"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Kilau Emas Di balik kamar rias
"Silakan, Seol-Ah. Berikan mereka sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan," bisik Kim Yeon-Hong dari balik tirai sutra.
Nara mulai memetik dawainya. Suaranya mengalun rendah dan jernih, membawa pesan dendam yang disamarkan dalam melodi pilu tentang seorang pengembara yang kehilangan rumahnya. Lalu Nara mulai bernyanyi, suaranya merdu namun terselip kepedihan yang menyayat.
Setiap nada adalah sumpah serapah yang ia tujukan pada mereka semua. Ia sedang menari di sarang harimau, dan ia menikmatinya.
Di balik cadar, ia mengamati "Empat Musim" itu.
"Suara yang unik," gumam Seo-Jun, matanya menyipit ke arah panggung. "Kenapa energinya terasa sangat... familiar?"
Do-Hyun tertawa kecil, ia condong ke depan karena penasaran. "Mungkin kau pernah bermimpi bertemu dengannya, Seo-Jun. Tapi aku setuju, dia punya aura yang tidak biasa untuk seorang pelayan."
Jin Chae-Rin meletakkan cawannya dengan denting halus. Ia tersenyum meremehkan. "Dia buta, tapi cara dia memegang instrumen itu terlalu akurat. Menarik sekali."
Sementara itu, Han-Seol hanya diam. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya terkunci pada sosok bercadar itu. Ia tidak mencari sihir, karena ia tidak punya indra sihir.
Namun, ia merasakan tarikan tak kasat mata—sebuah resonansi antara jiwanya yang terbelenggu dan jiwa Nara yang terjebak.
Namun, perhatian Nara tertuju pada Baek Seo-Jun. Pemuda itu tidak hanya mendengarkan; ia sedang "membaca" suara Nara dengan indra sihirnya yang murni. Saat lagu mencapai puncaknya, Nara menggunakan teknik pernapasan tingkat tinggi para pembasmi.
Suaranya melengking indah, menciptakan getaran frekuensi tinggi yang membuat air di kolam sekitar panggung beriak tak wajar.
SRETT!
Seo-Jun mendadak berdiri dari kursinya. Gerakannya begitu tiba-tiba hingga cawan peraknya berdenting keras di atas meja.
"Ada apa, Seo-Jun?" tanya Jin Chae-Rin heran.
"Suara itu..." Seo-Jun menatap panggung dengan tatapan yang sangat intens.
"Suaranya bergetar seperti gesekan pedang perak. Tajam... dan mengandung aura membunuh yang dingin."
Nara segera menurunkan temponya, kembali menjadi gadis buta yang rapuh sebelum Seo-Jun menyadari lebih jauh. Ia mengakhiri nyanyiannya dengan nada yang sangat lirih, hampir seperti bisikan angin malam yang membawa kabar duka.
"Luar biasa! Nyonya Kim, dari mana kau mendapatkan permata ini?" teriak Do-Hyun sambil melemparkan sekantung koin emas ke panggung.
Nara tidak mengambil koin itu. Ia hanya membungkuk dalam, tetap berakting tidak tahu di mana koin itu jatuh. Saat ia dituntun turun melewati meja para pewaris, ia merasakan aura energi yang saling bertabrakan—kehangatan musim panas Do-Hyun, ketajaman musim gugur Seo-Jun, dan kebekuan misterius Han-Seol.
"Tunggu."
Suara berat Seo-Jun menghentikan langkah Nara tepat di samping meja mereka.
Nara berhenti, jantungnya berpacu kencang.
Apakah ia tertangkap?
"Siapa namamu, Nona?" tanya Seo-Jun. Ia sudah berdiri di depan Nara.
Jarak mereka begitu dekat hingga Nara bisa merasakan tekanan energi sihir Seo-Jun yang luar biasa tenang namun menindas.
"Nama hamba... Seol-Ah, Tuan," jawab Nara dengan suara gemetar yang dibuat-buat.
Seo-Jun terdiam lama, matanya menembus cadar merah Nara. "Seol-Ah... nama yang manis. Tapi kenapa di balik matamu yang tertutup itu, aku merasa kau sedang menatapku dengan kebencian yang sangat dalam? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Nara tersentak dalam diam. Ketajaman Seo-Jun benar-benar berbahaya. "Hamba tidak berani, Tuan. Hamba bahkan tidak mampu melihat wajah Anda yang mulia. Bagaimana mungkin hamba membenci sesuatu yang tidak pernah hamba lihat?"
Seo-Jun tersenyum tipis—senyuman formalitas yang dingin. "Mungkin hanya perasaanku saja. Namun, kau mengingatkanku pada seseorang yang baru saja kehilangan nyawanya semalam."
Seo-Jun kemudian beralih menatap Han-Seol yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
"Bagaimana menurutmu, Han-Seol? Bukankah dia menarik?"
Han-Seol mendongak. Matanya bertemu dengan mata Nara di balik cadar. Berbeda dengan Seo-Jun yang penuh selidik, tatapan Han-Seol terasa hampa namun penuh duka.
"Dia terlihat lelah," ucap Han-Seol singkat. Suaranya dingin namun memiliki nada empati yang tidak terduga.
"Biarkan dia pergi beristirahat, Seo-Jun. Jangan menakuti pelayan yang bahkan tidak bisa melihat pedangmu."
Seo-Jun terkekeh pelan. "Baiklah, jika itu maumu. Pergilah, Seol-Ah. Aku rasa kita akan sering bertemu mulai sekarang."
Nara segera pergi dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar terlihat ragu-ragu. Begitu sampai di balik tirai, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, menghirup napas sebanyak-banyaknya.
‘Baek Seo-Jun... kau terlalu cerdas untuk kebaikanmu sendiri,’ batin Nara.
‘Dan Han-Seol... kenapa kau membelaku?’
Malam itu, di bawah langit Niskala yang penuh tipu daya, lonceng kematian telah mulai berdentang secara halus. Takdir baru saja mengikat Nara, Han-Seol, dan Seo-Jun dalam sebuah pusaran rahasia yang akan mengguncang pondasi Cheon-gi Won.
****
Kim Yeon-Hong menuntun Nara menyusuri koridor panjang yang berbau harum kayu manis dan minyak lampion.
Langkah Nara terasa sangat ringan di atas karpet beludru merah yang tebal—sebuah kontras tajam dengan hari-harinya sebagai pembasmi yang biasanya berjalan di atas salju yang membekukan atau tanah berbatu yang kasar.
"Kerja bagus malam ini, Seol-Ah. Kau benar-benar memukau para tamu, terutama Tuan Muda Baek Seo-Jun yang biasanya sulit dipikat," ucap Kim Yeon-Hong dengan nada suara yang kini lebih lembut, hampir seperti seorang kakak yang bangga.
Ia membuka pintu sebuah ruangan yang cukup luas dan mewah, lalu masuk bersama Nara.
Nara duduk bersimpuh di depan meja rias kayu jati yang diukir indah dengan motif naga. "Terima kasih banyak, Nyonya. Hamba merasa masih banyak kekurangan dalam penampilan tadi. Hamba sempat takut suara hamba tidak sampai ke telinga para Tuan Muda."
Kim Yeon-Hong tersenyum, sebuah senyuman yang tampak tulus di bawah cahaya lampu minyak yang kuning keemasan. "Kau terlalu rendah hati. Di Rumah Mawar ini, bakat sepertimu jarang ditemukan. Panggil saja aku Kakak mulai sekarang, Seol-Ah."
Nara tertegun sejenak. "Kakak?"
"Iya," Yeon-Hong melangkah mendekat, lalu mulai dengan telaten melepaskan satu per satu hiasan di rambut Nara.
"Usiaku tidak terpaut jauh darimu. Aku tidak ingin kau merasa terkekang di tempat ini seperti budak belian. Aku ingin kau merasa... ini adalah rumahmu."
Yeon-Hong menggunakan kain sutra lembut untuk membersihkan sisa-sisa riasan di wajah Nara.
Nara terdiam, membiarkan tangan wanita itu menyentuh kulitnya. Ada rasa hangat yang asing menjalar di dadanya; sebuah kebaikan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak ia memutuskan menjadi pendekar yang tangannya berlumuran darah penyihir.
"Kau punya kulit yang sangat halus, Seol-Ah. Sangat disayangkan kau tidak bisa melihat betapa cantiknya dirimu di cermin ini," bisik Yeon-Hong dengan nada iba.
"Jangan khawatir. Selama kau berada di bawah perlindunganku, tidak akan ada penyihir brengsek yang berani menyentuhmu tanpa izinmu."
"Emm... baiklah, Kakak. Terima kasih atas kemurahan hatimu," ucap Nara kaku, lidahnya terasa kelu mengucapkan kata itu.
"Nah, begitulah. Sekarang, selamat beristirahat. Kau butuh tenaga untuk penampilan esok malam. Kabar tentang suaramu akan menyebar ke seluruh Niskala dalam sekejap," Yeon-Hong menepuk bahu Nara pelan sebelum akhirnya melangkah keluar dan menutup pintu kayu jati itu dengan rapat.
KLIK.
Suara kunci pintu terdengar. Nara memastikan suara langkah kaki Kim Yeon-Hong benar-benar menghilang di ujung koridor.
Begitu suasana menjadi sunyi sepenuhnya, ia menghela napas panjang dan segera menyentakkan penutup matanya hingga lepas.
Matanya yang tajam dan kini bisa melihat dengan jernih segera berbinar saat menangkap pantulan cahaya dari benda-benda berharga di atas meja rias.
Di hadapannya, berserakan harta yang tidak pernah ia bayangkan akan ia pegang sebagai raga Seol-Ah.
Ada tusuk konde emas murni dengan hiasan kelopak mawar, cincin giok hijau tua yang tampak antik, dan gelang perak bertahtakan batu delima merah darah.
‘Benda-benda ini...’ pikir Nara, jemarinya meraba permukaan dingin cincin giok tersebut.
‘Satu saja dari perhiasan ini bisa memberiku cukup uang untuk menyuap penjaga dermaga atau membeli informasi tentang letak Paviliun Cheon-gi Won. Aku tidak bisa selamanya menjadi burung dalam sangkar di Rumah Mawar ini.’
Nara tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat yang masih menyisakan sisa-sisa ketangkasan pendekarnya, ia mulai memasukkan beberapa perhiasan kecil ke dalam kantong tersembunyi di balik hanboknya.
"Maafkan aku, 'Kakak'," bisik Nara pada bayangannya di cermin dengan tatapan dingin.
"Kebaikanmu adalah racun yang membuatku lemah. Dan aku tidak butuh rumah... aku butuh pedangku kembali."
Namun, tepat saat ia hendak menyembunyikan tusuk konde emas terakhir ke balik bajunya, suara daun pintu yang berderit memecah kesunyian malam.
"Seol-Ah? Aku lupa memberitahumu soal—"
Kalimat Kim Yeon-Hong terhenti. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.
Nara membeku dengan tangan yang masih menggenggam benda itu, sementara penutup mata yang seharusnya menjadi bukti kebutaannya tergeletak tak berdaya di lantai.
Suasana ruangan mendadak sedingin es. Kim Yeon-Hong tidak hanya terkejut melihat pelayan barunya mencuri, ia jauh lebih terguncang menyadari satu kenyataan: Seol-Ah bisa melihat.
"Kau..." suara Kim Yeon-Hong bergetar antara amarah dan kekecewaan.
"Kau tidak hanya membohongiku tentang matamu, tapi kau juga mencoba merampokku? Setelah semua perlindungan yang kuberikan?"
Nara berdiri perlahan, membuang topeng gadis buta yang malang. Dengan gerakan santai ia meletakkan kembali tusuk konde emas itu di atas meja rias, lalu ia memungut penutup matanya yang tergeletak di lantai, ia memasukannya ke balik hanboknya.
Nara menatap Kim dengan sorot mata dingin—tatapan seorang pembunuh. "Kebaikanmu tidak akan bisa memberiku kebebasan, Kakak. Aku butuh modal untuk keluar dari sangkar ini."
"Keluar? Dengan raga selemah itu kau pikir bisa bertahan?" Kim Yeon-Hong tertawa getir.
"Siapa kau sebenarnya? Mata-mata dari keluarga mana?"
"Aku adalah orang yang seharusnya tidak ada di sini," jawab Nara tajam. Tangannya meraba meja rias di belakangnya, menyentuh wadah porselen berisi bedak tabur putih yang halus.
"Maafkan aku, Kakak," bisik Nara dengan nada yang tiba-tiba melunak, tipu daya terakhirnya.
"Apa maksudmu—"
SYURRR!
Nara melemparkan bedak itu tepat ke wajah Kim Yeon-Hong.
Serbuk putih meledak, menciptakan awan pekat. Kim Yeon-Hong terpekik, terbatuk-batuk hebat saat bedak itu membutakan pandangannya.
Nara melompat ke jendela besar yang terbuka.
BRUKK!
Ia mendarat di atap paviliun bawah sebelum merosot ke tanah. Kakinya nyeri—raga Seol-Ah tidak terbiasa dengan pendaratan kasar—namun ia mengabaikannya.
"Pencuri! Tangkap dia! Gadis berbaju biru itu mencuri perhiasanku!"