tenang, Gayuh langsung menghentikan mobilnya.
Ua menatap ke luar jendela sejenak sebelum kembali menatap rekan belajarnya itu.
"Aku langsung pulang ya," ucap Gayuh dengan ramah, memberikan batasan yang jelas.
Permana menoleh, menatap Gayuh dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Nggak mampir dulu, Mbak? Kebetulan di dalam sepi, kita bisa mengobrol lebih banyak tentang draf novel tadi."
"Nggak, Permana. Aku langsung pulang saja. Suamiku sudah mewanti-wanti agar aku tidak pulang larut malam," jawab Gayuh, dengan tegas menyebutkan keberadaan Jati untuk menjaga jarak.
Permana tersenyum tipis lalu turun dari mobil. "Baiklah, hati-hati di jalan, Mbak Gayuh."
Setelah memastikan Permana turun, Gayuh segera melajukan mobilnya membelah jalanan sore menuju ke mansion utama.
Di sepanjang jalan, fokusnya hanya satu: segera sampai di rumah dan mengabari Jati.
Sementara itu, Permana berjalan masuk ke dalam rumahnya yang sepi.
Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu melangkah menuju kamar tidurnya.
Begitu meletakkan tas ranselnya di atas meja, ia menyalakan lampu kamar.
Pemandangan di dalam kamar itu sungguh mengerikan.
Dinding kamarnya tidak lagi memperlihatkan cat putih, melainkan dipenuhi oleh puluhan, bahkan ratusan foto Gayuh.
Ada foto Gayuh saat menghadiri konferensi pers semalam, foto curian saat Gayuh sedang mengajar di kelas menulis, hingga tangkapan layar dari sesi live media sosialnya.
Permana berjalan mendekati dinding itu, matanya memancarkan obsesi yang begitu gelap.
"Aku mencintaimu, Gayuh..." bisik Permana dengan suara bergetar.
Ia mengusap salah satu foto wajah Gayuh yang berukuran besar, lalu menunduk dan mencium foto tersebut dengan penuh pemujaan.
Gairah gila terpancar jelas dari seluruh raut wajahnya.
Pria yang berprofesi sebagai dosen itu ternyata menyimpan rahasia yang sangat menyeramkan.
Permana kemudian merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan menghubungi sebuah nomor rahasia.
Begitu panggilan tersambung, nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh kepuasan.
"Rencana berhasil," ucap Permana singkat.
"Mobilnya sudah bisa kukendalikan, dan aku berhasil masuk ke dalam dunianya tanpa dia curiga sedikit pun."
Di seberang telepon, terdengar suara berat seorang lelaki yang terkekeh sinis, menyiratkan konspirasi besar yang sedang mengintai rumah tangga Jati dan Gayuh.
"Bagus. Teruskan kerja serumu. Buat wanita itu ketergantungan padamu, dan pastikan Jati Aditama hancur perlahan-lahan dari dalam," ucap lelaki di seberang sana sebelum memutuskan sambungan telepon.
Sesampainya di halaman mansion, Gayuh segera turun dari mobil.
Nenek sudah menunggu di depan pintu utama dengan raut wajah khawatir.
"Kenapa sampai jam segini baru pulang, Gayuh?" tanya Nenek dengan nada cemas.
"Maafkan aku, Nenek. Tadi di jalan mobilku tiba-tiba mogok," jawab Gayuh sambil mencium tangan beliau.
Nenek menghela napas lega, namun tetap memasang wajah perhatian.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Lekas mandi, setelah itu kita makan malam bersama. Nenek sudah menunggu."
Gayuh menganggukkan kepalanya dan segera bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Namun, baru saja ia hendak menaruh tasnya, ponsel di atas nakas berdering nyaring. Nama Jati terpampang di layar.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Gayuh lembut.
"Waalaikumsalam, Sayang. Baru sampai rumah? Kenapa pulang telat?" tanya Jati dengan nada khawatir di seberang sana.
"Iya, Mas. Tadi mobilnya mogok," jawab Gayuh jujur.
"Mogok? Padahal itu mobil baru. Kamu tidak apa-apa? Terus kamu bawa ke bengkel?" suara Jati terdengar semakin protektif.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Tadi ada yang bantu, namanya Permana. Dia peserta yang mendaftar di kelas menulisku hari ini," jelas Gayuh tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Permana?" Jati terdiam sejenak.
"Siapa dia?"
"Iya, Mas. Dia seorang dosen yang tertarik belajar menulis. Oh ya, Mas Jati sudah sampai di Surabaya?" Gayuh mencoba mengalihkan pembicaraan agar suaminya tidak terlalu khawatir.
"Iya, Sayang. Mas baru sampai. Tapi sepertinya ada kendala di lapangan, jadi aku harus di sini selama tujuh hari," jawab Jati dengan nada lelah.
Gayuh terperangah. "Tujuh hari? Bukannya tadi siang Mas bilang cuma dua hari?"
"Iya, Sayang. Mas minta maaf ya, ini benar-benar tidak terduga. Keadaan di sini cukup mendesak," ujar Jati terdengar menyesal.
"Sayang, maaf sekali, kita lanjut nanti lagi ya. Pak Gunawan memanggilku, rapat darurat mau dimulai."
"Oh, iya Mas. Tidak apa-apa, semangat rapatnya ya," jawab Gayuh dengan lembut.
Gayuh menganggukkan kepalanya meski Jati tak bisa melihatnya
Setelah sambungan telepon dengan Jati terputus, Gayuh segera bergegas menuju kamar mandi.
Air hangat yang mengguyur tubuhnya sedikit meluruhkan ketegangan yang ia rasakan sepanjang hari.
Setelah selesai, ia mengenakan pakaian rumah yang nyaman dan turun ke ruang makan untuk menemani Nenek yang sudah menunggu dengan meja penuh hidangan.
"Lezat sekali masakan Nenek," puji Gayuh dengan tulus saat ia mencicipi semur ayam kecap yang sangat meresap bumbunya.
Nenek tersenyum, namun matanya menatap Gayuh dengan penuh perhatian.
"Makan yang banyak, Gayuh. Kamu terlihat pucat setelah kejadian mogok tadi. Syukurlah kamu baik-baik saja."
Di tengah obrolan hangat mereka, ponsel Gayuh yang tergeletak di samping piring tiba-tiba bergetar, menandakan sebuah pesan masuk.
Gayuh meraih ponselnya dan membuka kunci layar.
Sebuah notifikasi pesan muncul dari nomor baru yang belum disimpan.
Sudah sampai rumah? Permana
Pengirimnya adalah Permana. Gayuh baru teringat bahwa pria itu memang memiliki akses ke nomor ponselnya karena ia mencantumkannya di formulir pendaftaran kelas menulis tadi sore.
Gayuh terdiam sejenak, jarinya melayang di atas layar.
Ia sebenarnya merasa sedikit risih karena Permana tiba-tiba mengirim pesan pribadi, padahal tadi mereka baru saja berpisah. Namun, ia berusaha berpikiran positif, menganggap itu mungkin hanya bentuk perhatian sopan dari seorang peserta yang baru saja menolongnya.
"Apakah aku harus membalasnya?" batin Gayuh ragu.
"Ada apa, Nak? Siapa yang mengirim pesan?" tanya Nenek yang menyadari perubahan ekspresi cucu menantunya itu.
"Oh, ini Nenek, hanya pesan dari salah satu peserta kelas menulis tadi. Dia menanyakan kabar karena tadi sempat membantu saya yang mobilnya mogok," jawab Gayuh berusaha tenang agar Nenek tidak ikut cemas.
Namun, belum sempat Gayuh membalas, sebuah pesan lain muncul lagi dari nomor yang sama.
"Aku tadi tidak sempat menanyakan, apa mobilmu benar-benar sudah baik-baik saja setelah aku perbaiki? Aku khawatir terjadi sesuatu lagi di jalan tadi."
Gayuh menghela napas pendek. Ia merasa perhatian Permana terasa sedikit berlebihan. Ia pun mengetik balasan singkat dan formal.
"Terima kasih, Permana. Mobil saya sudah baik-baik saja dan saya sudah sampai di rumah dengan aman. Terima kasih bantuannya tadi."
Setelah mengirim pesan tersebut, Gayuh meletakkan kembali ponselnya, berusaha untuk tidak memikirkannya lagi dan kembali fokus menikmati makan malam bersama Nenek.
Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, Permana sedang menatap layar ponselnya dengan senyum miring penuh kemenangan, merasa bahwa setiap langkahnya berhasil memancing perhatian Gayuh untuk berinteraksi dengannya.